Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 112. Menyindir dan memghina.


__ADS_3

Pada Minggu harinya.


Acara meriah nan megah tengah berlangsung di dalam sebuah hotel mewah berbintang lima, yang dikelola oleh perusahaan Wijaya Group.


Karena bahwasanya hari ini akan diadakan sebuah pesta pertunangan, menyatukan sebuah hubungan antara seorang putra dan juga putri dari dua keluarga besar.


Keluarga yang bukan hanya terhormat saja, namun juga terpandang di kalangan masyarakat luas maupun di dalam dunia bisnis. Dan dua keluarga terhormat itu ialah keluarga Chandra Putra dan juga keluarga Perkasa.


Dimana hari ini adalah hari bahagia keluarga mereka, hari yang sudah dinanti-nantikan oleh dua keluarga besar tersebut. Yaitu pertunangan Michael dan Clara.


Para tamu undangan pun satu persatu mulai berdatangan menghadiri pesta, mereka terdiri dari rekan bisnis, karyawan maupun dari kalangan masyarakat terhormat lainnya.


Semua orang bersuka cita, namun tidak bagi Michael. Pria itu masih betah menyendiri di dalam kamar hotelnya dan enggan keluar padahal acara pertunangannya dengan Clara akan dimulai sebentar lagi.


...----------------...


Mansion Wiliam.


Sementara itu, ditempat yang berbeda. Jelita masih terduduk diam di dalam kamarnya sendiri, sambil memandangi surat undangan pertunangan Michael dan Clara.


Gadis itu enggan bangun dari tempat duduknya sambil terus menghela nafas, karena merasa malas menghadiri pesta tersebut.


Dan tak berapa lama kemudian, Wiliam pun datang menghampiri Jelita yang masih saja melamun. "Jelita ayo kita berangkat," ucapnya mengajak pergi.


Jelita tersentak dari lamunan dan menatap Wiliam yang sudah mengenggam erat pergelangan tangannya. "Ayo kita pergi," ucap Wiliam sekali lagi.


"Ya Wiliam, ayo kita pergi," balas Jelita dengan langkah tidak semangatnya.


Padahal jika menuruti kata hati, Wiliam maupun Jelita sebenarnya malas sekali untuk pergi kesana. Karena yang sebenarnya adalah undangan itu bukan ditujukan untuk mereka, melainkan undangan untuk Opa Wijaya sang pemilik Wijaya Group.


Namun mengingat Opa yang tidak bisa datang karena usia, mau tidak mau akhirnya mereka menuruti keinginan tersebut dan keduanya pergi bersama sebagai seorang pasangan.


"Jangan loyo seperti itu," ucap Wiliam.


"Malas Wil, bagaimana jika mereka mencibir kita disana?" tanya Jelita, sedikit khawatir juga karena kasus lama yang menimpah mereka berdua.


"Tidak usah dipikirkan dan jangan di dengarkan juga omongan orang-orang usil disana. Kau juga tidak perlu takut, karena ada aku disisimu," balas Wiliam.


Jelita tersenyum. "Kau benar, untuk apa aku memikirkan itu semua. Karena aku ini punya pendamping yang luar biasa hebatnya. Kau mahir dalam bela diri, mahir dalam bekerja dan juga mahir dalam hal lainnya," puji Jelita.


Mendengar hal itu Wiliam pun berbunga-bunga, dia tersenyum dan membusungkan dadanya.


"Bagus jika kau menyadari hal itu, aku memang luar biasa hebat, mahir dalam segala bidang. Tapi aku belum tahu, aku ini mahir dalam urusan ranjang denganmu atau tidak. Apa perlu kita coba hal itu sekarang?" jawabnya nyeleneh.

__ADS_1


Jelita pun terbelalak dan refleks mencubit lengan Wiliam. "Kau ini, jangan pernah membahas hal menjijikkan itu lagi. Ingatlah Wiliam, kita itu masih belum resmi menikah."


"Itu tidak menjijikkan Jelitaku sayang, karena itu adalah kegiatan paling terindah dalam rumah tangga dan aku yakin kau pasti akan ketagihan nantinya," balas Wiliam tanpa malu.


Jelita mencebik. "Sudah lah aku tidak ingin mendengar bualan mu itu lagi," balasnya.


Wiliam terkekeh. "Aku tidak pernah membual Jelita, karena itu memang kenyataan. Banyak pasangan suami istri yang selalu menantikan malam pertama mereka setelah menikah. Dan aku juga menantikan malam pertamaku itu denganmu," tutur Wiliam dan menatap wajah Jelita yang sudah memerah tidak karuan dan menatap tajam dirinya.


"Dasar menyebalkan, kau tidak tahu malu sekali membicarakan hal memalukan seperti itu didepan seorang gadis. Sudahlah aku tidak ingin mendengar kau mengatakan hal itu didepanku lagi," cebik Jelita.


"Eh ... Kenapa? Apa yang salah dengan itu semua. Oh aku tahu kau pasti malu ya, atau di dalam kepala kecilmu itu sedang membayangkan kau dan aku bersama melakukannya," duga Wiliam sambil terkekeh. Senang sekali menggoda gadis disebelahnya.


Jelita berdengus kesal. "Sepertinya kau senang sekali menggodaku, baiklah jika nanti kita sudah menikah. Aku tidak akan memberikan apapun yang kau mau, termasuk malam pertama menjijikkan mu itu," balasnya lalu masuk ke dalam mobil, sambil melipat kedua tangan di depan dada tanpa mau menatap Wiliam sedikitpun.


Sementara itu Wiliam hanya menggeleng dan tertawa kecil, melihat wanitanya tiba-tiba marah dengan wajah yang tetap imut dan manis.


"Maaf Jelita, aku mengaku salah. Sudah jangan ngambek lagi ya. Nanti wajahmu berubah jelek," balas Wiliam dan Jelita hanya mencebik sambil membuang muka.


Huh!


"Kau lucu sekali," ucap Wiliam, lalu memacu kendaraannya menuju tempat diadakannya acara.


...----------------...


Di Hotel.


Ucapan selamat dari rekan sesama bisnis perusahan besar, yayasan, kampus, golongan masyarakat maupun dari kalangan pribadi.


Bahkan terlihat juga karangan bunga ucapan selamat dari perusahaan Wijaya Group.


Wiliam dan Jelita baru saja tiba di hotel tersebut, dan melangkah bersama ke dalam menuju ruang diadakannya acara.


Sesampainya di ruangan yang dimaksud, semua mata tertuju pun kepada mereka berdua. Wiliam dan Jelita paling mendapat banyak perhatian, bukan hanya karena takjub akan penqmpilan mereka yang dibilang sangat cantik dan tampan saja.


Namun juga pembicaraan tidak mengenakan dari beberapa kalangan orang disana.


Ada yang menyindir Jelita ada pula yang menyindir Wiliam. Tatapan sinis maupun ejekan terdengar juga disana.


"Mereka terlihat serasi, yang satu berandalan dan yang satu nya lagi wanita murahan," ejek salah satu tamu disana, lalu di iringi suara decihan dimana-dimana.


"Yang pria pernah masuk penjara, pemain wanita dan yang terakhir ini dia menghasut kakeknya sendiri agar mendapat harta warisan terbanyak. Lalu yang wanitanya itu, dia bekas anak asuh nyonya besar. Banyak yang bilang dia bukan wanita baik-baik karena sering melanggar peraturan dan juga sering membuat masalah hanya karena pria."


Wiliam menggengam lengan Jelita yang mulai emosi dan berbisik agar tidak menghiraukan perkataan-perkataan menusuk hati tersebut.

__ADS_1


"Mereka hanya membicarakan hal yang tidak-tidak kepada kita Wiliam. Padahal mereka tidak tahu yang sebenarnya tentang kita," ucap Jelita kesal.


"Anggap saja angin lalu, jika ucpaan mereka tidak benar untuk apa kita marah. Hanya buang-buang tenaga saja," balas Wiliam menenangkan Jelita yang emosi.


"Tapi Wiliam, kita tidak boleh diam saja. Mereka semua telah meledek bahkan menghina tanpa ada bukti. Harusnya kita memberinpelajaran kepada mereka-mereka itu," balas Jelita.


Wiliam mencubit dagu Jelita dengan gemas. "Jelita ... Jangan gunakan emosimu untuk merugikan dirimu sendiri. Jika kita membalasnya, sudah pasti mereka akan merasa menang karena perkataan buruk mengenai kita ternyata benar adanya.


"Tapi Wiliam jika kita diam saja, mereka pasti akan menghina kita lebih parah lagi," balas Jelita.


"Biarkan saja mereka membicarakan kita smpai puas, karena jika sudah tiba waktunya nanti, mereka yang akan malu sendiri," balas Wiliam lalu menarik batang candunya.


Jelita bingung. "Apa maksudmu Wiliam?" tanyanya.


Wiliam menatap Jelita. "Mereka hanyalah kompor, bukan orang-orang penting. Karena aku yakin mereka adalah orang-orang suruhan seseorang untuk membuat masalah disini."


"Apa maksudmu?" tanya Jelita lagi.


"Sudahlah tidak usah bingung seperti itu, lebih baik kita nikmati saja acaranya," balas Wiliam lalu menggandeng Jelita menjauh dari kerumunan.


"Baiklah," balas Jelita.


"Kau manis sekali saat sedang marah seperti tadi," goda Wiliam.


"Jangan mulai menggombal Wil," balas Jelita.


"Aku berkata jujur kenapa harus dibilang gombal," cebik Wiliam.


Jelita terkekeh. "Ternyata kau bisa ngambek juga," ucapnya.


Wiliam tersenyum, menatap Jelita yang sedang tertawa, dia merangkul Jelita sambil menggenggam kedua tangannya.


"Berjanjilah padaku Jelita, kau akan selalu tersenyum dan tertawalah terus seperti itu."


Jelita tersenyum. "Baiklah Wiliam, aku berjanji."


"Bagus setelah acara puncak kita akan pergi dari sini, aku akan mengajakmu jalan-jalan. Kita akan nonton bioskop," ucap Wiliam.


Jelita mengangga, karena setau ini Wiliam benci sekali nonton bioskop. Selain banyaknya orang yang pacaran, dia juga tidak mnyukai film apalagi yang bertema romantis dan tidak ada aksinya.


"Baiklah kalau begitu," balas Jelita, dia tersenyum gembira sambil memeluk lengan Wiliam.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2