
Pada malam harinya.
Jelita terlambat pulang ke rumah dikarenakan banyaknya kejadian tidak mengenakkan yang menimpah dirinya hari ini. Walau langkah kakinya sedikit goyah karena kelelahan, namun Jelita terus berusaha melangkah dengan cepat agar dirinya bisa lekas sampai ke rumah.
Di sepanjang jalan menuju rumahnya, Jelita memikirkan kejadian dikampus tadi, bagaimana sikap buruk para pelajar itu memperlakukan Jelita sepanjang hari ini.
Jelita menghela nafas dan memijat bahunya. "Mereka menyampah dimana-mana, membuat seluruh lantai kotor dengan tanah dan melempari ku dengan kertas-kertas berisi hinaan. Mereka benar-benar keterlaluan, sudah menyiksaku hingga kelelahan seperti ini ... Ya Tuhan, bagaimana dengan nasib ku besok, apa mereka akan mengerjaiku lebih buruk daripada hari ini?"
***
Beberapa saat kemudian Jelita akhirnya sampai di rumah, dia terdiam sejenak di depan pintu lalu memasang wajah ceria dan membuang jauh-jauh rasa kelelahan di wajahnya itu sebelum dirinya masuk ke dalam agar Ibu tidak khawatir saat melihat dirinya yang begitu menyedihkan.
Sesampainya di dalam kamar Jelita menghampiri dan mencium kening Ibu. "Ibu ... Jelita sudah pulang kerja, maaf hari ini pulangnya sedikit terlambat. Jelita ada kerja tambahan tadi di kampus. Jelita mandi dulu ya, sekalian mau angkat jemuran."
Ibu melirik dan mengedipkan mata, "Ehm ..." balas Ibu seperti ingin mengangguk.
Jelita bersyukur karena Pak Budi tidak menceritakan semuanya kepada Ibu tentang kejadian yang menimpah dirinya saat bekerja di kampus.
Beliau dan istrinya malah membantu Jelita mengurus dan menjaga Ibu saat dirinya telat pulang ke rumah. Jika tidak, Ibu pasti sudah kelaparan dan merasa tidak nyaman saat ini.
***
Setelah membersihkan tubuh dan mengangkat jemuran, Jelita mulai mengurus perutnya yang sudah kelaparan. Namun sayang gara-gara dia telat pulang ke rumah, sayur di rumahnya telah basi karena telat di hangatkan.
Kondisi menyedihkan juga terlihat saat dia menengok ke arah kukusan, nasi dingin di dalam kukusan itu hanya tinggal setengah centong saja.
Namun Jelita masih bersyukur, dirinya tidak pernah mengeluh dengan kondisinya yang serba kekurangan. Dia mengambil mie instan setengah bagian yang pernah dia simpan sebelumnya, lalu memasaknya sebagai pengganti kuah sayur.
"Tidak apa, masih ada mie instan," ucap Jelita yang selalu menyemangati dirinya.
Setelah selesai makan malam dirinya tidak lupa memenuhi tanggung jawab menyelesaikan pekerjaan tambahan, yaitu mengosok pakaian yang telah dia cuci sebelumnya.
Dia mengambil beberapa arang kayu sisa pembakaran dalam tungku di dalam dapur, lalu menaruh ke dalam setrika besi kokoh milik Ibu nya.
__ADS_1
Setrika sederhana tanpa listrik itu berwarna hitam, ada lubang di bagian sisi kanan dan juga kirinya. Pemakaiannya pun cukup sederhana, Jelita hanya perlu memanaskan arang kayu yang telah dia masukkan ke dalam setrika besi tersebut dan mengubahnya menjadi bara api dengan cara di kipas.
"Wus! wus! wus!"
Kipas dari anyaman bambu di tangan Jelita dia gerakkan dengan cepat dan setelah setrika tersebut dirasa cukup panas, Jelita mulai menggosok semua pakaian tersebut agar licin.
Satu persatu pakaian itu telah di setrika dengan rapi, dirinya sesekali memantau bara api dalam setrika agar terus menyala dengan cara mengipasinya secara berkala dan jika strika besi itu terlalu panas dan mulai lengket, Jelita menjedanya dengan menggosok setrika tersebut ke atas selembar daun pisang yang juga sebagai alas agar licin kembali.
Terkadang panas dari bara api itu berterbangan ke segala arah dan tanpa permisi hinggap dilengannya.
"Aw panas, panas!" ucap Jelita pelan sambil mengibaskan tangannya yang terkena pletikan bara api dengan segera dan menggigit bibir bagian bawah agar tidak menimbulkan suara berisik yang bisa membangunkan Ibunya.
Jelita mengerjakan itu semua dengan sabar, walau sebenarnya dia sudah kelelahan setelah bekerja di kampus seharian. Namun demi uang tambahan senilai dua puluh ribu rupiah, Jelita menyingkirkan jauh-jauh kelelahannya itu.
Uang tersebut rencananya akan Jelita kumpulkan untuk membeli sebuah kursi roda bekas. Sedangkan gaji bekerja di kampus setelah dipotong hutang dan juga keperluan lain, maka sisanya akan dia tabung untuk berobat Ibu.
Namun Jelita tidak tahu kapan rencana tersebut akan terealisasi, karena selalu ada saja pengeluaran tidak terduga yang mengharuskan dia memakai uang tabungan pribadi.
***
"Fiuh ... Akhirnya selesai juga, sekarang lihat Ibu dan tidur."
Jelita masuk ke dalam kamar, dia menatap Ibunya yang sudah terlelap. Entah mengapa dirinya selalu tidak tahan jika melihat kondisi Ibu yang sedang sakit.
"Ibu ... pasti rasanya tidak nyaman ya seperti itu. Pasti sakit semua ya badan Ibu ...." Jelita menangis sambil menyelimuti tubuh Ibunya.
Jelita bergumam dalam hati.
"Andai kan saja Ayah masih hidup, mungkin kita tidak sesulit ini. Entah berapa lama lagi hutang kita di kampus itu akan lunas. Semoga Jelita selalu kuat menghadapi semuanya, juga hinaan dari orang-orang kaya itu entah sampai kapan mereka akan berhenti menghina Jelita."
Jelita menghapus air matanya, lalu merangkak naik ke kasur dan tidur disamping Ibunya. Perlahan dia memejamkan kedua mata dan berharap besok dirinya bisa menghadapi sikap keterlaluan para pelajar tersebut.
……………………………………………………………………………
__ADS_1
Di Kampus.
Hari demi hari bertukar, sudah seminggu Jelita menerima perlakuan tidak mengenakkan dari para pelajar disana hingga dirinya sudah terbiasa menerima hal tersebut dan menganggapnya sebagai makanan sehari-hari.
"Sabar Jelita, kamu harus sabar. Jangan biarkan mereka menang," ucap Jelita sambil mengelus dadanya melihat kelakuan para pelajar tersebut.
"GEMBEL!"
Tulisan dengan huruf besar itu tertulis nyata di badan ember yang biasa Jelita pakai untuk mengepel lantai hingga logo ember tersebut tidak terlihat lagi karena tertutup rapat dengan kata hinaan.
Belum lagi dengan semua pekerjaan tak terduga yang selalu dia kerjakan. "Apa mereka tidak bosan selalu membuat masalah denganku setiap hari, sampai sempat-sempatnya membuat pekerjaan yang bukan mata pelajarannya disini?" ucap Jelita merasa heran saat melihat sebuah pemandangan tak lazim tepat dihadapannya.
Kelas pelajar berpendidikan dan juga dari kalangan atas itu berantakan dengan kursi meja yang berjungkir balik kesana kemari seperti habis terkena angin ribut saja.
Jelita menghela nafas panjang lalu dengan semangat yang menggebu dia mulai merapihkan kelas yang berantakan tersebut sebelum para siswa itu menampakkan wujudnya.
Saat Jelita tengah merapihkan kelas dengan susah payah, seseorang memperhatikan Jelita dari kejauhan. Dia terkekeh senang saat melihat Jelita kesusahan.
"Apa kau senang Mike, itu adalah perbuatan anak buahku yang sudah menyusahkan dia" ucap Floren yang tiba-tiba berdiri di belakang Michael.
Michael mengangguk, "Aku senang selama dia mengalami kesusahan seperti itu, asal jangan main kasar kepada dia. Tapi Flo sudah seminggu kita menyiksanya seperti itu, terus mengapa dia masih bertahan dan bersikukuh untuk tetap bekerja disini?" tanya Michael kepada Floren.
Floren tersenyum dan membalas, "Info dari anak buahku, dia bertahan karena Ibunya."
Michael menoleh kebelakang dan melihat Floren. "Ibunya?"
Floren mengangguk. "Iya ... Ibunya."
.
.
Bersambung.
__ADS_1