
Bi Nina menghampiri Wiliam yang sedang berada di dalam kamarnya untuk menyampaikan sesuatu.
Tok tok tok!
"Masuk!" sahut Wiliam dari dalam dan pintu pun terbuka.
"Ada apa Bi?" tanya Wiliam tanpa menoleh sedikit pun dari layar persegi di hadapannya.
"Maaf tuan muda ... Ada tamu yang datang," ucap Bi Nina.
Wiliam menghentikan sejenak aktifitasnya. "Siapa Bi?" tanyanya penasaran, baru kali ini ada tamu yang mau mengunjungi kediamanannya selain keluarga dekat.
"Namanya Tuan Michael dan tuan Jason, Tuan dan mereka ingin bertemu dengan anda," balas Bi Nina.
Wiliam menutup laptop dan mengangguk. "Baik, aku akan menemuinya," balasnya lalu bertanya sebelum Bi Nina pergi, "Bibi ... Sedang apa Jelita sekarang?"
"Nona Jelita sedang ada di dalam kamar, Tuan. Sepertinya dia sedang tidur siang," balas Bi Nina apa adanya.
"Apa dia sudah makan siang?" tanya Wiliam kembali.
"Belum Tuan, tadi saya antar makanan, Nona Jelita masih tertidur," balas Bi Nina.
Wiliam mengangguk samar. "Hem," balasnya mengerti sambil memberi kode kepada Bi Nina untuk pergi dan kemudian, Bi Nina undur diri.
Pria yang selalu menepati janjinya itu pun keluar dari kamar, untuk menemui tamu yang sedang datang. Akan tetapi, dia berhenti sejenak ketika melihat kamar disebelahnya.
Kamar Jelita.
Wiliam melangkah mengarah ke kamar Jelita, untuk memastikan sesuatu. Ingin melihat, apakah gadis itu sudah makan atau belum.
Kakinya berhenti tepat di depan pintu kamar, dan Wiliam memberanikan diri untuk mengintip gadis itu sejenak.
"Larangan untuk menyentuh bukan larangan untuk melihat," gumamnya dalam hati.
Pria bertato nan tampan berparas mirip seperti Paing Takhon itu pun, meraih gagang handle pintu dan menggerakkannya agar terbuka.
Ceklek!
Dan seketika itu pula Wiliam menarik senyum, saat mengetahui jika pintu kamar Jelita tidak terkunci.
Tanpa banyak pikir, pria itu pun melangkah masuk ke dalam kamar.
"Gelap ... Mungkin dia masih tidur," ucap Wiliam dan itulah responnya pertama kali, saat dia melihat ke dalam kamar Jelita.
Wiliam menarik pintu kembali, mengurungkan niat dan bermaksud untuk tidak jadi masuk ke dalam kamar. Karena tidak ingin mengganggu Jelita yang sedang tidur siang.
Namun wangi lembut nan memanjakan indera penciumannya, membuat pria itu malah melangkah maju lebih ke dalam. Melupakan jika dia sedang memasuki kamar seorang wanita.
Wiliam mengikuti nalurinya dan berhenti tepat di sisi ranjang, dimana Jelita sedang tertidur lelap di atas kasur nya yang nyaman.
Pria itu tertegun dan meneguk ludahnya kasar, saat melihat sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
__ADS_1
"Kenapa gadis itu tidur sembarangan," gumam Wiliam saat melihat Jelita sedang tidur, dengan posisi terlentang dan kedua kaki sedikit mengangga lebar.
Terlebih lagi Jelita tidur hanya memakai tanktop dan juga celana short hitam yang ketat. Sehingga menampilkan bentuk lekuk tubuh dari sang gadis yang begitu sempurna.
Dan itu membuat Wiliam terlena.
Belum lagi kebiasaan Jelita saat tertidur, yang tidak pernah memakai kain penyangga. Mau tidak mau sebuah pucuk kembar dari dua gundukan yang menantang dari balik tanktopnya terpampang nyata begitu saja.
"Siall" batin Wiliam.
Pria itu mendesis, ular python nya mulai menggeliat. Ketika kedua netranya tidak sengaja menangkap pemandangan indah, terpampang nyata dihadapannya.
Sebuah pusara bagian tengah Jelita nampak terlihat, karena tanktop yang gadis itu kenakan sedikit tersingkap ke atas. Menampilkan kulit putih nan mulus tiada bandingannya.
Ditambah lagi celana short pendek yang Jelita kenakan, begitu lancangnya menampilkan pemandangan menggiurkan di depan mata.
Begitu seksii sekali.
Hingga Wiliam pun dibuat mabuk kepayang dan ingin sekali menyentuhnya barang sesaat.
"Oh Tidak!"
Wiliam meraup wajahnya kasar dan menggeleng cepat, menyingkirkan beberapa pikiran kotor yang menempel di kepalanya.
Dengan segera pria itu berbalik badan dan keluar secepat mungkin, sebelum ular pythonnya bertambah sesak didalam celana.
Yang terus saja mendesak ingin keluar dari kandangnya untuk mencari lembah bersarang yang hangat dan nyaman.
...***...
Michael dan Wiliam bertemu kembali, kedua pria tampan beda usia 6 tahun itu pun, mulai mengeluarkan aura menakutkan satu sama lain.
Sedangkan Jason si paling tua, sudah pasti akan menjadi penengah, jika terjadi sesuatu diantara keduanya.
Nasib!
"Katakan, ada keperluan apa kalian datang kesini?" tanya Wiliam.
"Aku ingin bertemu dengan Jelita, ada dimana dia sekarang?" balas Michael dengan bertanya.
Wiliam menarik candunya. "Tidur siang, apalagi yang harus dia lakukan," balasnya santai.
"Jangan bohong, baiklah biar aku saja yang panggilkan," ucap Michael, lalu berdiri dan memanggil Jelita.
"Jelita!" pekik Michael.
"Jelita, aku datang!" pekiknya lagi.
Jason dengan segera menarik lengan Michael, agar kembali duduk dan berhenti berteriak.
"Mike, sopan lah. Ini bukan rumahmu," pinta Jason.
__ADS_1
Michael menolak. "Aku harus bertemu dengan Jelita," ucapnya merasa tidak sabar ingin bertemu.
Jason menatap Wiliam. "Will ... Ijinkanlah Mike untuk bertemu dengan Jelita," ucapnya dengan sopan santun.
Wiliam menghembuskan asap ke udara. "Baiklah karena kau sudah memintanya dengan sopan, maka aku akan mengabulkan permintaanmu itu," balasnya lalu meminta Bi Nina untuk memanggil Jelita.
Beberapa saat kemudian, Jelita keluar dari kamar dan langsung turun kebawah saat mendengar nama Michael ingin menemui dirinya.
Jelita begitu senang, sampai lupa akan sesumbarnya yang tidak mau keluar kamar walau ada gempa bumi sekalipun kalau ada Wiliam di dalam rumah.
Gadis itu juga masih memakai tanktop dan short pendek ketat, hanya sebuah cardigan tipis sebagai penutup auratnya. Membuat tiga pria di ruang tamu itu pun, langsung meneguk ludahnya secara bersamaan.
"Berani-beraninya dia menemui pria dengan memakai pakaian seperti itu!" umpat kesal Wiliam dalam hati.
Dengan segera pria itu berdiri dan secepat kilat mencegah Jelita yang sedang berlari agar tidak mendekat ke arah para pria.
"W-wiliam ... Mau apa kau? Minggirlah," kejut Jelita, ketika pria itu tiba-tiba menghadang larinya.
"Pakai pakaianmu terlebih dahulu!" bisik Wiliam penuh penekanan.
Jelita menatap penampilannya dan dia terbelalak. Menutup dada dan segera berlari masuk ke dalam kamar kembali untuk bertukar pakaian. "M-maaf," ucapnya malu.
Tak butuh waktu lama, Jelita kembali menemui Michael.
"Jelita!" pekik Michael.
"Michael!" pekik Jelita.
Kedua insan itu segera berpelukan dan saling melepas kerinduan. Tidak menghiraukan kedua pria yang sedang duduk dengan santainya.
Michael yang terbawa emosi, pun segera merengkuh tengkuk Jelita dan ingin melabuhkan sebuah pertautan tanda cintanya. Hingga melupakan keberadaan orang lain dan itu membuat Wiliam berubah geram.
Namun Jason yang menyadari perubahan emosi Wiliam, dengan segera berdehem. Agar Michael tidak lepas kendali, sebelum kecupan itu berubah menjadi bencana.
"Ehem!"
Michael dan Jelita menengok ke arah sumber suara, menghentikan aktifitas rindu merindu mereka sejenak.
"Mike ... Hargailah si pemilik rumah," pinta Jason, dengan jantung yang sudah berdebar kencang. "Si Mike tidak tahu tempat sekali," umpatnya kesal.
"Maaf ... Aku terbawa suasana," balas Michael sambil terus menatap Jelita yang juga menatap dirinya dan mereka terus tersenyum.
Cih!
Wiliam mematikan batang candu dengan ujung jarinya, sambil menyaksikan dua sejoli di depannya yang semakin tidak tahu tempat.
"Beraninya dia, bermesraan di depanku," gumam Wiliam seraya meremas erat tangannya.
.
.
__ADS_1
Bersambung.