
Di sebuah taman Mansion Wiliam.
"Waktu kalian hanya satu jam, lebih dari itu, maka jangan salahkan aku memisahkan kalian secara paksa!" tegas Wiliam.
"Terima kasih Wiliam," balas Jelita.
Gadis cantik itu tersenyum begitu senang, dan berubah menjadi riang setelah mendapat ijin dari sang pemilik rumah untuk berduaan sejenak dengan Michael.
Padahal dia sendiri merupakan calon suami dari Jelita, malah membiarkan calon istrinya untuk berduaan dengan pria lain.
Sungguh ironi memang. Akan tetapi, itu semua dilakukan bukanlah tanpa alasan.
Setelah melihat Jelita yang kembali riang dan melengkungkan sebuah senyuman indah setelah melihat Michael, membuat hati sekeras batu pria bertato itu pun luluh.
Mau tidak mau akhirnya Wiliam mengendurkan sedikit urat tegasnya, dan membiarkan gadis itu untuk berbincang sejenak.
Sedangkan dirinya sendiri bersama dengan Jason, berkeliling di kediamannya untuk mengenal satu sama lain. Meninggalkan sepasang kekasih di sebuah taman, dengan penjagaan yang begitu ketat tentunya.
Agar tidak terjadi hal di luar batas, dari kelakuan Michael dan juga Jelita, yang suka lupa diri.
...***...
"Bagaimana kabarmu, apa pria itu menyiksamu atau memaksamu melakukan sesuatu," tanya Michael cemas.
Jelita menggeleng. "Dia tidak pernah menyentuhku atau memaksaku melakukan sesuatu. Dia juga merawat ibuku dengan baik," balasnya.
"Benarkah ... Kau tidak bohong padaku, kan?" tanya Michael memastikan.
Jelita mengangguk. "Benar Michael, dia tidak seperti yang kita takuti selama ini."
"Syukurlah, aku lega sekali mendengarnya," ucap Michael sambil menghela nafas panjang.
"Michael, kenapa kamu terlihat kurus. Apa kau tidak makan? Kau juga terlihat pucat," ucap Jelita, dia menatapi penampilan Michael dari atas hingga ke bawah.
"Jangan pedulikan aku, aku baik-baik saja. Aku hanya mencemaskanmu saja, hingga lupa makan," balas Michael berbohong.
Omong kosong! Padahal dia sudah hampir mirip seperti seorang gelandangan tadi, sesaat sebelum dirinya bertemu dengan Jelita.
"Michael ... Bagaimana keadaan ibu asuh?" tanya Jelita.
"Dia baik, cuma agak sedih setelah kau pergi," balas Michael.
"Apa dia tahu kau datang ke sini?" tanya Jelita, dia cemas jika Michael nekad datang kesini dan itu akan menambah kekecewaan Nyonya Caca.
Michael menggeleng. "Mommy tidak tahu aku datang kesini."
"Bagaimana jika ibu sampai tahu kau datang kesini. Michael," cemas Jelita.
__ADS_1
"Ya jangan sampai tahu," Michael terkekeh.
"Kau ini, mengapa selalu menentang ibu mu sendiri," balas Jelita.
Michael menunduk. "Jika tidak menentangnya, bagaimana aku bisa bertenu denganmu," ucapnya.
"Kau selalu saja mencari masalah," balas Jelita.
"Maaf ... Semuanya salahku, aku yang telah membuatmu jadi seperti ini." Michael meminta maaf dan mengatakan semua rasa penyesalannya.
"Jangan minta maaf Michael, mungkin sudah menjadi jalanku seperti ini," balas Jelita, dia berusaha mensyukuri apa yang terjadi pada dirinya sendiri.
"Kau benar, tapi aku tidak rela kau menjadi milik lelaki itu. Dia seperti bom waktu saja, entah kapan dia akan bertahan dengan kepura-puraannya itu," ucap Michael.
Dia begitu mencemaskan Jelita dan takut jika Wiliam hanya berpura-pura baik demi mendapatkan hati cintanya.
"Michael, Wiliam pernah berkata kepadaku, dia tidak akan menikahi ku jika aku belum siap dan selama itu dia telah berjanji tidak akan menyentuhku sedikitpun," balas Jelita.
"Semoga saja dia tidak melupakan janjinya ... Jelita, kalau begitu berjanjilah padaku juga, untuk tidak menerima ajakan menikah darinya. Tunggulah aku, aku akan menjemputmu jika sudah siap pada waktunya nanti. Setelah aku menjadi penerus perusahaan Chandra Putra, aku akan datang untuk membawamu kembali padaku," tutur Michael.
"Tapi bagaimana jika Wiliam masih tidak ingin melepasku?" tanya Jelita.
"Aku akan menghadapinya secara besar-besaran," tekad Michael.
"Heh sombong sekali," ucao Jelita.
"Baiklah ... Kalau begitu jangan membuatku menunggumu terlalu lama," pinta Jelita.
"Baiklah," balas Michael.
...***...
Kedua remaja bucin itu telah membuat janji untuk saling setia, menjaga perasaan untuk tidak menyakiti hati mereka masing-masing dan juga berjanji tidak akan mengkhianati cinta suci mereka beserta dengan embel-embelnya.
Padahal tidak ada yang tahu secara pasti masa depan itu seperti apa, hingga mereka begitu yakin sekali. Cinta mereka akan berjalan dengan mulus tanpa hambatan.
Namun faktanya tidak seperti itu, karena Nyonya Caca dan juga Tuan Nael sedang bertemu dengan pengusaha lain, yang sama hebatnya dengan keluarga Chandra Putra.
Dalam acara pertemuan dua keluarga tersebut, mereka saling mengenalkan anak mereka masing-masing.
"Ini foto putraku," ucap Nyonya Caca.
"Dia sangat tampan," ucap Nyonya Stefani.
Pengusaha itu juga membawa foto putri keluarga mereka, yang akan dikenalkan kepada Michael untuk disandingkan.
"Putrimu juga sangat cantik," ucap Nyonya Caca.
__ADS_1
"Terima kasih Nyonya besar," balas Nyonya Stefani.
Mereka begitu yakin kedua anak itu pasti akan menyukai satu sama lain dan menjalin hubungan yang serius.
Menjadi sebuah pasangan dalam satu hubungan, yaitu pertunangan dan akan dilanjutkan ke jenjang pernikahan setelah keduanya telah lulus kuliah.
"Mereka serasi sekali," seru dua keluarga itu sambil menyatukan kedua foto dan membayangkan kedua anak mereka bersanding bersama di atas altar suci pernikahan.
...----------------...
Wiliam mengajak Jason berkeliling, kedua pria dewasa bukan hanya tampan namun juga pemberani itu pun saling berbincang.
"Jadi kau juga salah satu anak asuh pribadinya nyonya besar?" ucap Wiliam.
"Hem ... Benar, bisa dibilang aku anak asuh kebanggaannya," balas Jason penuh percaya diri sekali, hingga Wiliam berdecih seketika.
Cih!
"Apa hebatnya hal itu sampai kau bangga sekali memamerkannya," ucap Wiliam.
"Aku bangga, karena bantuan dari ibu asuh maksudku nyonya Caca. Aku bisa berhasil menjadi seperti sekarang ini," balas Jason.
"Keluarga itu orang-orang baik, hanya saja terlalu banyak peraturan," ucap Wiliam menurut sudut pandangnya.
"Sebenarnya bukan banyak peraturan, mereka lebih ke tanggung jawab dan juga kewajiban kepada leluhur. Hingga rela mati-matian menjaga nama baik keluarga, yang sudah di bangun sejak lama dan sudah menjadi tradisi turun-temurun," balas Jason.
Wiliam menyentil lemah abu sisa pembakaran pada batang candunya agar runtuh. "Hem ... Jadi Jelita sukses membuat nama baik keluarga itu tercemar?" tanyanya.
Jason menghela nafas. "Bisa dibilang seperti itu, sangat disayangkan sekali. Andai saja dia tidak dipecat, mungkin keluarga itu kembali mempunyai anak asuh pribadi kebanggaan keluarga seperti diriku terdahulu. Mengingat Jelita termasuk anak yang baik hati, dia begitu rajin dan memenuhi kriteria sebagai orang hebat. Tapi sayangnya harapan keluarga itu kandas begitu saja, hanya karena keinginan seseorang."
Wiliam tersenyum tipis mengerti maksud dari ucapan Jason. "Jadi ... Kau menyalahkanku," ucapnya.
"Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Mungkin ini sudah menjadi jalan gadis itu, aku hanya bisa berharap agar kau memperlakukan Jelita dengan baik. Karena aku sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri, aku juga berharap kau menjaga ibu Maria dan tidak membuatnya sedih," pinta Jason kepada Wiliam.
"Kau tidak perlu khawatirkan hal itu, aku akan menjaganya dengan baik. Yang kau harus khawatirkan adalah si pria labil itu, karena dia bisa saja melakukan hal bodoh dan hal gegabah lainnya," balas Wiliam.
"Kau benar," balas Jason dan dia melihat benda melingkar pada pergelangan tangannya. "Kurasa sudah cukup kami berkunjungnya, aku harus segera kembali dan membawa Mike pulang ke rumah," sambungnya.
"Benar, bawa anak itu pulang ... Lagipula tidak baik jika mereka berduaan terlalu lama, karena Jelita adalah calon istriku, jadi tidak akan ku biarkan pria itu melewati batasannya," balas Wiliam.
Pria itu merasa cemburu ketika melihat Jelita merasa nyaman bersandar dibahu Michael.
.
.
Bersambung.
__ADS_1