Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 62. Sebuah nama.


__ADS_3

Jelita membeku. "D-dia menciumku!" ucapnya dalam hati.


Foto telah usai tapi mulut Michael masih tidak mau melepaskan bungkamannya. Dia terus memejamkan mata dan menikmati permainannya.


Jadi seperti ini rasanya ... Manis dan nikmat, pikir Michael.


Ini kali pertamanya dia mencium seorang wanita, walau dirinya sedikit memaksa, dan tidak tahu kedepannya akan terjadi masalah apa. Akan tetapi, demi sesuatu yaitu demi menghilangkan rasa penasarannya dan juga rasa kehilangan akan sosok wanita yang dia cintai pada saat nanti.


Michael pun memberanikan diri mengambil resiko.


Sementara itu bulir air mata Jelita mulai mengalir, sekuat tenaga dia melepaskan cengkraman tangan Michael pada tengkuk lehernya, tapi usaha Jelita ternyata sia-sia, karena dia kalah tenaga.


"Hmppht!"


Michael lepas ... Hentikan! Batin Jelita berkecamuk, meronta ingin dilepaskan.


Dirasa perlakuan Michael melewati batas, Jelita berganti memukuli tubuh Michael. Sekuat tenaga dia ingin lepas dari ciuman itu dan pergi sejauh mungkin yang dia bisa.


Namun aksi perlawanan Jelita, menambah kegilaan Michael. Kini ciuman itu semakin liar, lidahnya mulai menjelajahi dan menyesapnya hingga ke dalam. Tidak ingin dirinya itu melewati kesempatan yang ada, rasanya ingin melakukan terus dan ingin menambah lebih lama lagi.


Dia tidak peduli dengan gadis dihadapannya itu, yang sudah menangis terisak, dengan wajah sudah memerah karena hampir kehabisan nafas.


Michael mulai tersadar saat kedua tangannya itu mulai basah, terkena buliran air mata dan suara isakan tangis terdengar nyata di telinganya. Mata yang semula terpejam, dia buka dengan kasar dan segera menghentikan aksi gilanya.


"Oh Tuhan apa yang telah aku lakukan!" batin Michael.


Pria itu segera melepaskan pertautannya, dan mengendurkan cengkraman. Kedua bola matanya bergetar saat menatap wajah Jelita yang sudah merah dan juga basah dipenuhi air mata.


Michael merasa bersalah, karena telah membuat cintanya menangis. Menangis begitu pilu dihadapannya. Dia segera menangkup wajah Jelita dengan kedua tangan.


"M-maaf ... Maafkan aku, aku sungguh tidak sengaja." Michael meminta maaf berkali-kali.


Namun Jelita nampaknya terlihat tidak senang, dia menatap tajam Michael dengan kedua matanya yang memerah.


Jelita menepis tangan Michael dengan kasar, dan melayangkan sebuah tamparan di wajah Michael cukup kencang.


"Plak!"


Suara nyaring terdengar oleh keduanya, menggema di kesunyian malam. Sehingga Michael hanya bisa terdiam, menahan perih dan panas pada wajahnya.

__ADS_1


"Jelita ... Maaf. " Michael masih terus meminta maaf, sambil memegang pipinya yang mulai berkedut.


Jelita memberi tanda berhenti pada Michael dengan salah satu tangannya. "Cukup! ... Cukup Michael ... Sudah cukup ..."


Sambil terus menangis, Jelita berbalik dan segera melarikan diri dari Michael.


"Tunggu!" Michael menarik lengan Jelita, tidak ingin rasanya ditinggal oleh Jelita dalam keadaan seperti itu.


"Jangan pergi dulu, aku bisa jelaskan kesalah pahaman ini," ucap Michael.


Jelita terpejam dan menghentak tangannya dengan kasar.


"Lepas!" pekik Jelita, dia menelan ludah nya yang tercekat dan melanjutkan kembali amarahnya.


"Kau bilang ini salah paham, ini bukan salah paham. Tapi ini semua sudah direncanakan olehmu! Sejak awal, kau sudah merencanakannya dan aku ... Aku dengan bodohnya mempercayai dirimu!"


Jelita terisak, dan mengatur nafasnya yang sesak. Sementara Michael hanya bisa terdiam membisu.


"Gaun ini ... Foto ini ... D-dan juga ciuman itu, semuanya sudah direncanakan olehmu. Aku tidak mengerti mengapa kamu melakukan semua itu Michael. Aku juga tidak tahu apa maksudmu, tapi yang jelas aku sama sekali tidak menyukainya. Terutama ciuman itu, ciuman yang seharusnya tidak kau lakukan."


"Kau tidak boleh melakukan itu ... Kau telah salah dan aku telah berdosa. Karena ... Karena aku ... Aku adalah anak asuh Ibu mu!" pekik Jelita.


Kini Michael hanya bisa terduduk lemas, merutuki kebodohannya. Benar semua itu telah di rencanakan olehnya, tapi mengenai ciuman itu. Dia hanya mengikuti nalurinya, naluri ingin memiliki Jelita dan tidak rela terpisah dari wanita tercinta.


"Aku telah salah, dia benar. Seharusnya aku tidak melakukan itu."


Michael menjambak rambut dan mengusaknya hingga tidak beraturan, dia menyalahkan dirinya sendiri, atas semua kejadian yang terjadi. Dadanya naik turun merasakan sesak, sesak karena marah, sedih, kecewa dan juga sakit bercampur menjadi satu dalam hati.


***


Jelita masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan perlahan agar sang Ibu tidak terbangun. Dia segera berlari ke kamar mandi untuk bertukar pakaian.


Dan sesampainya di kamar mandi, Jelita menangis sesungukkan. Dia bercermin pada sebuah kaca dan menyesali perbuatannya.


"Harusnya aku tidak menyetujui permintaan aneh itu, bodohnya aku. Mengapa aku mau saja dikerjai olehnya."


Jelita menyentuh bibirnya dan mengusapnya berkali-kali. Dia juga mencuci mulutnya karena merasa kotor. "Ibu ... Ibu asuh maafkan aku, karena aku tidak bisa menjaga janjiku."


Jelita mencuci wajahnya dan berganti pakaian dengan segera, sejenak dia menatapi gaun ditangannya itu dan mengingat serpihan kenangan indah tadi.

__ADS_1


"Michael ... Jika mereka sampai mengetahui perbuatan kita tadi, bagaimana bisa aku menatap wajah Ibu asuh. Aku malu sekali, aku merasa tidak pantas menjadi anak asuhnya."


Jelita berusaha menenangkan diri sendiri, dan menghapus air matanya itu. Dia melupakan makan malam yang telah dijanjikan oleh Michael sebelumnya dan memilih berbaring di atas kasur bersama sang Ibu.


Jelita memejamkan kedua mata, sebisa mungkin untuk tidur dan melupakan semua kejadian yang terjadi pada malam ini.


………………………………………………………………………………


Mansion Wijaksana.


Floren sedang mendengarkan penuturan dari anak buah yang pernah dia pinta untuk mencari tahu tentang gadis di mansion Chandra Putra.


Anak buah itu memberikan beberapa foto kepada Floren.


"Ini Non Foto yang berhasil saya ambil saat cewek itu pergi sekolah, dan beberapa lagi saat dia berada di sekolah." ucap anak buah Floren.


Floren tersenyum. "Terima kasih, ini uangnya." Dia menyerahkan segepok uang tunai kepada anak buahnya.


"Terima kasih Nona, jika butuh sesuatu kabari saya lagi." Ucap anak buah Floren sambil sumringah menatap banyak uang ditangannya.


"Iya, sudah pergi sana!" titah Floren dan anak buahnya itu pergi.


Floren menatapi lembar demi lembar foto cewek itu dan dia mencebik.


"Cantik juga ..." ucap Floren masih belum menyadari itu adalah Jelita.


Namun salah satu foto berhasil membuat kedua netranya terbelalak, selembar foto ukuran 4 R, dengan wajah wanita tersenyum separuh badan sangat jelas terlihat.


Tapi bukan itu yang membuat Floren terkejut, melainkan pada sebuah nama yang tertera pada seragam putih tersebut. Sebuah nama yang terukir dengan jelas pada dada di sebelah kanan wanita itu.


Floren menenguk ludahnya kasar, dia meremas foto dihadapannya itu dan menelisik kembali foto lainnya. Dia terus menatapi lebih seksama foto itu dengan hati yang terus memanas.


Dia kemudian mengerang keras saat mengetahui nama asli si wanita cantik itu.


"Jelita ... Tapi bagaimana bisa!"


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2