
"Hah! Jelita ...." Michael menggeleng cepat. "Aku baru mengenalnya beberapa bulan, kenapa terlintas namanya."
Michael mencoba memejamkan matanya kembali, lalu memikirkan siapa saja teman yang menurutnya paling dekat.
Dia tersenyum dan terkekeh saat mengingat kejadian lucu kemarin.
Hehe ... begitulah tawanya.
Ketika dirinya tersadar Michael menekuk wajah tampannya dan membungkuk seperti burung unta. Dia mengerucutkan bibirnya dan berkata, "Aish Michael, kenapa muncul wajah dia lagi? Ah aku tahu! ... Mungkin karena dia adalah teman wanita ku yang pertama, makanya yang terlintas di otakku adalah dia."
Michael menghembus nafasnya panjang. "Ah sudah lah lebih baik aku kembali ke kelas saja."
Dia lalu berdiri dan berjalan menuju kelas, dan di sepanjang jalan dia tersenyum, merasa lega.
"Hem ... Mengingat namanya boleh juga."
***
Sementara itu di dalam kelas, semua siswa tengah meneguk ludah bersamaan. Mereka sampai bersendawa karena terlalu banyaknya menelan ludah.
Bagaimana tidak, di depan mereka seorang dosen cantik alias Bu Ros tengah mengajar begitu seksinya. Membuka blazer, sehingga hanya terlihat memakai tank top saja. Ditambah ada bulatan kembar yang menyembul ingin tumpah dan juga rok mini nya yang begitu kurang bahan.
Apalagi pada bagian belakang rok itu terdapat belahan yang memanjang ke atas. Sepanjang garis khatulistiwa.
Entah mengapa dosen itu hari ini terlihat begitu menggoda, memakai pakaian laknat seperti itu.
Di ikat rambutnya itu tinggi-tinggi hingga nampak leher jenjang, putih nan mulus miliknya. Membuat seorang siswa langsung mimisan di kursinya.
Mata berbulu lentik itu senantiasa tidak bisa diam, seolah-olah sedang mencari seseorang.
"Dimana dia?"
………………………………………………………………………………
Mansion Chandra Putra.
Jelita telah pulang dari sekolah, dia menyapa semua orang dengan gembira. Jelita kemudian segera menemui Ibu kandungnya yang sedang menunggu dirinya pulang sekolah.
Jelita lalu bercerita kepada Ibu semasa dirinya di sekolah hari ini.
"Ibu ... Apa Ibu tahu, Jelita sudah punya banyak teman loh, mereka semua mau berteman dengan Jellita. Oh iya Ibu, sekolahnya bagus banget dan gurunya juga baik-baik. Jelita senang sekolah disana," ucap Jelita menceritakan semuanya dengan menggebu.
Jelita menceritakan semuanya, tentang teman, pelajaran, semua guru dan lain sebagainya. Dia tertawa gembira, membuat Ibu meneteskan air matanya. Karena beliau turut merasakan kegembiraan putrinya itu.
Sudah lama sekali dia tidak tertawa seperti itu. Oh Tuhan jaga selalu putriku, semoga dia selalu bahagia seperti ini.
Itulah harapan sang Ibu, saat melihat Jelita tengah bersenda gurau dengan dirinya.
***
Sore harinya Jelita membawa Ibu ke taman, dia ingin Ibunya itu melihat, bahwa putrinya sangatlah rajin dan tidak bermalas-malasan.
__ADS_1
Jelita menyapu halaman dan menyiram beberapa tanaman yang berada disana. Sesekali dirinya menjeda untuk duduk disamping Ibunya sambil menatap bunga-bunga yang indah disebuah taman.
"Ibu, kita tinggal disini hanya sementara, Kak Jason bilang kalau rumah kita akan selesai dibangun dua bulan lagi."
"Itu berarti aku tidak akan bisa bertemu dengan Ibu asuh lagi setiap hari dan hanya bisa bertemu dengannya di waktu-waktu tertentu."
Jelita menggenggam tangan Ibu dan menatapnya penuh harap. "Ibu ... Selama kita masih tinggal disini, Ibu tidak keberatan kan jika aku juga melayani Nyonya Caca layaknya Ibu kandung sendiri?"
Ibu hanya bisa mengangguk dan mengedipkan mata tertanda setuju dan membiarkan putrinya itu untuk berbakti kepada Ibu asuhnya.
"Terima kasih," Jelita mencium punggung tangan Ibu.
Jelita kemudian berdiri dan kembali menyiram tanaman dengan ditemani Ibu kandungnya. Membuat sepasang mata menatapnya begitu haru dan bercampur iri.
"Andaikan putriku juga ada disini, aku bisa menyayanginya dengan sepenuh hati."
Nyonya Caca kemudian mengingat putri nya yang sedang tinggal di asrama, dia begitu merindukan putri cantik nya itu.
Dia menghela nafas panjang dan menguatkan hatinya. "Aku harus sabar, Shansan bukan pergi untuk selamanya, dia hanya sedang pergi untuk menuntut ilmu dan tinggal beberapa bulan lagi, dia akan kembali kesini."
Shansan adalah anak kedua Nyonya Caca, adiknya Michael. Dia berparas cantik dan berhati lembut, seperti ibunya. Shansan berusia sama seperti Jelita, dimana dia juga sedang mengenyam pendidikan dijenjang SMA.
***
Tak berapa lama kemudian Michael pulang dari kampus. Dia melemparkan dirinya ke atas kasur yang nyaman.
Dia kembali mengingat semasa belajar di kampus, begitu gerah melihat kelakuan Floren.
"Wanita itu terus saja menggodaku, pakai segala memamerkan kedua paha nya itu di depan mataku!"
Michael memukul pahanya dengan keras. Berusaha melupakan kejadian tadi, namun hasilnya nihil. Lekuk tubuh Floren nyatanya membuat dia selalu terbayang-bayang.
Putih bersih, berseri ... aroma nya memikat.
Michael menjambak rambut dan mengacak-acaknya hingga tidak beraturan.
Sumpah demi apapun jika dia tadi tidak mengingat sang Mamy dan juga Jelita, pasti tubuh Floren sudah habis disergap olehnya.
"Oh my God, help me!" Michael meraup wajahnya dengan kedua tangan lalu memilih mandi dengan air dingin untuk menjernihkan pikirannya.
Di dalam kamar mandi dia terbayang kembali lekuk tubuh itu, membuat bagian bawahnya berdiri dan mengeras.
Dia lalu menengok pada bagian bawahnya itu dan mengusap wajah dengan kasar.
"Oh kurang ajar! mengapa kau tergoda?" gumam Michael sambil terus menahan hasrat. Dia mengepal kuat erat kedua tangan dan meninju dinding kamar mandi di depannya.
Michael menelan ludah yang tercekat di antara tenggorokannya, dia menggenggam bagian sensitifnya itu dan disaat bersamaan, Michael mulai mengerang hebat dan merintih dengan suaranya yang sedikit parau.
Eugh!!
***
__ADS_1
Setelah membantu Bi Sari menyiapkan makan malam untuk keluarga Nyonya Caca, Jelita duduk di kursi taman dekat kolam ikan.
Dia lalu dikejutkan dengan kedatangan seseorang.
"Kau sedang apa disini?" tanya Michael lalu duduk disamping Jelita.
"Hanya duduk menghabiskan malam," balas Jelita.
Michael menghela nafas panjang dan itu membuat Jelita segera bertanya. "Kau kenapa, apa kau sedang sakit?" tanya Jelita melihat wajah Michael yang terlihat lesu.
Michael menggeleng. "Tidak, hanya merasa lelah saja. Oiya bagaimana hari pertamamu di sekolah?" tanya Michael.
Jelita mengulum senyum. "Aku senang, aku tidak menyangka akan mendapat teman begitu cepat."
Michael berdecih. "Cih! aku pikir kau disana menangis seharian," Michael lalu terkekeh membuat Jelita melayangkan tatapan tajam.
"Apa kau berpikir aku selemah itu?" tanya Jelita lalu Michael lantas terdiam.
"Tidak, maaf." Michael meminta maaf lalu kembali murung.
"Kau murung, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Jelita kemudian mendekatkan dirinya pada Michael.
"Jelita ... Apa kau pernah berpacaran, atau menggoda seorang pria?" tanyanya tiba-tiba.
"Heh! pacaran? ..." Jelita berdengus. "Lelaki mana yang ingin berpacaran denganku dan bagaimana caranya aku bisa menggoda seorang pria? rupaku saja tidak ada menariknya sama sekali," balas Jelita lalu terkekeh.
"Lalu jika ada yang menggodamu bagaimana?" tanya Michael.
Jelita menautkan kedua alisnya, merasa aneh dengan pertanyaan Michael.
"Michael, bilang saja intinya. Tidak perlu ragu atau basa basi denganku. Kau bisa cerita denganku, mungkin aku bisa membantumu," ucap Jelita.
Michael menatap Jelita dengan serius lalu dia mulai bercerita mengenai kelakuan Floren yang membuatnya tergoda. Jelita seketika syok dan tak menyangka dengan kelakuan Floren yang begitu rendah.
"Aku tidak tahu sampai kapan dirinya berhenti menggodaku, dan entah sampai kapan aku bisa menahan godaannya. Perlakuannya terkadang terbayang dalam ingatanku," ucap Michael menunjukkan wajahnya yang pasrah lalu teringat kembali di kamar mandi ketika dia harus mengeluarkan uneg-unegnya.
"Michael, aku belum dewasa sampai tahap itu. Tapi mungkin kau bisa menuruti saranku. Carilah sesuatu kegiatan yang bersifat positif agar pandangan dan pikiranmu teralihkan," balas Jelita.
"Kegiatan positif?" tanya Michael.
"Benar, kau bisa mengikuti kegiatan eskul di kampus," balas Jelita.
"Kau benar! bodohnya aku, kenapa tidak terpikirkan. Aku dari dulu suka sekali main basket. Hem baiklah ... Aku akan mendaftar menjadi pemain basket," ucap Michael menggebu, lalu dia menatap Jelita.
"Benar kau begitu bodoh selalu saja memamerkan wajahmu yang sok tampan itu," Jelita menyindir Michael.
Tapi Michael tidak marah, dia malah tersenyum lalu duduk berhadapan dengan Jelita.
"Terima kasih," ucap Michael sambil menggenggam kedua tangan Jelita.
.
__ADS_1
.
Bersambung.