Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 99. Tanda kemerahan.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali Jelita sudah bangun pagi dan gadis itu baru saja selesai membersihkan diri. Dia keluar dari kamar mandi, dengan memakai sebuah bathrobe. Lalu berdiri di depan cermin, sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah sehabis keramas.


Hari ini dia bersenandung merdu, merasa senang sekali karena kencan rahasianya dengan Michael kemarin malam berjalan lancar tanpa ada hambatan sedikit pun. Dan menyisakan kenangan indah yang tidak terlupakan bagi dirinya sendiri.


Jelita tersenyum saat mendengar ada sebuah pesan masuk pada ponselnya.


"Itu pasti dari Michael," gumamnya merasa yakin, karena memang ponsel itu dibelikan secara langsung oleh Michael untuk dirinya seorang.


Secepat mungkin Jelita bergegas menyambar ponselnya diatas nakas dan tidak lupa memakai kacamatanya agar dapat membaca pesan itu dengan jelas.


"Morning."


Dugaannya ternyata benar, itu dari Michael. Sambil terus tersenyum, Jelita membalas pesan tersebut.


"Morning too," balasnya, lalu duduk di sisi ranjang.


"Kau sedang apa?"


"Aku habis mandi," balas Jelita.


"Benarkah, kalau begitu kau pasti wangi sekali, aku jadi ingin mencium dan memelukmu."


Mendapat pesan tersebut, Jelita langsung salah tingkah dan jadi malu sendiri. Membayangkan bagaimana jika Michael benar-benar memeluknya sehabis mandi. "Ah apa yang sedang ku pikirkan," gumamnya sembari cekikikan.


"Kau nakal sekali, katakan padaku kau sedang apa?" balas Jelita sambil terus tersenyum menatap layar ponselnya.


"Kau yang telah membuatku menjadi nakal, aku baru bangun tidur. Jelita ... Aku ingin menelponmu, boleh tidak?"


"Tidak boleh, aku belum pakai baju. Hihi ..." balas Jelita dengan emoji malu dan tertawa.


"Ah ... Padahal aku ingin sekali melihatmu sekarang dalam keadaan sehabis mandi."


Jelita terkekeh, wajahnya pun sudah memerah. Mendapat pesan dari Michael dengan emoji menggemaskan diakhir pesan tersebut. "Apa-apaan sih dia itu," gumamnya lagi.


"Pokoknya tidak boleh! Sekarang kau mandilah," balas Jelita.


"Hem ... Tidak kemana-mana ngapain mandi terburu-buru. Jelita bagaimana rasanya kemarin dicium olehku? Apa kau mau lagi, aku bisa memberikanmu ciuman yang lebih liar dan lebih lama dari pada kemarin malam. Hehe."


Jelita terbelalak sejenak dan mengumpat setelah membaca pesan tersebut. Ingin rasanya dia memukul Michael jika berada didekatnya, karena mengirim pesan mesum seperti itu.


"Menyebalkan, aku ingin pakai baju dulu. Nanti lanjut lagi, ok!" balas Jelita lalu menaruh ponselnya diatas ranjang.


Gadis itu tersenyum dan tertawa kecil, membiarkan ponselnya berdering tanpa ia hiraukan. Meledek Michael yang sedang kesal karena tidak mendapat balasan darinya.


Jelita membuka lemari baju dan memilih pakaian sehari-hari, dia melepas bathrobe dan mulai memakai pakaiannya hingga selesai.


Tidak lupa memakai pelembab wajah dan juga lotion diseluruh tubuh, menyisir rambut sambil bercermin. Lalu melangkah kembali untuk naik ke atas ranjangnya yang hangat.


Menyempatkan diri membalas pesan dari Michael, sebelum dirinya turun untuk sarapan pagi.


Sesampainya di sisi ranjang, Jelita mencari-cari ponselnya yang hilang. "Kemana hilangnya ponselku?" tanyanya pada diri sendiri sambil menyisipkan anak rambut ke belakang daun telinganya dengan terus membungkuk serta meraba permukaan ranjang.

__ADS_1


Membolak balik bantal dan juga melempar selimut, demi mencari ponselnya yang mendadak hilang begitu saja.


"Cari apa hem?" suara tidak asing lagi terdengar di telinga Jelita dan gadis itu segera berhenti dan berbalik badan.


Lagi-lagi dirinya terkejut, mendapati seorang pria tengah duduk santai di atas sofa, sambil mengutak-atik ponsel miliknya yang sedang dia cari selama ini.


"K-kau!" pekik Jelita.


"Iya aku," balas Wiliam.


"B-bagaimana kau bisa ada disini dan bukannya kau belum pulang dari Amerika?" tanya Jelita terheran-heran, dengan tubuh yang mendadak gemetaran.


Wiliam bangun dari tempat duduknya dan berjalan mendekat ke arah ranjang, dimana Jelita sedang terduduk lemas.


"Aku sudah pulang dari kemarin sore dan langsung menginap di rumah Opa. Selain karena jarak rumah Opa dengan bandara yang cukup dekat, aku juga harus menyelesaikan beberapa pekerjaanku disana. Dan baru tadi pagi aku pulang ke sini, untuk menemui calon istriku yang ternyata sudah mandi pagi dan juga sudah wangi."


"Oiya sayang, tadi pacarmu bilang ingin sekali mencium dan memelukmu sehabis mandi. Bagaimana kalau aku yang mewakili keinginan pacarmu itu," balas Wiliam, dengan tatapan penuh dambanya.


"J-jangan," ucap Jelita terbata. Dia berusaha menelan ludahnya yang tercekat, saat melihat Wiliam kini telah berada dihadapannya.


Pria itu terus saja mendesaknya, hingga kini dia telah berada dibawah kungkungan Wiliam. Sambil menatap dirinya dengan senyuman yang begitu menakutkan.


Seperti akan ada pertanda buruk yang menimpah dirinya.


...***...


Wiliam tersenyum tapi tidak dengan Jelita, gadis itu terus saja terpejam dan berharap Wiliam tidak melakukan hal yang buruk kepadanya.


"Kenapa tidak berani menatapku, apa kau takut dan telah menyadari kesalahanmu?" tanya Wiliam.


"Tergantung dirimu," balas enteng Wiliam. Membuat Jelita terdiam dan mati kutu.


"Katakan padaku, hukuman apa yang ingin kau dapatkan dari ku. Karena telah berani membohongi semua orang dan juga ibumu sendiri. Hanya karena ingin jalan-jalan bersama kekasihmu itu," ucap Wiliam menimpali.


"M-maafkan aku ... J-jangan lakukan apapun padaku," balas Jelita terbata.


"Heh! Baiklah kalau begitu aku yang akan menentukan hukuman mu. Berikan aku satu kali ciuman seperti yang kau dan kekasihmu itu lakukan kemarin malam," pinta Wiliam.


Jelita menggeleng. "T-tidak mau," balasnya.


Wiliam berdecih kesal. "Pelit sekali," jawabnya.


Pria itu lalu menarik diri dari Jelita dan beranjak dari tempat tidur tanpa melakukan apapun yang berarti.


Jelita membuka mata, saat menyadari jika Wiliam telah menyingkir dari atas tubuhnya. Kemudian duduk kembali, sambil mengelus dadanya untuk menetralisir rasa takut dan menenangkan jantungnya yang terus saja berdebar kencang.


"Untung saja dia tidak melakukan sesuatu padaku," gumamnya merasa lega.


"Jelita, aku tidak akan menyentuhmu. Tapi bukan berarti aku melepaskanmu begitu saja," ujar Wiliam.


"Maaf kan aku Wiliam, jangan hukum aku terlalu berat," mohon Jelita.


Wiliam tersenyum dan dia berdiri. Pria itu mengulurkan tangannya kepada Jelita. "Bangun ... Ikut aku ke bawah dan temani aku sarapan pagi," balasnya.

__ADS_1


Jelita mengangguk dan menyambut uluran tangan Wiliam. "Baiklah."


Dengan segera Wiliam menarik lengan Jelita, agar wanita itu jatuh ke dalam pelukannya. Hingga Jelita pun hanya melongo tidak menyangka, pria yang bernama Wiliam itu mendekapnya dengan erat.


"Sekarang hukumanmu adalah ini." Wiliam membenamkan wajahnya pada ceruk leher Jelita, lalu menyesap kuat hingga meninggalkan bekas kemerahan.


"Apa yang kau lakukan!" pekik Jelita, ketika Wiliam terus saja menyesap dan tidak mau melepaskan gigitan dari lehernya.


"Menghukummu," jawab Wiliam, lalu menyesap kembali pada ke sisi leher yang lain.


"Akh! Kau keterlaluan sekali!" bentak Jelita, lalu mendorong sekuat tenaga agar terlepas dari dekapan Wiliam, kemudian berlari ke depan cermin sambil memegangi kedua sisi lehernya.


Dia begitu kesal, saat melihat leher jenjangnya telah memiliki dua tanda kemerahan. Begitu jelas sekali, hingga sulit bagi dirinya untuk menutupi dua tanda merah memalukan tersebut.


Sementara itu Wiliam hanya tersenyum sambil memandangi Jelita yang sedang panik, mencari cara untuk menutupi tanda gigitan Wiliam sebelum dirinya turun ke bawah untuk sarapan.


"Aku membencimu Wiliam," umpat Jelita.


Dan setelah cukup lama memandangi lehernya di depan cermin, Jelita akhirnya memutuskan untuk menutupi bekas kemerahannya itu dengan memakai baju berkerah tinggi.


"Dasar drakula!" celetuk Jelita.


Wiliam terkekeh. "Ayo kita turun dan kau harus melayani aku dimeja makan," ucapnya lalu menggandeng tangan Jelita tanpa permisi dan membawanya menuruni anak tangga bersama.


"L-layani katanya," gumam Jelita bingung, seraya mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali


...***...


Sesampainya di ruang makan, Wiliam dan Jelita telah disambut oleh Ibu Maria dan juga Bu Nina beserta para maid disana.


Mereka tersenyum mendapati keduanya tengah bergandengan tangan dan duduk bersama dimeja makan.


"Ibu senang sekali melihat kalian akhirnya mau bersama dan menemani Ibu dimeja makan," ucap Ibu Maria lalu menatap Bi Nina. "Bukan begitu Bi Nina, apa kau juga senang melihat mereka berdua disini?" tanyanya.


Bi Nina mengangguk dan tersenyum. "Benar Ibu Maria, ini salah satu pertanda baik. Apalagi rumah ini juga sebentar lagi akan kedatangan tuan besar. Saya yakin beliau akan senang, jika melihat Tuan muda Wiliam beserta Nona Jelita duduk bersama seperti ini," balasnya yakin.


"Tuan besar?" tanya Jelita.


"Iya ... Opa mau datang kesini dan sarapan bersama dengan kita," serobot Wiliam lalu pergi sejenak untuk cuci tangan.


"Opa Wijaya? Bibi ... Apa yang kau maksud tuan besar itu adalah ayahnya Wiliam?" tanya Jelita.


Bi Nina menggeleng. "Orang tua Tuan muda Wiliam telah lama tiada," balasnya sambil menunduk sedih.


Jelita terkejut mendengar hal tersebut. "Jadi dia sudah tidak punya orang tua?" tanyanya kembali.


Bi Nina mengangguk. "Benar Nona," balasnya.


Jelita menunduk dan memikirkan sesuatu. "Jadi ... Wiliam sudah tidak punya orang tua. Pantas saja, selama aku tinggal disini, aku belum pernah melihat kedua orang tuanya itu," gumamnya dalam hati.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2