Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 116. Rencana Wiliam.


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Apa gagal!" Tuan Wijaksana mengusak rambutnya karena frustasi.


"Iya Tuan, kabarnya mereka bertiga dipenjara sekarang," balas asisten Tuan Wijaksana.


"Apa mereka bilang sesuatu tentang diriku?" tanya nya lagi.


"Tidak Tuan, mereka tidak tahu identitas anda," balas sang asisten.


"Untung saja aku tidak memberitahu namaku kepada mereka. Jika tidak, Wiliam pasti akan mengincarku. Dia seperti singa liar saja," ucap Tuan Wijaksana.


"Benar Tuan, Wiliam seperti orang kerasukan saat melawan ketiga preman itu. Dia juga berhasil melumpuhkan ketiga preman bayaran kita dalam satu kali serangan, bahkan salah satu tangan preman itu ada yang patah tulang bahu dan sedang berada di rumah sakit sekarang," balas sang asisten.


Tuan Wijaksana meneguk ludahnya susah payah saat membayangkan kejadian menyeramkan tersebut. Dirinya tidak menyangka jika Wiliam bisa berubah menyeramkan seperti itu.


Kali ini dia merasa akan direpotkan dalam menghadapi Wiliam, karena pria itu nyatanya tidak dapat dibodohi lagi sekarang.


Tuan Wijaksana juga harus berpikir secara matang dalam melakukan rencana dan dia juga akan berhati-hati kedepannya dalam bertindak menghancurkan Wiliam, yang menurutnya sudah semakin pintar saja dan sulit dijinakkan.


"Lalu bagaimana dengan pembelian tanah di daerah penggunungan itu?" tanya Tuan Wijaksana.


"Sukses besar Tuan, beberapa perusahaan juga sudah menandatangi kontrak dan akan berinvestasi dalam rencana pembangunan restoran dan resort kita disana," balas sang asisten.


"Bagus, pembangunan hotel dan restoran di dekat wisata alam itu akan membuat kita untung besar," tutur Wijaksana.


"Anda benar Tuan, bagaimana mengenai sisa tanah yang 15 hektar yang berada di sebelah tanah yang sudah kita beli? Apakah rekan bisnis kita sepakat ingin membelinya?" tanya sang asisten.


"Biarkan saja, kita fokus pada tanah yang sudah kita beli dulu, jika itu sukses besar kita bisa memperluas hotelnya dengan membeli tanah sisa tersebut," balas Tuan Wijaksana.


"Baiklah Tuan," balas sang asisten.


Tuan Wijaksana tertawa kencang, tidak disangka dalam urusan bisnis Wiliam masih perlu banyak belajar, karena dengan mudahnya Perusahaan Wijaksana mendapat persetujuan dari Wiliam sendiri untuk rencana pembangunannya tersebut tanpa banyak pertanyaan.


Namun nyatanya Wiliam mempunyai rencana tersendiri untuk menghancurkan Wijaksana.


...----------------...


Perusahaan Wijaya Group.


Wiliam beserta para anak buah sesama petarung andalan sedang berkumpul di dalam satu ruangan.


"Ada beberapa orang yang akan ku percayakan untuk menjaga wanitaku, Opa, sekitar rumah dan juga di sekeliling perusahaan ini." Wiliam menunjuk beberapa anak buahnya.


"Baik Bos!" seru semua anak buah Wiliam yang terpilih.


"Kalau begitu jalankan perintahku sekarang!" titah Wiliam memberi kode kepada anak buahnya untuk pergi.

__ADS_1


"Siap Bos!" seru mereka kemudian berlalu pergi, menyebar ke tempat yang sudah diperintahkan.


Wiliam kembali menghisap candunya dan duduk diatas kursi kebesaran sambil menatap keluar jendela.


"Tidak akan ku biarkan kau menyakiti siapapun lagi Om Wijaksana," gumam Wiliam sembari menghembuskan asap candunya ke udara.


Tak berapa lama kemudian, Riko sang asisten pribadi Wiliam datang sambil membawa berkas yang diminta oleh sang bos sebelumnya.


"Wil, ini dokumen yang kau inginkan. "Riko menaruh berkas diatas meja kerja.


Wiliam pun memutar kursinya. "Terima kasih," balasnya lalu meraih berkas tersebut.


"Wil, jadi apa rencanamu sekarang?" tanya Riko.


"Riko, di dalam berkas ini mengatakan jika Om Wijaksana telah membeli tanah seluas 50 hektar, di daerah pegunungan untuk membangun sebuah resort dan juga restoran mewah disana," tutur Wiliam.


"Benar Wil, Perusahaan Wijaksana telah bekerja sama dengan beberapa perusahaan lain untuk membangun sebuah resort besar, hotel dan juga restoran mewah, karena rencananya beberapa hektar di dekat tanah yang telah di beli oleh Tuan Wijaksana tersebut, akan dibangun tempat wisata alam besar berkisar 1000 hektar," balas Riko membenarkan.


"Hem, coba cari informasi tentang sisa tanah di samping tanah yang telah dibeli oleh Wijaksana, aku ingin tahu tanah tersebut sudah dibeli olehnya atau belum?" tanya Wiliam.


"Tanahnya masih belum dibeli Wil, karena masih menunggu beberapa rekan perusahaan Wijaksana sepakat untuk membeli tanah sisa itu jadi atau tidak," balas Riko.


Wiliam tersenyum dan menutup berkas ditangannya. "Kalau begitu Riko, kau hubungi pemilik tanah itu dan beli semua sisa tanahnya."


Riko menautkan kedua alisnya. "Untuk apa Wil?" tanyanya bingung.


"Tapi Wil untuk apa kau membeli tanah di dekat tanah milik tuan Wijaksana?" tanya Riko.


"Beli saja dulu dan jangan beritahu kepada siapa pun, jika kita yang akan membeli tanah tersebut," balas Wiliam.


"Baiklah, tapi tanah tersebut memiliki luas 15 hektar. Kau ingin membuat apa dengan tanah seluas itu?" tanya Riko.


"15 hektar cukup besar juga ... Sudahlah jangan banyak tanya, beli saja dulu," balas Wiliam.


"Wil, setidaknya beritahu aku kau ingin buat apa diatas tanah seluas itu?" tanya Riko.


Wiliam menghela nafasnya. "Riko, aku juga belum tahu untuk apa."


Riko menepuk jidatnya. "Wil, kau bisa membuat perusahaan ini rugi besar, jika membeli tanah itu tidak ada tujuannya," balas nya sambil menghitung anggaran yang sangat besar jika membeli tanah tersebut sendirian.


"Baiklah, aku akan membangun sebuah trmpat penampungan sampah saja kalau begitu," balas Wiliam tanpa beban.


Riko menganga. "Wil, kau sudah gila! Untuk apa membangun tempat pembuangan sampah yang tidak ada untungnya sama sekali."


Wiliam menatap tajam Riko. "Aku serius ... Untuk menghancurkan perusahaan Wijaksana aku tidak boleh berjalan setengah-setengah. Kita lihat saja saat bangunan itu sudah selesai dibuat, hotel dan restoran mereka sudah pasti akan hancur. Karena tidak akan ada orang yang mau makan atau tidur bersebelahan dengan tempat sampah yang bau."


"Tapi Wil, pikirkan lagi tentang masa depan perusahaan ini juga. Jika Wijaksana hancur kau juga akan hancur. Bagaimana kau akan bertanggung jawab pada perusahaan ini nanti atau menjelaskan kepada Tuan Wijaya?" tanya Riko masih tidak ingin Wiliam gegabah.

__ADS_1


"Riko, turuti saja permintaan ku itu. Wijaksana itu laksana ular berbisa. Jika kita memegang ekornya, maka dia akan mematuk kita dengan racun. Tapi jika kita memegang kepalanya, sudah pasti dia akan kalah karena tidak berkutik," tutur Wiliam yakin dengan teorinya akan berhasil.


"Wil, baiklah. Jika kau bersikeras, aku akan mendukungmu sepenuhnya," balas Riko.


"Terima kasih," balas Wiliam.


Sebelum keluar dari ruangan Wiliam, Riko menghela nafas panjang. Dia berharap Wiliam bisa menghadapi segala resiko buruk yang akan terjadi akibat rencana gilanya.


...----------------...


Mansion Wiliam.


Karena kejadian kemarin malam, membuat Jelita tidak masuk kuliah. Kepala gadis manis itu masih terasa sakit dan Wiliam senantiasa memperhatikan hal tersebut.


"Auw ..." rintih Jelita sambil memegang kepalanya yang sakit.


Wiliam yang baru saja tiba dari kantor pun segera menghampiri Jelita saat mendengar suara rintihan calon istrinya.


"Apa kepalamu masih sakit? Bagaimana kalau kita ke dokter saja," ucap Wiliam.


"Tidak perlu Wil. Aku baik-baik saja," balas Jelita.


"Coba aku lihat," ucap Wiliam.


Dia memutar tubuh Jelita agar membelakangi dirinya dan menyingkap rambut yang menghalangi agar dapat melihat luka di tengkuk leher Jelita.


"Masih lebam, aku akan mengoleskan salep untukmu," ucap Wiliam.


Jelita mengangguk. "Baiklah," balasnya.


Wiliam pun mengoleskan salep pereda nyeri di tengkuk Jelita yang lebam, sesekali menahan hasrat yang tiba-tiba muncul begitu saja.


Tidak disangka hanya melihat dan menyentuh sedikit saja kulit mulus di daerah sensitif wanita itu membuat dirinya bergejolak begitu dasyat.


"Siaal!" umpat Wiliam dan mendesis sesekali.


Sedangkan Jelita hanya merinding ketika menerima sentuhan lembut dari jari-jemari Wiliam saat pria itu mengoleskan salep pada luka lebam di tengkuk lehernya.


"Geli sekali," gumam Jelita dalam hati, dibarengi dengan berdirinya bulu-bulu halus disekujur tubuh.


Wiliam menghentikan lamunannya dan bergegas pergi menjauh dari Jelita sebelum ular pythonnya itu semakin bangun menjadi liar tidak terkendali.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2