Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 58. Mengutarakan perasaan.


__ADS_3

"Michael ada apa denganmu, apa kamu menangis?" tanya Jelita saat merasa Michael mulai tenang.


Michael mengendurkan pelukannya lalu Jelita segera membalikkan tubuh, hingga kini mereka saling berhadapan satu sama lain.


Jelita memandangi wajah Michael yang tidak bercahaya. "Michael ada apa denganmu?" tanya Jelita merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada Michael.


Michael menggeleng pelan dan menatap wajah Jelita tanpa henti. "Tidak ... Aku tidak apa-apa."


"Michael, ceritalah padaku. Apa kamu tertimpah masalah?" tanya Jelita kembali.


Michael tersenyum. "Tidak, aku baik-baik saja."


"Apa kamu yakin?" tanya Jelita memastikan.


Michael mengangguk. "Ya," jawabnya lemah.


"Michael, baiklah jika kamu tidak ingin cerita, setidaknya duduklah dulu. Aku akan menemanimu sampai kau tenang, lagipula aku masih punya banyak waktu," ucap Jelita dan menuntun Michael untuk duduk.


Michael menurut dan kini mereka pun duduk bersama. Tidak ada perbincangan hanya saling menatap satu sama lain. Jelita yang melihat Michael bersedih, tidak berani bertanya lebih banyak.


Sementara itu Michael bertambah sedih saat mengetahui perasaan cintanya tidak akan pernah bisa tersampaikan, kepada wanita dihadapannya itu, yang dia cintai seiring berjalannya waktu.


Karena dia tahu akan jawaban pernyataan cintanya kepada Jelita adalah pasti di tolak. Mengingat peraturan bodoh yang dibuat oleh anggota yayasan tersebut. Tentang membatasi kedua hubungan antara anak asuh dan juga anak yayasan.


Michael memilih menyimpan perasaannya dan mengubur di hati yang paling dalam, dia hanya bisa berharap akan ada keajaiban yang terjadi di masa depan.


"Jelita, ada yang ingin ku tanyakan padamu?" tanya Michael.


"Silahkan, kau ingin bertanya apa?" balas Jelita dengan bertanya.


"Hm ... Apa kau sudah tahu tentang peraturan anggota yayasan, yang isinya tidak boleh mengikat hubungan spesial dengan anak asuh?" tanya Michael


Jelita terkejut, tapi apa hubungannya dengan kesedihan Michael. "Aku sudah tahu."


"Jadi kau sudah tahu?" tanya Michael.


"Iya aku sudah tahu sejak diriku menjadi anak asuh dan peraturan anak yayasan dengan anak asuh ku ketahui dari Ibu kemarin," balas Jelita.


"Lalu apa tanggapan mu tentang peraturan tidak masuk akal itu?" tanya Michael.


Jelita mendesah kecil. "Menurutku itu tidak ada salahnya, jika peraturan itu dibuat untuk kebaikan semua, aku tidak mempersalahkannya. Mereka membuat peraturan tersebut pasti bukanlah tanpa sebab."

__ADS_1


"Tapi bagaimana jika kau menyukai seseorang, seperti teman asuh atau seorang pria yang dekat denganmu?" Michael bertanya kembali.


Jelita menaikkan kedua bahunya pelan. "Entahlah, aku tidak tahu."


"Jika cintamu bertepuk sebelah tangan? Kau akan berbuat apa pada cintamu?" tanya Michael.


Jelita mengernyitkan dahi dan menatap Michael. "Michael, kau ini berbicara seolah-olah sedang patah hati saja. Apa ada wanita yang menolakmu?" tanya Jelita.


Michael tersenyum tipis. "Tidak ada yang menolakku, aku bahkan belum sempat mengutarakannya karena terhalang sesuatu saja." Michael tersenyum kepada Jelita.


"Apa yang menghalangimu, utarakan saja. Dengan begitu kau bisa mengetahui dia cinta padamu atau tidak dan hatimu juga bisa merasa lega nantinya," balas Jelita.


Michael mendekati Jelita dan mendekatkan wajahnya. "Apa sungguh begitu, aku harus mengutarakannya?" Tanya Michael dan Jelita mengangguk.


"Bagaimana kalau aku bilang ... Aku mencintaimu ... " Michael menatap Jelita penuh keseriusan.


Jelita begitu terkejut saat mendengar pernyataan Michael dan bersamaan dengan hal itu dia merasakan jantungnya ikut berdebar hebat.


Apalagi ketika melihat sorot mata Michael yang mengatakan hal tersebut dengan sungguh-sungguh. Menambah kegugupannya.


"M-michael ... Kau memang harus mengutarakannya, tapi kau harus bilang begitu kepada wanita yang kau cintai jangan kepadaku." Jelita mengalihkan pandangannya dengan segera.


Michael terkekeh lalu menarik diri. "Kau benar, aku memang harus mengutarakannya di depan wanita yang ku cintai." Michael menghela nafas. "Terima kasih, setidaknya aku sudah merasa lega sekarang."


Jelita tersenyum. "Baguslah jika seperti itu. Ah! Michael aku tinggal dulu ya, aku baru ingat ada pekerjaan rumah yang belum selesai."


"Hem ... Pergilah," jawab Michael.


Jelita bangkit dari tempat duduknya dan bergegas kembali ke dalam, kini tinggalah Michael duduk sendiri di bangku taman dan menatap Jelita dari kejauhan.


Michael kembali murung dan terdiam meratapi nasib cintanya yang terhalang. Jason yang kala itu menemukan Michael, segera menghampiri dan duduk di sampingnya.


"Kau mencintainya?" tanya Jason dan Michael hanya tersenyum. "Benar."


"Heh! Pria sekeren dan setampan dirimu ternyata bisa juga menjadi lemah hanya karena seorang wanita," Jason menggoda Michael.


Michael berdecih. "Cih! Jika kesini hanya untuk meledekku, lebih baik kau pergi saja!" Michael meninju bahu Jason sekuat tenaga.


"Dasar anak kecil, mana tenagamu. Pukulanmu itu sama sekali tidak terasa," ucap Jason sombong tapi mengusap bahunya juga.


Kemudian kedua pria tampan itu saling menatap dan terkekeh satu sama lain.

__ADS_1


"Michael jangan murung lagi oke, kau sudah ku anggap seperti adikku sendiri dan duka mu itu termasuk duka ku juga. "Jason merangkul erat dan mengusak puncak kepala Michael.


"Terima kasih, karena ada untukku." Michael tersenyum.


"Bagus! Sekarang kita harus menemui Ibu, dia pasti sedang mencemaskanmu." ucap Jason dan mengajak Michael ikut dengannya.


Michael mengangguk dan ikut bersama dengan Jason untuk menemui Nyonya Caca yang sedang sedih di dalam ruangannya.


……………………………………………………………………………


Sementara itu Floren sedang bertemu dengan seorang pria di sebuah club malam, tempat yang mereka janjikan sebelumnya.


Floren mengatakan sesuatu kepada sepupunya itu untuk menyingkirkan wanita yang sedang dekat dengan Michael.


"Aku tidak tahu namanya siapa, tapi yang jelas wanita itu sangat cantik, orang ku sudah melihat wanita itu beberapa kali keluar masuk mansion Chandra Putra."


"Dia memakai seragam sekolah SMA, pergi di jam 7 pagi dan pulang di jam 2 sore, wanita itu sepanjang hari di dalam mansion, tidak pernah keluar."


"Anak buah ku sedang mencari tahu lebih dalam tentang wanita itu, dan akan mengirimkan fotonya dalam waktu dekat jika ada kesempatan." Floren menjelaskan kepada sepupunya itu.


Wiliam berdecih. "Cih! gadis di bawah umur bisa apa, paling hanya menjerit dan menangis di atas kasur," ucapnya terang-terangan.


Floren berusaha membujuk sepupunya itu untuk membantu. "Wiliam, kau itu seorang pemain wanita yang sangat handal, berbagai macam wanita sudah pernah kau cicipi bukan."


"Tapi apa pernah, kamu menyicipi gadis cantik dan manis berseragam SMA? bukankah itu bagus jika kau berhasil mendapatkan gadis polos dan lugu itu. Rasanya juga pasti lebih mengigit bukan," Floren berusaha meracuni otak sepupunya itu.


Wiliam meneguk ludahnya dan membayangkan rasa sensasi itu jika benar terjadi. "Baiklah, aku mau. Tapi aku ingin lihat dulu wanitanya, jika dia benar-benar cantik maka aku mau membantumu, jika tidak. Maaf saja ya."


Floren tersenyum begitu senang dengan jawaban Wiliam.."Tenang saja Wil, kata orang bawahanku dia sangat cantik, kau pasti menyukainya."


"Hem ... Ya sudah. Beri tahu saja kepada anak buahmu itu, untuk membawanya kesini. Dan saat membawanya kemari, pastikan tidak ada satu orang pun yang melihat atau mengikutinya. Apalagi orang itu adalah polisi, karena aku tidak ingin berurusan dengan pihak berseragam itu lagi."


Floren mengangguk. "Tenang, masalah itu serahkan saja kepada anak buahku. Dia pasti bisa membawa gadis itu tanpa orang lain curiga."


"Baiklah aku percaya, bawa saja wanita itu kemari dan aku akan membereskan nya langsung pada hari itu juga." Wiliam tersenyum smirk.


"Bagaimana Mike, apa kamu bisa menerima seorang wanita bekas, yang pernah ditiduri oleh pria lain." Floren tertawa dan tidak sabar menunggu hari itu tiba.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2