Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 150. Undangan Michael dan Clara.


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Seiring berjalannya waktu, kondisi Floren semakin lama semakin membaik. Baik dari segi keuangan maupun dari segi penampilannya yang telah berubah menjadi positif.


Gadis itu kini nampak lebih tenang, berpikiran dewasa dan juga dapat diandalkan. Perubahan kepribadian Floren yang jauh lebih baik, ternyata bukanlah tanpa sebab.


Karena dibalik itu semua ada sesosok pria yang ikut campur tangan dan setia membantunya untuk terus bangkit dari keterpurukan.


Pria itu adalah Riko, orang yang selalu ada di kala gadis itu tengah membutuhkan bantuan.


Dan bukan hanya itu saja, berkat bantuan dari Riko, Floren akhirnya berhasil mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan besar, karena usahanya yang tidak pernah kenal lelah dalam mencari lowongan pekerjaan untuk Floren agar gadis itu bisa mencari nafkah sendiri dan juga hidup mandiri.


Alhasil pertolongan dan bantuan dari Riko yang terus menerus, membuat hubungan keduanya semakin lama semakin dekat saja.


Mereka saling mengenal satu sama lain dan akhirnya memutuskan untuk menjalin suatu hubungan ke arah yang lebih serius, dikarenakan keduanya telah memiliki kecocokan selama masa pendekatan.


Hal tersebut disambut baik oleh semua orang, khususnya Clara sang teman baik Floren sejak ia dari kecil. Gadis itu begitu bahagia ketika mendapat kabar, jika Floren temannya telah bangkit untuk maju dan berhasil menemukan cinta sejati dalam hidupnya.


...----------------...


Mansion Wiliam.


Sementara itu di sisi lain, tepatnya di hari minggu yang cerah ini, nampak sepasang suami istri tengah beradu di atas pembaringan.


Semenjak Jelita telah diperbolehkan berhubungan badan setelah masa nifas dan juga pemulihan pada bagian inti yang memakan waktu hampir tiga bulan lamanya, Wiliam terus saja menggempur ia habis-habisan.


Seperti tidak mengenal lelah, lelaki gagah itu sudah bermain dari bedug subuh, hingga waktu menjelang siang tiba. Namun Wiliam nampaknya belum puas, karena sepanjang permainan dia baru melakukan pelepasan sebanyak dua kali.


Kegiatan panas mereka melebihi panasnya terik matahari di siang bolong, namun Wiliam tetap bersikukuh tidak melepaskan Jelita begitu saja sampai dirinya benar-benar merasa puas.


Tidak peduli apapun alasan istrinya itu, dia sudah pasti akan menolak mentah-mentah setiap permintaan dan juga keinginan yang menurutnya tidak penting.


"Sayang ... Ah! Bisakah kita berhenti sebentar dulu. Aku harus menyusui baby Michael," lirih Jelita berusaha melepaskan diri ketika melihat putranya mulai menggeliat kesana kemari.


Namun Wiliam masih saja memeganginya agar tidak lolos. "Susui saja dia," balasnya enteng.


Jelita mencebik. "Bagaimana aku bisa menyusui dia kalau kamu masih saja betah berada diatasku sayang," balasnya dengan nafas tersengal.


Wiliam berhenti memompa tubuh Jelita dan menoleh ke arah baby Michael yang menangis. "Maaf sayang, tapi aku sebentar lagi mau keluar."

__ADS_1


"Ya tahan dulu sebentar, kita bisa lanjutkan lagi setelah dia kenyang menyusu ya."


Wiliam menghela nafas panjang, puasa kelamaan membuat dia semakin haus akan kenikmatan. Terlebih milik istrinya itu tidak pernah berubah sedikit pun, malah semakin sempit karena sudah kelamaan menganggur.


Hal itu membuat Wiliam semakin mabuk kepayang, tidak ingin rasanya menyia-nyiakan kesempatan yang ada jika sedang berduaan dengan Jelita.


Pria itu tersenyum dan perlahan mendekati istrinya yang sedang menyusui baby Michael. Dia menyergap lembut ceruk leher dari belakang dan membenamkan wajahnya disana.


"Sudah belum?" tanya Wiliam tak sabar ingin melanjutkan petarungannya dengan sang istri.


Jelita menatap wajah mungil baby Michael sejenak. "Dia sudah sepertinya sudah kenyang," balasnya saat melihat bayinya telah tenang dan kembali tertidur lalu menaruh kembali ke dalam box bayi.


Sementara itu Wiliam tersenyum smirk, seketika itu pula dia menjadi bayi besar yang bergantian menyusu setelah putranya dan setelah itu, mereka pun melanjutkan aksi panas kembali. Menghabiskan waktu libur hanya di dalam kamar berduaan.


...***...


Setelah puas menikmati seharian di ranjang, akhirnya mereka berdua turun ke bawah untuk mengisi tenaga kembali dan tidak lupa membawa baby Michael untuk bertemu dengan sang nenek.


"Kalian ini, kenapa jam segini baru turun ke bawah hah? Oma kan kangen sama cucu oma yang tampan ini," ucap Ibu Maria sembari menggendong Baby Michael dalam pangkuannya.


"Maaf Ibu, kami berdua tadi ada urusan penting yang harus diselesaikan. Ya kan sayang?" balas Wiliam sambil merangkul Jelita.


"Baik Ibu, nanti aku cek." balas Wiliam lalu merogoh benda pipih dari dalam saku celananya.


Dia menyalahkan layar ponsel dan mengecek beberapa pesan masuk dan juga panggilan tidak terjawab dari Riko.


Pria itu tertuju pada satu email dan dia tersenyum, hal tersebut membuat Jelita penasaran.


Kemudian bertanya kepada suaminya yang sedang tersenyum. "Kenapa kau senyum-senyum begitu sayang?" tanyanya sembari menatap ponsel Wiliam.


"Coba kau lihat ini sayang," balas Wiliam menunjukkan sebuah undangan pernikahan virtual dari orang yang sudah tidak asing lagi bagi mereka.


Jelita terkejut sekaligus senang ketika melihat undangan pernikahan Michael dan Clara yang akan di adakan pada minggu ini.


"Akhirnya mereka menikah juga," ucapnya begitu antusias.


"Benar dan mereka mengundang kita sekeluarga," balas Wiliam.


"Aku tidak sabar sekali ingin melihat mereka bersama diatas pelaminan," ucap Jelita.

__ADS_1


Wiliam merangkul erat pinggang Jelita, sekelibat teringat kembali kenangan masa lalu saat dia menikahi istrinya kala itu. Pria itu begitu bahagia dihari pernikahannya, karena telah berhasil mendapatkan hati dan juga kepercayaan dari wanita yang ia cintai.


"Benar, aku juga tidak sabar melihat mereka bahagia seperti kita," balas Wiliam.


Jelita tersenyum. "Aku yakin mereka pasti akan bahagia, karena mereka saling mencintai."


Wiliam mengurai pelukannya lalu memutar tubuh Jelita agar berhadapan dan menatap lekat wajah istrinya dari jarak dekat.


"Apa kau yakin mereka benar-benar saling mencintai hem?" tanya Wiliam.


"Aku yakin mereka saling mencintai, walau pun belum sampai sepenuhnya, tapi aku yakin kalau Clara bisa merebut hati Michael setelah resmi menikah nanti. Sama seperti dirimu yang telah berhasil merebut hatiku," balas Jelita.


Wiliam tersenyum. "Benar, aku juga yakin kalau Michael akan mencintai Clara sepenuh hatinya. Sama seperti dirimu yang telah menerimaku sepenuhnya."


Jelita tersenyum lalu memeluk Wiliam. "Benar dan aku tidak bisa mengelak akan hal itu, kalau aku telah mencintai dirimu sepenuh hatiku."


Wiliam mengeratkan oelukannya dan mengecup puncak kepala Jelita. "Terima kasih karena telah mempercayaiku, terima kasih juga karena kau telah menerimaku sepenuh hati. Aku berjanji akan selalu mencintaimu, menjagamu, tidak akan menyia-nyiakan cinta yang telah engkau berikan kepadaku dan aku juga berjanji akan selalu membuatmu bahagia seumur hidupku."


Pernyataan Wiliam membuat hati Jelita semakin meleleh, sungguh tidak disangka dia bisa mendapatkan pasangan hidup yang begitu mencintai dirinya.


"Terima kasih, janji ya. Kau akan selalu menepati setiap perkataanmu itu," pinta Jelita.


Wiliam tersenyum. "Sudah pasti," balasnya yakin.


.


.


Bersambung.


...----------------...


Hai para readers setia, penulis mau mengumumkan sesuatu nih. Setelah bab ini, kita akan menghadapi beberapa episode terakhir.


Jadi penulis mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada para readers setia, karena selama ini telah sudi memberi dukungan serta semangat kepada penulis dalam membuat novel receh ini.


Terima kasih ... Selamat membaca.


...----------------...

__ADS_1


Next \=> Di bab selanjutnya Jelita dan Wiliam akan menghadiri pesta pernikahan Michael dan Clara.


__ADS_2