Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 111. Sama-sama berjuang


__ADS_3

Wiliam telah sampai di kampus Jelita, seperti biasa dia menunggu gadis itu di depan pintu gerbang sambil menikmati sebatang candunya.


Banyak manusia sibuk lalu lalang dihadapannya sembari berbisik dan melirik, dengan beragam tanggapan mengenai dirinya yang begitu berbeda bagi seorang Pria kebanyakan.


Ada yang negatif ada juga yang positif.


Bahkan terdengar juga percakapan antara beberapa gadis di kampus tersebut, yang tertangkap jelas oleh indera pendengarannya yang tajam.


"Dia tampan."


"Lebih tepatnya hot," bisik-bisik sekerumpulan cewek-cewek membicarakan tentang dirinya.


Namun Wiliam nampaknya tidak peduli dengan semua percakapan itu dan juga tatapan genit dari para wanita-wanita muda di kampus tersebut.


Karena sejatinya dia tidak menginginkan wanita lain selain Jelita seorang.


Senyuman pahit di bibirnya langsung berubah menjadi manis, saat melihat sesosok gadis yang sudah tidak asing lagi baginya telah muncul di kejauhan.


"Akhirnya keluar juga dia," gumam Wiliam lalu membuang dan menginjak puntung candunya hingga padam.


Jelita yang melihat Wiliampun tersenyum dan mempercepat langkah kakinya, agar pria itu tidak menunggu dirinya terlalu lama. Mengingat Wiliam harus kembali lagi ke kantor.


"Kau sudah lama disini?" tanya Jelita sambil masuk ke dalam mobil.


"Belum lama," balas Wiliam.


"Syukurlah, aku pikir kau sudah lama menungguku," ucap Jelita.


"Hanya untukmu Jelita. Aku akan selalu sabar menunggumu selama apapun yang kau mau," balas Wiliam dengan memasang senyum lembutnya.


Jelita pun tersenyum. "Kau bisa saja Wil," balasnya malu-malu.


"Temani aku bekerja lagi ya," pinta Wiliam.


Jelita mengangguk. "Baiklah, asalkan kau tidak merasa terganggu dengan kehadiranku."


Wiliam mendekatkan wajahnya. "Aku tidak pernah merasa terganggu olehmu Jelita. Kalaupun iya, aku menyukainya. Asalkan itu adalah dirimu."


Jelita menjauh. "Sudahlah Wiliam, jangan mendekati ku terus. Ayo kita berangkat," balas Jelita sambil menahan wajah Wiliam yang terus saja ingin menyosor.


Karena Jelita yakin jika sampai Wiliam berhasil mengecup bibirnya, sudah pasti pria itu tidak akan melepaskan pagutannya dengan mudah.


"Heh! Pelit sekali, padahal hanya ingin menciummu sebentar saja," umpat Wiliam lalu memacu kendaraannya.


Sementara itu Jelita terkekeh melihat wajah Wiliam yang berubah masam, karena telah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Beraninya dia menertawaiku, awas saja dia nanti. Tidak akan kulepaskan dia, saat kita sudah berada dikantor," gumam Wiliam sambil terus melirik Jelita yang sedang asik melihat jalanan.


...----------------...


Di lain tempat.


"Michael, ini sudah mau sore. Kita juga sudah lama duduk disini tanpa melakukan apapun, kau tidak ingin pergi kemana-mana?" tanya Clara merasa pegal karena sudah kelamaan duduk.


"Maaf Clara, aku bingung ingin kemana lagi. Apa kau punya ide?" balas Michael dan bertanya.


"Bagaimana kalau kita jalan ke Mall, menonton bioskop atau main di time zone," balas Clara.


"Baiklah kalau begitu," balas Michael setuju.

__ADS_1


Mereka pun pergi ke mall untuk mengabiskan waktu seharian, demi mengenal satu sama lain agar bisa lebih dekat lagi.


...***...


Setibanya di sebuah Mall, Michael termenung kembali. Dia mengingat pernah melangkahkan kaki bersama dengan Jelita di Mall ini.


"Kenapa Michael?" tanya Clara saat melihat Michael diam saja.


"Tidak ada, ayo kita masuk." ajak Michael.


Sepanjang menghabiskan waktu, Michael selalu teringat akan Jelita dan Clara yang mengetahui akan hal itu, berusaha untuk membantu Michael melupakan cintanya.


"Michael, jika kau sedih. Lebih baik kita pulang saja," ucap Clara.


Michael menggeleng. "Tidak perlu, ayo kita makan dulu."


"Baiklah," balas Clara lalu mereka menuju food court dan memesan beberapa makanan untuk disantap.


"Michael setelah makan kau ingin kemana lagi?" tanya Clara dengan mulut yang penuh dengan makanan.


Michael menatap Clara dan mengulurkan tangannya. "Terserah kau ingin kemana, tapi habiskan dulu makanan mu dengan benar," ucapnya sambil mengambil makanan disudut bibir Clara dan tersenyum.


Mendapat perlakuan hangat dari seorang pria, membuat jantung Clara berdebar kencang, tidak disangka sentuhan Michael begitu berpengaruh kepadanya. "Michael tidak perlu sampai segitunya, aku bisa sendiri."


"Mana bisa aku membiarkan kau terlihat berantakan Jelita," balas Michael tanpa sadar.


Clara terdiam dan berpikir. "Jadi dia menganggapku sebagai Jelita," gumamnya.


Michael menggeleng. "Ah maaf Clara, aku tidak sengaja salah menyebut namamu. Jika sudah selesai makan mari kita pergi dari sini," ucapnya lalu berdiri meninggalkan meja.


"Seberapa besar cintanya kepada Jelita, hingga dia tidak menyadari jika aku bukanlah dia," gumam Clara sambil mengikuti kemana langkah Michael pergi.


Gadis itu sedikit sedih, tapi dia tidak akan menyerah dalam membantu Michael melupakan Jelita. Walau dia menyadari awalnya akan sedikit susah, tapi Clara percaya, Michael dapat melupakan Jelita jika dia terus berusaha.


...----------------...


Perusahaan Wijaya Group.


Jelita sedang dilanda kesusahan, karena gadis itu sedang dihimpit kuat oleh tubuh Wiliam.


Pasalnya saat mereka baru saja tiba tadi, di dalam ruang kerja Wiliam. Pria itu diam-diam mengunci rapat pintu ruangannya, lalu dengan cepat menyergap tubuh Jelita dari belakang tanpa permisi lagi.


Membawanya hingga merapat ke dinding dan memutar tubuh Jelita dengan cepat agar berhadapan dengannya.


Gadis itu pun tidak bisa berkutik apalagi melarikan diri, karena Wiliam sudah mengunci pergerakan Jelita.


Seperti sedang menjatuhkan lawan dengan ilmu bela dirinya.


Jelita pun panik, karena kedua tangan besar Wiliam terus saja menahan tengkuk lehernya agar tidak bisa berpaling.


"W-wiliam, k-kau sudah bilang tidak akan menciumku atau melakukan apapun disini kan, dan ingatlah kita ini belum menikah," ucap Jelita gelagapan.


Karena dia punya firasat buruk jika Wiliam akan membuatnya kewalahan lagi.


"Salahmu sendiri selalu saja membuatku kecanduan seperti ini Jelita," balas Wiliam dengan suara beratnya.


"Sudah kuduga, harusnya aku tidak ikut dia kesini," sesal Jelita dalam hati.


"Menjauhlah dariku Wil, aku disini hanya menemanimu dan tidak ingin melakukan hal lain. Lepaskan aku! Jika tidak, aku akan memarahimu dan tidak mau bertemu denganmu lagi," ancam Jelita.

__ADS_1


Wiliam tersenyum. "Cih! Menyesal tidak ada gunanya sayang. Sudah ku katakan kau tidak akan pernah bisa lari dariku. Kau ingin marah, ya sudah marah saja. Karena aku tidak akan melepaskan mu hari ini," balasnya masa bodo.


"Wiliam! Jika kau sampai berani menciumku, maka seterusnya aku akan pergi dan tidak ingin tinggal bersama mu lagi," ancam Jelita kembali.


"Coba saja kalau kau bisa, jika kau punya 1001 cara melarikan diri, maka aku punya 1002 cara untuk mendapatkanmu kembali," balas enteng Wiliam, lalu melabuhkan kecupannya bertubi-tubi.


"Wiliam! Umph ..." Jelita meneguk ludahnya susah payah, saat Wiliam mulai menyesap lembut bibirnya berkali-kali.


"Wil, jangan begini. Aku tidak nyaman sekali," balas Jelita, selagi Wiliam melepaskan pangutannya.


"Tidak mau," balas Wiliam kemudian menyerang bibir Jelita kembali.


"Wil ... Eum!"


Mau tidak mau Jelita pun hanya bisa menerima sebuah ciuman hangat nan liar dari serangan Wiliam yang mematikan.


"Aku mencintaimu Jelita ... Selamanya kau hanya boleh menjadi milikku, balaslah ciumanku ini. Jika tidak, aku tidak akan menghentikannya," ucap Wiliam disela aksi mencium, lalu melanjutkan kembali ciuman mautnya itu.


"Emmh ..."


Wiliam begitu menikmati pertautannya, sedangkan Jelita hanya bisa terpejam dengan bibir yang masih menutup rapat.


Dia menyadari memang selama ini, dirinya tidak pernah membalas ciuman Wiliam seperti yang pernah dia lakukan kepada Michael.


"Maaf Wiliam, aku tidak bisa. Mungkin lain kali," balas Jelita masih dengan pendiriannya.


Wiliam pun berdecak kesal dan menghela nafas panjang. Dia menatap Jelita yang tertunduk dan merasa jika hati gadis itu masih belum bisa menerima kehadiran ia sepenuhnya.


"Buka hatimu Jelita ... Bukalah hatimu untukku," ucap Wiliam sambil menarik wajah Jelita agar terus menatap wajahnya.


"Aku sudah menerimamu Wiliam, tapi aku tidak tahu kenapa. Selalu saja ada yang mengganjal di dalam hatiku ini," balas Jelita.


"Itu karena kau masih mencintai pria itu dan belum menerimaku sepenuh hatimu," balas Wiliam to the point.


Jelita menatap mata Wiliam dan terdiam seperti membenarkan perkataan pria tersebut, kalau dirinya masih belum bisa sepenuhnya menerima Wiliam.


"Ingatlah ini Jelita, Michael akan bertunangan minggu ini dengan wanita lain dan kau harus segera melupakannya. Jika tidak, maka itu akan menambah luka dihatimu saja."


"Jelita, aku memang selalu sabar menunggu mu menerima ku sepenuhnya. Tapi aku juga tidak ingin kau berlarut-larut dalam kesedihan, itu juga akan menambah kesedihan bagi diriku sendiri."


"Jelita, seperti Michael yang sudah siap melepasmu dan menatap masa depannya. Aku berharap kaupun begitu, kau juga harus menatap masa depan dan melupakan dia."


"Apa kau ingin Ibu dan Opa bersedih hem? Mereka menginginkan kita agar selalu bersama," ujar Wiliam menyakinkan.


Jelita mengangguk mengerti jika dia juga harus menatap masa depan. "Kau benar, aku selalu saja mengingat dirinya. Padahal aku sudah punya dirimu yang selalu menjagaku dan juga mencintaiku setulus hati. Maafkan aku Wiliam, aku selalu saja meragukanmu."


"Tidak apa, maaf aku juga selalu memaksamu," balas Wiliam.


"Terima kasih," balas Jelita.


Wiliam tersenyum dan memeluk lembut Jelita dengan sesekali memberi kecupan hangat pada keningnya.


Berharap agar Jelita segera melupakan cinta pertamanya dan benar-benar bisa menerimanya dengan sepenuh hati.


Jelita dan Michael sama-sama sedang berjuang melupakan satu sama lain, begitupula dengan Clara dan juga Wiliam.


Mereka sama-sama sedang berjuang menyembuhkan luka hati dan berharap dapat menggantikan posisi cinta masa lalu di hati Michael maupun Jelita.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2