
Vino dan dokter Riko disibukkan dengan banyaknya pasien yang datang bersamaan. saat Vino menangani salah satu pasien, terlihatlah brankar yang terdapat dokter Johan di atasnya. vino terkejut dan tak menyangka.
"dokter Johan" lirihnya
vino menoleh ke kanan dan kiri "dok,,tolong tangani pasien ini. saya akan melayani pasien yang lainnya" ucap Vino menyerahkan pasien yang awalnya ia tangani kepada dokter lain
"baik dok" ucap dokter pengganti itu.
Vino berlari mengikuti brankar dokter Johan menuju ruang ICU "saya dokternya" ucap vino memasuki ruangan ICU bersama dokter Johan yang berbaring
semua perawat dan dokter yang berada di ruangan ICU mengangguk percaya dan melanjutkan kegiatan sibuk mereka masing masing
*******
-di rumah kyai Hamdan
semua anggota keluarga sedang berkumpul di ruang tamu. mereka mengobrol santai setelah sholat isya berjamaah
"Rin,,nanti subuh bantuin mbak ngajar ngaji ya" ucap Ning Izah
"oh iya mbak" jawab Ririn
"mbak ngajarnya udah campuran loh" ucap Ning Izah bangga
"maksudnya campuran kayak ummah gitu mbak?" ucap Ririn yang diangguki oleh Ning Izah
"jadi mbak Izah ngajak istrinya Sofyan untuk ketemu banyak santri gitu? Sofyan nggak mau ah..nanti banyak yang liat istri Sofyan, lagi" ucap Gus Sofyan protes
"lah kan mbak ngajak Ririn. kamu nggak mau, ya mbak nggak peduli" ucap Ning Izah
"tapi Sofyan nggak ngizinin" ucap Gus Sofyan
"tapi Ririn mau" ucap Ririn cepat
"ridho Allah ridho suami loh" ucap Gus Sofyan
"nggak peduli. ustadz tadi sore buat Ririn bete karena dekat dekat sama santriwati pesantren kan..terus kenapa ustadz ngelarang Ririn ikut mbak Izah ngajar ngaji? kenapa? kenapa?" ucap Ririn tak terima
"itu kan bukan saya yang mau" ucap Gus Sofyan
"tapi ustadz senyum senyum ke mereka. jadi bukan salahnya ustadz, gitu?" ucap Ririn tak mau kalah
"saya senyum karena mereka senyum" ucap Gus Sofyan
"senyum ke wanita lain saat sudah memiliki istri itu dosa hukumnya" ucap Ririn
__ADS_1
"tak membalas senyum orang itu sama dengan angkuh dan sombong. dan kalau saya angkuh, saya juga dosa" ucap Gus Sofyan
"sudah sudah,,jangan bertengkar lagi. mari makan..ummah sudah masak di dapur" ucap umi Hamidah
"ustadz duluan loh ummah" adu Ririn
"nggak ummah. Erina yang nggak mau nurutin Sofyan" ucap Gus Sofyan
Gus Sofyan dan Ririn saling memberi tatapan tajam satu sama lain. mereka seperti musuh yang tak mau kalah saat ini.
"terserah" ucap Ririn membuang muka
"nanti subuh jadi kok mbak. jangan lupa ingetin Ririn ya" ucap Ririn tersenyum menatap Ning Izah
Ning Izah mengangguk "oke" ucapnya membentuk huruf O dengan tangannya
Ririn beralih menatap umi Hamidah kemudian mendekatinya "ummah,,bukannya Ririn nggak menghargai masakan ummah, tapi Ririn sudah nggak mood makan" ucapnya manja
umi Hamidah tersenyum manis "kalau Ririn nggak makan, bagaimana dengan nasib bayi yang di sini, nak?" ucap umi Hamidah mengelus perut Ririn
Ririn hanya menundukkan kepalanya. terlihat wajah tak enak kepada ummahnya
"sudah lah ummah, mungkin Ririn nggak nafsu makan karena bayinya juga. jangan di paksa ya. nanti kalau Ririn lapar, bisa ngambil sendiri di meja makan" ucap kyai Hamdan yang diangguki oleh Ririn
"ya sudah nggak papa nak. kalau kamu mau istirahat dulu nggak papa kok. nanti kalau kamu lapar, ummah yang masakin buat kamu makan ya" ucap umi Hamidah mengelus kepala Ririn lembut
"makasih ummah" ucap Ririn tak menggubris perkataan suaminya dan mencium pipi kanan umi Hamidah
"Ririn ke kamar dulu ya ummah, abah" ucap Ririn yang diangguki oleh umi Hamidah dan kyai Hamdan.
Ririn berlalu tanpa menatap Gus Sofyan "loh loh..kok nggak di respon sih" ucap Gus Sofyan kesal
"haha miris kali hidup kamu Yan, Yan" ucap Ning Izah sembari berjalan menuju meja makan
*******
-di rumah sakit
para dokter dan perawat tengah sibuk mengobati korban kecelakaan. termasuk Vino yang juga sibuk mengobati calon adik iparnya. dokter Johan telah mendapat penanganan darurat terlebih dahulu. kondisinya sedang kritis di ruang ICU
"permisi dok,, hasil Rontgen menyatakan bahwa terdapat kerusakan hebat di bagian tulang belakang pasien" ucap salah satu perawat sembari memberikan foto Rontgen kepada vino
Vino melihat dan mengamati foto yang diberikan oleh perawat itu. namun saat vino mengamati foto itu, datanglah seorang perawat yang sedang mengatur nafasnya karena lelah berlari.
"maaf dok..dokter Riko butuh bantuan anda untuk melakukan operasi secepat mungkin" ucap perawat itu dengan nafas yang masih menderu
__ADS_1
Vino mengangguk "terus awasi dan jaga pasien ini. saya akan segera kembali" ucap vino kepada perawat pertamanya tadi
"baik dok" ucap perawat itu dengan mengangguk paham
Vino melaksanakan operasi kepada salah satu pasien yang sedang sekarat. Operasi ini cukup mudah bagi vino yang seorang dokter terpercaya. bahkan ia melakukan operasi tersebut hanya bersama perawat kepercayaannya,, tanpa bantuan dokter lain.
Operasi berjalan lancar. tak ada kendala dengan keadaan pasien itu. vino kembali menuju ruang ICU untuk melihat kondisi dokter Johan sebagai pasien tetapnya
"bagaimana keadaan pasien?" ucapnya kepada perawat yang menjaga dokter Johan
"detak jantung pasien sudah normal dok..saat ini pasien sedang beristirahat karena merasa semua badannya sangat sakit" ucap perawat itu
"ya sudah. kalau begitu kamu boleh pergi" ucap vino kemudian perawat itu pergi meninggalkan Vino
Vino berjalan mendekati brankar ke dokter Johan. saat berada di samping kepala dokter Johan,, dokter Johan membuka matanya dan menatap Vino sekilas
"dokter Johan,, bagaimana keadaannya? apakah anda merasa sudah baikan?" ucap Vino yang hanya di respon dengan senyum tipis oleh dokter Johan
"jangan kasih tau Rere" ucap dokter Johan lemah
Vino tersenyum dan mengangguk paham "iya dok saya tidak akan memberitahu hal ini kepada Rere" ucapnya
Vino berjalan mengambil hasil Rontgen yang berada di meja dekat brankar dokter Johan. kemudian Vino menunjukkan hasil rontgen tersebut kepada dokter Johan
"saya akan menjelaskan hasil yang ditunjukkan oleh foto rontgen ini. karena anda juga dokter, saya harap anda bisa cepat mengerti dengan apa yang saya katakan" ucap Vino terkekeh di ujung kalimatnya
kemudian Vino menjelaskan dengan secara detail tentang penyakit yang diderita oleh dokter Johan. karena dokter Johan juga seorang dokter, dengan cepat ia mengerti kata demi kata yang dilontarkan oleh Vin
"jadi begitu. anda paham kan apa yang selanjutkan akan saya lakukan sebagai dokter anda?" ucap vino yang hanya diangguki oleh dokter Johan
"tolong tunda pernikahan saya" ucap dokter Johan pelan
"tolong carilah alasannya juga" sambung dokter Johan hampir tak terdengar
"ya ya ya demi calon ipar, apa sih yang nggak" ucap Vino terkekeh
"ya sudah. ini sudah malam dan nggak baik untuk pasien tetap terjaga" ucap vino memperingati
"saya akan tidur setelah saya menghubungi Rere" ucap dokter Johan
"anda mau menelfon adik saya dengan suara yang lemah seperti itu? jangan buat dia khawatir" ucap Vino
"saya hanya akan memberinya kabar melalui WhatsApp supaya dia tak menanti kabar saya di sana" ucap dokter Johan pelan sembari mengambil handphone nya di atas nakas
Vino yang melihat dokter Johan kesusahan mengambil handphone nya pun hanya membuang nafasnya kasar "sudah sudah..saya saja yang menghubunginya..sekarang anda tidur saja" ucap Vino
__ADS_1
"terima kasih Abang" ucap dokter Johan tersenyum kemudian memperbaiki posisi tidurnya senyaman mungkin