Suami Pilihan Allah

Suami Pilihan Allah
Episode 153


__ADS_3

Malam pun tiba, kini mereka tengah berkumpul di rumah utama Fahriza.


"kayaknya udah hampir setengah tahun kita gak kumpul seperti ini yaa" ucap Deni terkekeh diujung kalimatnya


Reno terkekeh "iya bener tuh..sering seringin kayak gini lah..ayah kangen" ucapnya


"kami sibuk yah" ucap Gus Sofyan, Vino, muslim, Rehan, dan Firman bersamaan


semua orang saling tatap dan tertawa karena mereka sangat kompak.


"ini rencana pernikahan Vino dan Alin jadi dua Minggu ke depan kan" ucap Angga menatap semuanya secara bergantian


"lah ya iya lah pa..terus kalau bukan dua Minggu lagi, mau berapa Minggu lagi? Vino udah kebelet pen rasakan itu lohh" ucap Vino cengengesan


"itu apa bang? hahahah" ucap Vreya tertawa


"itu ituuhhh" ucap Vino kemudian mereka semua tertawa hingga terbahak-bahak.


tak lama kemudian, ada seseorang yang membunyikan bell rumah tersebut. oleh karena itu, Ririn berniat untuk membuka pintu utama, namun tangannya dengan cepat ditahan oleh Gus Sofyan dan langsung terduduk kembali


"jangan bandel dan di sini banyak asisten, jadi kamu gak perlu sampe buka pintu sendiri" ucap Gus Sofyan


Ririn tersenyum manis "iya bi" lirihnya senang


bi mar segera masuk kembali dengan membawa kotak di tangannya "apa itu bi?" tanya Reno


"saya juga tidak tau tuan besar, yang saya tau kotak ini untuk non Ririn karena tadinya ada nama non Ririn di atas sini" ucap bi mar memberi tau dan segera meletakkan kotak itu di meja yang sedang dikelilingi mereka semua


"kalau begitu bibi permisi ya" ucap bi mar menunduk sopan kemudian berjalan meninggalkan ruang keluarga itu


semua orang menatap kotak di depannya itu. kemudian beralih menatap Ririn "kamu check out lagi sayang?" tanya Gus Sofyan


Ririn menggeleng "nggak kok..Ririn gak tau itu kotak siapa. perasaan Ririn gak pesan pesan deh" ucapnya heran


lagi lagi semua orang dibuat bingung dan menatap kotak itu penuh penasaran. "coba buka deh Rin" ucap Syakira

__ADS_1


Ririn tampak berfikir sejenak "ya udah Ririn buka ya" ucap Ririn mulai membuka kotak itu dan betapa terkejutnya Ririn dengan pa yang ia lihat


bangkai tikus yang kepalanya di tusuk dengan tiga pisau kecil itu terpampang jelas di mata Ririn "AAAA!!" teriaknya melempar jauh kotak itu


Gus Sofyan dan yang lain terperanjat. dengan sigap Gus Sofyan langsung memeluk Ririn, memberikan ketenangan kepada istrinya itu. "udah sayang, gak papa kok. oke?" ucapnya lembut sembari mencium kening istrinya berkali kali


"siapa yang berani ngelakuin hal gak berotak seperti ini!" emosinya dalam hati


Reno tampak menelfon seseorang dengan melihat gerakannya yang menempelkan handphone nya di telinga kanannya "hallo pak, siapa yang terakhir kali masuk dan bertamu ke rumah ini?" tanyanya penuh emosi


Ririn menangis ketakutan. ia sangat kaget dan takut dengan apa yang baru saja ia lihat dengan mata telanjangnya. rasanya kali ini ia tak ingin lepas dari pelukan hangat suaminya itu


"terakhir ada tamu, hanya keluarga besar saja tuan. tak ada lagi" ucap kepala satpam yang menjaga gerbang


"barusan ada yang meletakkan kotak di depan pintu utama. kalau tak ada yang masuk, bagaimana kotak itu bisa sampai di dalam rumah hah?!" bentak Reno


Semua orang tampak bingung serta takut dengan teror yang tetiba menyerang itu. Rere berusaha menenangkan emosi ayahnya, ia tak ingin kejadian yang tak baik menimpa ayahnya


"maaf tuan tadi saya ke kamar mandi, jadi tak bisa mengawasi orang terakhir yang masuk lewat gerbang" lirih orang itu di seberang telfon


"sudah yah..lebih baik kita langsung lihat kamera CCTV aja ya, dari pada ayah buang tenaga hanya untuk marah marah seperti ini" ucap Rere mengelus lengan kekar ayahnya


mereka menuju ruang CCTV, dimana banyak komputer di dalan ruangan ini yang hanya orang orang tertentu yang bisa masuk dan mengerti password ruangan itu


setelah melihat CCTV, Angga langsung menelfon tangan kanannya. tak lama kemudian tangan kanan Angga datang ke ruang CCTV dengan dua orang temannya


"lacak dan cari tau tentang orang yang ada di gambar itu. selidiki semua hingga ke akar akarnya" lirih Angga emosi


"baik boss" ucap mereka kemudian


*******


"Abang Bahar udah besar ya.." ucap Ning Izah gemas dengan menoel noel pipi putranya itu


"jangan nakal ya sayang..ummah sayang bang Bahar" ucapnya lagi

__ADS_1


"nanti kalau bang Bahar udah besar dan bisa jalan, ummah ajak jalan jalan ke pantai ya"


"nanti bang Bahar juga bisa foto foto dan menikmati sunset di sana. sangat cantik loh bang" lagi lagi Izah berucap tanpa ada yang merespon


"assalamualaikum" ucap suaminya masuk rumah


"waalaikumsalam..eh Abah pulang sayang" ucap Ning Izah menggendong Bahar dan mencium punggung tangan suaminya


ustadz Haris mencium kening Ning Izah, kemudian mengambil alih gendongan Bahar. dengan rasa rindunya, ia mencium dan menimang bayi mungil itu


"mas ak-" ucapnya terhenti karena nada dering telfon berbunyi


"angkat dulu" ucap ustadz Haris tersenyum manis


Ning Izah mengangkat telfonnya "hallo assalamualaikum yan?" mulai Ning Izah


"waalaikumsalam mbak, tadi di rumah ayah Reno ada yang neror Ririn dengan memberi bangkai tikus. Sofyan minta tolong supaya jangan buka kotak baru apa pun kalau itu bukan kalian yang pesan" jelas Gus Sofyan


Ning Izah kaget "bagaimana bisa yan?" tanya nya penuh penasaran


Gus Sofyan mulai menceritakan semua hal yang terjadi di rumah utama sejak tiga puluh menit berlalu.


"oh oke oke yan. mbak gak akan buka pintu kok" ucap Ning Izah sangat berhati hati


Gus Sofyan terkekeh "bagus lah mbak..bilang ummah, Abah, dan mas Haris juga ya..supaya lebih berhati hati aja mbak.. assalamualaikum" ucap Gus Sofyan mengakhiri


"oke oke yan waalaikumsalam" ucap ning Izah menutup telfonnya


"kenapa?" tanya ustadz Haris kemudian


"dirumah Ririn tadi ada yang neror mereka katanya, jadi kota harus lebih berhati hati khawatirnya peneror itu juga akan meneror keluarga Sofyan" jelas Ning Izah


ustadz Haris menggeleng pelan "ada ada zaman sekarang. buminya makin retak, manusianya gak ada yang punya otak" ucapnya masuk ke dalam kamar


Ning Izah terkekeh dengan omongan sang suami yang memang benar adanya. tak salah dari ucapan ustadz Haris tadi

__ADS_1


__ADS_2