
Setelah berbincang cukup lama, Gus Sofyan memutuskan untuk meninggalkan rekan bisnisnya itu. ia lebih khawatir jika terjadi sesuatu kepada istri dan anak anaknya.
Gus Sofyan mencari Ririn keseluruhan penjuru gedung. bahkan ia telah mencarinya di luar gedung. namun tak terlihat Ririn di manapun. Gus Sofyan semakin panik dan khawatir, ia takut jika istri dan anak anaknya kenapa-napa
"kak! kenapa? kok kayak kebingungan" ucap Rere
"kakak kamu hilang Re. tadi kamu lihat kakak kamu nggak?" tanya Gus Sofyan
Rere menggeleng "nggak kak. mungkin ke toilet" ucap Rere
Gus Sofyan tersenyum tipis dan terus mencari "ya Allah Rin, kamu kemana sih. tadi kan cuman bilang mau ke depan gedung" ucap Gus Sofyan dalam hati sembari berlari kecil terus mencari
"kamu cari apa Yan? kok kayak cari anak kucing haha" ucap Vino menepuk pundak Gus Sofyan
Gus Sofyan berbalik "Erina bang. Erina hilang" ucapnya
"ah yang benar kamu. palingan juga di sekitar kue brownies. dia kan suka banget sama coklat" ucap Vino tak percaya
"nggak bang. tadi ada yang nelfon Erina, dia di suruh keluar gedung ini. dan waktu Sofyan mau nemenin Erina keluar gedung, Johan manggil Sofyan. alhasil Sofyan nggak jadi ikut Ririn ke luar gedung ini" ucap Gus Sofyan menjelaskan
"ya terus kenapa nggak kamu cari di luar gedung? dia pasti di sana kok" ucap Vino santai
"udah bang. udah Sofyan cari kemana mana. tapi tetap nggak ketemu" ucap Gus Sofyan semakin panik
Vino menarik nafasnya "kamu tenang dulu Yan..semua akan baik baik saja. Abang akan mengerahkan semua penjaga untuk mencari Ririn. dan lebih baik sekarang kita menuju ruangan CCTV. siapa tau dari sana kita dapat petunjuk keberadaan Ririn" ucap Vino yang diangguki oleh Gus Sofyan
*******
Ririn menoleh ke belakang dan terkejut "k-kamu! ngapain kamu ke sini?" ucapnya dengan tatapan sinis
wanita itu terkekeh "haha selamat menjumpai ajalmu, nona Fahriza" ucapnya
"apa maksud kamu?! jangan macam macam ya" ucap Ririn mulai berjalan mundur
__ADS_1
wanita itu tertawa "berjalan dan berlarilah semampu anda, nona. karena kali ini anda tak akan selamat dari saya" ucapnya
Ririn berbalik badan mulai berlari kecil sembari memegang perutnya. ia berhenti berlari setelah bertemu dengan jalan raya di seberang gedung pernikahan Rere.
Arumi berjalan semakin mendekat ke arah Ririn berada. ya, wanita yang sedang mengejar Ririn adalah Arumi. wanita yang sangat terobsesi kepada suami Ririn, Gus Sofyan.
ia berjalan terus menuju arah Ririn. tangannya mulai merogoh tas kecilnya. ia mengeluarkan pisau kecil yang selalu ia bawa kemana saja.
Ririn mulai takut dengan pisau yang dipegang oleh Arumi. keringatnya mulai turun di pelipis kirinya. ia takut jika wanita di depannya ini akan membahayakan anak anaknya. hingga tak sadar, bahwa ia kini sedang menangis di depan wanita tak tau diri itu
"Erina!" teriak Gus Sofyan segera menyebrang jalan raya tersebut
Semua orang yang berada di dalam gedung keluar untuk melihat kejadian apa yang sedang terjadi di luar gedung tersebut.
Ririn dan Arumi menoleh secara bersamaan. Arumi memasukkan kembali pisau kecil itu ke dalam saku gamisnya. dengan cepat ia menarik Ririn supaya dirinya tak terancam
"diam disana, atau wanita ini aku habiskan!" teriak Arumi meletakkan pisau kecilnya di leher Ririn
Gus Sofyan dan Vino menghentikan langkahnya. mereka juga khawatir jika mereka salah langkah, akan membuat Ririn dan baby nya dalam bahaya.
Gus Sofyan berjalan sedikit demi sedikit menuju ke arah Arumi yang sedang menyandera Ririn "Abi akan selamatkan kalian! tenang ya" ucap Gus Sofyan
Arumi tertawa "rupanya kalian ingin dia mati di tanganku haha. SUDAH KU BILANG DIAM!! JANGAN MAJU!!" ucap Arumi semakin menjadi jadi
"Arumi.. jauhkan pisau itu dari leher Erina.. jika kamu melakukan hal yang membuat istri dan anak anak saya celaka, kamu akan tau akibatnya" ucap Gus Sofyan terus berjalan perlahan lahan mendekati Arumi
Ririn terus menangis "aku mohon Arumi,,lepaskan aku!!" ucap Ririn di sela tangisannya
"BERISIK!!" bentak Arumi
"hei Rin! tak ada keturunan Fahriza yang memohon kepada wanita murahan seperti dia!" ucap Vino dari jarak yang cukup jauh
lagi lagi Arumi tertawa "hahaha setidaknya nyawa adikmu ada di tanganku, tuan muda" ucap Arumi kemudian membuang pisaunya ke arah belakang
__ADS_1
Gus Sofyan melihat pisau yang dilemparkan oleh Arumi "itu lebih baik, Arumi. sekarang katakan, apa yang kamu inginkan?" ucap Gus Sofyan
"aku cuman mau kamu, mas. kamu aja, nggak ada yang lain" ucap Arumi tersenyum miring
"DIA AYAH DARI ANAK ANAK KU! TAK AKAN KU BIARKAN DIA JADI MILIKMU, B*TCH!!" teriak Ririn
"haiisshh!! kenapa mulutmu tak bisa diam sih!" ucap Arumi semakin kesal
"lepaskan dia, Arumi. akan ku lakukan apa saja permintaanmu" ucap Gus Sofyan semakin dekat dengan jarak mereka
"talak dia dan nikahi aku mas!" ucap Arumi
"SUDAH KU BILANG,, TAK AKAN KU BIARKAN DIA JADI MILIKMU!!!" teriak Ririn kembali
Arumi menghembuskan nafasnya "sayang sekali, nona Fahriza. jika aku tak bisa memilikinya, anda pun sama. TAK AKAN BISA MEMILIKINYA" ucap Arumi kemudian mendorong Ririn dengan kuat ke arah jalan raya, dan
BRAAKK..
"Erinaaa!!" teriak Gus Sofyan berlari menghampiri Ririn yang sudah bersimbah darah
Setelah mendorong Ririn ke jalan raya, Arumi berlari untuk menjauh dari keluarga dan anak buah Fahriza
"Kejar wanita murahan itu! jika tak bisa menemukannya, akan ku bunuh kalian semua!" ucap Vino dengan kejam kepada seluruh anak buahnya
tak perlu waktu lama, Gus Sofyan segera menggendong Ririn menuju rumah sakit. di dalam mobil ia terus berdoa semoga istri dan anak anaknya baik baik saja
Ririn masih belum sepenuhnya pingsan, kesadarannya masih tersisa walaupun sedikit
"mereka baik baik aja kan bi" tanya Ririn perlahan dalam hati
Gus Sofyan menyeka air matanya "iya sayang. mereka akan baik baik saja. bertahan ya, sebentar lagi kita sampai" ucap Gus Sofyan mencium tangan Ririn yang dipenuhi oleh darah
"tolong selamatkan mereka bi. jangan pedulikan Ririn. yang penting mereka selamat" ucapnya kembali sebelum kesadarannya hilang
__ADS_1
Gus Sofyan meneteskan air matanya "kalian akan baik baik saja. bertahanlah mom..Abi mohon" ucapnya terus menangis