Suami Pilihan Allah

Suami Pilihan Allah
Episode 154


__ADS_3

Hari berganti hari dan kini sudah satu tahun sejak kejadian teror yang terjadi di rumah utama keluarga Fahriza. sepertinya peneror itu tampak hanya menggertak saja, pasalnya setelah kejadian hari itu, tak ada teror yang terjadi lagi. semua penyelidikan berhenti karena mereka tak mendapat apa apa. dan keluarga Fahriza dengan para sahabatnya kini berada di sebuah pulau milik mereka.


"sejuknya yaa" ucap Lia merentangkan tangannya sembari menghirup udara pagi yang sangat segar menurutnya


"eh" pekik Lia terkejut kala ada tangan kekar yang memeluknya dari belakang, yang tak lain adalah suaminya


"cantik banget sih" ucap muslim mencium pipi kiri Lia


Lia terkekeh "dari mana aja kok baru sadar haha" tawanya berbalik dan memeluk muslim erat


muslim tersenyum manis "kenapa?" tanyanya lembut sembari mencium puncak kepala istrinya sesekali


"kangen" lirih Lia


"lah kan udah ketemu tiap hari" ucap muslim tertawa


"sebenernya yang kangen bukan aku..tapi dia" lirih Lia pelan, hampir tak terdengar oleh suaminya


"siapa?" tanya muslim melepaskan pelukannya dan menatap lia heran


Lia menuntun tangan muslim menuju perutnya "dia" ucapnya tersenyum manis


muslim membelalakkan matanya "d-dia? b-baby?" tanyanya gelagapan


Lia tersenyum lebar dan mengangguk mantap "iya" ucapnya terkekeh


muslim langsung memeluk wanita didepannya ini "terima kasih ya Allah terima kasih" ucapnya memeluk istrinya erat


Lia terkekeh "syukak?" tanyanya menatap suaminya lekat


muslim tak menjawab, melainkan segera memeluk istrinya lagi, ia tak menghiraukan pertanyaan Lia. yang ia tau, hari ini adalah hari yang paling membahagiakan menurutnya


"makasih Li, makasih sayang" ucapnya kemudian mencium kening Lia berkali kali


Lia tersenyum manis "iya," ucapnya


"untuk sekarang, jangan kasih tau yang lain dulu ya..Kita buat suprise sampai nanti malam" ucap Lia yang mendapat anggukan dari suaminya


muslim kini tak ingin beranjak dari tempatnya. ia hanya ingin full time dengan istri dan calon anaknya itu, jika ada yang mengganggunya ia akan membunuh orang itu. pikirnya


"jalan jalan yok" ajak Lia


muslim menggenggam tangan Lia dan menatap sosok wanita di depannya itu "kemana??" tanyanya lembut


"ke mana aja deh yang penting bareng kamu mas hehe" ucapnya terkekeh

__ADS_1


muslim menarik tangan Lia pelan dan berjalan keluar kamarnya "hayukk" ucapnya riang


*******


malam pun tiba. semua orang kini berada tepi pantai yang sudah dihiasi dengan sebagus mungkin. keindahan pesisir pantai itu adalah keinginan sang pemilik pantai, Reno Fahriza


"sudah hampir setahun kita gak kumpul di luar negeri seperti ini" lirih Reno menatap langit yang penuh bintang


mereka mengangguk kecil "kalau gak salah sejak bang Vino sama kak Alin nikah kan yah?" tanya Rere yang mendapat anggukan dari yang lainnya


mereka sedang duduk bersama di tengah tengah pasir tepi pantai. mereka sengaja menggelar tikar yang sangat besar untuk tempat duduk


tak lama kemudian Gus Sofyan dan muslim berjalan dari kejauhan dan tampak akan menghampiri mereka. dengan senyum merekah, mereka membawa banyak kantong plastik yang berisi berbagai camilan


"amii!!" teriak seorang gadis kecil yang masih tak bisa berbicara sempurna, berlari menghampiri sosok wanita yang dipanggilnya mommy itu


wanita itu pun merentangkan tangannya guna menyambut gadis kecil itu untuk jatuh ke pelukannya "Aya angen Ami" ucapnya memeluk sang mommy


mommy yang dimaksud gadis kecil itu adalah Ririn. sesuai dengan keinginannya tahun lalu, akhirnya semua keluarga setuju jika Ririn mengadopsi seorang anak supaya bisa segera hamil


Ririn mengelus rambut putrinya itu "Mommy juga kangen Aera kok" ucapnya sembari mengecup pipi gembul Aera


AERA FAHRIZA AFRA HAMDAN. nama gadis cantik itu lengkap dengan marga ayah dan ibunya. Gus Sofyan dan Ririn serta semua orang terdekat mereka sangat menyayangi Aera. mereka menganggap Aera benar benar keturunan keluarga Fahriza dan suatu saat akan mendapat bagian kekayaan dari keluarga konglomerat itu.


Aera dan Bahar seumuran, mereka beranjak usia dua tahun. dan dengan hadirnya kedua balita yang sangat menggemaskan itu, keluarga besar mereka tak kesepian lagi


"nti unya apa?" tanya Aera menatap lugu Vreya


Vreya tampak berfikir "eemm.. aunty punya handphone untuk Aera! mau??" tanya Vreya berharap gadis itu mau dan menghampirinya


Aera menggeleng "Ami uga unya" ucapnya menatap tak suka kepada Vreya


"yeee..bisa bisa nya ane ditolak bocil" lirih Vreya pasrah


semua orang tertawa melihat interaksi antara Aera dan Vreya "Aera dari mana aja sayang?" tanya Ririn


"dali cauh cekali" ucapnya lugu


"Aya mam klim tama Abi (Aera makan es krim sama Abi)" sambungnya gemas


semua orang menyimak perbincangan Ririn dengan putrinya itu, mereka bahagia dan tersenyum gemas ketika mendengar omongan dari gadis kecil kesayangannya ini


"Jadi Aera beli es krim sendiri? mommy sama semua aunty di sini gak dibeliin??" tanya Ririn menatap anaknya gemas


"jangankan mommy, Abi aja gak dibeliin tuh" ucap Gus Sofyan duduk di samping Ririn

__ADS_1


"iya? wahh,, Aera jahat banget sih kalau gitu" ucap Lia menimpali


"kalau olang jahat biacanya dikukum loh Ya" Bahar menakut nakuti


"Aya baik! ang jahat Bahal! (Aera baik! yang jahat Bahar!)" ucapnya dengan air mata yang menggenang


karena tau cucunya akan menangis, dengan sigap Reno memanggil dan Aera pun menghampirinya dengan menangis di pelukan Grandpa tersayangnya itu


"huwaaa..Bahal jahat lanpaa (Bahar jahat grandpa)" tangis gadis kecil itu yang mengundang tawa semua orang


"nggak kok..cucu grandpa gak jahat, Aera sama Bahar baik kok" ucap Reno menenangkan cucunya


"nggak! Aya baik! Bahal jahat!" ucapnya Aera terus menyalahkan Bahar


"Bahal baik, Aya jahat..wle wlee" goda Bahar dengan mengeluarkan lidahnya sesekali


"lanpaaaaa (grandpaaaa)" tangis Aera semakin pecah


"bang bahar,, udah, jangan diganggu adiknya" ucap Ning Izah memanggil putranya itu


Bahar berjalan ke arah Ning Izah "Ummah, Aya bukan adikna Bahal..Bahal mau adik dali ummah" ucap Bahar antusias


"tapi Bahar jadi Abang sekarang. kan Aera anaknya om Sofyan" ucap Gus Sofyan menimpali


Bahar melirik tak suka ke arah Gus Sofyan "api butan adik Bahal!" ucapnya yang membuat tangisan Aera semakin pecah


"bang,, gak boleh gitu..ayo minta maaf sama om Sofyan, sama Aya juga..Aya itu saudarinya bang Bahar, harus bisa saling melindungi dan mengasihi. paham?" ucap ustadz Haris


Bahar menunduk "iya bah" ucapnya kemudian berjalan ke arah Gus Sofyan


"om Yan, Bahal minta maap" ucap Bahar lucu


Gus Sofyan tersenyum dan mengelus rambut Bahar "iya sayang, om Yan tau kalau tadi bang Bahar bercanda. sebenernya bang Bahar sayang sama Aya kan?" tanya Gus Sofyan


Bahar mengangguk "iya" ucapnya kemudian berjalan ke arah Reno yang masih memeluk Aera "Aya, Bahal minta maap ya" ucapnya hendak berjabat tangan dengan Aera


namun Aera tak kunjung menjawab. "Aya, Bahal minta maap" ucap Bahar sekali lagi namun tetap tak ada jawaban


karena otak cerdas Bahar, akhirnya ia mengintip dibalik pelukannya Aera dan Reno. Bahar terkekeh


"lanpa, lanpa, Aya bobo hahaha" tawanya menepuk-nepuk pundak Reno


Reno melepaskan pelukan mereka dan langsung menahan tubuh mungil Aera supaya tak jatuh, mereka yang ada di sana semuanya tertawa karena Aera yang tertidur tanpa mereka sadari


NOTE

__ADS_1


-Author minta maaf sebesar besarnya kepada readers semuanya, author telat update Minggu ini karena kondisi signal tak memungkinkan. author up episode kali ini aja sampe nunggu tiga hari revisi, baru bisa sukses updatenya..maafin author yang banyak dosa ini ya guys😭 jangan cape cape nunggu deh pokoknya..love you kalian semuaaa😘


see you:)


__ADS_2