Suami Pilihan Allah

Suami Pilihan Allah
Episode 121


__ADS_3

Di suatu kamar hotel, terdengar suara tawa dari beberapa gadis yang nampaknya sangat bahagian di malam ini.


"Hufh.. akhirnya jatuh juga dia haha" ucap Mita girang


"ih gila sih..tadi keren banget hahaha" ucap Arumi


"pada liat nggak, wajahnya mereka kayak takut semua hahaha puas banget" ucap Fitria tertawa


"eh tapi kalian nggak ada yang mikir gimana kalau sampai Gus Sofyan tau?" ucap Adel bingung


"ya biarin aja. suruh siapa Ririn ngambil Gus Sofyan nya mbak Arumi. iya kan mbak" ucap Mita


Arumi mengendikkan bahunya "itu sih bukan urusanku" ucapnya sombong


"kalau ternyata Ririn belum keguguran gimana mbak?" ucap Fitria


Arumi menyentil kening Fitria "kalau ngomong itu di saring dulu. ucapan itu doa, tau nggak!" ucapnya kesal


"tau tuh. kalau kejadian kan kita juga yang ribet nantinya. mending berdoa itu yang benar benar aja" ucap Adel


"pasti keguguran lah. orang tadi aku dorongnya kenceng banget, yekan hahaha" ucap Mita tertawa lepas dan di susul oleh yang lainnya juga


*******


"kenapa mereka bisa ada di acara itu sih? kan tadi siang aku udah ngurung mereka di gudang" ucap Vreya dalam hati


"kamu kenapa Li?" ucap Muslim di dalam mobil


kini mereka berdua di mobil yang sama menuju hotel tempat Lia tinggal. saat menuju rumah sakit tadi, mereka masih bertiga dengan Rere. namun karena Rere sekarang menjaga Ririn di rumah sakit, jadi mereka hanya berdua di dalam mobil itu


"apa tadi aku lupa ngunci gudangnya ya..tapi sepertinya nggak deh" ucap Lia dalam hati


"Lia, kamu nggak papa kan?" ucap Muslim yang tak kunjung mendapat jawaban dari Lia


"kalau aku nggak lupa ngunci pintu, lalu kenapa mereka bisa keluar dan hadir di acara itu sih" ucap Lia semakin geram


"Lia!" ucap Muslim mampu membuat Lia terkejut dan menoleh ke arah Muslim


"apaan sih mas teriak teriak..telinga Lia masih sehat loh" ucap Lia kesal


"kamu ngelamunin apa? mas tadi panggil kamu tapi kamu nggak jawab" ucap Muslim sesekali menoleh ke Lia


"ah nggak kok mas..Lia nggak papa" ucap Lia tersenyum manis


"eh itu Afiz kan?" ucap Lia saat tak sengaja melihat Afiz di lampu merah


"ah iya deh kayaknya. tapi itu sama siapa ya mas" ucap Lia beralih menatap Muslim di kursi kemudi


"temannya mungkin" ucap Muslim santai


"kok tumben Afiz punya temen cowok" ucap Lia yang hanya di respon dengan mengendikkan bahu oleh Muslim

__ADS_1


karena lampu merah masih lama, Lia berinisiatif untuk membuka kaca mobilnya "Afiz..mau kemana?" ucapnya sedikit berteriak


Afiz pun menoleh "oh kak Lia! Afiz mau makan makan bareng temen kuliah kak" ucapnya tersenyum manis


"kakak mau gabung nggak?" sambung Afiz


Lia menoleh ke arah Muslim seakan meminta jawaban. Muslim pun hanya tersenyum mengerti kode dari Lia


"mas hanya nyupirin.. terserah kamu aja" ucap Muslim


Lia tersenyum kemudian mengangguk ke arah Afiz dan mereka menuju tempat makan yang akan di tuju.


*******


"gimana kalau Ririn kenapa Napa?" ucap Aisyah berkaca kaca


Rehan mengelus kepala Aisyah "nggak papa Syah. kamu jangan khawatir ya..semua akan baik baik saja" ucap Rehan menenangkan


"Aisyah nggak mau kalau sampai Ririn dan bayinya kenapa Napa" ucap Aisyah hampir menangis


"kamu tak perlu khawatir Syah..percaya sama Allah dan dokter saja ya..semua akan baik baik saja" ucap Rehan


"coba aja Aisyah melarang Ririn untuk nggak ke tepi sungai itu..pasti Ririn nggak akan kayak gini" ucap Aisyah mulai meneteskan air matanya


"kamu tak perlu menyalahkan diri sendiri seperti itu Syah..semua kehendak Allah. tak ada yang luput dari garisnya. kamu harus yakin kalau Ririn baik baik aja ya" ucap Rehan mengelus punggung Aisyah


Aisyah melirik ke arah perutnya "auwhh" pekik Aisyah memegang perutnya


"dia nendang" ucap Aisyah tersenyum tipis


dengan cepat Rehan meraba seluruh perut buncit Aisyah


"sini sini" ucap Aisyah menuntun tangan Rehan ke tempat bayinya yang menendang


"wah..bener banget!! dia nendang!!" ujar Rehan antusias.


"di usia lima atau enam bulan itu sudah hal wajar jika bayinya menendang" jelas Aisyah


"iya bu dokter" ucap Rehan tetap fokus ke perut Aisyah. membuat Aisyah terkekeh gemas melihatnya


*******


Afiz memilih meja khusus empat orang karena dia tak mau jika Lia merasa canggung saat berada di meja yang sama dengan teman teman kuliahnya. restoran ini telah di pesan oleh teman teman sefakultas Afiz, oleh karena itu mereka bebas melakukan apa saja di restoran tersebut.


"kok kamu nggak gabung sama yang lain?" ucap Lia mendudukkan tubuhnya di kursi


"nggak papa kak. Afiz di sini aja sama kak Lia dan kak Muslim" ucap Afiz tersenyum manis


Lia hanya tersenyum "temen kamu nggak papa?" ucapnya menatap lelaki di samping Afiz


"ah saya nggak papa kok kak. yang penting Kakak sama Afiz nya nyaman aja" ucap teman Afiz tersenyum manis

__ADS_1


Lia menatap Afiz kemudian menahan senyumnya "kenalin dong" ucapnya


"ah iya kak. dia kak Kevin, senior Afiz di kampus" ucap Afiz menatap ke arah Lia dan Muslim bergantian


Kevin yang di perkenalkan hanya tersenyum manis menatap Lia dan Muslim di depannya


"ini kak Lia, dan ini kak Muslim..mereka sabahat kakak Afiz" ucap Afiz memperkenalkan Lia dan Muslim yang hanya mendapat anggukan kecil dari Kevin


kemudian mereka melanjutkan dengan berbincang santai sebelum pesanan mereka tiba.


"oh iya Fiz, terima kasih ya atas tumpangannya tadi sore" ucap Muslim


"iya kak sama sama..lagian kan tadi kita searah" ucap Afiz terkekeh di ujung kalimatnya


"tumpangan apa mas?" tanya Lia menatap Muslim


"oh tadi aku numpang mobil Afiz saat mau sampai di tempat wisata air terjun" ucap Muslim menjelaskan


"ah air terjun lagi" ujar Lia hampir tak terdengar


"emangnya kenapa kak? air terjunnya kering?" ucap Afiz menatap Lia yang menampilkan wajah kesalnya


"kamu belum tau ya? Ririn di dorong hingga jatuh dari atas air terjun tadi" ucap Lia


"astaghfirullah. siapa yang dorong? lalu gimana bayinya kak Ririn?" ucap Afiz khawatir


"kami belum tau pastinya. tapi yang jelas Ririn masih di rawat di rumah sakit" ucap Lia


"tapi siapa yang dorong kak Ririn sampai jatuh?" tanya Afiz sekali lagi


"Mita and the geng" ucap Lia kesal


"waahh bener bener ya mereka nggak ada kapok kapoknya..padahal dulu udah pernah di peringati sama Abah Hamdan..nggak ada niatan mau taubat apa ya" ucap Afiz kesal


Kevin yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan mereka, menoleh ke arah Afiz. untuk meminta jawaban atas pertanyaannya, siapa lagi orang yang bernama Ririn itu?


Afiz baru mengerti jika sekarang Kevin sedang menatapnya "ah iya kak maaf. kak Ririn itu istri kakaknya Afiz. dia sekaligus sahabatnya kak Lia" ucapnya menjelaskan


Kevin mengangguk paham "kenapa nggak di laporin ke polisi aja kak?" ucap Kevin memberi solusi


"melapor juga butuh proses dan prosedur. tak seenaknya hanya melaporkan orang jika tak ada bukti yang kuat" ucap Muslim menanggapi


"bener juga sih" ucap Afiz mengangguk kecil


"nyesel Afiz udah bantu mereka untuk sampai ke tempat wisata itu" ucap Afiz


"iya Fiz. Kakak juga nyesel udah bantu mereka keluar dari gudang" ucap Muslim meneguk jus di depannya


"j-jadi kalian yang udah bantu mereka untuk bisa hadir di acara Vreya?!!" ucap Lia terkejut tak percaya


Muslim mengangguk ragu "iya, mas yang udah bantu mereka keluar dari gudang pesantren" ucapnya

__ADS_1


"wahh..nggak nyangka banget kalau mas yang udah bantu mereka wahh..waahh" ucap Lia tak percaya dan di sertai rasa kesal di hatinya


__ADS_2