
"Kok kamu nggak ngasih tau mbak kalau kamu di kamar Gus Sofyan?" tanya Aisyah
"eemm sebenarnya kejadian itu berlangsung tadi siang aja sih..eh bukan lebih tepatnya tadi sore hehe..jadi nggak sempet ngasih tau ke kalian sorry" ucap Ririn
"terus terus kamu jawab apa Rin?" tanya Vreya
"belum jawab" ucap Ririn
"lah ngapa?" tanya Lia
"karena aku mau minta pendapat kalian" ucap Ririn
"ya udah berangkat gih sama bilang kalau kamu mau jadi istrinya" ucap Aisyah
"sekarang?" tanya Ririn
"iya lah" jawab Lia dan Vreya kompak
"ya udah kita temenin dah.. gimana? mau nggak?" ucap Lia
"t-tapi.." ucap Ririn terhenti
"udah tenang aja..kita nemeninnya hanya sampai gerbang doang kok..kagak bakal ganggu' ucap Lia membentuk jarinya angka dua
"ya udah ayok" ucap Ririn berdiri di ikuti oleh yang lainnya
*******
"cepetan gih..kita tunggu di sini" ucap Aisyah
"semangat" ucap Vreya Lia dan Aisyah bersamaan
kemudian Ririn berjalan menuju rumah kyai Hamdan untuk bertemu dengan Gus Sofyan dan memberinya jawaban tentang pertanyaannya tadi sore
tok..
__ADS_1
tok..
tok..
"assalamualaikum" ucap Ririn sembari mengetuk pintu rumah tersebut
"waalaikumsalam" ucap Gus Sofyan yang membuka pintu
"Erina..ada apa?" tanya Gus tersenyum manis
"hmm itu ustadz..anuu" ucap Ririn gugup
"apakah kau kemari akan memberikan jawaban?" tanya Gus Sofyan
"he em" ucap Ririn mengangguk
"jadi gimana?" tanya Gus Sofyan
Ririn menarik nafasnya panjang "huuhh..yah walaupun ustadz Sofyan tak sekaya Ji Chang Wook dan tak setampan Lee Min Hoo,,nggak papa lah Ririn terima yang penting ustadz Sofyan sayang selamanya sama Ririn" ucap Ririn
"Alhamdulillah" ucap Gus Sofyan
"nah pas banget..keluarga lagi pada kumpul nih..kalau kamu nggak keberatan, saya bisa sekalian ngomong ke Abah dan ummah" ucap Gus Sofyan
"hah? eh i-iya ustadz" ucap Ririn
"ya sudah mari masuk" ajak Gus Sofyan
"eh Ririn..sini duduk nak duduk" ucap umi Hamidah
"iya ummah" ucap Ririn dan duduk di sebelah Ning Izah
"ada apa ini kemari malam malam? mau menelfon ayah kamu lagi kah?" tanya kyai Hamdan
"eemm.." ucap Ririn terputus
__ADS_1
"Abah,,ummah..keinginan ummah yang waktu itu..dan perintah Abah yang menyuruh Sofyan memberitahukan wanita spesial di hati Sofyan,,sudah Sofyan hadirkan sekarang wanitanya Abah" ucap Gus Sofyan
"maksud kamu Ririn ini yang akan jadi sahabat hidup kamu nak?" tanya umi Hamidah
"iya ummah..gimana pendapat seluruh keluarga?" ucap Gus Sofyan sopan
Ning Izah tersenyum manis "i am oke" ucap Ning Izah singkat
"ya..kalau mbak mu sudah setuju,, mas nggak bisa apa apa yan..mas ya setuju juga lah demi keluarga" ucap ustadz Haris terkekeh kecil
"ummah,,Abah?" tanya Gus Sofyan
"ummah setuju kok nak..ini pilihan kamu, dan nggak mungkin ummah nggak menyetujui keinginan putra ummah" ucap umi Hamidah
"Alhamdulillah" ucap Gus Sofyan
"Alhamdulillah" ucap Ririn dalam hati
Gus Sofyan tersenyum dengan melirik Ririn "Abah?" ucap Gus Sofyan
"pertanyaan apa itu hah!" ucap kyai Hamdan dengan suara tinggi
"Abah..ada tamu nggak baik teriak seperti itu bah" ucap umi Hamidah
"ya ini kan keputusan Abah. kenapa ummah nggak ngizinin Abah bicara?" tanya kyai Hamdan
"ya Abah duluan pake teriak teriak juga Izah sampai kaget loh bah" ucap Ning Izah
"ya maafin Abah" ucap kyai Hamdan
"jadi gimana bah?" tanya Gus Sofyan
"tak bolehkah Abah bertanya sesuatu kepada wanita pilihan kamu ini?" ucap kyai Hamdan
"bertanya? aduuhh ustadz..tolong larang Abah untuk bertanya pada Ririn..ya kalau pun bertanya,, bertanya apa pula ya Allah semoga pertanyaannya bisa Ririn jawab" ucap Ririn dalam hati
__ADS_1
Gus Sofyan terkekeh "silahkan di pertanyakan bah" ucap Gus Sofyan
"huh..ternyata ustadz Sofyan ngizinin Abah bertanya..mampus aku' ucap Ririn dalam hati