
semua orang menatap Ririn yang meneteskan air matanya. mereka ikut meneteskan air mata tak tega melihat Ririn yang menangis dalam keadaan sakit
Gus Sofyan berjalan mendekat ke arah Ririn dan memeluk istrinya yang menangis di atas brankar itu
Ririn menyeka air matanya"kemana mereka?" lirihnya menatap Gus Sofyan penuh harap
"mereka baik baik aja kan?" tanya Ririn meneteskan air matanya
Gus Sofyan mengangguk "udah ya..jangan nangis dulu" ucapnya ikut meneteskan air matanya
"kemana mereka bi?!" ucap Ririn dengan sedikit berteriak
"sabar sayang..jangan nangis ya..dia ada kok..dia ada" ucap Gus Sofyan menenangkan sembari menghapus air matanya sendiri
Ririn tersenyum tipis "Ririn mau ketemu mereka bi" ucapnya
Gus Sofyan mengangguk kecil "nanti kalau sudah dibolehkan, kita ketemu dia ya" ucapnya kemudian memeluk Ririn lagi
"jangan nangis Rin..anak kamu sudah terlahir ke dunia..tapi bayi prematur harus di simpan terlebih dahulu, sampai dua puluh empat jam di inkubator" jelas Aisyah
Ririn mengangguk kecil "jadi kapan Ririn boleh lihat anak Ririn mbak?" tanya Ririn
"besok pagi..untuk sementara ini, kalian siapkan nama untuknya dulu" ucap Aisyah menjelaskan
"assalamualaikum" teriak orang masuk ke dalam ruangan Ririn
"waalaikumsalam.. Astaghfirullah Lia! ini rumah sakit!" ucap Angga
"ehehehe iya pa sorry.. Lia kelewat seneng sih, tadi denger kabar kalau Ririn udah sadar" ucap Lia berjalan ke arah Ririn
"eh ada Abah sama ummah juga di sini..waaahh ada Abang Bahar jugaa" ucap Lia menyentuh pipi Bahar gemas
"gimana Rin? enak?" tanya Lia kepada Ririn
"paan yang enak?" tanya Ririn ketus
"ihh maksud aku badan kamu udah enakan? gitu" ucap Lia menimpali
__ADS_1
"ya gini deh.." ucap Ririn pasrah
"gini apaan dah..nggak jelas banget sih" ucap Lia memutar bola matanya jengah
"udah udah..Lia, Ririn butuh istirahat..lebih baik kita pulang ya" ucap Deni
"pulang sekarang nih? Lia belum makan buah apa apa loh dad" ucap Lia heboh
"heh kutu beras! aku yang sakit aja belum makan apa apa..udah Sono pulang!!" usir Ririn
"waahh parah banget nih..nggak ada tamu yang bisa di usir seenaknya begini..mana tamunya orang terhormat kayak Lia gini, lagi..nggak bisa di biarin nih harus di beli rumah sakitnya" ucap Lia semakin heboh
"ya Allah..kenapa harus seperti ini anakku" ucap Vania seakan akan dalam drama
"ih mama kenapa sih! mama harusnya beruntung punya anak kayak Lia..selain cantik kaya dan ceria, Lia anaknya juga syangat pandai loh ma" ucap Lia membela diri
"iya benar sayang..ayo kita pulang yok..obat kamu ketinggalan di meja belajar tadi" ucap Vania menuntun anaknya keluar ruangan
"ma..Lia belum selesai ngobrolnya loh..Rin nanti ki-" ucap Lia terhenti
"iya sayang iya..nanti iya nanti" ucap Vania menimpali sembari terus menarik Lia supaya keluar dari ruangan Ririn
"hahha iya hati hati.. waalaikumsalam" ucap Vreya dan yang lainnya hampir bersamaan
*******
"kamu dari mana aja Li?" tanya Angga sembari menyetir mobilnya
mereka dalam satu mobil. Lia tak membawa mobil sendiri karena tadi ia hanya diantarkan oleh bodyguard nya
Lia melirik sekilas ke arah papanya "dari kantor polisi" ucapnya santai kemudian fokus dengan handphone nya lagi
"lah..ngapain ke kantor polisi?" ucap Vania
"gabut aja" jawab Lia santai
"gabutnya nggak main main ya ma" ucap Angga menoleh ke arah Vania yang terkekeh
__ADS_1
"biasalah. gabutnya orang kaya" ucap Lia santai
"dih! kamu kaya dari papa aja belagu" ucap Angga
"iri bilang bos!" ucap singkat Lia
Vania dan Angga hanya menggelengkan kepalanya "gimana kamu dengan muslim" ucap Vania menoleh sekilas ke arah anaknya yang duduk di kursi belakang
"fine" ucap Lia singkat
"kamu ngomong ke mama papa kok kayak ngomong ke bawahan kamu sih Li..singkat banget" ucap Vania kesal
Lia menghembuskan nafasnya dan menatap kedua orang tuanya bergantian "Lia itu kesal dan bete sama mama dan papa..tadi Lia belum selesai ngobrol sama Ririn, tapi kenapa malah di seret keluar cepet cepet sih" ucapnya mengerucutkan bibirnya
Angga terkekeh "Ririn butuh istirahat nak..dia harus mengumpulkan staminanya untuk mendengar kabar bahwa anaknya hanya satu yang bisa di selamatkan" ucap Angga
"whaatt!!" teriak Lia
"Astaghfirullah kaget mama loh" ucap Vania mengelus dadanya
Angga menghembuskan nafasnya "beruntung papa mama nggak punya riwayat jantung, Li" ucap Angga
"papa serius? jadi Lia cuma punya satu keponakan?" tanya Lia tak percaya
"he em" angguk Angga
"lah kok gitu pa, ma?" tanya Lia lagi
"dengan kondisi Ririn yang nggak bisa di bilang baik, akhirnya dokter mengambil keputusan untuk mengoperasi Ririn supaya bayinya masih bisa selamat" ucap Angga mulai menjelaskan
Vania mengangguk kecil "tapi karena kehendak Allah, hanya satu bayi yang bisa di selamatkan. ya karena kembali ke kondisi ibu yang awalnya tidak baik baik saja" ucap Vania melanjutkan
Lia mengangguk kecil "kasian banget Ririn..pasti sekarang dia butuh Lia" lirihnya
"nggak!" ucap Angga dan Vania bersamaan
"dih kompak bener" timpal Lia kesal
__ADS_1
"karena kamu, Ririn jadi kehilangan satu putrinya, Arumi! lihat saja pembalasan Allah nanti" ucap Lia dalam hati penuh amarah