
Reno hanya tersenyum simpul saat mengingat kenangan bersama istrinya di kamar itu. ingin rasanya ia menangis dan menumpahkan air matanya namun ia tahan karena ia tak boleh egois dengan takdir
"Bun, sepertinya Ririn masih belum siap untuk bunda tinggalkan. walaupun ayah selalu melihat dia tersenyum di depan ayah dan keluarga, ayah faham hati anak ayah bahwa dia masih tidak bisa ikhlas untuk bunda tinggalkan. apa yang harus ayah lakukan di saat saat seperti ini Bun?" tanya Reno di dalam kamarnya
"apa ayah harus membiarkan Ririn tinggal di sini saja dan tak kembali ke pesantren lagi?" tanya Reno yang tak mendapat jawaban
"tapi ayah tak bisa seegois itu untuk menuruti keinginan ayah. ayah tau bunda ingin memiliki anak lulusan pesantren. insyaallah ayah akan bantu mengabulkan keinginan bunda itu. bunda tenang ya jangan sedih di sana. ayah akan jaga mereka dengan baik" ucap Reno kemudian kembali masuk ke kamarnya
*****
-pagi hari di ruang tamu
"morniinngg..wah sudah pada ngumpul ni ada apa?" ucap Rere turun dari kamarnya
"hm iyaaa. sini turun kamu cepat' ucap vino
"ih apaan sih baru juga keluar dari kamar" Ririn menggerutu
"ada apa?" tanya Rere saat sudah berada di depan abangnya itu
"kakak kamu kemana?" tanya Vino yang hanya dijawab dengan gerakan bahu oleh Rere
"kami mau pulang ke pesantren. apa nak Ririn hendak ikut?" tanya kyai Hamdan
"whatt!!? secepat ini bah? Rere belum puas bareng kalian dan Rere hanya menunjukkan pasar malam doang. bahkan kalian belum ke tempat makan kesukaan Rere kan. lalu kenapa kalian kembali begitu cepat?" tanya Rere dengan disertai wajah kesalnya
"bukannya kami tak ingin singgah lebih lama,,tapi kami masih memiliki tanggung jawab di pesantren. itu lah alasan mengapa kami harus segera kembali" ucap umi Hamidah
__ADS_1
"ah tapi kan--" ucap Rere terhenti karena Vino menutup mulutnya
"ssstttt udah kamu diem aja. sekarang Abang nanya,diamana kakak kamu?" tanya Vino
"di kamarnya mungkin bang. kan Rere juga nggak tau ih" ucap Rere dongkol
"Ririn di sini. ada apa ya kok cari cari Ririn?" tanya Ririn dengan polos
"dari mana aja kamu. nggak liat ini tuh udah terlalu siang untuk seorang gadis bangun tidur" omel vino
"dari kamar bang. tadi suami Ririn tak mengijinkan Ririn keluar kamar karena dia bilang dia masih ingin melihat wajah cantik Ririn" ucap Ririn
"hah? suami?!!" ucap mereka serentak
"eh maksudnya suami masa depan Ririn,,Lee Min Hoo" ucapnya dengan terkekeh
"huuu dasar halu!" ucap Lia
"sirik aja sih" ucap Ririn memutar bola matanya malas
"sudah sudah. sekarang saya tanya sama kamu Erina. kamu mau ikut kami kembali ke pesantren atau tidak?" tanya Gus Sofyan
"kapan?" ucap Ririn
"tahun depan Rin! ya sekarang lah" ucap Lia dengan kesal
"oh ya sudah ayok" ucap Ririn
__ADS_1
"kamu yakin mau ikut dengan mereka?' tanya Vino
"ya iya lah bang. Ririn kan berangkat bareng mereka. pulangnya juga harus bareng mereka dong. gimana sih' ucap Ririn
"ya udah kalau gitu Ririn naik dulu ya. mau beresin barang barang Ririn" ucap Ririn
saat Ririn hendak pergi ke kamarnya, ia menghentikan langkah karena melihat bi Mar dan ayahnya turun bersamaan dengan membawa koper miliknya.
"mau kemana? ini udah ayah siapin semua keperluan kamu untuk kembali ke pesantren. tadi di bantu bi Mar juga kok. semua sudah siap tuan putri' ucap Reno dengan tersenyum
"ah makasih ayaaahhh" ucap Ririn dengan berlari dan memeluk ayahnya
"iya sayang. sekolah dan mengajilah dengan baik ya di sana. jangan buat Abah dan ummah khawatir karena kenakalan kalian ya. jangan merepotkan semua anggota pesantren loh ya" ucap Reno
"siap boss' ucap Ririn dengan tangan menghormat
******
"terima kasih karena sudah memberikan tempat tinggal walau hanya sementara waktu untuk kami" ucap kyai Hamdan
"ah seharusnya saya yang berterima kasih bah. Abah sudah bersedia dan ikut serta dalam acara pemakaman istri saya tempo hari" ucap Reno tak nyaman hati
"ya sudah kalau begitu kami pamit dulu ya nak. assalamualaikum" ucap kyai Hamdan
"iya bah waalaikumsalam. mohon titip putri Putri saya di sana. pukul saja jika mereka nakal saya tak akan melarang" ucap Reno dengan tertawa dan diikuti oleh semuanya
"mari kita masuk mobil semua. sudah waktunya berangkat. Sofyan kamu yang nyetir ya" ucap kyai Hamdan yang hanya diangguki oleh Gus Sofyan
__ADS_1
mereka pun menuju pesantren untuk pulang karena kyai Hamdan dan umi Hamidah masih harus memeriksa pesantren dan mengontrol keadaan di sana.