
Vino dan dokter Riko keluar dari ruang UGD pertanda bahwa keadaan Rere mulai membaik.
"Vin..bagaimana keadaan Rere?" ucap Reno khawatir
"Alhamdulillah keadaan pasien mulai membaik dan insyaallah dia sudah tak merasakan sakit lagi pak" ucap dokter Riko
"syukur Alhamdulillah" ucap Reno tersenyum
"Rere akan di pindahkan ke ruang inap. dampingi dia hingga bisa diajak berbicara dan panggil suster jika membutuhkan sesuatu" ucap vino kemudian berlalu
"saya permisi ya pak" ucap dokter Riko mengikuti Vino
"dokter! tunggu" ucap dokter Riko mengejar Vino
"saya sarankan untuk melakukan operasi dok. karena jika hanya obat saja tak akan mampu untuk menyembuhkan pasien dengan cepat" ucap dokter Riko berjalan di samping Vino
"tidak. banyak solusi lain untuk menyembuhkan pasien,,bukan hanya operasi" ucap Vino
"kenapa anda tak ingin kami melakukan operasi? tidak seperti biasa anda menolak seperti ini dok" ucap dokter Riko
"DIA ADIK SAYA!" ucap vino tegas yang membuat dokter Riko terdiam
"saya tak ingin memberikan bekas luka di tubuh adik saya dok" ucap vino menangis
dokter Riko menepuk nepuk pundak Vino "maafkan saya dok. tapi alangkah baiknya jika anda segera melakukan tindakan" ucap dokter Riko
"ya sudah kalau begitu saya permisi dok" ucap dokter Riko kemudian pergi dari ruangan Vino
tok..
tok..
tok..
"masuk" ucap Vino
"Vin,," ucap Reno
"vino ada cara lain yah" ucap Vino
"cara apa?" ucap Reno
"cara untuk menyembuhkan penyakit Rere tidak hanya dengan operasi yah. masih ada cara lain dan vino punya caranya" ucap Vino
"Vino punya teman di Jerman. dia spesialis jantung sama seperti Vino. jika Rere di bawa ke Jerman,, Vino yakin dia bisa sembuh karena alat dan kemampuan dokter di Jerman sangat mendukung yah" ucap Vino
"ya,,kalau itu satu satunya solusi untuk menyembuhkan Rere tanpa operasi,,ayah setuju kok nak" ucap Reno
"ayah pesan tiker pesawat sekarang ya" ucap Reno
"tidak yah..kita berangkat satu Minggu kedepan karena beberapa hari lagi vino ada jadwal operasi" ucap Vino
"ya sudah kalau begitu ayah mau ke ruangan Rere dulu ya" ucap Reno yang diangguki oleh Vino
*******
"kenapa Rin?" ucap Aisyah
"nggak tau nih mbak. sepertinya ini jam tangan yang Ririn beli untuk Rere deh" ucap Ririn
"kamu tau dari mana kalau itu punya Rere?" ucap Lia
"karena di bagian belakang jam aku kasih nama Li" ucap Ririn melihat jam tangan yang jatuh itu
__ADS_1
"pecah nggak?" ucap Vreya
"nggak kok hanya retak saja" ucap Ririn tersenyum simpul
"lebih baik kamu istirahat saja. hari ini pasti lelah kan besok harus bangun pagi juga. ingat besok jangan telat lagi" ucap Aisyah
"iya iya" ucap Ririn meletakkan jam tangan itu di laci samping ranjangnya
"Lia dan Vreya mau tidur atau nggak?" ucap Aisyah
"ini masih jam berapa sih mbak. masih belum ngantuk lah" ucap Vreya
"iya mending aku baca novel aja dari gabut kan ntar malah ketiduran" ucap Lia
"pinjem dong" ucap Vreya
"bayar ya" ucap Lia
"berapa?" ucap Vreya menanggapi
"satu lembarnya sepuluh ribu. gimana?" ucap Lia
"hmm oke lah deal" ucap Vreya kemudian membawa novel Lia ke atas tempat tidurnya untuk ia baca
"ya udah terserah terserah kalian lah mau gimana juga mbak mau tidur" ucap Aisyah
"ada apa ya? kenapa jam tangan Rere bisa jatuh? apa ada sesuatu yang terjadi sama Rere?" ucap Ririn dalam hati
"nggak bisa di biarin nih. jiwa kekepoanku meronta ronta. aku harus segera menemui Rere di rumah ustadz Sofyan" batinnya kemudian beranjak dari atas tempat tidurnya
"Rin. mau kemana?" ucap Lia
"keluar bentar" ucap Ririn kemudian berlari tanpa mengucap salam
"kenapa Ririn?" ucap Aisyah terbangun
mereka bertiga saling menatap dan beranjak mengikuti arah Ririn berlari
*******
Ririn berlari kecil menuju rumah kyai Hamdan dan di ikuti oleh ketiga sahabatnya dari belakang. tanpa di sadari,,ternyata Ririn menangis dengan sendirinya.
"assalamualaikum ustadz" ucap Ririn
"waalaikumsalam" ucap Muslim dan Gus Sofyan
Gus Sofyan berdiri dan menghampiri Ririn yang sedang menangis "kamu kenapa?" ucap Gus Sofyan
Ririn mengusap air matanya kasar dan menanyakan Rere kepada Gus Sofyan
"Rere ada di dalam kan ustadz. Ririn mau ketemu" ucap Ririn
"boleh kan?" sambungnya
"boleh. tapi mereka sudah tak ada di sini Erina" ucap Gus Sofyan
"mereka? maksud ustadz?" ucap Ririn
"ayah,, Abang dan adik kamu sudah pulang tadi siang" ucap Gus Sofyan
"pulang? kok mereka nggak ngomong ke Ririn ustadz?" ucap Ririn
"hm i-itu.." ucap Gus Sofyan gugup
__ADS_1
"itu apa?" ucap Ririn bingung
"tadi Abah bilang kalau vino ada operasi mendadak gitu. jadi mereka pulang terlebih dahulu. mungkin lupa untuk mengabari kamu" ucap Gus Sofyan
"oh begitu..tapi mereka nggak papa kan ustadz?" ucap Ririn
"nggak papa apa maksudnya? mereka pulang dengan baik baik saja kok" ucap Gus Sofyan berbohong
"apa itu Ririn?" ucap kyai Hamdan dari dalam rumah
"ah iya Abah. assalamualaikum" ucap Ririn memberi salam
"waalaikumsalam nak. ini ayah kamu nelfon sepertinya mereka sudah sampai di Surabaya" ucap kyai Hamdan
Gus Sofyan mengambil handphone yang ada di tangan kyai Hamdan untuk di berikan ke pada Ririn supaya Ririn bisa berbincang dengan ayahnya
"hallo ayah assalamualaikum" ucap Ririn
"waalaikumsalam anak ayah. maaf ya ayah pulang dulu tadi" ucap Reno di seberang
"ayah pulang kok nggak ngasih tau Ririn sih? Ririn di sini beli barang untuk ayah Rere dan Abang loh..pas sampai pesantren kalian pulang duluu" ucap Ririn sendu
"iya nak maaf. tadi ada keadaan mendesak dan mengharuskan kita untuk pulang" ucap Reno
"iya yah nggak papa. Rere dan Abang mana?" ucap Ririn
"Rere sudah tidur. mungkin dia terlalu lelah karena perjalanan yang cukup jauh. kalau Abang,,dia ada di ruangannya" ucap Reno
"hmm gitu ya..boleh nggak yah kalau Ririn mau ngobrol sama Abang?" ucap Ririn
"oh gitu,,tunggu ya" ucap Reno kemudian pergi menuju ruangan vino di rumah sakit itu
"Vin..Ririn bilang mau ngobrol sama kamu" ucap Reno menyerahkan handphone kepada Vino
"hmm ada apa? baru juga tadi siang ketemu sama Abang masak iya udah kangen aja sih" ucap vino menggoda
"ih apaan sih bang. Ririn cuman mau tanya..bagaimana operasinya?" ucap Riri
"hah? operasi? operasi apa?" ucap vino bingung
"kata ustadz Sofyan,,kalian pulang dulu karena ada pasien yang harus di operasi. Ririn nanya,,gimana keadaan pasiennya?" ucap Ririn
"oh itu..ah ya lancar lah. operasinya lancar kok nggak ada kendala apa pun. ini kan udah malam, kenapa Ririn nggak tidur? malah ada di rumah Sofyan. ketemuan yaa hayoo" ucap Vino
"ih nggak lah..Ririn cuman mau telfon sama ayah aja..sama Abang juga..pengennya sih sama Rere juga..tapi ayah bilang Rere sudah tidur" ucap Ririn
"ah iya memang Rere sudah tidur duluan. mungkin dia lelah karena perjalanan pulang tadi" ucap vino
"ya sudah kalau begitu Ririn tutup dulu ya bang.. assalamualaikum" ucap Ririn kemudian menutup telfonnya
"waalaikumsalam" ucap vino tersenyum simpul
"terima kasih ya bah karena sudah meminjamkan handphone nya" ucap Ririn mengembalikan telfonnya
"iya nak sama sama. Abah masuk dulu ya" ucap kyai Hamdan kemudian masuk ke dalam rumah
"masuk gih. angin malam nggak baik untuk kesehatan" ucap Gus Sofyan kepada Ririn
"iya ustadz. assalamualaikum" ucap Ririn menunduk kemudian berlalu menuju kamar asramanya
"ah sweet banget ya" ucap Lia yang sedari tadi mengintip di belakang gerbang bersama Aisyah dan Vreya
"iya gemoy banget kan huhu" ucap Vreya
__ADS_1
"ih sudah ah sudah. ayo masuk sebelum Ririn tau kalau kita mengintip dia dari tadi" ucap Aisyah
mereka kembali ke kamar asrama sebelum Ririn melihat mereka yang sedang mengikutinya sedari tadi.