Suami Pilihan Allah

Suami Pilihan Allah
Episode 114


__ADS_3

Semua orang lari keluar aula pesantren. segera menuju suara Ririn yang berteriak. tak lama setelah semua berada di luar aula, terlihat Ririn yang masih berdiri di tepi kolam dengan posisi seperti sedang menelfon seseorang, lebih tepat kakak kandungnya sendiri, Vino.


"ya udah bang. assalamualaikum" ucap Ririn mematikan telfonnya


"sayang, kamu nggak papa kan?" ucap Gus Sofyan khawatir dengan memegang pundak Ririn


Ririn mengangguk dengan polosnya "Ririn nggak papa kok bi" ucapnya


"kakak kenapa teriak tadi?" ucap Rere yang sedang berdiri di sekitar banyaknya santri dan santriwati yang menatap Ririn khawatir


"oh nggak papa kok pengen teriak aja hehe" ucap Ririn tersenyum kuda


"tapi kamu benar benar nggak papa kan?" ucap Gus Sofyan mengelus pucuk kepala Ririn kemudian memeluk tubuh mungil istrinya


"iya bi, Ririn nggak papa" ucap Ririn tersenyum manis sembari membalas pelukan sang suami


setelah Gus Sofyan memastikan keadaan Ririn yang baik baik saja, tak lama kemudian sepasang mata Vreya melihat sesuatu di belakang Ririn


"pelakor!" pekik Vreya terkejut


"eh maksudnya Arumi" ralatnya cepat


ucapan Vreya itu mampu membawa semua pandangan menuju arah belakang Ririn, kolam renang yang cukup dalam.


"eh tolongin!" ucap Mita berlari menuju bibir kolam


"ehehe Ririn lupa ngasih tau klo dia butuh bantuan" ucap Ririn cengengesan


beberapa santri membantu Arumi untuk keluar dari kolam renang tersebut. semua santri dan santriwati menatap Arumi penuh prihatin. beda hal nya dengan Ririn and the geng, yang kembali ke rumah kyai Hamdan terlebih dahulu. tanpa menunggu kabar tentang Arumi yang tenggelam di kolam renang pesantren


*******


-di ruang tamu rumah kyai Hamdan


"kok si pela- em maksudnya si Arumi bisa tenggelam? gimana ceritanya?" ucap Lia meralat ucapannya karena mendapat tatapan tajam dari Vania


"iya tuh..bukannya tadi kamu keluar aula cuma karena mau ngangkat telfon ya?" ucap Aisyah memandang Ririn dan diikuti oleh semua pasang mata yang ada di ruang tamu tersebut, seakan menunggu jawaban dari Ririn


Ririn terkekeh kecil melihat semua orang tengah menantikan ia berbicara "Ririn nggak tau" ucapnya


"kamu nggak papa kan Rin?" ucap Angga

__ADS_1


"Ririn nggak papa kok pa. tadi hanya terkejut aja, karena mbak snake- eh maksudnya mbak Arumi itu sudah mandi di kolam" ucap Ririn dengan santainya sembari memakan makanan ringan di meja ruang tamu


"sekarang kamu jelaskan semua kejadian saat kamu berpisah dengan saya di acara pernikahan tadi ya" ucap Gus Sofyan lembut sembari mengelus pinggang Ririn


Ririn mengangguk dan segera menceritakan tentang kejadian yang ia lalui beberapa menit yang lalu, setelah ia melepas pegangan tangan Gus Sofyan dan ikut berbaur dengan tamu yang lainnya


FLASHBACK


Ririn kini berada di aula pesantren, di mana Vreya mengadakan pernikahan dan tasyakuran baby Bahar. saat sedang berbincang dengan para sahabatnya, ia mendengar nada dering handphone nya berbunyi. tertera nama abangnya di benda pipih tersebut.


Ririn keluar mencari tempat yang tidak terlalu ramai untuk menerima telfon dari vino, beberapa menit yang lalu. tepi kolam adalah tempat yang cukup sepi dan pas untuk berbicara lewat telfon


keberadaan Ririn di tepi kolam itu tak luput dari pandang mata seorang wanita yang sangat mendambakan suaminya itu, Arumi lah orangnya. ia bersembunyi di dekat tangga pesantren, supaya tak banyak perhatian yang tertuju padanya. tak lama kemudian, muncullah ide buruk untuk ia lakukan.


setelah puas berbicara di telfon dengan abangnya, Ririn hendak mematikan telfon tersebut. namun terdapat hal yang mengganjal di sekitarnya


"itu apa?" ucap Ririn dalam hati sembari menatap bayangan yang berada di sampingnya ia berdiri


"apa itu bayangan bunga dan potnya?" tanya wanita cantik itu terus menerus


"nggak yakin sih kalau itu pot bunga" ucapnya lagi saat melihat bayangan itu kian mendekat padanya


"wah pasti orang hidup nih" ucapnya kemudian mengelak dengan cepat dari lurus bayangan tersebut, dan..


"aarrghh" teriak Ririn bersamaan dengan jatuhnya bayangan tersebut ke dalam kolam


suara orang yang terjatuh ke dalam air itu tak terlalu terdengar karena teriakan kaget Ririn yang lebih mendominasi. sehingga hampir semua santri dan santriwati yang berada di pesantren tersebut bergegas menuju kolam renang hanya untuk mengetahui teriakan tersebut.


FLASHBACK OFF


"gitu" akhir Ririn menceritakan


"oh jadi maksudnya, Arumi emang sengaja mau dorong kamu ke kolam, Rin?" ucap Ning Izah yang baru masuk ke dalam rumah


"kalau secara logis sih iya mbak" ucap Ririn membenarkan


"kenapa dia ada niat kayak gitu?" ucap ustadz Haris menuntun istrinya menuju sofa ruang tamu


"untuk apa lagi ustadz? ya karena motif kecemburuan lah" ucap Vreya memutar bola matanya jengah


"maksudnya?" ucap Reno ikut penasaran

__ADS_1


"jadi gini yah, Arumi itu adalah wanita snake yang udah demen dari dulu ke suami Ririn ini" ucap Ririn menggenggam lengan suaminya


"dia berusaha mau dapetin kak Sofyan lagi yah. bahkan sampai sekarang, dia masih nganggap kak Ririn itu sebagai pelakor. padahal mah dia sendiri pelakornya" ucap Rere ikut menjelaskan


Reno mengangguk paham "jadi dia cemburu karena putri ayah sedang mengandung anak Sofyan, gitu?" ucapnya menatap Ririn yang hanya mendapat anggukan dari sang empu


"iyap ayah bener banget..pandai deh ayah Lia ini" ucap Lia dengan nada merayunya


Reno yang paham dengan kode Lia pun mengambil handphone yang berada di saku Jaz nya "dah terkirim untuk hari ini" ucapnya santai


"yeeeaahh" ucap Lia senang kemudian mengecek handphone nya. dan benar saja, tertera angka 10 juta di handphone itu yang baru di kirim oleh Reno


"Vreya yah?" ucap Lia dengan wajah memelas


"ih apaan sih kalian. kok malah bahas uang jajan sih,,masalah kak Ririn belum selesai loh" protes Rere


"iidiihh, bilang aja kalau kamu juga mau di transfer kan" ucap Lia dengan ekspresi julidnya


"ih nggak loh. Rere biasa aja kali" ucap Rere memutar bola matanya malas


"udah udah..kalian nggak perlu ribut ribut gitu. nggak malu apa, di sini masih ada Izah yang mantau dari tadi" ucap Deni melerai


Ning Izah dan ustadz Haris terkekeh "kalau gitu kami masuk duluan lah. kalian lanjutkan obrolan uang jajan kalian" ucap ustadz Haris menuntun istrinya berjalan menuju kamarnya dengan hati hati


setelah kepergian Ning Izah dan ustadz Haris, mereka lanjut berdebat tentang uang jajan yang belum di transfer ke masing masing saldo mereka.


"udah ayah transfer ke semua rekening" ucap Reno kemudian pergi meninggalkan perdebatan mereka yang tak kunjung henti


*******


"aisshh! kenapa harus aku sih yang jatuh" ucap Arumi sebal dalam perjalanan menuju kamar pesantren yang masih kosong


"kok bisa berenang ke sana sih mbak" ucap Fitria terus berjalan


"tadinya, aku mau buat Ririn jatuh ke kolam itu. aku mau anak yang ia kandung itu mati" ucap Arumi penuh dendam


"mbak serius?" ucap Mita membelalakkan matanya mendengar penjelasan Arumi


"iya lah. pernah kah aku bercanda dengan omonganku sendiri hah?!" ucap Arumi kesal


"Ng-nggak mbak" ucap Mita kikuk

__ADS_1


mereka telah sampai di kamar yang mereka tempati untuk sementara waktu. setelah membersihkan diri, Arumi berkumpul dengan pasukannya untuk membicarakan misi terbaru mereka


__ADS_2