Suami Pilihan Allah

Suami Pilihan Allah
Episode 151


__ADS_3

"Kenapa dibawa pergi dulu sih sayang? kan tadinya aku mau ngasih tau mereka, kalau kamu itu bukan pacar aku" ucap dokter Johan


"udah lah gak penting" ucap Rere mengibaskan rambutnya kebelakang


dokter Johan dan Rere terkekeh sembari lanjut berbelanja di mall itu. hingga tak sengaja mereka bertemu seseorang yang sangat mereka kenal


"Abaangg!!" teriak Rere berlari ke arah orang itu


orang yang dipanggilnya Abang itu pun menoleh "Oh Rere?! ngapain kamu kesini?" tanya Vino


"mall ini kan punya ayah. jadi Rere juga berhak untuk belanja di sini dong" ucap Rere dengan ekspresi datarnya


"hai bang" sapa dokter Johan yang baru sampai di tempat mereka


Vino mengangguk "Kalian apa kabar?" tanyanya


"baik kok bang. Abang dan kak Alin gimana?" tanya Rere


"fine" singkat abangnya


semenjak Alin berhasil menyembuhkan penyakitnya trauma yang dialami Ririn, Vino dan Alin kembali ke Spanyol dan menyelesaikan tugasnya di sana. rencananya dua Minggu lagi mereka akan menikah. karena Alin yang sudah menyembuhkan penyakitnya Ririn, jadi mereka makin dekat dan Vino juga mulai tertarik padanya


"Abang pulang sendirian? kenapa gak pulang ke rumah?" tanya Rere


tak lama kemudian, seseorang datang dengan membawa banyak paper bag ditangannya "jadi kit-" ucapnya terhenti karena melihat ada dua orang disekitar calon suaminya itu


Rere, Vino, dan dokter Johan pun menoleh ke arah sumber suara. Rere segera memeluk Alin yang nampaknya kesusahan dengan tangan yang penuh paper bag


"kak aliin!!" teriaknya berhambur ke pelukan Alin


Vino langsung mengambil seluruh belanjaan yang ada di tangan Alin, supaya calon istrinya itu bisa leluasa melepas rindu dengan adik bungsunya ini


"apa kabar re?" tanyanya melepas pelukan merek


"fine kak.. kakak gimana?" tanya Rere kemudian


"fine dong. udah isi belum?" tanya Alin mengelus perut rata Rere

__ADS_1


Rere menunduk "belum" lirihnya sendu


"it's oke..itu tandanya kamu diharuskan pacaran dulu sama suami kamu. iya kan?" ucap Alin kemudian menatap Vino dan dokter Johan meminta persetujuan


dokter Johan dan Vino mengangguk tegas "iya lah" ucap Vino


Rere tersenyum simpul. Alin mengerti perasaan wanita di depannya itu. jadi dengan otak cerdasnya, ia mencari ide untuk mengalihkan pembicaraan


"oh ya, sebentar lagi kita kumpul kumpul ya dirumah ayah" ucap Vino mendahului


Alin tersenyum kepada Vino, ternyata calon suaminya ini cukup peka dan dapat diandalkan dalam situasi seperti ini.


"iya bener tuh..kak Alin udah belikan banyak hadiah untuk kalian. sebenarnya kak Alin dan bang Vino gak pulang ke rumah dulu itu karena kami lupa membeli buah tangan dari Spanyol hahah" ucap Alin sembari berjalan sesekali tertawa di ujung kalimatnya


"oh jadi Rere ketemu Abang tadi karena kalian lupa beli oleh oleh?" tanya Rere lagi


Alin dan vino mengangguk "iya..Abang kamu tuh keburu Mulu dari tadi" ucap Alin mengerucutkan bibirnya


"byasalah" lirih Rere memutar bola matanya jengah


"cie bang Vino belum move on" ucap Rere menggoda


Alin terkekeh "tau tuh, padahal bulan depan bakalan lepas lajang, tapi tetep mikirin istri orang haha" tawanya


"ih nggak loh! Abang gak kayak gitu!" ucap Vino kesal


"iya Abang gak kayak gitu. tapi emang begitu sih haha" tawa dokter Johan


mereka memberhentikan langkahnya dan menatap dokter Johan aneh "apaan sih gak jelas" ucap Vino,Alin, dan Rere bersamaan kemudian mereka tertawa dan melanjutkan berjalan hingga di depan mobil


"kalian pulang duluan deh.. bilang sama ayah dan yang lainnya, nanti wajib kumpul di rumah utama" ucap Vino jelas


"terus Abang mau kemana?" tanya Rere


"Abang sama kak Alin mau pacaran dulu lah" dusta Vino


Rere berdecih "ya udah. hati hati ya kak Alin, jangan mudah kemakan omongan gombal bang Vino!!" teriak Rere sebelum masuk ke dalam mobilnya

__ADS_1


Alin dan Vino masuk ke dalam mobil, "kenapa kamu bilang mau pacaran dulu? kan aku jadi gak enak" ucap Alin tersipu


"aelah kamu mah! cuma ke siapa juga" ucap Vino terkekeh kemudian menyalakan mesin mobilnya


"jadi sekarang kita mau kemana?" tanya Vino


"kan di daftarnya ke rumah Ririn dulu, baru ke rumah utama" ucap Alin yakin


"ah oke berangkat!" ucap Vino menancap gas mobilnya melaju ke ke rumah Ririn


*******


"kenapa Abi gak kerja?" lirih Ririn bersandar di bahu Gus Sofyan yang sedang menonton televisi di ruang keluarga


"pengen full time bareng kamu aja sayang" ucapnya sesekali mencium kening Ririn


"bi.." lirih Ririn mengukir abstrak di paha Gus Sofyan


Gus Sofyan menoleh ke arah Ririn "iya? mau apa? hm?" tanya Gus Sofyan


"pengen punya anak" lirihnya menunduk sendu


"mau buat sekarang?" tanya Gus Sofyan menggoda


"iihh! nggakk!" ucap Ririn memukul lengan kekar suaminya


Gus Sofyan terpekik "iya terus gimana maunya sayang?" tanya Gus Sofyan lembut


"kenapa Ririn gak hamil hamil" ucap Ririn sendu


Gus Sofyan tersenyum manis dan mengangkat dagu Ririn supaya menatapnya "kan itu kehendak Allah sayang" ucapnya lembut sembari mengelus kepala Ririn


"tapi Ririn pengen punya anak" ucapnya berkaca kaca


"gimana kalau kita adopsi anak bi?" ucapnya antusias ketika sebuah ide muncul di otaknya


Gus Sofyan nampak berfikir "insyaallah nanti kita diskusikan dengan ayah dan yang lainnya ya sayang" ucap Gus Sofyan kemudian mencium pipi Ririn

__ADS_1


__ADS_2