
Semua orang memutuskan untuk kembali pulang ke rumah mereka masing masing. Meraka melanjutkan kesibukannya untuk menghabiskan uang😌
Terlihat Gus Sofyan yang berjalan cepat menuju ruang dokter Anya.
tok..
tok..
tok..
"masuk!" ucap seseorang dari dalam
Gus Sofyan masuk ke dalam ruangan dokter Anya "assalamualaikum" ucapnya
"waalaikumsalam. oh pak Sofyan. ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter Anya meletakkan bulpoin yang sebelumnya ia pegang
"begini dok,,saya mau minta izin, kira kira boleh atau tidak jika bayi saya di rawat bersama dengan ibunya diruangan yang sama?" tanya Gus Sofyan
dokter Anya tampak bingung "memangnya kenapa ya pak?" tanyanya
"istri saya masih tak bisa terima dengan kepergian salah satu putrinya dok. dia bilang dia sangat merindukannya. jadi saya berinisiatif membawa bayi saya dirawat diruangan yang sama dengan ibunya" ucap Gus Sofyan
"terlebih lagi, mereka kembar. setidaknya bisa untuk mengobati rasa rindu istri saya kepada anaknya" sambung Gus Sofyan
"jika hanya dengan alasan seperti itu, saya tak bisa memberikan izin pak. kami pihak medis juga sangat beresiko jika terjadi sesuatu kepada bayi itu" ucap dokter Anya
"saya akan menjaganya dengan baik dok. tak akan saya biarkan semua tangan untuk menyentuhnya walaupun hanya sehelai rambut" ucap Gus Sofyan penuh ketulusan
"tapi pak-"
"saya mohon dok. saya hanya tak ingin melihat istri saya menangis karena rasa rindunya kepada putri bungsu kami dok" ucap Gus Sofyan memohon
"jika perlu saya beli sekarang juga!" ucap Gus Sofyan penuh tekanan
dokter Anya mengangguk paham dan kemudian menghembuskan nafasnya panjang "baiklah. jika itu kemauan ayah dari bayi, saya tak bisa melarang. namun, alangkah lebih baiknya jika bayi tetap berada di inkubator dulu. tak memungkinkan untuknya tidur bersebelahan di brankar ibunya" jelas dokter Anya
Gus Sofyan tersenyum manis "terima kasih ya dok..terima kasih" ucapnya
__ADS_1
"iya pak. silahkan di bawa bayinya" ucap dokter Anya mempersilahkan
*******
"assalamualaikum" ucap Gus Sofyan masuk ke dalam ruangan Ririn dengan menggendong bayi mungil ditangannya
"waalaikumsalam..waahhh ada baby nya mommy di sinii" ucap Ririn girang
Gus Sofyan tersenyum tipis kemudian memberikan Difa kedalam pelukan Ririn
"Abi bawa Difa ke sini karena tadi kamu bilang kangen sama adiknya" ucap Gus Sofyan sembari mengelus kepala Ririn
Ririn mendongak menatap suaminya "makasih ya bi. walaupun Ririn kangennya sama Dila, tapi nggakpapa kok kalau Difa yang jadi obatnya" ucapnya dengan pandangan sayu
Gus Sofyan tersenyum manis "makan dulu yuk" ucapnya
Ririn menggeleng "nanti aja. tunggu Difa tidur" ucapnya
"mau makan apa sayang?" tanya Gus Sofyan
"nggak pengen makan" ucap Ririn dengan tetap fokus kepada anaknya
"tapi Ririn masih kenyang" ucap Ririn bersikeras
Gus Sofyan menghembuskan nafasnya "ya udah iya. nanti kalau mau makan, calling Abi ya..Abi mau keluar sebentar" ucap Gus Sofyan kemudian mencium kening Ririn dan putri kesayangannya
"hati hati dan jangan nakal" ucap Ririn saat melihat Gus Sofyan mulai melangkahkan kakinya
Gus Sofyan terkekeh "nggak bisa nakal mom. kan udah punya baby" ucapnya
Ririn terkekeh "ya udah sana" usir Ririn
"iya. assalamualaikum"
"waalaikumsalam" jawab Ririn
"Abi bilang, nggak bisa nakal karena udah punya baby. lah berarti kalau belum punya baby masih mau nakal dong" lirihnya berbicara kepada bayi yang ada di gendongannya
__ADS_1
Ririn terkekeh pelan "kamu cantik deh. kayak mommy hihii" ucapnya mencium pipi gembul Difa berkali kali
tak lama kemudian, Difa tertidur setelah puas meminum air susu ibunya. Ririn yang merasa tangannya lelah, segera meletakkan Difa di kasur bayi yang terletak tak jauh dari brankarnya. ia meregangkan otot otot yang sedari tadi kaku karena tak dapat bergerak bebas saat menggendong si kecil
"assalamualaikum" ucap Gus Sofyan memasuki ruangan Ririn
Ririn tersenyum manis "waalaikumsalam. udah pulang?" ucap Ririn
Gus Sofyan mengangguk "udah tidur? mau makan sekarang? Abi bawakan bubur ayam nih" ucap Ririn
Ririn mengangguk "udah agak lapar sih bi. tapi maunya disuapin yaa" ucapnya manja
Gus Sofyan terkekeh "iya ayo makan" ucapnya
mereka makan siang berdua dengan sesekali membicarakan benda apa saja yang diperlukan si kecil.
"Ririn pengen beli baju ini deh bi. buat Difa kayaknya bagus deh. iya kan?" ucap Ririn memperlihatkan gambar baju bayi perempuan yang terletak di handphone nya
"itu kan untuk anak yang sudah berumur lebih dua bulan sayang" ucap Gus Sofyan sembari menyuapi bubur ke mulut Ririn
"iya tapi belinya sekarang aja bi. nanti kan bisa di pake kalau Difa udah sedikit berkembang" ucap Ririn terkekeh saat terus membayangkan betapa lucunya Difa ketika mengenakan baju yang kini terlihat di handphone nya
Gus Sofyan mencium pipi Ririn sekilas "yaudah beli aja sekarang. nggak papa kok. beli apa yang mommy mau aja" ucap Gus Sofyan
"hehehehe" Ririn menyeringai
"sepatunya boleh juga ya bi? kayaknya yang warna ungu lebih bagus deh dari pada yang pink. kalau pink kesannya seperti terlalu cewek nggak sih bi?" ucap Ririn sembari terus mengunyah buburnya
"iya sayang, terserah kamu aja. mau beli apapun, terserah kamu aja ya. mau suka itu, beli. kamu suka ini, beli. beli aja semua, oke?" ucap Gus Sofyan tersenyum sembari mengelus rambut Ririn
"tapi kan nggak boleh boros bi" lirih Ririn
Gus Sofyan tertawa "hahaha iya iya. yaudah nggak usah beli dah. kan harus hemat" ucapnya
"tapi Ririn pengen ini Bi. sekalian bando bandonya juga lucu banget huhuu" ucap Ririn pura pura menangis
"untuk Difa ya bi.." lirih Ririn menatap Gus Sofyan dengan tatapan memohon
__ADS_1
"disuruh beli semua, salah. nggak boleh beli, juga salah. sebenarnya aku harus gimana sih?" ucap Gus Sofyan dalam hati yang mulai gemas dengan tingkah Ririn
Gus Sofyan tersenyum tipis "iya sayang" ucapnya pasrah