
Ririn menggeliat dalam tidurnya "hoaamm" ia merasakan bahwa kepalanya tak berbantalkan seperti biasa.
matanya enggan membuka karena rasa nyaman dan wangi khas tubuh seseorang di dekatnya. namun tak lama kemudian, ia membuka matanya dan tersenyum tipis melihat suaminya tengah mendekapnya ke dalam pelukan.
"jadi ini posisi yang sangat nyaman ternyata" ucap Ririn nyaris tak terdengar.
ia tak henti hentinya menatap wajah tampan sang suami yang sedang memeluknya. benar saja, ia sekarang sedang berada di dalam dekapan Gus Sofyan. pelukan hangat yang selama tidur siang hari ini ia rasa, sangat terasa nyaman. lebih nyaman di bandingkan dengan bantal empuk, menurutnya.
"perfect" ucapnya berbisik kemudian sedikit bangkit dan mencium pipi Gus Sofyan yang masih tertidur
"kalau Abi nya kayak gini, gimana anak anaknya nanti ya?" ucap Ririn dengan suara khas bangun tidur
Ririn menatap langit kamar "wajah Abi nya ganteng. mommy nya juga cantik. nggak tau lah kayak gimana anaknya. kayak Barbie nggak sih" ucapnya lagi diiringi kekehan kecilnya
"yang pasti akan nurun saya sepenuhnya" ucap Gus Sofyan yang masih menutup matanya
mendengar suara Gus Sofyan, Ririn segera mendongak ke atas, guna memastikan apakah benar itu adalah suara suaminya
"Abi.." lirih Ririn
"hm" dehem singkat Gus Sofyan
"udah bangun?" ucap Ririn heran
"kalau saya nggak bangun, kamu sekarang ngomong sama siapa?" ucap Gus Sofyan dengan suara khas bangun tidur
"hehe iya juga sih. kok tumben Abi mau peluk Ririn waktu tidur?" ucap Ririn menatap Lamat wajah suaminya
"karena saya rindu" ucap Gus Sofyan mempererat pelukannya
"Abi bangunnya udah tadi?" tanya Ririn yang hanya mendapat anggukan dari Gus Sofyan
"kenapa bangun cepat?" ucapnya terus bertanya
"karena saya rindu" ucap Gus Sofyan mencium rambut Ririn yang terurai
"dih lebay deh. rindu rindu, lihat jam nya sudah masuk waktu sholat ashar" ucap Ririn melepas pelukan Gus Sofyan dan terduduk di kepala ranjang
"ayo bangun. sholat ashar" ucap Ririn menarik tangan Gus Sofyan untuk bangun
"cium dulu" ucap Gus Sofyan manja
"ustadz kenapa sih? semenjak nikah kok jadi manja banget gini..perasaan dulu nggak gini gini amat dah" batin Ririn
"karena saya rindu kamu, Erina" ucap Gus Sofyan duduk dengan benar dan mencium pipi Ririn cepat
__ADS_1
belum sempat Ririn menjawab, telah di potong terlebih dahulu "ya udah kamu siapin alat sholatnya, saya yang wudhu duluan" ucap Gus Sofyan beranjak dan menuju kamar mandi
"ih dasar!" lirih Ririn geleng geleng tak percaya bahwa yang ia lihat tadi adalah suami es nya yang mencair
*******
jam menunjukkan pukul 20.00 tepat setelah semua keluarga pesantren selesai sholat isya' berjamaah di musholla pesantren yang cukup megah
Reno dan yang lain masih berada di rumah kyai Hamdan. ia berencana untuk membahas acara berlibur kemana untuk pernikahan Vreya dan Firman
"jadi gimana Vre? kamu sudah menentukan?" ucap Angga memulai
"apa pa?" ucap Vreya lupa
"tentang tujuan tempat berlibur yang akan kamu kunjungi bersama suamimu" ucap Reno datar
"Vreya sih nggak mikir sampai sana ya, yah. hanya saja Vreya sedikit tertarik ke tempat wisata baru" ucap Vreya tersenyum manis
"kemana?" ucap semua orang kompak
"dih akur banget..pada demen lihatnya" ucap Vreya terkekeh
"ucap sekarang rut! kemana?" ucap Lia kesal
"ke sini" ucap Vreya mengangkat tablet yang berada di tangannya
"eh kompak banget loh kalian. seneng Vreya lihatnya haha" ucap Vreya tertawa lepas di depan umi Hamidah dan kyai Hamdan
"ingat malu Vre" ucap Syakira mengingatkan
"astaghfirullah. maaf ummah, Abah. Vreya khilaf" ucap Vreya menundukkan kepalanya kemudian menunjukkan senyum kudanya
"kamu yakin mau ke air terjun Vre?" ucap Vania yang hanya mendapat anggukan dari Vreya
"emang kenapa ma?" ucap Aisyah
"bukan masalah sih sayang. hanya saja menurut Daddy hal itu sangat tak cocok untuk Vreya yang hobinya ngabisin duit" ucap Deni
"Daddy kira kamu mau ambil objek wisata luar negeri Vre, seperti Tajmahal di India.. atau nggak, bisa ke museum antik di Spanyol..tapi tetap di dekat dekat sini tujuan kamu ternyata" ucap Deni terkekeh
"nggak papa dad. lagian Vreya Enang sengaja cari tempat wisata yang di dekat sini..karena Vreya mau ajak semua keluarga pesantren ikut serta. boleh kan?" ucapnya menatap beberapa orang tua di sana, meminta persetujuan
"ya kalau kamu mau, kami bisa apa Vre? lagian mama lihat, wisata ini cukup menarik" ucap Vania
"iya ma..Ririn juga pengen ke sana deh. main air terjun. kayaknya seru deh" ucap Ririn gembira
__ADS_1
"jadi kapan kita akan mulai ke sana?" ucap Syakira
"gimana kalau besok mom?" ucap Lia memberi saran
"tidakkah itu terlalu cepat, Li?" ucap Aisyah menimpali
"bahkan kita belum memesan tiket masuk, kendaraan para santri dan santriwati, serta pengumuman yang akan di umumkan kepada seluruh keluarga pesantren" sambung Rehan
"nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini kak. bahkan di keluarga kita semua bisa di lakukan" ucap Rere dengan bangganya
"masalah pengumuman para santri dan santriwati biarkan Abah yang bertanggung jawab" ucap kyai Hamdan
"nah benar kan. langsung ada yang ngambil alih dong haha" ucap Rere tertawa
"Izah mau ikut boleh nggak?" ucap Ning Izah memohon
"tidak perlu" singkat Gus Sofyan
"tapi-" ucapnya terputus
"kalau Sofyan bilang tidak ya tidak, mbak. jaga Bahar aja di rumah" ucap Gus Sofyan dingin
"biarkan Izah ikut lah Yan. kasihan loh dia" ucap Reno ikut membantu
"bukannya Sofyan tak mau mengizinkan, yah. hanya saja Sofyan khawatir karena kondisi mbak Izah baru saja setelah melahirkan. masih belum cukup kuat untuk berjalan di atas bebatuan" ucap Gus Sofyan memberi pengertian
"ya udah mbak nggak ikut" ucap Ning Izah memelas
"ummah dan Abah nggak ikut juga ya. mau main sama cucu di rumah" ucap umi Hamidah terkekeh di ujung kalimatnya
"itu lebih baik" ucap Gus Sofyan dingin
Ririn sedikit mendongakkan kepalanya menatap wajah Gus Sofyan "sangat berbeda jika berdua denganku" ucapnya dalam hati kemudian terkekeh gemas
"kalau masalah pengumuman bisa di tangani oleh Abah Hamdan, sisanya biar Lia yang urus" ucap Lia pasti
"nanti Lia suruh anak buah Lia untuk memesankan beberapa bis yang mampu menumpang banyaknya santri dan santriwati di pesantren ini" ucap Lia tersenyum manis
"kalau masalah tiket masuk-" ucapan Lia terputus
"biar saya yang urus" ucap Gus Sofyan tersenyum tipis
"udah semua kan? sekarang yang kita lakukan hanyalah menunggu hari esok. kalau gitu kita kembali ke hotel dulu ya" ucap Reno berdiri dan di susul oleh yang lainnya dan bersalaman kepada kyai Hamdan dan umi Hamidah
"terima kasih dan kami permisi. assalamualaikum" ucap Deni mewakili
__ADS_1
"waalaikumsalam" ucap mereka yang berada di rumah kyai Hamdan
Ririn dan Gus Sofyan tak ikut serta ke hotel. karena malam ini rumah mereka telah di buka. kemarin mereka menginap di hotel karena rumah kyai Hamdan tak ada yang menempati. bukan karena tak bisa di masuki, namun Ririn masih canggung untuk masuk ke rumah itu tanpa adanya mertua di dalam rumah tersebut.