
Setelah mereka mengobrol cukup lama,,akhirnya Ririn mengutarakan tujuannya ke rumah itu.
"emm sebenarnya Ririn ke sini hanya mau ngajak Abang dan Rere jalan jalan keliling pesantren..boleh nggak bah?" ucap Ririn kepada kyai Hamdan
"oh boleh kok boleh..silahkan" ucap kyai Hamdan
"masak Iyah calon menantu pemilik pesantren nggak dibolehin jalan jalan di pesantrennya sendiri?" ucap Ning Izah menggoda Ririn
"pesantrennya sendiri?" ucap Gus Sofyan dan Ririn bersamaan
"ciee yang barengaaannn" ucap Ning Izah sambil terkekeh
Ririn dan Gus Sofyan saling pandang dan Ririn menahan tawa saat melihat ekspresi wajah Gus Sofyan yang menurutnya lucu. seketika tawa Ririn pecah di depan semua orang
"hahaha lucu haha" Ririn tertawa sambil memukul lengan abangnya
"Rin..malu ah" ucap abangnya sedikit berbisik
"hahaha apaan sih haha" ucapnya tetap melanjutkan tawanya
Ririn tertawa terbahak-bahak seperti di tempat tersebut tak ada orang selain dia. sedangkan semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut hanya menatap Ririn dengan wajah heran mereka.
"kak,,sadar kak' ucap Rere
"kakak!" sambungnya berusaha menyadarkan kakaknya
"hah? e-eh apa?" ucap Ririn bingung melihat ekspresi wajah Gus Sofyan dan keluarganya
"apa yang kakak lakukan?" bisik Rere
"emangnya apa yang kakak lakukan?" ucap Ririn dengan wajah tak berdosa
Vino dan Rere saling pandang kemudian mereka menepuk jidat mereka secara bersamaan karena melihat tingkah Ririn yang sangat konyol. sedangkan Reno dan keluarga Gus Sofyan hanya terdiam sambil menahan tawa
"ada apa sih sebenarnya?" ucap Ririn kepada Rere
"ntahlah tanya Abang aja" ucap Rere pasrah
"apa yang terjadi bang?" ucap Ririn
vino hanya memutar bola matanya dan mengangkat bahunya sebagai jawaban atas pertanyaan Ririn
Ririn diam sejenak dengan pandangan ke lantai. kemudian ia mengingat apa yang ia lakukan adalah sesuatu yang sangat memalukan
"whaatt!" ucapnya spontan setelah mengingat apa yang ia lakukan
"kenapa?" tanya Gus Sofyan
"ehe nggak papa kok" ucap Ririn tersenyum miris
"hah? wait wait!! beneran itu tadi aku? ketawa di depan calon mertua dan kakak ipar? omayghaaatt!" ucapnya dalam hati dengan menepuk jidatnya sendiri
__ADS_1
Gus Sofyan yang sedari tadi menahan tawanya hanya bisa terkekeh dengan tingkah laku calon istrinya itu.
"tapi ada yang Ririn nggak tau yah..maksud mbak Izah yang bilang kalau ini pesantren Ririn itu apa ya maksudnya?" tanya Ririn kepada ayahnya
"apa Abah Hamdan pernah bernazar bahwa suatu saat istri ustadz Sofyan akan menjadi pemilik sah pesantren ini?" sambungnya lagi
"atau apa sih ini maksudnya Ririn nggak faham deh" ucapnya kemudian terdiam menanti jawaban ayahnya
"sudah lah jangan di fikirkan sayang..hal ini nggak terlalu penting untuk kamu fikirkan..jangan di bahas lagi ya" ucap Reno tersenyum mengelus kepala Ririn
"ah iya,,bolehkah Sofyan ngajak Erina jalan jalan?" ucap Gus Sofyan yang berusaha mengalihkan pembicaraan
"ah nggak bisa ustadz..Ririn kan mau ngajak Abang dan Rere jalan jalan" ucap Ririn mengelak
"Rere pusing kak..sepertinya Rere butuh istirahat deh" acting Rere dengan menyentuh pelipis kanannya
"iya sepertinya Abang juga harus meriksa jadwal Abang di rumah sakit deh Rin..maaf Abang nggak bisa jalan jalan sama kamu" ucap Vino
"iisshh alasan aja kalian ya..biar apa gitu hah? biar Ririn keluar sama si ustadz? Ririn sebenernya pengen tau..tapi Ririn malu dan masih canggung rasanya" ucapnya dalam hati sambil menatap adik dan abangnya itu secara bergantian
"jalan jalan? kemana? Afiz ikut" ucap Afiz yang baru saja muncul dari ruang tamu
"eh kamu kapan datangnya?" ucap kyai Hamdan
"baru aja bah. memangnya kalian membicarakan apa? Afiz boleh tau nggak?" ucap Afiz
"oh sini sini duduk dulu nak" ucap umi Hamidah mempersilahkan
"iya ummah makasih..ada apa ini?" ucap Afiz sembari duduk di samping pintu Gus Sofyan
"ah yang bener..ntar boong lagii" ucap Afiz tak percaya
"beneraaann" ucap Gus Sofyan dengan menyubit hidung Afiz
"aw aw sakiiitt!" Afiz merengek
"eh tapi ummah,,bener nggak sih apa yang kak Sofyan bicarakan?" ucap Afiz bertanya kepada umi Hamidah
"iya bener..kakakmu itu tak mungkin berbohong" ucap umi Hamidah
"yeeeyy ntar lagi Afiz punya kakak ipar dong..eh tapi btw siapa?" ucap Afiz melihat Gus Sofyan
"oohhh jadi kak Ririn" ucap Afiz beralih menatap wajah Ririn
"eh eh kok wajahnya samaaa" ucap Afiz terkejut saat melihat Ririn dan Rere duduk bersamaan
semua orang di ruangan tersebut hanya terkekeh dengan tingkah Afiz yang tak kunjung dewasa itu.
"hallo..aku Rere dan ini kakak aku namanya Ririn. kami kembar..dan oh iya kenalin ini Abang dan ayah aku" ucap Rere memperkenalkan keluarganya
"oh iya haii..aku Afiz sepupunya kak Sofyan" ucap Afiz
__ADS_1
"eh eh katanya tadi mau jalan jalan..mau kemana?" ucap Afiz beralih menatap Gus Sofyan
"Afiz ikut boleh kan kak" ucap Afiz penuh harap
"nah iya tuh bener..tadinya om nggak ngizinin kamu keluar sama Ririn kalau cuman berdua..tapi karena sudah ada Afiz ya kalian keluarlah bareng" ucap Reno tersenyum
"ya sudah kalian pergilah..sebelum hari semakin gelap" ucap Ning Izah
"gelap apaan cobak..ini mah masih jam dua siang mbak" ucap Afiz
"ya kan kita nggak tau kalau kalau ntar lagi mau mendung dan gelap haha" ucap Ning Izah dengan tertawa di ujung kalimatnya
"iishh nggak jelas dek mbak..ya udah ayok kak kita berangkat" ucap Afiz menarik tangan Gus Sofyan ke arah luar rumah
"eh tunggu bentar" ucap Gus Sofyan berhenti
'tunggu apa lagi?" ucap Afiz
"Erina dan kunci mobil mau kita tinggal?" ucap Gus Sofyan
"eh iya hehe maaf ya kak..ayo kak Ririn cepetaann" ucap Afiz kemudian mereka pergi jalan jalan yang ntah tujuannya mau kemana
*******
"assalamualaikum Lia" Muslim menyapa Lia yang sedang membeli mie goreng titipan Vreya
"eh ustadz" ucap Lia tersenyum
"salam saya di jawab dong" ucap Muslim
"maaf ustadz.. waalaikumsalam" ucap Lia kemudian menundukkan kepalanya
"lagi apa di sini?" ucap Muslim
"ya beli mie goreng lah ustadz" ucap Lia
"ehe iya juga ya" ucap Muslim terkekeh malu
"ustadz mau?" tawar Lia
"nggak kok makasih" ucap Muslim
"lah kalau nggak mau beli kenapa ustadz ke sini?" ucap Lia
"ya Allah dia nggak peka ternyata" ucap Muslim dalam hati
"nggak papa kok hanya lewat lalu ketemu kamu dan nggak enak dong kalau nggak nyapa" ucap Muslim sendu
"oh gituu' ucap Lia kemudian membayar uang mie gorengnya
"Lia duluan ya ustadz.. assalamualaikum" ucap Lia kemudian berlalu meninggalkan Muslim
__ADS_1
"waalaikumsalam" jawabnya hampir tak terdengar
"gimana caranya supaya bisa dapetin kamu Li" ucap Muslim dalam hati