
Gus Sofyan melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang kini ternyata sedang dikunci oleh Ririn. samar samar ia mendengar suara sesenggukan istrinya dari dalam. ia pun memberanikan dirinya untuk mengetuk pintu yang berada tepat di depannya itu
"sayang.." lirihnya dengan mengetuk perlahan
tak ada jawaban. Gus Sofyan mengetuk pintunya lagi, namun tetap tak ada jawaban.
"sayang, aku bisa jelasin..buka dulu ya pintunya" ucapnya pelan
Gus Sofyan mendongak kala mendengar suara pintu terbuka. ia masuk perlahan ke dalam kamarnya. terlihat Ririn yang masih berada di belakang pintu dengan kepala tertunduk menahan tangis.
Gus Sofyan mendekat kemudian memeluk Ririn erat. ia tau jika istrinya sedang menangis, dapat ia rasakan dengan bergetarnya tubuh Ririn di pelukannya.
Gus Sofyan mengelus punggung Ririn menenangkannya "jangan nangis" lirihnya pelan
"sakit hiks.." ucap Ririn hampir tak terdengar
Gus Sofyan melepas pelukannya "apanya yang sakit sayang?" tanyanya lembut sembari mengusap air mata istrinya
"ini" ujarnya memegang dadanya sendiri sembari terus menundukkan kepalanya
Gus Sofyan kembali memeluk istrinya erat..tak tega rasanya ia melihat wanita tercintanya menangis di depan matanya seperti itu. sesekali ia mengecup kening Ririn
"Abi jelasin dulu ya, jangan nangis" ucapnya mengelus punggung Ririn
samar samar terdengar suara sesenggukan Ririn, sepertinya ia mulai berhenti menangis..perlahan ia melepaskan pelukannya di dada Gus Sofyan
__ADS_1
Gus Sofyan menangkup pipi Ririn dan mendongakkannya supaya dapat melihat dirinya "Abi nggak melakukan itu sayang" ucapnya menggeleng pelan
Ririn melepaskan tangan Gus Sofyan yang berada di kedua pipinya, ia membuang muka menatap Aera yang tertidur dikasur sebelahnya
"bicara tanpa bukti sama dengan kebohongan ustadz" ucapnya menghapus air matanya yang menetes karena ia sempet terpikir sekilas bagaimana nasib putrinya jika memang itu kebenarannya
Gus Sofyan menggeleng kuat "Abi gak bohong sayang," katanya mantap
"ya sudah kalau gitu buktikan!" tegasnya
"buktikan bahwa ustadz gak melakukan hal sekeji itu dengan wanita tadi!"
"walaupun kebenarannya masih belum terungkap, Ririn sangat teramat sakit hati, ustadz"
lagi lagi air matanya jatuh beriringan dengan kalimat terakhir yang diucapkan Ririn "keluar" lirihnya lemah sebelum Gus Sofyan benar benar hilang dari pendangannya
menangis. hanya satu kata itu yang bisa Ririn lakukan saat ini, ia ingin sekali berfikiran positif namun hatinya menolak. perlahan ia mendekat ke arah Aera yang tertidur di ranjangnya.
"mommy sayang banget sama Aera..jangan tinggalin mommy apapun kebenarannya ya sayang" ucapnya mengecup pipi gembul putrinya berkali kali kemudian tak lama setelah itu dia tertidur di samping Aera
*******
malam pun tiba. Ririn dalam keadaan yang sama, masih terus menangis ketika tak bersama putrinya. ia keluar kamar ketika semua orang berada di pesantren, sehingga ia tak bertemu dengan semuanya terutama Gus Sofyan.
"hallo assalamualaikum bang" ucap Ririn di telfon
__ADS_1
"waalaikumsalam Rin, ada apa ya?" suara wanita di seberang sana, ternyata ponsel kakaknya berada di tangan istrinya itu
"eh kak Alin, bang Vino mana kak?" tanya Ririn menghapus air matanya
"kamu mau bicara sama Abang? Abang masih di ruang kerjanya sih..tunggu bentar ya, ini kakak lagi jalan ke ruang bang Vino" ucap Alin lembut
tak lama kemudian, terdengar suara kakaknya di telfon sana "hallo Rin, kenapa kok cari Abang?" tanyanya lembut
mendengar suara Vino yang bertanya, Ririn meneteskan air matanya lagi "b-bang hiks" lirihnya lemah
"eh, kamu kenapa sayang? kamu gapapa kan?" tanya Vino khawatir
"Ririn mau pulang" ucapnya lagi menahan tangisannya
"heii, cerita sama Abang dulu ya...jangan nangis gitu" ucap Vino lembut
"jemput Ririn sama Aera bang" ucap Ririn lagi
terdengar Vino menghembuskan nafasnya khawatir "iya sayang, Abang kesana sekarang..Ririn jangan nangis lagi ya, kasian Aera dan calon keponakan Abang" ucapnya panjang
Ririn menganggukkan kepalanya walaupun iya sadar bahwa Vino tak akan melihatnya. "yaudah Abang tutup dulu ya, assalamualaikum princess"
"waalaikumsalam" lirihnya kemudian menutup telfonnya itu
dengan segera Ririn membereskan barang barang yang tadinya ia bawa, tak lupa juga barang barang putrinya. karena ia tak akan meninggalkan Aera bersama Gus Sofyan walaupun ia tau Gus Sofyan adalah suami dan ayah bagi Aera
__ADS_1