
hari berganti hari dan kini telah tiba saatnya untuk Ririn berjuang menuju gelar sarjananya. mereka baru saja bersenang senang karena pada akhirnya mereka semua lulus dengan nilai di atas rata rata. mereka semua berkumpul dengan pakaian yang anggun di lapangan untuk merayakan kelulusan itu.
"aahhh senangnya" ucap Mita
"mau lanjut atau kerja?" ucap Fitria
"kalau aku sih mau lanjut karena ibu aku mau aku jadi sarjana" ucap Adel
"lanjut nikah nih maksudnya?" ucap Lia yang datang bersama ketiga kawannya
"rendah sekali sih mikirnya. lanjut kuliah lah" ucap Adelia
"haha memangnya kuliah apaan sih?" ucap Vreya
"kedokteran dong" ucap Adel dengan sombongnya
"oh gitu kah..tapi kalau menurutku sih kamu nggak akan mampu masuk kedokteran haha" ucap Vreya mengejek
"kamu ya!!" ucap Adel hendak bangun memukul Vreya yang meremehkannya
"udah udah..sebentar lagi kita akan berpisah dengan mereka dan terbebas dari gangguan bekicot seperti mereka..jangan bertengkar lagi ya Del" ucap Fitria menghentikan tingkah Adel yang hendak memukul Vreya
"haha nggak bisa mukul ya kasiaann" ucap Vreya yang terus mengejek Adelia
"udah ah Vre..ayo kesana" ucap Ririn mengajak Vreya,, Lia dan Aisyah ke meja yang dekat dengan meja kyai Hamdan
"kamu mau kita gabung sama mereka?" ucap Aisyah
"iya lah mbak..lagian di sana kan ada orang tua kita" ucap Lia
Aisyah tersenyum simpul. ia sedih karena orang tua sahabatnya hadir dalam acara kelulusan mereka. dan hanya orang tua Aisyah yang tak ada
"mbak bisa anggap ayah Reno sebagai ayah mbak kok" ucap Ririn menepuk pundak Aisyah pelan
"iya mbak..orang tua kita orang tua mbak juga kok" ucap Lia tersenyum
"udah yuk kita ke sana" ucap Vreya menarik tangan Aisyah
"assalamualaikum guys..eh maksud aku assalamualaikum abah Hamdan" ucap Vreya tersenyum
"waalaikumsalam" ucap kyai Hamdan dan yang lain
__ADS_1
"ada apa nih kenapa ke sini semua?" ucap Angga
"ih emangnya nggak boleh ya kalau kita mau gabung sama orang tua kita? papa Angga jahat banget sih" ucap Vreya
"sepertinya kamu nggak di anggap lagi deh Li..hati hati loohh" ucap Vreya
"haha maksud papa itu,,memangnya kalian mau gabung dengan kita tanpa alasan? pasti ada kan" ucap Angga
"ada lah pa..untuk Abah Hamdan,, ummah,, ustadz Sofyan,, ustadz Haris,, ustadz Muslim,,dan Ning Izah,,terima kasih ya sudah mau membimbing kami sampai kami mampu melepas seragam putih abu-abu" ucap Ririn tersenyum manis kemudian memberi hormat dengan menundukkan kepala dan di ikuti oleh ketiga sahabatnya
"manis sekali" ucap Gus Sofyan dalam hati
"itu sudah kewajiban kami nak" ucap kyai Hamdan
"hehe iya juga sih bah..tapi kalau Abah di kasih pilihan,,Abah mau minta hadiah apa?" ucap Ririn
"Abah nggak minta hadiah kok. cuman minta kamu secepat mungkin berikan Abah dan ummah cucu" ucap kyai Hamdan yang membuat semua orang tertawa
Ririn tersipu malu dengan pipinya yang merona "Abah maunya kapan?" ucapnya
"kalau Abah sih secepatnya. ngapain harus nunggu lama lama kalau bisa dapat secepatnya" ucap kyai Hamdan yang di ikuti oleh semua orang yang ada di meja itu.
"hmm boleh nggak kalau Ririn ngobrol sebentar Sama ustadz Sofyan?" ucap Ririn meminta izin
Ririn membawa ustadz Sofyan ke taman dekat pesantren. ia ingin membicarakan tentang kuliahnya
"ada apa?" ucap Gus Sofyan
"duuhh gimana ngomongnya ya..Ririn tau ustadz malah tersinggung nantinya" ucap Ririn dalam hati
"katakan saja" ucap Gus Sofyan tersenyum lembut
"hmm Ririn mau bicara sesuatu ustadz" ucap Ririn
"iya silahkan. saya akan mendengar hingga selesai kok. ada apa?" ucap Gus Sofyan
"ustadz kan tau kalau Ririn mau lanjut kuliah dulu" ucap Ririn
"tapi Ririn kuliahnya di luar negeri ustadz" sambungnya
"di mana?" ucap Gus Sofyan
__ADS_1
"Ririn pengen kuliah di Jerman. kampus itu milik kawan ayah juga" ucap Ririn
"lalu?" ucap Gus Sofyan
"apa ustadz masih mau nungguin Ririn sampai sarjana?" ucap Ririn
"kenapa tidak?" ucap Gus Sofyan
"lagian kan waktu itu saya sudah bilang kalau saya akan nunggu kamu sampai kamu siap. jadi itu yang harus saya lakukan. saya harus menunggu kamu hingga selesai" ucap Gus Sofyan
"bagaimana dengan Abah dan ummah?" ucap Ririn
"masalah Abah dan ummah nanti bisa di bicarakan. insyaallah mereka mengerti kok" ucap Gus Sofyan tersenyum lembut
"ya sudah kalau itu jawabannya,,Ririn jadi nggak takut lagi deh mau ninggalin ustadz" ucap Ririn
"kenapa takut?" ucap Gus Sofyan
"ya takutnya nanti ustadz terlalu banyak berharap dan Ririn nggak bisa memberi apa yang ustadz harapkan..kan kasian" ucap Ririn
"kalau tentang berharap,,harapan saya masih kepada Allah kok. tenang saja" ucap Gus Sofyan tersenyum
"hmm boleh tanya nggak?" ucap Ririn
"tanya apa?" ucap Gus Sofyan
"tipe istri idaman ustadz gimana sih?" ucap Ririn
Gus Sofyan tersenyum "jika saya menginginkan yang sempurna,,saya tak akan mendapatkannya karena saya tak sempurna.jadi paling penting itu Sholehah. bisa menjadi istri yang baik untuk saya dan menjadi ibu yang baik untuk anak anak saya" ucap Gus Sofyan
"Ririn masuk nggak?" ucap Ririn tersenyum
"masuk nggak ya" ucap Gus Sofyan membalas senyuman Ririn
"ihh masuk lah gitu ustadz..biar Ririn syukak" ucap Ririn terkekeh
"semoga" ucap Gus Sofyan tersenyum manis
"Whaatt!" teriak orang dari belakang mereka
"j-jadi Ririn akan menikah sama Gus Sofyan?" ucap Adel
__ADS_1
ternyata mereka bertiga mengikuti Gus Sofyan dan Ririn yang sedang ingin berbicara di taman dekat pesantren. dan mereka terkejut karena mendengar pembicaraan Gus Sofyan dan Ririn yang sedang membasah istri idaman ustadz Sofyan