
"Silahkan duduk pak" ucap dokter mempersilahkan
Ya, kini mereka sedang berada di salah satu ruangan yang mendominasi warna cat putih bersih. ruangan dokter yang memeriksa keadaan Ririn saat di UGD tadi
Gus Sofyan menatap dokter itu penuh rasa penasaran "jadi gimana keadaan istri saya dok?" ucapnya
dokter itu menarik nafasnya panjang "istri bapak mengalami banyak luka dalam dan luar. jika bapak mengizinkan, saya dan tim akan melaksanakan operasi untuk pasien" ucapnya meletakkan selembar surat persetujuan dan bulpoin di depan Gus Sofyan
Gus Sofyan menundukkan kepalanya "b-bayi nya gimana dok?" suara Gus Sofyan mulai bergetar
dokter itu tersenyum tipis "Alhamdulillah bayi nya masih bisa di selamatkan pak. telat lima menit saja, saya tak bisa menjamin keadaan si bayi kedepannya" ucapnya
"Alhamdulillah" syukur Gus Sofyan hampir tak terdengar
"pasien harus segera ditangani pak. jika saya tak mengambil tindakan operasi untuk istri bapak, saya khawatir keadaannya akan membahayakan janin yang ada di perut pasien" ucap dokter itu lagi
bukan menjawab, Gus Sofyan malah kembali bertanya "apakah tak ada cara selain operasi dok? dan jika istri saya selesai di operasi, berapa lama lagi istri saya akan membuka matanya?" tanya Gus Sofyan sendu
"saya tak dapat memprediksikan kapan pasien akan sadar dari masa kritisnya itu. karena menurut CT scan, ada beberapa organ yang bermasalah cukup fatal akibat banyaknya benturan terhadap tubuh pasien. saya mohon kerjasamanya ya pak" jelas dokter itu
cukup lama Gus Gus terdiam dan berfikir. Gus Sofyan berusaha keras menahan air matanya supaya tak jatuh di depan dokter itu "lakukan yang terbaik dok. selamatkan keduanya" ucap Gus Sofyan menandatangani surat persetujuan jika Ririn harus di operasi
dokter itu berdiri di susul oleh Gus Sofyan kemudian mereka berjabat tangan "terima kasih atas kerjasamanya pak. kami akan melakukan yang terbaik untuk janin dan bundanya" ucap dokter itu kemudian Gus Sofyan keluar dari ruangannya
dengan langkah gontai, Gus Sofyan berjalan menuju ruang UGD. di mana Ririn yang sedang terkulai lemah di atas brankar ruangan itu
"sayang, cepat bangun ya" ucap Gus Sofyan menggenggam tangan Ririn dan mengecupnya berkali kali
dengan sekuat tenaga Gus Sofyan menahan air matanya supaya tak jatuh "tolong tetap berjuang demi Abi dan anak kita" ucapnya sendu
"cepat bangun ya, banyak yang nunggu senyuman kamu" ucap Gus Sofyan mengelus kepala Ririn
Tak lama kemudian, masuklah tim medis yang akan segera melaksanakan tugas mereka, operasi.
"maaf pak. pasien akan kami pindahkan" ucap salah satu perawat
__ADS_1
Gus Sofyan mengangguk dan menjauh dari brankar Ririn yang mulai berjalan keluar ruang UGD
saat Gus Sofyan keluar dari ruang UGD, Gus Sofyan bertemu lagi dengan dokter yang akan mengoperasi istrinya itu
"jika bapak ingin melihat wajah istri bapak sekali lagi, silahkan pak. masih ada waktu sepuluh menit sebelum operasi berlangsung" ucapnya tersenyum manis
mata Gus Sofyan berbinar "terima kasih dokter Anya" ucapnya setelah melihat nickname yang tercantum di jubah kedokteran yang di pakai dokter Anya
Gus Sofyan langsung masuk ke dalam ruang operasi. berjalan pelan ke brankar istrinya
"sayang, kamu takut sama semua alat alat ini ya?" ucapnya tak kuasa menahan tangis
"kalau Abi bisa, Abi mau mengganti posisi kamu, Erina" sambungnya mulai meneteskan air matanya
"biar Abi yang berhadapan dengan alat alat menakutkan ini" tangis Gus Sofyan pecah saat menggenggam tangan Ririn dan meletakkannya di kening Gus Sofyan
"jangan gini lagi ya sayang, Abi minta maaf karena sudah lalai menjaga kamu dan anak kita hiks" sambungnya sesenggukan
Gus Sofyan mengusap air matanya kasar dan beralih menatap perut buncit Ririn "bantu mommy berjuang ya nak. Abi ingin cepat melihat kalian menatap dunia"
"Abi sayang mommy dan sayang kalian juga. kalian harus sembuh demi Abi di sini ya" ucap Gus Sofyan kemudian mencium perut buncit Ririn
"maaf pak. kini sudah waktunya" ucap perawat yang masuk ke ruang operasi
Gus Sofyan mengangguk kemudian beralih menatap dan berbisik di telinga Ririn
"Abi akan selalu nunggu mommy dan anak anak. semangat ya sayang, love you" ucapnya kemudian mencium kening dan perut Ririn lagi
saat Gus Sofyan keluar ruang operasi, terlihat anggota keluarganya berada di ruang tunggu operasi
"sofyan.." lirih umi Hamidah
Gus Sofyan langsung memeluk ibu kandungnya itu. ia menumpahkan semua air mata yang sedang ia tahan dari tadi. ia benar benar lemah saat melihat Ririn terbaring tak berdaya
"Erina mah" ucapnya di sela tangis yang memecah
__ADS_1
"Sofyan nggak kuat hiks.. lihat dia kayak gitu, ummah" ucapnya terus memeluk ummahnya erat
umi Hamidah menahan air matanya "semua sudah di gariskan nak" ucapnya mengelus punggung Gus Sofyan, berusaha menenangkan putranya
"biar Sofyan aja yang sakit ummah..jangan istri dan calon anak anak Sofyan hiks hiks" tangisnya menjadi jadi
umi Hamidah membawa Gus Sofyan duduk di kursi tunggu. lalu tersenyum padanya "ummah yakin mereka akan selamat. mereka adalah mahkluk tangguh yang di ciptakan Allah untuk Sofyan" ucapnya berusaha menenangkan Gus Sofyan
Gus Sofyan menundukkan kepalanya kemudian beralih menatap Reno yang juga berdiri di sana "ayah, maafin Sofyan yah hiks. Sofyan nggak bisa jagain Erina dan anak anak Sofyan hiks hiks" tangisnya lagi merasa bersalah
Reno berjalan menuju Gus Sofyan yang duduk di kursi "semua ini musibah Yan, sudah di gariskan. jangan merasa bersalah ya, kita hanya mengikuti skenario Allah saja" ucap Reno bijak sembari menepuk pundak Gus Sofyan
"lebih baik kamu pulang dulu. ganti baju kamu dengan baju yang kering. biar ayah dan Rere yang jaga Ririn hingga sadar nanti" ucap Reno yang mendapat gelengan kepala dari Gus Sofyan
"Sofyan mau jaga Erina di sini yah. izinin Sofyan aja yang jaga Erina" ucapnya sendu
"baju kamu basah Yan. kondisi kamu juga tak memungkinkan jika harus bertemu Ririn saat sadar nanti" ucap Angga
"yang di katakan Angga benar. lebih baik kita pulang dulu. kamu ganti pakaian dan bawa keperluan Ririn selama di rawat nanti. terlalu ramai di rumah sakit juga tak baik untuk pasien yang lain" ucap Deni yang diangguki oleh semua orang, kecuali Gus Sofyan
ia tampak berfikir dan diam dalam waktu yang cukup lama. kemudian meneteskan air matanya lagi "Sofyan hiks hiks..tak ingin jauh dari Erina, om" lirihnya
ustadz Haris menepuk pundak Gus Sofyan "jika Ririn sadar nanti dan melihat kamu dengan kondisi seperti ini, apa kamu tega melihatnya bersedih?" ucapnya
Gus Sofyan menggeleng kuat "Sofyan nggak mau Erina sedih dan menderita lagi mas. hati Sofyan sakit hiks hiks " ucapnya di sela tangis yang terus berlanjut
ustadz Haris tersenyum tipis "kita pulang ya. ganti baju, makan, sholat, ngaji sebentar, berdoa, dan kembali ke sini dengan barang kebutuhan Ririn nanti" jelasnya
akhirnya Gus Sofyan luluh dengan bujukan ustadz Haris "ya udah kita pulang" lirihnya mampu membuat semua orang di sana tersenyum lega
mereka semua pulang ke pondok. sementara Reno dan Rere masih berada di rumah sakit. sedang menunggu Ririn yang di operasi keluar dan membuka matanya kembali
NOTE
-hai kaliaann..untuk episode kali ini tentang Ririn dan kesedihan Gus Sofyan dulu ya. masalah Mita and the geng kita lanjut di episode selanjutnya. adakah dari kalian yang dapat menebak, apa yang akan terjadi kepada Mita and the geng? jangan pernah bosan dengan notif novel ini ya. like dan komennya jangan lupa loh. salam rindu author..
__ADS_1
see you:)