Suami Pilihan Allah

Suami Pilihan Allah
Episode 145


__ADS_3

"Gimana? enak?" tanya Gus Sofyan kepada Ririn yang berada di depannya


kini mereka tengah berada di suatu restoran yang mewah. Gus Sofyan sengaja menyewa restoran megah ini hanya untuk menghabiskan waktu bersama istri tercintanya


Ririn mengangguk pelan. Gus Sofyan tersenyum mendapat respon dari Ririn "habis ini mau kemana?" tanyanya lagi


Ririn menggeleng dan tak menjawab pertanyaan suaminya itu. ia terus fokus kepada makanan yang berada di depannya


"mau es krim nggak? yang strawberry ya?" bujuk Gus Sofyan namun Ririn tetap tak menjawab pertanyaan itu


Gus Sofyan tersenyum maklum "atau kamu mau shoping di mall ayah? iya? mau nggak?" tanya Gus Sofyan berharap mendapat respon dari Ririn


namun nihil. wanita itu tetap tak menjawab dan lebih memilih diam dengan tatapan kosongnya kepada makanan yang ada didepannya itu


Gus Sofyan menghembuskan nafasnya panjang "kamu maunya gimana, sayang? kamu bilang aja ya..ntar Abi turutin kok..janji" ucap Gus Sofyan pasrah


Ririn mendongak menatap Gus Sofyan kala mendengar ucapan suaminya yang memberi tawaran kepadanya


"Difa Dila" lirih Ririn berkaca kaca


Gus Sofyan tersenyum tipis dan menggenggam tangan Ririn kuat "sayang.." panggilnya saat Ririn mengalihkan pandangannya


"mereka sudah bahagia di sisi Allah..sudah saatnya kamu mengikhlaskan mereka, Erina" ucap Gus Sofyan lembut

__ADS_1


"mau sampai kapan kamu memenuhi otak dan pikiran kamu dengan Difa dan Dila? sampai Abi pergi?" sambung Gus Sofyan menatap lekat istrinya itu


Ririn meneteskan air matanya. dengan cepat Gus Sofyan berpindah duduk dan memeluk istrinya itu "Ririn merasa bersalah hiks hiks..gara gara Ririn mereka pergi hiks" ucap Ririn sesenggukan


"nggak..kamu nggak perlu menyalahkan diri kamu lagi..ini semua takdir Allah yang sudah digariskan untuk kedua putri cantik kita" ucap Gus Sofyan mengelus kepala belakang Ririn


"Abi ngerti kalau kamu sedih karena kehilangan mereka..tapi Abi jauh lebih sedih kalau melihat kamu seperti ini terus" sambungnya melepas pelukan mereka dan mengelus pipi lembut Ririn


"apa Erina nggak sayang sama Abi? nggak sayang Difa dan Dila? nggak sayang ayah dan keluarga yang lainnya?" tanya Gus Sofyan bertubi-tubi


Ririn terus menangis "sa.. yang" lirihnya hampir tak terdengar


Gus Sofyan tersenyum tipis "kalau sayang, cepat sembuh ya..kami semua jauh lebih sayang sama kamu" ucapnya menghapus air matanya dan mencium pipi kanan Ririn


"t-tapi Ririn nggak mau kehilangan anak anak Ririn bi" ucapnya meneteskan air matanya kembali


"tapi apa boleh buat? kita ini hanyalah pion yang cuma bisa bergerak ketika digerakkan dan berhenti ketika dihentikan..kita nggak bisa merubah takdir" jelas Gus Sofyan


"masalah anak, nanti jika Allah menakdirkan pasti akan hadir lagi kan..yang penting sekarang kamu harus berusaha sembuh terlebih dahulu" ucap Gus Sofyan mengakhiri


Ririn nampak terdiam dan berfikir. kemudian dia menatap wajah tampan suaminya lagi. ia tersenyum tipis "maaf sudah buat Abi dan yang lain khawatir selama ini" lirihnya


Gus Sofyan menggeleng "nggak papa. mau berusaha sembuh nggak? demi Abi setidaknya" ucap Gus Sofyan

__ADS_1


Ririn tersenyum dan mengangguk pasti. hal itu membuat Gus Sofyan menarik ujung bibirnya untuk tersenyum senang. dengan cepat ia memeluk Ririn penuh kasih sayang "nanti kita bikin adik adiknya Difa dan Dila lagi ya, kalau kamu udah sembuh" lirihnya ditelinga Ririn. terdengar Ririn seperti tertawa singkat disampingnya


*******


Ditempat lain, lebih tepatnya dinegara orang..terdapat seorang pria tampan yang sedang menatap layar laptopnya nya dengan serius dan seakan tak ingin diganggu


"excuse me.." sapa seorang wanita


pria yang tengah menggunakan kacamata itu tampak tak bergeming dan lebih memilih terus fokus kepada layar laptop yang ada di depannya itu


"excuse me..do you not hear me? (permisi..apa kamu tak mendengarku?)" ucap wanita itu lagi


"Hey! Can't you see I'm here?! very disrespectful! (heeii! apa kamu tak melihatku disini?! sangat tidak sopan!)" kesal wanita itu


lelaki yang sedang sibuk sedari tadi akhirnya berdiri dari duduknya dan melepas kacamatanya. ia melirik ke arah nickname yang menggantung di leher wanita dihadapannya ini


"Adaline Agnesia" lirih pria itu kemudian menatap wanita didepannya ini


pria itu tersenyum miring "kenapa dari tadi kamu selalu memperhatikan dan mengganggu saya sih? apa kamu tak tau kalau saya merasa terganggu karena kehadiran kamu di sini?" ucapnya berbicara bahasa Indonesia supaya wanita di hadapannya itu tak mengerti apa yang ia maksud


wanita yang kerap dipanggil Alin itu tersenyum kecut "maaf kalau aku ganggu kamu..tapi aku hanya ingin nomormu saja. sejak awal aku melihatmu sering berada disini, aku mulai tertarik padamu" lirih Alin dengan suara yang sangat kecil, nyaris tak terdengar


Pria itu membelalakkan matanya terkejut. bagaimana bisa wanita didepannya itu mengerti bahasa yang ia gunakan tadi? dan kini ia merasa sangat bersalah karena telah berbicara sedikit kasar kepada Alin tadi

__ADS_1


"ini nomorku. sekarang aku tak terlalu berharap, tapi jika mau menghubungi silahkan saja. maaf telah mengganggu" ucap Alin sembari meletakkan sebuah kertas yang berisikan nomornya. ia segera berbalik badan hendak pergi dari tempat tersebut


"Vino Brahmana Putra" ucap pria itu yang mampu membuat Alin menghentikan langkahnya. namun tak lama setelah itu, ia melenggang pergi dari hadapan Vino


__ADS_2