
Adzan subuh berkumandang..seperti yang di rencanakan, pagi ini Ning Izah dan Ririn mengajar para santri sekaligus santriwati untuk belajar mengaji.
setelah mengajar mengaji, Ning Izah dan Ririn kembali pulang karena matahari juga sudah mulai memancarkan cahayanya.
"assalamualaikum" ucap Ning Izah dan Ririn bersamaan masuk ke dalam rumah
"waalaikumsalam" ucap umi Hamidah
"gimana mengajarnya?" sambung umi Hamidah sembari duduk di ruang tamu
"Alhamdulillah lancar ummah..hanya saja tadi beberapa santri sedikit menggoda Ririn haha" ucap Ning Izah tertawa
"biasa lah nak..jangan dianggap serius ya, mereka hanya heran karena baru melihat wanita cantik di pesantren ini" ucap umi Hamidah
"iya ummah,, Ririn nggak papa kok..lagian Ririn suka kok ngajar santri dan santriwati di pesantren..karena baru kali ini Ririn di panggil ustadzah hehehe" ucap Ririn terkekeh
Setiap Ririn pulang ke rumah mertuanya, ia memang selalu di dalam rumah. bahkan untuk Sholat berjamaah pun hanya di dalam rumahnya. bukan karena tak boleh, tapi Ririn masih merasa belum pantas untuk di sebut sebagai istri pewaris pesantren ini. baru sekarang dia keluar rumah untuk melakukan aktivitas bersama banyaknya santri dan santriwati pesantren. jadi tak heran jika santri baru tak mengenalnya
"haha besok mbak ajak lagi mau nggak?" ucap Ning Izah
"boleh boleh aja mbak..Ririn mau kok" ucap Ririn senang
"ya udah..kalian mandi dulu aja, setelah itu kita sarapan bersama ya" ucap umi Hamidah
"iya ummah" ucap Ning Izah dan Ririn bersamaan dengan berjalan menuju kamar masing masing
Ririn masuk ke dalam kamarnya. terlihat Gus Sofyan yang masih fokus di depan Al Qur'an nya. ia masuk dengan mengendap-endap karena takut kehadirannya mengganggu Gus Sofyan yang sedang fokus
"assalamualaikum" ucap Ririn sedikit berbisik karena takut salamnya mengganggu Gus Sofyan yang sedang mengaji
setelah Ririn sampai di samping ranjangnya, ia duduk secara perlahan supaya tak menimbulkan bunyi.
tak lama kemudian, Gus Sofyan selesai mengaji. ia melipat sajadah dan meletakkan Al Qur'an nya dengan sangat hati hati
"waalaikumsalam" ucap Gus Sofyan mendekat ke arah Ririn yang duduk di atas kasurnya
"hehe" kekeh Ririn dengan menampilkan senyum kudanya
"Ririn nggak mau ganggu ustadz ngaji" sambung Ririn
Gus Sofyan tersenyum dan hendak mencium kening Ririn "stopp!" ucap Ririn dengan sedikit mendorong Gus Sofyan
"kenapa?" ucap Gus Sofyan terkejut
"Ririn belum mandi hehe..Ririn mandi dulu ya, baru nanti boleh cium..bye assalamualaikum" ucap Ririn berlari menuju kamar mandi
__ADS_1
"jangan lari, nanti jatuh" teriak Gus Sofyan
setelah 20 menit Ririn mandi, ia keluar tanpa hijab dan menatap cermin di kamarnya "ya Allah Ririn cantik banget" ucapnya memuji dirinya sendiri
Gus Sofyan yang awalnya membaca buku, berdiri menghampiri istrinya di depan cermin
"ini lebih cantik" ucap Gus Sofyan memakaikan hijab sembarangan di atas kepala Ririn
"hehehe tapi gimana pun Ririn, tetap terlihat cantik deh ustadz..bingung" ucap Ririn terheran heran
Gus Sofyan terkekeh "ya udah cantik..ayo pakai hijabnya cepat..saya sudah lapar" ucapnya
"hahaha iya iya" ucap Ririn kemudian memakai hijabnya
"sudah" ucap Ririn tersenyum manis menatap Gus Sofyan
Gus Sofyan tersenyum dan mencium kening Ririn sekilas "ya udah. makan yuk" ajaknya
mereka pun keluar kamar dan bergabung dengan yang lainnya yang sedang sarapan bersama di meja makan.
*******
-di rumah Reno
"waalaikumsalam non..silahkan masuk" ucap bi Mar mempersilahkan
"ayah ada bi?" ucap Aisyah
"tuan masih berada di kamarnya non" ucap bi Mar
"Rere kemana?" ucap Aisyah
"non Rere keluar tadi pagi..katanya ada urusan penting sama teman temannya" ucap bi Mar
"sepagi itu? kemana dia?" ucap Aisyah
"bibi sendiri tidak tau non. tadi non Rere hanya bilang kalau dia mau keluar dengan kawannya" ucap bi Mar
"oh ya udah bi nggak papa..oh ini Aisyah bawa nasi goreng..tadi masak lumayan banyak, jadi Aisyah kasih ke ayah deh..kalau bibi mau bisa ambil juga kok, itu Aisyah bungkusnya banyak" ucap Aisyah duduk di kursi
"iya non..terima kasih, bibi bawa masuk dulu ya" ucap bi mar
tak lama kemudian, Reno turun dan duduk menemani Aisyah
"hai yah, assalamualaikum" ucap Aisyah mencium tangan Reno
__ADS_1
"waalaikumsalam nak. dimana Rehan? kenapa hanya sendiri?" tanya Reno heran
"tadi bilangnya sih mau ketemu Lia yah..biasalah urusan kerjaan" ucap Aisyah
"oh begitu..lalu kenapa nih, tiba tiba ke rumah ayah tanpa kabar" ucap Reno
"Aisyah mau kasih tau ayah ini..ini hanya rahasia kita berdua ya, yah..jangan kasih tau siapa siapa" ucap Aisyah memberikan selembar kertas kepada Reno
Reno yang penasaran pun segera membuka lipatan kertas itu "Alhamdulillah" ucap Reno mencium kening Aisyah
"selamat ya, sayang..semoga sehat dan keluar selamat ya nak" ucap Reno senang
kertas itu berisikan laporan tanda hamil Aisyah. di sana tertera bahwa Aisyah positif hamil. Reno sangat senang mendengar kabar itu, ia tak menyangka bahwa kedua putrinya hamil bersamaan. (setelah nikah bersamaan, hamilnya juga bersamaan nih wkwk)
"ayah jangan kasih tau siapa siapa ya..karena Aisyah mau buat surprise untuk mereka" ucap Aisyah yang hanya diangguki oleh Reno
"janji loh yah.. Rehan juga belum tau masalah ini..jangan kasih tau loh" ucap Aisyah
"iya nak, iya" ucap Reno
"kamu sudah makan? makan di sini dulu ya" ucap Reno menawarkan
"nggak yah. Aisyah sudah makan tadi sebelum ke sini..oh iya, tadi Aisyah juga bawa nasi goreng untuk ayah..jangan lupa di makan ya" ucap Aisyah
Reno mengangguk "iya pasti pasti..kamu jangan kerja berat berat dulu ya" ucap Reno khawatir
"iya yah..tenang saja. ya udah kalau gitu Aisyah pamit ya,, assalamualaikum" ucap Aisyah mengambil tas nya bergegas keluar rumah
"iya nak hati hati, waalaikumsalam" ucap Reno berteriak karena Aisyah sudah berjalan keluar rumah
"Alhamdulillah..nambah cucu lagi haha" ucap Reno girang
*******
"alat alat di sini kurang memadai untuk seukuran penyakit seperti itu" ucap dokter Riko kepada Vino
"jadi, apa anda mau mengirim pasien ke luar negeri lagi? seperti yang adik saya lakukan dulu?" ucap Vino
"lebih baik seperti itu dari pada nyawa pasien terancam dok" ucap dokter Riko
"dia calon adik ipar saya. saya nggak mau mengambil resiko terlalu tinggi dengan mengirimnya ke rumah sakit luar negeri" ucap Vino
"karena itu, anda harus mengirimnya ke luar negeri sebelum tulangnya mengalami kerusakan yang lebih fatal, dokter Vino" ucap dokter Riko
lagi lagi mereka debat hanya karena pasien yang mengalami kerusakan tulang yang parah. di satu sisi dokter Riko yang tak mau mengambil resiko tinggi. dan di sisi lain, vino yang tak mau mengirim pasiennya ke luar negeri lagi. karena ia pikir, jika ia mengirim pasien ke rumah sakit luar negeri, itu sama saja bahwa dia tak mampu mengobati pasien tersebut.
__ADS_1