
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.15 WIB. Semua orang sedang berkumpul di ruang keluarga sembari mengobrol santai
"dokter Johan kemana yah?" ucap Vreya kepada Reno
"oh iya ayah lupa kasih tau kalian, dokter Johan sudah kembali ke Jerman tadi sore" ucap Reno
"kok tiba tiba?" ucap Ririn sambil memakan camilan di tangannya
"di Jerman sedang ada urusan darurat gitu katanya" ucap Vino yang sedang memainkan laptop nya
"dokter Johan itu sebenarnya dokter spesialis kayak bang vino bukan sih?" ucap Lia menatap vino yang sedang fokus kepada laptop di depannya
"ya sama lah..kan Abang dulu satu kampus sama dokter Johan.. satu jurusan pula" ucap vino tetap fokus
"ih Abang kalau di ajak bicara nengok orangnya lah. nggak sopan deh" ucap Ririn memukul pundak abangnya
"iya ini Abang masih sibuk Rin" ucap vino yang enggan menoleh
"assalamualaikum" ucap Gus Sofyan ikut bergabung
"waalaikumsalam" ucap semuanya beralih menatap Gus Sofyan
"kenapa nggak ada yang ngajak Sofyan?" ucap Gus Sofyan tersenyum tipis
"sini yan duduk samping sini" ucap vino menepuk sofa di sampingnya namun tetap tak menoleh kearah Gus Sofyan
mereka berbicara dan bercanda layaknya keluarga lengkap yang bahagia. namun tak lama kemudian hadirlah topik yang cukup serius untuk di bahas
"Rin,,ini kan sudah cukup lama setelah kamu pulang dari Jerman. Abah ingin kamu memberi keputusan tentang hubungan kamu dan Sofyan, anak Abah" ucap kyai Hamdan meletakkan cangkir teh di atas meja
"betul itu nak. bagaimana kelanjutan hubungan kalian? ummah sudah tak sabar ingin menimang cucu dari Sofyan" ucap umi Hamidah
Ririn terkejut karena pertanyaan itu. sebelumnya ia tak pernah berfikir akan menjawab pertanyaan tersebut. ia hanya tersenyum dan bingung harus menjawab apa
melihat ekspresi Ririn yang bimbang, Gus Sofyan membuka suara "ummah, Abah, kok malah bahas ke situ? kita sebelumnya kan nggak pernah mempermasalahkan hal itu bah. ummah kan juga nggak masalah kapan pun Sofyan akan menikah" ucap Gus Sofyan tersenyum kepada kedua orang tuannya
"iya nak. ummah memang tak pernah mempermasalahkan tentang hubungan kalian, ummah juga nggak masalah Sofyan akan menikah kapan pun" ucap umi Hamidah menatap Gus Sofyan dalam
"tapi kami sebagai orang tua, takut akan terjadinya hal hal yang tidak kami inginkan. jika kalian tak memperjelas hubungan,,ummah hanya takut kalian terlibat nafsu setan nak" ucap umi Hamidah beralih menatap Ririn
"iya ummah Ririn faham kok" ucap Ririn tersenyum manis
"jadi gimana nak?" ucap kyai Hamdan
__ADS_1
semua orang menatap Ririn dan menunggu apa yang akan menjadi jawaban gadis cantik itu tentang hubungannya. vino yang mulanya sibuk dengan laptop dan pekerjaan, kini ikut serta menunggu jawaban adik kesayangannya itu.
Ririn tersenyum "siapkan tanggalnya saja Abah" ucap Ririn kepada kyai Hamdan
"Ririn siap nikah sama Sofyan?" ucap Vino
"emm,,ya walaupun ustadz Sofyan nggak setampan Lee Min Ho dan Song Joong Ki,,nggak setajir Kim Soo Hyun dan Lee Jong Suk,,tapi Ririn siap kok bang ehehe" ucap Ririn yang membuat semua orang tertawa
"keadaan serius kayak gini aja kamu masih bercanda dan absen nama nama aktor Korea, Rin..heran Abang" ucap vino memutar bola matanya malas
"lah ntar kalau Ririn nggak bercanda,, suasana jadi kaku dong..nggak seru tauu" ucap Ririn memonyongkan bibirnya
"Alhamdulillah,, syukurlah kalau Ririn sudah siap untuk menikah dengan Sofyan.masalah tanggal dan harinya, biar Abah dan ummah yang menentukan. nanti tentang gedung dan acara pernikahan, serahkan sama ayah aja" ucap Reno tersenyum dan mengecup puncak kepala Ririn
ddrrtt
ddrrtt
ddrtt
"maaf, Ririn angkat telfon dulu ya" ucap Ririn meraih handphone nya yang ada di meja
"Rere?" ucapnya dalam hati dan kemudian mengangkat telfonnya
"waalaikumsalam kak. ini Rere sekarang ada di kamar kakak. Rere mau membicarakan hal penting sama kak Ririn. berdua saja. jangan ajak kak Lia dan kak Vreya ikut juga. sekarang lebih baik kakak cepat naik ke atas..buruuaann" ucap Rere panjang lebar
"astaghfirullah adik kakak sudah jago ngerap ternyata" ucap Ririn terkekeh pelan
"iihh-" ucap Rere terputus
"iya iya kakak kesana sekarang" ucap Ririn mematikan telfonnya
"kenapa?" ucap Lia menatap Ririn
"nggak papa kok. si Rere pasti minta di temenin nangis nonton drama nya, dia kan emang gitu. baperan haha. aku ke atas dulu ya" ucap Ririn berdiri
"Ririn ke atas dulu ya, semuanya" ucap Ririn kemudian berjalan menuju tangga
"kalau kembali nanti tolong bawakan lemon tea Rin" ucap Vino kepada Ririn yang sudah menaiki tangga
"oke" ucap Ririn sedikit berteriak
*******
__ADS_1
"assalamualaikum" ucap Ririn membuka pintu kamarnya
"waalaikumsalam. sini kak sini" ucap Rere menuntun lengan Ririn menuju sofa kamar Ririn
"ada apa sih kok kayak penting banget" ucap Ririn kepada Rere
"kok kamu bisa ada di kamar kakak? bukannya kamu tadi bilang mau nonton drama ya" ucap Ririn menatap Rere dengan wajah heran
"udah kak..drama Rere udah penting. Rere sekarang pusing karena pikiran Rere selalu kepada kak Sofyan" ucap Rere memegang pelipisnya
"eh jangan Ngadi Ngadi kamu mau merebut ustadz Sofyan dari Kakak. inget, dia sebentar lagi jadi kakak ipar kamu Re.. Astaghfirullah" ucap Ririn geleng kepala
"ih ngomong apaan sih nggak jelas deh. dengerin Rere duluu" ucap Rere yang langsung mendapat anggukan dari Ririn
"tadi waktu Rere mau ke kamar,,Rere lewat kamarnya kak Sofyan kan" ucap Rere serius
"hm lalu?" ucap Ririn membuka bungkus camilan di atas meja kamarnya
"Rere liat kak Sofyan lagi telfonan sama seseorang" ucap Rere makin serius
"hm lalu?" ucap Ririn memakan camilannya
"ih kakak nyebelin deh..lalu lalu muluu" ucap Rere memonyongkan bibirnya
"haha ya lagian kamu manggil kakak suruh ke kamar hanya gara gara mau ngomongin tentang ustadz Sofyan yang lagi telfonan..kan nggak nyambung gitu loh" ucap Ririn terkekeh
"ya mungkin tadi memang telfonan sama rekan kerjanya kan bisa Re..kenapa kamu jadi heboh begini sih" ucap Ririn dengan tetap memakan camilan di atas meja
"masak iya sih, kalau ngobrol sama rekan kerja harus selembut itu?" ucap Rere menatap langit langit kamar
"lembut? maksudnya?" ucap Ririn meletakkan camilannya
"iya lembut banget kak. tadi Rere dengernya gini,ehem..kamu jangan gitu terus,nanti bisa sakit..begituu kakk" ucap Rere menirukan suara Gus Sofyan
"hah? kamu yakin? tapi mungkin aja sama Afiz kan bisa Re" ucap Ririn menatap Rere
"eh tapi kayaknya bukan deh..Afiz kan kalau jam segitu udah tidur" ucap Ririn menatap langit kamar
cukup lama mereka saling ribut dengan pikirannya masing masing,,hingga kemudian mereka saling tatap seolah sedang satu pemikiran
"apa jangan jangan yang ada di otak aku sekarang, sama seperti apa yang kakak pikirkan juga" ucap Rere yang mampu membuat Ririn mengangguk
"oke! dari pada kita suudzon sana sini, mending kita tanyakan saja langsung kepada ustadz Sofyan" ucap Ririn berdiri yang di ikuti oleh Rere
__ADS_1
"oke Rere ikut" ucap Rere mengikuti kakaknya berjalan di belakang