Suami Pilihan Allah

Suami Pilihan Allah
Episode 112


__ADS_3

Angin malam menyapa kulit dengan lembut. terlihat bintang dan bulan yang tengah memperlombakan kecantikan mereka. tak kalah dengan pasangan bintang dan Bulan yang kompak, Ririn dan Gus Sofyan juga tengah menatap langit malam bersama di balkon kamar hotel. mereka duduk di kursi dekat balkon


"bulannya cantik ya, ustadz" ucap Ririn menenggelamkan kepalanya di pundak Gus Sofyan


"sebenarnya bulan itu jelek jika di lihat dari dekat. terlihat hancur dan tak berbentuk" ucap Gus Sofyan terus memandang langit dengan sembari merangkul dan mengelus lengan Ririn lembut dengan tangan kirinya


"Ririn tau itu. tapi Ririn suka lihat bintang dari jauh seperti ini..terlihat sangat indah" ucap Ririn tersenyum manis tanpa menatap lawan bicaranya


Gus Sofyan memanfaatkan tangan kanannya untuk mengelus lembut perut Ririn yang mulai membuncit..tak terasa jika sudut bibirnya terangkat membayangkan betapa bahagianya dia saat buah hatinya telah lahir ke dunia, nanti


Ririn yang melihat Gus Sofyan tersenyum, segera terkekeh pelan "kenapa?" ucapnya mengangkat kepalanya dan menatap sang suami yang tengah tersenyum manis


"saya nggak sabar mau gandong kedua bayi cantik saya" ucap Gus Sofyan terkekeh di ujung kalimatnya


"cepat keluar ya nak, di dalam sana jangan berulah dan buat umi kesakitan" ucap Gus Sofyan kemudian mencium perut Ririn


"ih kok umi sih ustadz,,Ririn nggak mau" protes Ririn


"kenapa? umi itu panggilan bagus loh sayang" ucap Gus Sofyan mengelus kepala Ririn


"mommy!" tekan Ririn


"Ririn mau panggilan mereka ke Ririn itu dengan sebutan mommy..dan panggilan mereka ke ustadz itu Abi" ucap Ririn terkekeh kemudian beralih menatap perutnya sekilas


"mommy dan Abi? nggak cocok dong sayang" ucap Gus Sofyan protes


"cocok dong ustadz..mommy sama Abi..kan kelihatan lucu tapi elegan gitu" ucap Ririn tak mau kalah


"umi dan Abi lebih bagus, Erina" ucap Gus Sofyan


"ih ustadz seleranya rendah banget sih..mommy dan Abi"


"umi dan Abi"


"mommy dan Abi!"


"umi Abi"


"mommy Abi lebih lucu!"


"umi Abi lebih bagus"


mereka sama sama tak mau kalah. mempunyai pendirian yang sama sama kuat, hingga panggilan pun mereka masalahkan. tak ada yang mau mengalah


"kalau Ririn bilang mommy dan Abi ya harus nurut"


"kalau suami tak mengizinkan ya jangan bandel"


"nggak mau tau pokoknya mommy Abi"


"umi Abi lebih indah"


"kan Ririn yang hamil!" mulai kesal


"tanpa saya kamu nggak akan hamil" membela diri sendiri


hingga mereka menatap satu sama lain. saling memberikan tatapan tajamnya masing masing. Gus Sofyan yang sudah lelah mengalah selama lima bulan terakhir, kini tak ingin kalah lagi hanya karena nama panggilan

__ADS_1


"aaww" rintih Ririn memegang perutnya sembari menunduk


"kenapa? sakit? bagian mana? ke dokter sekarang ya?" ucap Gus Sofyan khawatir dengan posisi yang ikut menundukkan kepalanya supaya dapat menatap mata Ririn


Ririn menggeleng "aaww huhu..sakiitt" rintihnya terus membuat Gus Sofyan khawatir


"ya udah panggilannya mommy Abi. tapi harus ke rumah sakit sekarang ya" ucap Gus Sofyan mengalah


"yeahh..makasih Abi" ucap Ririn mendaratkan ciuman di pipi Gus Sofyan


Gus Sofyan menghela nafasnya. lagi lagi ia harus kalah dan rasa sakit tadi hanya bualan Ririn semata. memang tak ada yang harus Gus Sofyan lakukan lagi sekarang, selain mengikuti keinginan bumilnya itu


"kamu buat saya khawatir" ucap Gus Sofyan memutar bola matanya


"hehe sorry bi..mau cium nggak?" goda Ririn


"mau sih..tapi di dalam aja ya, ini sudah malam. ibu hamil nggak boleh terkena angin malam terlalu lama" ucap Gus Sofyan membantu Ririn untuk berdiri


mereka masuk ke dalam kamar hotel untuk segera beristirahat. Gus Sofyan sangat sensitif dalam menjaga istri sekaligus calon anak anaknya itu. ia tak mau terjadi sesuatu yang tak di harapkan kepada mereka


*******


pagi pun tiba. Reno dan yang lain berencana untuk menjenguk sekaligus menjemput Ning Izah yang sudah di perbolehkan pulang ke rumah.


"sudah kumpul semua?" ucap Reno mendahului


"sudah yah" ucap Rere menjawab sembari tersenyum manis


"bagaimana keadaan Ririn dan Aisyah yang sedang hamil?" ucap Deni


"aman dad" ucap Aisyah dan Ririn bersamaan mengacungkan jempolnya


sesampainya di rumah sakit, mereka semua masuk ke dalam dengan beramai ramai menuju ruang Ning Izah. mereka tak sabar untuk melihat Bahar, anak Ning Izah dan ustadz Haris


"assalamualaikum" ucap Reno mewakilkan


"waalaikumsalam..masuk masuk" ucap kyai Hamdan mempersilahkan


mereka masuk dan melihat Bahar yang sedang tertidur di pelukan sang ibu. mereka memuji ketampanan Bahar yang wajahnya hampir sama dengan Gus Sofyan. mereka pikir juga akan sama dengan wajah Ning Izah, hanya saja mereka tak dapat melihat wajah Ning Izah karena tertutup cadarnya.


"kami akan segera pulang. besok pagi akan mengadakan tasyakuran atas lahirnya Bahar. kalian datang ya" ucap ustadz Haris


"insyaallah kita pasti hadir kok, ustadz..jangan lupa makanannya aja yang di perbanyak" ucap Vreya terkekeh


"kami juga akan mengadakan reuni santri dan santriwati seangkatan Ririn, dua hari setelahnya" ucap Ning Izah


"benar begitu bah?" tanya Lia tak percaya yang hanya mendapat anggukan dari kyai Hamdan


"waahh seru sekali" ucap Ririn senang


"besok tasyakuran? gimana kalau sekalian mengadakan acaranya Vreya?" ucap Deni


"Vreya?" ucap yang lainnya menatap Deni bingung


"aku?" ucap Vreya tak kalah bingung menunjuk dirinya sendiri


"memangnya kenapa dad?" ucap Lia bertanya

__ADS_1


"Vreya akan segera menikah" ucap Angga


"hah? dengan siapa?" ucap semuanya kompak


"heh curut! kamu pikir dengan siapa? ya dengan tunangannya lah..gimana sih" semprot Ririn kesal


FLASHBACK ON


"permisi om, Tante" ucap seorang lelaki tampan masuk ke dalam sebuah ruangan yang terdapat beberapa orang tua di dalamnya


"eh Firman..ada apa nak?" ucap salah satu lelaki yang kisaran umurnya sudah berkepala empat itu


lelaki yang sedang masuk ke dalam ruangan itu adalah Firman, tunangan Vreya. dan beberapa orang yang berada di dalam ruangan adalah Reno dengan sahabat beserta istrinya yang sedang berkumpul


Firman melangkahkan kakinya lebih dalam memasuki ruangan itu "Firman mau ngomong sesuatu" ucapnya


"oh duduk aja nak..ngomong baik baik aja, jangan sungkan" ucap Vania


"Firman ingin menikahi Vreya, om, Tante" ucap firman to the poin yang mampu membuat semua orang di dalam ruangan itu terkejut


"kamu yakin mau menikahi Vreya?" ucap Syakira, mommy Vreya


"insyaallah saya yakin Tante. dengan izin om dan Tante juga" ucap Firman menundukkan kepalanya


"gimana den?" ucap Reno menatap Deni sebagai Daddy nya Vreya


"kalau aku sih terserah anaknya aja. kalau dia mau, ya aku bisa apa?" ucap Deni yang diangguki oleh Syakira


"kalau aku sama Vania sih, setuju aja. yang penting Vreya mengiyakan" ucap Angga merangkul sang istri


"aku juga yes, kalau Vreya oke" ucap Reno


"sekarang kamu hanya minta pendapat Vreya, apakah dia mau atau tidak, jadi istri kamu" ucap Syakira menjelaskan


"kalau kami semua di sini sudah setuju. keputusan tetap di tangan Vreya, nak" ucap Deni yang mendapat anggukan dari Firman


"baiklah kalau begitu terima kasih om, Tante..saya permisi" ucap Firman kemudian pergi dari ruangan tersebut


FLASHBACK OFF


"gimana Vre?" ucap Syakira


"euumm" ucap Vreya berlagak sedang berfikir


"nggak usah banyak drama deh kak..sebenarnya Kakak mau kan haha" ucap Rere terkekeh


"ya udah lah..walaupun Firman tak setampan Song Jong Ki, tapi aku mau kok jadi ibu dari anak anaknya" ucap Vreya penuh drama


"Alhamdulillah" ucap semua kompak


"boleh kan bah, kalau kita laksanakan dengan pernikahan Vreya juga?" ucap Deni


"kalau Vreya nggak keberatan sih boleh boleh saja" ucap kyai Hamdan


"Vreya sih nggak papa bah..yang penting sah walaupun tak semewah Ririn dan mbak Aisyah" ucapnya santai sembari makan kuaci yang ia bawa dari hotel


"kamu yakin Vre? pernikahan sehidup sekali loh" ucap Reno

__ADS_1


"ayah, yang mau nikah kan Vreya..untuk apa ayah yang ribet? Vreya mau nikah besok dengan acara yang sederhana saja. hanya penghulu, makanan, dan saksi saja. jangan di rubah lagi" ucap Vreya tenang dengan terus makan kuaci miliknya


Aisyah, Lia, dan Ririn saling pandang "dia memang berbeda" ucap mereka bersamaan sembari menggelengkan kepalanya tak percaya karena tingkah sahabatnya yang tak terduga itu


__ADS_2