
"mau kemana nih?" ucap Gus Sofyan membuka pembicaraan
"ke mall aja gimana? seru tu kita shopping shopping gitu kak" ucap Afiz
"seru seru iya emang seru tapi uang kakak nggak seru Fiz" ucap Gus Sofyan
"ihh cuman dikit doang" ucap Afiz memonyongkan bibirnya
"ya udah iya iya kita ke mall..puas?" ucap Gus Sofyan
"hehe iya dong" ucap Afiz
Gus Sofyan yang heran karena melihat Ririn terdiam tak berbicara sepatah kata pun bingung. karena pasalnya gadis itu tak sewajarnya menjadi pendiam seperti itu
"kamu kenapa?" ucap Gus Sofyan menoleh kepada Ririn yang duduk di sampingnya
"nggak papa kok" ucap Ririn tersenyum simpul
"gimana caranya aku minta maaf ke dia ya..lagian sih akunya sensi banget tempo hari..kan jadi canggung gini akhirnya" ucap Ririn dalam hati
"owalah..ternyata karena itu toh haha' ucap Gus Sofyan tertawa
Ririn dan Afiz yang melihat Gus Sofyan berbicara sendiri pun tampak bingung.
"kakak kenapa?" ucap Afiz menepuk pundak Gus Sofyan
"ah kenapa? nggak papa kok hehe" ucap Gus Sofyan terkekeh
"duh pake keceplosan juga ah dasar mulut" ucap Gus Sofyan dalam hati
"ih dasar sinting emang ya nggak bisa di pungkiri" ucap Afiz
"apa ustadz Sofyan benar benar sinting? apa karena dia terlalu cinta dan karena Ririn sudah menerima cintanya..maka dia jadi seperti orang gila gini?" ucap Ririn dalam hati
"haha kamu nggak perlu merasa bersalah seperti itu Erina..lagian Afiz sudah maafin kamu kok tentang masalah tempo hari" ucap Gus Sofyan
"hah? kok Afiz? emangnya kenapa?" ucap Afiz kebingungan
"hah? kok ustadz Sofyan bisa tau kalau Ririn mikirin itu tadi?" ucap Ririn
__ADS_1
"ya iya lah saya tau..kan saya hebat haha" ucap Gus Sofyan
"diihh apaan cobak" gerutu Afiz tak terima
"tapi kenapa bawa bawa Afiz ya?" sambungnya
"karena calon kakak ipar kamu ini tadi mikir, gimana caranya bisa mendapat maaf dari kamu karena kesalahan tempo haru yang sudah bicara kasar itu loh Fiz" ucap Gus menjelaskan
"owalaahh itu toh..yah nggak papa kok..lagian karena kesalahan kakak hari itu,,Afiz jadi bisa punya banyak barang barang yang di belikan kak Sofyan" ucap Afiz lancar
"maksudnya?" ucap Ririn menoleh ke arah Afiz
"ya maksud Afiz itu,,dulu kan waktu itu kakak ngira kalau Afiz ini saingan kakak,jadi Afiz bisa tau kalau kakak suka sama kak Sofyan. alhasil karena kalah taruhan,jadi Afiz di beliin belanjaan banyak banget deh hehe" ucap Afiz terkekeh mengingat hari itu.
"oh jadi gituu" ucap Ririn tersenyum
mereka telah sampai di mall yang ingin mereka kunjungi. Afiz sangat senang karena bisa kembali ke mall itu lagi dengan kakak sepupunya. namun hal yang paling membuat dia senang adalah bisa shopping bareng dengan Ririn yang akan menjadi kakak iparnya.
*******
-Di rumah kyai Hamdan
"ya pasti akan jadi heboh dong satu pesantren haha" jawab Rere tertawa
"haha bisa aja kamu" ucap vino meneguk segelas air putih di meja dekat kasurnya itu
"bang" panggil Rere
"hmm" ucap Reno melanjutkan minumnya
"b-bang" panggil Rere lagi
"hmm?" ucap Reno kemudian menoleh ke arah adiknya berada
vino sangat terkejut melihat ekspresi wajah Rere yang sangat pucat dan sudah terbaring lemas di lantai kamarnya itu
"Rere..kamu kenapa?" ucap vino berlari menuju Rere berbaring
"sa..kit" ucap Rere kesakitan dengan memegang dadanya sendiri
__ADS_1
"kenapa Re? kenapa?" ucap vino kemudian bergegas mengangkat tubuh mungil Rere ke atas tempat tidur
sa..kit..bang" ucapnya sekali lagi
"ayaahhh" teriak vino dari dalam kamar kemudian datanglah semua orang yang ada di rumah itu
"Rere.." ucap Reno mengelus rambutnya
"bagian mana yang sakit sayang? hmm?" ucap Reno berusaha tenang
"ada apa sama Rere yah hiks hiks" ucap vino dengan menangis.
"la..ci" ucap Rere hampir tak terdengar
"apa nak? Rere ngomong apa?" ucap Reno tak mendengar ucapan Rere
"la..ci' ucap Rere lemah
"laci!" vino berlari menuju kamar Rere dan menuju laci kamar yang di maksud oleh adiknya itu.
tak lama kemudian vino kembali dengan beberapa macam obat obatan di tangannya. ia menangis tak tega melihat adik kesayangannya merasakan sakit.
setelah Rere meminum obatnya,keadaannya sudah sedikit membaik dan ia sudah bisa bernafas dengan benar walaupun tak teratur.
"oke. sekarang cerita sama Abang. ada apa ini sebenarnya?" ucap vino kepada ayahnya saat berada di luar kamar
"sebenarnya jantung Rere bermasalah. hal itu terjadi saat kamu berada di Bali dulu. bunda dan ayah merahasiakan tentang ini karena kami yakin akan kesembuhan Rere" ucap Reno menjelaskan
Vino terjatuh dan menangis karena merasa gagal menjadi Abang yang baik untuk adiknya. bahkan adiknya sedang sakit pun dia tak tau. Vino sangat terpukul mendengar berita itu. dia mengusap air matanya kasar dan berdiri
"kenapa ayah nggak ngasih tau Abang? segitu nggak berharganya Abang di mata ayah?!" ucap vino
"nggak Vin..ayah cuman nggak mau kamu dan Ririn tau" ucap Reno
"sampai kapan yah? sampai Rere meninggalkan kita seperti bunda?! iya?!" ucapnya sedikit membentak
"apa ini adalah satu satunya alasan kenapa ayah hanya mengirimkan Ririn saja yang ke pesantren?" ucap Vino
Reno mengangguk kecil "maafin ayah nak hiks hiks" ucapnya sambil menangis
__ADS_1