
"Alhamdulillah yan kamu sudah datang..pasien sudah bisa di kunjungi..tadi mbak sama yang lainnya sudah masuk duluan.. sekarang giliran kamu..masuk gih mungkin pasiennya butuh kamu" ucap Ning Izah tersenyum dengan mengangkat salah satu alisnya
tanpa menjawab satu katanya dari Ning Izah,Gus Sofyan malah segera masuk karena dia juga ingin mengetahui bagaimana keadaannya Ririn di dalam
"makan yuk" ajak Ning Izah kepada suaminya
"hmm hayuk..eh Irfan kamu juga ikut yuk biar bisa makan bareng..lagian kamu juga butuh tenaga buat bantu Sofyan jagain santriwati itu" ucap ustadz Haris
"ah tidak ustadz terima kasih..saya masih kuat kok nunggu disini sampai Ririn bangun..lebih baik ustadz sama Ning Izah saja yang pergi..mungkin nanti saya makan bareng Gus Sofyan ustadz" tolak Irfan lembut
"ya sudah kalau gitu saya pamit dulu ya fan.. assalamualaikum" ucap ustadz Haris
"iya ustadz hati hati waalaikumsalam" jawab Irfan sopan
*
*
*******
"gimana?" tanya Gus Sofyan saat melihat Ririn masih terbaring lemas di ruang UGD
"hm?" Ririn segera melihat ke arah sumber suara karena terkejut
"oh nggak papa kok ustadz" lanjutnya kemudian
__ADS_1
Gus Sofyan mengangguk paham..mereka saling diam tak bersuara seolah olah tak ada kehidupan di tempat itu..tak ada suara nyamuk pun di tempat tersebut..bahkan untuk memulai pembicaraan saja sangat sulit seperti ada masalah dengan pita suara mereka
"haiissshh apa yang terjadi waktu ituu..kenapa tiba tiba malah canggung gini sih..siapapun yang bisa denger suara hati akuu,,tolong kelasinnn!!!" Ririn ngedumel dalam hati
"maafkan saya" Gus Sofyan memulainya
"hm? u--untuk apa?" tanya Ririn gugup
"saya lancang menggendong kamu saat kamu pingsan tadi..maafkan saya" ucap Gus Sofyan menunduk
"oh seharusnya saya yang minta maaf karena sudah merepotkan ustadz..dan saya juga mau berterima kasih karena ustadz sudah menolong saya..terima kasih dan maaf ustadz" ucap Ririn yang mendapat anggukan kepala dari Gus Sofyan
"jadi gimana sekarang? masih ada yang sakit?" tanya Gus Sofyan
"nggak kok ustadz..hanya sedikit pusing saja" jawab Ririn
" ya sudah ayo kita susul semuanya" ajak Gus Sofyan kepada Ririn
"hah? susul? kemana?" Ririn masih belum mengingat atau bahkan tidak sepenuhnya sadar
"kita keluar sekarang dan kita harus ke ruang ICU dulu" ucap Gus Sofyan
dengan mendengar ucapan Gus Sofyan,,Ririn berusaha mencerna kata demi kata dari kalimat itu..akhirnya Ririn mengingat tujuannya datang ke rumah sakit ini dengan air mata
"udah,,kamu nggak perlu nangis..sekarang yang di butuhkan keluarga kalian itu doa bukan air mata..ayo kita liat orang tuamu dulu" ucap Gus Sofyan yang kemudian keluar ruang UGD diikuti oleh Ririn
__ADS_1
"ayo fan kita ke ruang ICU' ucap Gus Sofyan dengan melambaikan tangannya
mereka pergi ke ruang ICU untuk melihat bagaimana keadaan orang yang telah melahirkan Ririn dirawat..mereka nampak sedih karena melihat Ririn yang menangis karena orang tuanya sedang bertaruh nyawa
" kamu yang sabar ya Rin..semua akan baik baik saja kok" ucap Irfan
"bunda hiks..kenapa bunda kayak giniiii" ucapnya dengan menangis
"bunda harus bangun,,jangan tinggalin Ririn sama Rere Bun..bunda banguuunnn" sambungnya lagi
*
*
*******
"bagaimana ini bah..kita nggak bisa berbuat apa apa..bagaimana caranya ummah ngomong ke Ririn kalau dia sudah sadar nanti bah..ummah bingung" ucap umi Hamidah
" sudah sudah..ummah tenang dulu ya,,yang sekarang harus kita pikirkan itu bukan bagaimana kita ngomongnya ke Ririn nanti..tapi surah Al Qur'an apa yang bisa menyembuhkan mereka dari tidurnya ini" ucap kyai Hamdan
tak lama kemudian,, terdengar suara lemah dari sosok lelaki yang sedang terbaring di Brankar rumah sakit itu
" nak Reno..nak bangun nak ini saya kyai Hamdan" ucap kyai Hamdan yang berusaha memulihkan ayahnya Ririn
"assalamualaikum kyai" salamnya lemas
__ADS_1
" ah ya ya waalaikumsalam nak..bagian mana yang sakit? ayo katakan sekarang supaya kita bisa panggilan dokter untuk datang ya nak" ucap kyai Hamdan lembut
mendengar perhatian seperti itu,,Reno merasa tak nyaman dan dia menggeleng kecil atas tawaran yang dilakukan kyai Hamdan tadi