
Mereka telah sampai di air terjun yang dituju. mereka tak di perbolehkan untuk melihat air terjun saat sedang siang hari. karena jika siang hari, pemandangan serta lampu yang ada di sekitar air terjun tak nampak. jadi mereka di beri waktu untuk beristirahat hingga petang tiba
"waahh bagus sekali ya bi" ucap Ririn berdiri di balik jendela kamar sembari menatap air terjun
"iya sayang" ucap Gus Sofyan merangkul pinggang Ririn
"Ririn pengen kesini lagi kalau sudah melahirkan" ucap Ririn antusias
"haha iya sayang iya" ucap Gus Sofyan pasrah
"kok Abi nggak ngomong kalau ada tempat wisata sebagus ini di daerah pesantren?" ucap Ririn mendongakkan kepalanya menatap wajah Gus Sofyan
"karena wisata ini masih baru sayang" ucap Gus Sofyan mengecup kening Ririn singkat
"eh iya bi. katanya kalau di tempat kayak gini, banyak hantunya ya?" ucap Ririn menatap Gus Sofyan lagi
Gus Sofyan terkekeh dan menuntun Ririn menuju tepi ranjang "siapa yang bilang gitu, hmm?" ucapnya lembut
"katanya orang orang lah. dulu waktu Ririn kecil, teman teman Ririn bilang kalau di tempat air terjun itu banyak hantunya. benar nggak?" tanyanya lagi
Gus Sofyan kembali terkekeh dan menggeleng "nggak sayang. hal seperti itu tak boleh di percaya" ucap Gus Sofyan
"tapi bi-" ucap Ririn terpotong
"memang benar jika makhluk seperti itu ada di sekitar kita. tapi kita tak boleh percaya, jika hanya di tempat air terjun lah yang ada banyak seperti itu" ucap Gus Sofyan menjelaskan
"karena di mana pun kita berada, mereka akan tetap di sekitar kita. dimana pun" ucap Gus Sofyan menekan akhir kalimatnya
"kok Abi tau? tau dari mana?" ucap Ririn heran
Gus Sofyan terkekeh "Abi kan ustadz. masih mau meragukan?" ucapnya yang hanya mendapat kekehan kecil dari Ririn
"mau makan apa?" ucap Gus Sofyan menatap Ririn yang masih terus fokus pada air terjun diluar
Ririn menggeleng "Ririn nggak mau makan bi. masih belum lapar" ucapnya
"kamu memang belum lapar. tapi dia butuh asupan, sayang" ucap Gus Sofyan mengelus perut buncit Ririn
Ririn tersenyum manis "ya udah kalau gitu Ririn pengen makan steak" ucapnya
"nggak baik loh kalau makan daging terlalu banyak" ucap Gus Sofyan
"nggak banyak kok. hanya satu porsi aja bi. lagian kan steaknya di bawa ke kamar, jadi bisa di makan sama nasi kan hehe" ucap Ririn terkekeh di ujung kalimatnya
Gus Sofyan tersenyum manis "ya udah Abi belikan dulu ya. kamu jangan kemana mana loh. tunggu Abi di sini aja. oke?" ucap Gus Sofyan
Ririn mengangguk "jangan lama lama ya bi. Ririn dah lapar" rengeknya
__ADS_1
Gus Sofyan terkekeh dan mengecup kening Ririn singkat dan berlalu menuju restoran yang dekat dengan tempat wisata tersebut.
"katanya tadi bilang tak lapar. tapi sekarang disuruh jangan lama karena lapar. gimana sih Erina, Erina" ucap Gus Sofyan terkekeh di sepanjang jalan karena mengingat tingkah aneh istrinya
*******
"Daddy" panggil Vreya
"Daddy" panggilnya lagi karena tak mendapat jawaban
"dad-" ucapnya terputus
"apa?" ucap Deni keluar dari kamar mandi
"hmm..itu loh dad" ucap Vreya gugup
"oh Daddy lupa kirim kamu uang jajan ya" ucap Deni mengambil handphone nya yang berada di atas nakas
"bukan" ucap Vreya
"lalu?" ujar Deni bingung
"Vreya mau tanya sesuatu" ucap Vreya gugup
Deni berjalan menuju sofa di kamarnya "ya sudah tanyakan saja" ucapnya santai
"mommy kamu tadi bilang mau keluar sama Vania" ucap Deni
"ohh" ucap Vreya
"jadi kamu ke sini cuman mau tanya mommy kamu di mana?" ucap Deni kesal
"bukaann" sangkal Vreya
"lalu apa Vreya? kamu mau tanya apa?" ucap Deni
"kalau itu sakit nggak dad?" ucap Vreya yang mampu membuat Daddy nya bingung
"itu apaan Vre? kalau ngomong tu yang jelas lah. tak perlu bertele-tele" kesal Deni
"malam pertama maksudnya dad" ucap Vreya
"lah kenapa kamu tanya Daddy? kamu belum di unboxing semalam?" ucap Deni frontal dan hanya mendapat anggukan kepala dari Vreya
"wah parah sih. jadi kamu masih perawan?" ucap Deni dan lagi lagi mendapat anggukan dari Vreya
"kenapa Firman geraknya lambat banget sih ah. padahal Daddy sudah ngasih kode ke dia loh kemaren" ucap Deni kesal
__ADS_1
"iihh Daddy! jawab pertanyaan Vreyaa" ucap Vreya mulai kesal
"Daddy sih nggak tau Vre. coba kamu tanya ke mommy kamu. kan yang merasakan mommy kamu, Daddy cuman ngambil enaknya" ucap Deni terkekeh di ujung kalimatnya
"ngomong sama Daddy dari tadi unfaedah!" kesal Vreya kemudian keluar dari kamar orang tuanya
Vreya berjalan menyusuri lorong villa menuju kamarnya. sejak kemarin, ia merasa takut dan sangat bingung setiap berhadapan dengan Firman.
"Vreya harus tanya ke siapa lagi ya Allah. Vreya takut" ucap Vreya dalam hati
"kamu takut kenapa Vre?" ucap Gus Sofyan tak sengaja bertemu dengan Vreya setelah kembali dari restoran terdekat
"t-takut apa Gus?" ucap Vreya gugup
"kamu bilang takut sesuatu. takut apa? kamu nggak papa kan?" ucap Gus Sofyan
"apa Gus Sofyan bisa menjawab pertanyaan Vreya ya? kira kira bisa nggak sih?" pikir Vreya dalam hati
"insyaallah saya bisa menjawab, jika itu pantas untuk di jawab" ucap Gus Sofyan membuat Vreya heran
"Vreya nggak ngomong sama Gus Sofyan loh. kok bisa tau suara hati Vreya sih?" ucap Vreya kesal
"ah itu nggak penting. yang penting sekarang, Vreya mau tanya sesuatu" ucap Vreya membuat Gus Sofyan mengernyitkan keningnya
"kamu mau tanya apa Vre?" ucap Gus Sofyan
"kalau itu, sakit nggak Gus?" ucap Vreya
"itu maksudnya?" bingung Gus Sofyan
Gus Sofyan yang mengerti kode dari Vreya pun sedikit menundukkan kepalanya "malam pertama" ucap Vreya sedikit berbisik
"astaghfirullah" ucap Gus Sofyan berdiri tegak
"iihh kok astaghfirullah sih Gus" kesal Vreya
"astaghfirullah. astaghfirullah" ucap Gus Sofyan terus beristighfar
"saya permisi dulu. assalamualaikum" ucap Gus Sofyan kemudian berlalu meninggalkan Vreya yang masih berdiam diri di lorong villa
"salah Vreya di mana ya? kok Gus Sofyan Astaghfirullah?" ucap Vreya bingung kemudian berlalu pergi mencari mommy nya
NOTE
-haii readers semua..maafin author yang nggak bisa update setiap hari.. untuk hari ini satu part aja ya..besok pasti author update lagi untuk kalian. jangan bosan baca novel ini..jangan lupa like dan komen juga ya..salam rindu author
see you:)
__ADS_1