Suami Pilihan Allah

Suami Pilihan Allah
Episode 142


__ADS_3

Lia berjalan memasuki kantor polisi. dimana dia sedang berjalan di tengah tengah koridor yang cukup lembab. tak lupa dua bodyguard yang setia menemaninya di belakang


"saya ingin masuk" ucapnya dingin kepada penjaga pintu, saat ia sampai di depan ruangan yang ia tuju


terlihat dua wanita yang sangat ia kenal. Lia sangat geram dan emosi melihat kedua wajah wanita itu. dengan santai ia memasuki ruangan dan duduk di depan mereka berdua


"mau apa lagi kamu?!" teriak Arumi


"mau minta polisi, untuk menghukum anda lebih berat" ucap Lia santai


"karena kalian, anak anak Ririn pergi terlebih dahulu!!" ucap Lia santai, namun sangat mengintimidasi


"maksudnya?" ucap Mita gugup


"dia keluar belum saatnya! dan hal itu karena ulah anda, snake!" ucap Lia menunjuk wajah Arumi dengan telunjuk kanannya


Arumi tampak senang dengan kabar yang menurutnya bahagia itu. ia tersenyum nyaris tertawa dengan kemenangannya


Lia mencengkeram erat rahang Arumi "sebahagia itu anda mendengar berita duka bahwa keponakan saya sudah pergi!!?" ucapnya membentak


"i don't care, you know?" balas Arumi santai sembari memutar bola matanya jengah


"jika Ririn dan Gus Sofyan tak bisa membalas, biar saya yang mewakilkan mereka untuk membalas perlakuan anda selama ini" ucap Lia tegas


Lia sangat emosi dengan tingkah wanita di depannya itu. di dalam benaknya, jika saja membunuh orang tidak berdosa, maka Arumi akan menjadi target utamanya


Lia mengambil tissue basah yang dipegang bodyguard nya. ia mengelap tangan bekas pipi Arumi yang tadinya ia cengkeram


"najis" lirihnya keluar ruangan itu


*******

__ADS_1


Ririn tertidur didalam dekapan hangat sang suami. matanya terlihat sangat sembab akibat menangisi kedua anaknya


"maafkan Abi ya, nggak bisa jaga mereka dengan baik" lirih Gus Sofyan sangat pelan


"Abi sangat merasa bersalah dengan semua kejadian ini" lirihnya lagi


Gus Sofyan meneteskan air matanya "seharusnya kamu bahagia sekarang. bisa menggendong bayi kita, sayang" ucapnya


Ririn bergerak, sepertinya tidurnya merasa terganggu dan tidak tenang. Gus Sofyan dengan cepat menghapus air mata yang berada di pipinya itu.


"kenapa? hmm?" lirih Gus Sofyan sembari terus memeluk tubuh kecil Ririn


"Ririn haus" ucap Ririn singkat dengan suara paraunya


Gus Sofyan mengambil segelas air putih diatas nakas "nih minum dulu" ucapnya sembari membantu Ririn untuk duduk


setelah minum, Gus Sofyan mencium pelipis Ririn singkat "tidur lagi ya" ucapnya meletakkan gelas ke atas nakas kembali


"shuutt.." lirih Gus Sofyan kemudian mencium kepala Ririn


"kamu nggak salah" sambungnya lagi


"benar kata dokter Anya. kalau Ririn nggak egois, mungkin Difa masih di sini" ucapnya disela tangisannya


"Difa dan Dila pergi, itu karena takdir. kalau bisa, kenapa kita tak merubah takdir kita?? karena tak bisa diubah, lebih baik kita jalani aja sebagaimana mestinya" jelas Gus Sofyan


"tapi Ririn egois" lirih Ririn hampir tak terdengar


"karena kamu sayang mereka kan? kamu nggak egois kok..sudah ya,," ucap Gus Sofyan mengelus kepala Ririn


"Ririn nggak berguna sebagai seorang ibu" ucapnya lagi

__ADS_1


tangisannya pecah saat Gus Sofyan mengelus punggungnya. dada Gus Sofyan terasa hangat karena air mata Ririn yang membasahi baju bagian depannya


"kalau kamu menyalahkan diri terus, bagaimana Difa dan Dila bahagia disana?" ucap Gus Sofyan menenangkan


"tapi Ririn nggak berguna..Ririn nggak pantas dipanggil sebagai seorang ibu" ucap Ririn terus menyalahkan dirinya


"pasti Difa dan Dila disana sedih melihat mommy kesayangan mereka sedang menangis" ucap Gus Sofyan mengecup pelipis Ririn singkat


"benar kata dokter Anya, Ririn memang sangat sangat egois. Ririn tak pantas jadi ibu dari kedua bayi kembar Ririn" ucap Ririn menangis


Gus Sofyan menangkup wajah cantik Ririn "apapun keadaannya, bagaimanapun kondisinya, kita harus ikhlas ya sayang. sedih boleh, nangis juga boleh..tapi tangan terlalu larut dalam kesedihan itu ya. nggak baik loh" jelas Gus Sofyan


Gus Sofyan menghapus lembut air mata yang terus mengalir "lebih baik kamu tidur sekarang ya. besok kita hadiri acara pemakaman Difa sekalian. oke?" sambungnya mencium pipi Ririn yang sedikit basah karena air mata


"Ririn pengen lihat foto Difa dan Dila dulu, baru mau tidur" mohonnya dengan air mata yang masih menggenang


Gus Sofyan mengeluarkan handphone nya dan segera memperlihatkan kepada Ririn "jangan nangis lagi ya. Abi capek lihatnya" ucap Gus Sofyan terkekeh diujung kalimatnya


"lebih mirip sama Abi ya" sambung Gus Sofyan


"iyalah kan Abi yang bikin" ucap Gus Sofyan lagi terkekeh


Ririn hanya tersenyum dan mengangguk kecil "yaudah kalau gitu tidur sekarang ya. kan lihatnya udah puas" ucap Gus Sofyan kemudian mencium kening Ririn penuh kasih sayang


Ririn tersenyum simpul kemudian mengangguk kecil dan segera memeluk tubuh kekar Gus Sofyan.



Difa dan Dila


(ini hanya image dari author ya guys..kalian bebas berimajinasi sesuai apa yang ada dipikiran kalian. yang jelas, kedua baby gemoy ini lebih mirip suami masa depannya author,,eh maksudnya Gus Sofyan hihii)

__ADS_1


__ADS_2