
Matahari terbit dengan indah. Pagi ini Vino dan dokter Johan pulang ke Indonesia. Dokter Johan memaksa untuk mengambil penerbangan pertama, karena dia sangat ingin segera bertemu dengan calon istrinya. mereka tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi
"tampaknya kau sangat merindukan adikku ya haha" ucap Vino terkekeh saat melihat dokter Johan yang terus memandang foto Rere
dokter Johan terkekeh "sepertinya begitu bang. kapan kita sampai sih?" ucapnya tak sabar
mereka sedang berada di dalam pesawat. nampaknya dokter Johan sangat ingin segera bertemu dengan Rere
cukup lama mereka duduk di dalam pesawat, kini saatnya mereka berjalan menuju taksi pesanan mereka, karena mereka telah sampai di Indonesia
Sesampainya di rumah utama, vino dan dokter Johan tak menemukan seseorang yang di carinya. hanya ada beberapa ART dan penjaga rumah lainnya
"bi, ayah dan Rere kemana?" ucap Vino
"tuan besar dan nona Rere ada di Semarang, tuan" ucap bi Mar
"ah ya,,bisa bisanya aku lupa kalau mereka ada di rumah Sofyan" ucap vino memukul keningnya pelan
"jadi kita ke sana bang?" ucap dokter Johan yang sudah melihat Vino keluar rumah terlebih dahulu
Vino berbalik menatap calon adik iparnya itu "jadi kamu udah nggak kangen sama Rere lagi?" ucapnya
"eh kangen lah bang" ucap dokter Johan
"ya udah cepet! jangan lelet jalannya!" ucap Vino sedikit membentak
dokter Johan berjalan keluar rumah "saat jadi kawan dulu, rasanya tak berani membentak" ucapnya
Vino terkekeh mendengar ucapan dokter Johan "bi, kami pergi ke Semarang ya..tolong jaga rumah!!" ucapnya sedikit berteriak
*******
Sesampainya di rumah kyai Hamdan, Vino segera mengetuk pintu dan tak lama kemudian keluarlah wanita bercadar dengan menggendong seorang bayi
"assalamualaikum" ucap vino dan dokter Johan bersamaan saat pintu sudah di buka
"waalaikumsalam" ucap Ning Izah
"kakaknya Ririn ya?" sambung Ning Izah yang hanya mendapat anggukan dari Vino
"silahkan masuk" ucap Ning Izah mempersilahkan
Vino memegang pipi gembul baby Bahar "sudah hadir kamu ternyata..siapa namanya ganteng?" ucapnya beralih menatap wajah Ning Izah sekilas
__ADS_1
"Bahar Alfatih" jawab Ning Izah
"namanya bagus..oh ya, dimana ustadz Haris?" ucap Vino
"saya panggilkan sebentar" ucap Ning Izah kemudian berlalu
vino masuk dan duduk di sofa ruang tamu. tak lama kemudian datanglah ustadz Haris.
"dokter Vino?" ucapnya
Vino terkekeh "panggil Vino aja ustadz" ucapnya
"kalau saya di panggil ustadz, harusnya saya juga manggil dokter haha" ucap ustadz Haris
"panggil saya Haris saja..sepertinya saya seumuran sama kamu" sambung ustadz Haris terkekeh
Vino terkekeh dan mengangguk paham "kalau boleh tau, Ririn dan Sofyan kemana ya?" ucap Vino
"mereka ada di rumah sakit" ucap Ning Izah saat keluar dengan membawa air dan beberapa cemilan
"rumah sakit? siapa yang sakit?" ucap dokter Johan khawatir
ustadz Haris menghembuskan nafasnya kasar kemudian segera menceritakan apa yang terjadi sebenarnya kepada Vino dan dokter Johan
"assalamualaikum" ucap dokter Johan dan Vino bersamaan saat masuk ke dalam ruangan yang telah di isi anggota keluarganya
"waalaikumsalam" ucap semuanya menoleh ke arah pintu bersamaan
"bang Vino?" lirih Lia
"gimana keadaannya?" tanya Vino
Reno berjalan ke arah Vino "tidakkah kamu rindu ayah?" ucapnya
Vino mencium tangan ayahnya dan memeluk mereka yang berada di ruangan secara bergantian. begitu juga dengan dokter Johan, mencium tangan para orang tua yang berada di sana
"gimana keadaannya?" ucap Vino lagi
Reno tersenyum tipis "dia baik baik saja. bayi bayinya juga. saat di operasi, bayinya sangat pengertian. hingga mereka tak melakukan tendangan tendangan di dalam sana" ucapnya
"Operasi?" ucap dokter Johan dan Vino bersamaan
"beberapa tulang belakangnya retak. sepertinya saat jatuh, Ririn sangat melindungi bayi bayinya, sehingga dia memfokuskan supaya tak terkena benturan pada perutnya" ucap Angga
__ADS_1
Vino menahan air matanya dan beralih menatap tajam lelaki yang berada di samping brankar Ririn. Vino berjalan ke arah Gus Sofyan dan menarik kerah bajunya menjauh dari brankar Ririn, sehingga membuat Gus Sofyan kehilangan keseimbangan. dengan brutal Vino memukul wajah Gus Sofyan di dalam ruangan itu.
Bugh!!!
Bugh!!!
Bugh!!!
"KEMANA AJA KAMU?! BISA BISANYA KAMU BUAT ADIKKU SENGSARA SEPERTI INI HAH?!!" teriaknya terus memukuli Gus Sofyan
Gus Sofyan yang mendapat perlakuan seperti itu tak berani melawan. bahkan untuk menjelaskan pun tak ada niatan, karena dia juga merasa bersalah atas tragedi yang menimpa istrinya itu.
semua orang yang berada di sana dengan cepat melerai perkelahian itu. mereka tak mau ada korban lagi setelah perkelahian itu terjadi
"sudah Vin!" ucap Angga berusaha melerai
"sudah cukup Vino!" teriak Reno namun tak mendapat respon dari Vino
Rere berjalan ke arah Vino yang tengah brutal memukuli Gus Sofyan di bawahnya. ia menarik kerah baju abangnya supaya dapat berdiri dengan tegap
PLAKK!
satu tamparan datang tepat di pipi mulus Vino "sudah cukup bang!" ucap Rere menangis
"CUKUP!!" bentaknya
"apa dengan Abang memukul kak Sofyan dapat membuat kak Ririn sadar!? hah?!! jawab Rere bang!!" bentaknya menepis air matanya yang hendak turun lagi
"Abang cuman nggak sanggup liat adik Abang terbaring di brankar rumah sakit" ucap Vino lesu
"semua yang berada di sini juga terluka bang! bukan hanya Abang!" ucap Rere menatap tajam ke arah Vino
"bahkan sakit yang kak Sofyan rasakan lebih parah dari pada sakit yang kita semua rasakan!" sambungnya
"sakit yang kak Sofyan rasakan, sama dengan sakit yang Abang rasakan saat Abang tak dapat menyelamatkan Rere kala itu" ucap Rere membuat Vino menangis mengingat kejadian itu
Rere memeluk abangnya erat "jangan lakukan itu lagi bang. cukup saat itu, Rere lihat kak Ririn menangis. jangan buat dia menangis lagi saat melihat wajah kak Sofyan yang penuh luka karena Abang" ucapnya mengelus punggung Vino
"Abang cuma nggak mau melihat kalian menderita" ucap Vino di tengah tengah isakannya
"good job Re" lirih Ririn hampir tak terdengar
semua orang menoleh ke arah sumber suara. mereka tak menyangka bahwa lirihan suara tadi adalah suara yang mereka tunggu selama beberapa hari terakhir
__ADS_1
"Ririn!" ucap semua bersamaan saat menoleh ke arah brankar Ririn