Suami Pilihan Allah

Suami Pilihan Allah
Episode 134


__ADS_3

Aisyah keluar dengan wajah sendunya. ia menghapus air mata yang sebelumnya membasahi pipinya. melihat Aisyah menangis, semua orang berdiri menghampirinya


"kenapa Syah?? ada apa??" tanya Vania


"Ririn ma" ucapnya sembari menangis


"tak pantas bagi seorang dokter untuk menangisi pasiennya" ucap Vino


Aisyah menghapus kembali air matanya. ia menarik nafasnya panjang "kami tak bisa menyelamatkan mereka sekaligus" ucapnya


"jadi maksudnya.." ucap Rere terputus


Aisyah mengangguk kecil "salah satu dari mereka tak akan selamat. Aisyah di sini hanya seorang dokter yang sedang mengoperasi pasiennya. tolong kasih tau Aisyah secepatnya, siapa yang akan di selamatkan" ucapnya sendu kemudian kembali masuk ke ruang operasi


Gus Sofyan terpaku. ia tak tau harus merespon ucapan Aisyah dengan kalimat apa. lidahnya kelu dan beku


semua orang menatap Gus Sofyan "pilihlah nak. siapa yang akan kau selamatkan" ucap Reno memeluk tubuh kekar menantunya


Gus Sofyan menggeleng "mereka akan selamat yah" lirihnya meneteskan air matanya


Reno menepuk pundak Gus Sofyan "pilih siapa yang akan kau selamatkan" ucap Reno lagi


"Sofyan tak bisa memilih yah. ini perjuangan, bukan penjualan" ucap Gus Sofyan


Vino mendekat ke arah Gus Sofyan "di dalam sana adikku sedang berjuang. tolong hargai dia dan segeralah memilih. kami tak mempunyai banyak waktu lagi" ucapnya tegas


Gus Sofyan yang mulanya menundukkan kepala, sedetik kemudian langsung menatap Vino dan menghapus air matanya kasar


"utamakan ibunya!" ucap Gus Sofyan tegas


semua orang tersenyum tipis dengan pilihan Gus Sofyan. kemudian Rehan segera masuk ke dalam ruang operasi dan memberitahukan kepada istrinya, bahwa Gus Sofyan menginginkan keselamatan Ririn yang utama.


*******


di sisi lain, seorang gadis cantik sedang berjalan menyusuri lorong yang gelap dan sedikit lembab. gadis tersebut tidak sendiri, melainkan bersama kedua bodyguard kepercayaannya.

__ADS_1


setelah sampai di satu ruangan khusus, gadis itu mengangkat tangan kanannya, pertanda bahwa kedua bodyguard nya itu tak boleh mengikutinya


"katakan di mana persembunyian kalian" ucapnya tanpa basa basi


"apa maksudmu?!!" ucap lawan bicaranya dengan keras


"ohoo!! jangan teriak..santai aja..aku hanya bertanya" ucap gadis itu tersenyum licik


"cepat katakan dimana kalian sembunyi selama ini?!!" sambungnya dengan tegas


"kami tak punya persembunyian" ucap lawan bicaranya dengan nada rendah


gadis itu menghentak meja di depannya "belum puas kah kamu berada di dalam sini, Mita!??" ucapnya


ya. gadis itu adalah Lia. dan lawan bicaranya adalah Mita, yang kini berada di balik sel penjara.


"saya orang sibuk. jadi cepat katakan di mana tempat kalian bersembunyi selama ini" sambung Lia lagi


"sudah kubilang! aku nggak punya tempat persembunyian!" teriak Mita


Lia bangkit dari duduknya kemudian berjalan di belakang Mita "pertama, ayahmu adalah bawahanku. kedua, kau berniat untuk membunuh sahabatku. ketiga, ayahmu dipecat. keempat, kau mendekam di balik sel ini. kelima, mungkin kau akan membusuk di sini juga hahaha" ucap Lia terkekeh


"atau yang ke enam, ayahmu akan ku penjarakan juga? aku tau akal busuk ayahmu yang mencuri uang admin perusahaan, Mita" ucap Lia santai


"jaga ucapan mu! aku rela di penjara supaya ayah dan keluargaku tak sengsara! jangan macam macam kamu ya!!" ucap Mita


"wuuu takutnya.." ucap Lia pura pura takut


"cepat katakan, atau akan ku lakukan semua yang ku ucapkan tadi!" ancam Lia


Mita mendengus kesal "apartment mawar nomor tiga belas, lantai tiga" ucapnya pasrah


Lia menepuk pipi Mita pelan "good girl" ucapnya kemudian mengelap tangannya dengan tisu basah dan keluar dari ruangan tersebut


"kembalikan dia ke tempatnya" ucap Lia saat bertemu dengan salah satu polisi di depan pintu ruangan itu

__ADS_1


Lia berjalan kembali melewati lorong yang tadi. tak lupa pula kedua bodyguard yang setia mengikuti di belakangnya.


"selanjutnya kita akan ke mana nyonya??" tanya salah satu bodyguard


"apartment mawar nomor tiga belas, lantai tiga" ucap Lia terus berjalan


*******


Dokter Anya, dokter Aisyah dan salah satu dokter yang lainnya keluar bersamaan dari ruang operasi


"bagaimana?" tanya Syakira kepada ketiga dokter yang menangani operasi Ririn


"maafkan kami selaku tim medis yang tak bisa menyelamatkan mereka sekaligus. ibunya baik baik saja. namun, salah satu bayinya tak bisa di selamatkan. bayi yang di keluarkan terakhir, tak dapat mencakup oksigen dengan baik" ucap dokter Anya


"lalu bayi yang lain bagaimana? bukan kah bayi yang terlahir prematur itu kondisinya tak stabil ya dok?" tanya Vania


ketiga dokter tersebut hanya senyum tipis "bayi yang satunya lagi sedang kritis, sama seperti ibunya" ucap dokter yang lainnya


"lalu kondisi ibunya tak ada perubahan dok?" tanya Vreya


"kondisi ibunya tetap sama. akan tetapi, saya bisa pastikan beberapa menit lagi ibunya akan sadar dari masa kritis" ucap Aisyah mengangguk kecil


"jika tak ada yang perlu ditanyakan lagi, kami permisi dulu" ucap dokter Anya menunduk hormat


"terima kasih dokter. anda telah bekerja keras" ucap dokter Anya menepuk pundak Aisyah pelan


Aisyah mengangguk sembari tersenyum manis "terima kasih dok" lirihnya


dokter Anya dan kawannya segera meninggalkan mereka yang masih beramai ramai menunggu Ririn sadar dari masa kritisnya


"kapan kita bisa menjenguk baby dan mommy nya?" tanya Vania


"tunggu tiga puluh menit dulu ya ma. sebentar lagi Ririn dan bayinya akan di pindahkan ke ruang rawat" ucap Aisyah menjelaskan


Gus Sofyan hanya terdiam dengan pernyataan pahit itu. air matanya bahkan enggan untuk turun lagi. ia bingung harus menjawab apa saat istrinya bangun dan hanya ada satu bayi di ruangan tersebut

__ADS_1


"maafkan Abi sayang" ucap Gus Sofyan dalam hati


__ADS_2