
Ririn tersenyum melihat punggung mereka mulai menjauhi ruangan Rere. kemudian Ririn masuk ke dalam ruangan untuk menemani Rere yang masih tertidur dengan mata indahnya itu.
"Rere nggak mau bangun kah?" ucap Ririn duduk di kursi samping Brankar Rere
"kakak punya barang indah loh untuk Rere. barang yang mulai dulu Rere inginkan" ucap Ririn menggenggam tangan Rere
"Rere yakin nggak mau lihat barangnya?" sambungnya lagi
"ya sudah lah kakak cuma bisa pasrah dan berharap pada Tuhan, supaya Rere bisa segera membuka mata dan melihat barang apa yang kakak bawa" ucap Ririn menumpuk tangan Rere di atas perutnya
Ririn meletakkan kepalanya di samping tubuh Rere. ia lelah dan ingin beristirahat, namun tak dapat memejamkan matanya sendiri
"uuhh gimana caranya tidur sih" gerutu Ririn
Ririn berdiri dan berjalan menuju jendela ruangan. ia melihat indahnya kota Surabaya dari jendela yang cukup besar itu sambil menyilangkan tangan di depan dadanya
"wahh cantiknya. sudah sangat lama Ririn nggak melihat indahnya kota kelahiran Ririn. seperti makin indah aja nih selama Ririn nggak ada di sini" ucap Ririn terkagum kagum
"untung Ririn kembali ke sini lagi. nggak kebayang deh kalau Ririn menetap di Jerman dan tak melihat kota seindah ini. pandai sekali lah Ririn nii" ucap Ririn kagum terhadap dirinya sendiri
Ririn berjalan menuju Brankar Rere "Re, cepat bangun ya,,kakak nungguin Rere di sini. setelah Rere bangun nanti, kita akan pergi ke pasar malam lagi seperti tempo hari. kakak janji deh" ucap Ririn sedikit membungkuk
"eh Rere tau nggak? cuacanya sangat dingin loh sekarang. apa sebaiknya kakak pesan minuman hangat aja ya Re" ucap Ririn mengeluarkan ponselnya
"hmm pasti Abang masih ada di luar rumah sakit. minta tolong aahh" ucap Ririn kemudian menelfon abangnya
"hallo assalamualaikum bang" ucap Ririn memulai
"hm ya waalaikumsalam. ada apa Rin?" ucap vino di seberang telfon
"eh Abang masih ada di luar rumah sakit kan?" ucap Ririn
"iya ini Abang masih di lobby menuju lift" ucap vino
"eh bang berhenti dulu jalannya" ucap Ririn
"lah kenapa?" ucap vino menghentikan langkahnya
"jadi gini,,Ririn tadi kan kedinginan nih,,terus Ririn pengen minuman hangat gitu loh" ucap Ririn menjelaskan
"ini sudah hampir jam sembilan Rin..kantin sudah tutup" ucap vino
"iya Ririn tau kalau kantin sudah tutup, makanya Ririn pesan online. sebentar lagi minumannya sampai,,jadi Ririn minta tolong Abang yang Nerima makanan sama minuman yang Ririn beli ya. sekalian bayarin kang gojeknya" ucap Ririn menjelaskan
"ih dasar pelit banget. yang mau minum bukan Abang juga kok harus Abang yang bayar" ucap Vino dengan nada kesalnya
"ya sudah loh bang,,kapan lagi sih baik ma adiknya sendiri. ntar Ririn aduin ayah loh ya" ucap Ririn mengancam Vino
"ya sudah iya iya Abang tunggu kang gojek datang. puas?" ucap vino
"iya bang. assalamualaikum" ucap Ririn kemudian menutup telfonnya
*******
__ADS_1
-di depan RS
"w-waalaikumsalam" ucap vino menatap handphone nya karena telfon dari adiknya telah di tutup
"dasar ya si Ririn. bukannya makasih malah langsung nutup telfonnya. nggak dengerin salamnya juga tadi" gerutu vino gemas
"ya sudah lah tungguin aja kang gojeknya" ucap vino kemudian berjalan menuju luar rumah sakit
dengan menunggu pesanan Ririn sampai tujuan,,vino memainkan ponselnya dengan jari yang sangat lincah. ntah apa yang dia mainkan.
tak lama kemudian pesanan Ririn telah sampai dengan selamat. vino memberikan tip dan ongkir kepada pengantar makanan tersebut. ketika vino hendak masuk,,seorang wanita menyapanya dengan sopan
"assalamualaikum" sapa wanita tersebut
"wa-waalaikumsalam' ucap vino gugup
"bang vino kan? apa kabar bang?" ucap wanita itu yang tak lain adalah Aisyah
"a-aisyah" ucap vino gugup dan tak percaya bahwa wanita yang ia sukai berada di depan matanya setelah sekian lama menghilang
"iya bang, ini Aisyah. kabar ayah dan keluarga Gimana?" ucap Aisyah lembut
"oh Alhamdulillah semua sehat kok. Aisyah Gimana?" ucap vino mulai berkeringat
"ya Allah. padahal sekarang sedang tak melakukan operasi,,kenapa tangan aku berkeringat gini..bahkan operasi pun tak sampai seperti ini rasa gugupnya" ucap vino dalam hati
"Alhamdulillah Aisyah sehat kok. keluarga juga baik baik saja Alhamdulillah" ucap Aisyah tersenyum manis
"Alhamdulillah" ucap vino canggung
"oh Aisyah ketemuan dengan kawan Aisyah di rumah sakit ini bang. Abang sendiri ngapain di sini?" ucap Aisyah
kemudian Aisyah melihat penampilan vino yang mengenakan jas dokter "oh iya Aisyah lupa kalau Abang dokter. jadi bang vino sebagai dokter jantung di rumah sakit ini? wah kebetulan sekali" ucap Aisyah
"kebetulan kenapa?" ucap vino heran
"kawan Aisyah juga seorang dokter di rumah sakit ini bang. namanya dokter Nayra. Abang kenal?" ucap Aisyah
"dokter Nayra..Nayra..eemm Nayra.." vino tampak seperti sedang berfikir
"oh dokter ahli bedah kan. iya iya Abang tau" ucap Vino dengan yakinnya
"bukan bang. Abang nggak tau ya..ya sudah kapan kapan Aisyah ajak Abang ketemu sama dokter Nayra" ucap Aisyah tersenyum lembut
"ehehe iya" ucap vino malu
vino tak sengaja melihat cincin yang berada di jari tengah Aisyah. ia berfikir untuk menanyakan tentang cincin itu. namun ia takut menyinggung Aisyah nantinya. jadi vino pun berusaha berfikir positif dan mengabaikan keberadaan cincin tersebut
"Abang sudah nikah?" tanya Aisyah kepada Vino
vino menggeleng kecil "belum. memangnya Aisyah sudah nikah?" ucapnya menatap cincin yang berada di jari manis Aisyah
"aduuhh keceplosan lagi..gimana kalau dia tersinggung dan tak mau jawab" ucap vino
__ADS_1
Aisyah tersenyum manis dan mengangkat tangannya untuk memperlihatkan cincin yang ada di jari manisnya "Aisyah sudah tunangan bang, insyaallah sebentar lagi nikah. Abang datang ya" ucap Aisyah senang
sangat menyakitkan untuk vino mendengar kabar bahwa Aisyah telah ada yang punya. seketika ia berfikir bahwa sudah saatnya ia berhenti mendambakan seorang Aisyah.
"bang? kenapa bang vino diam saja?" ucap Aisyah melambaikan tangan di depan wajah vino yang sedang melamun
"i-iya kok Aisyah,,Abang pa-pasti datang" ucap vino tersenyum simpul
tak lama kemudian, terlihat sebuah mobil yang berhenti di depan mereka. sepertinya itu mobil rehan yang hendak menjemput Aisyah
"orang yang menjemput Aisyah sudah datang bang, Aisyah duluan ya bang. tolong sampaikan salam Aisyah untuk Ririn dan yang lain. assalamualaikum" ucap Aisyah kemudian berjalan menuju mobil tersebut
"waalaikumsalam" ucap vino yang hampir tak terdengar
vino berjalan menuju lift dan sesegera mungkin ia ingin sampai di ruangan Rere. ingin rasanya vino menangis saat itu,,namun ia masih sadar bahwa ia adalah seorang dokter yang terhormat di rumah sakit itu.
ceklekk..
"sudah sam-" ucap Ririn terhenti ketika melihat abangnya terduduk di lantai dekat pint
"Abang kenapa?" ucap Ririn memegang pundak abangnya
"apa seorang dokter boleh menangis?" ucap vino menatap adiknya sendu
"nggak boleh. Abang cerita dulu sama Ririn. ada apa ini?" ucap Ririn mengelus punggung abangnya
"sini dulu yok..sini sini duduk dulu" ucap Ririn memapah abangnya untuk duduk di sofa
"nih minum biar sedikit tenang" ucap Ririn memberikan air putih kepada abangnya
setelah meneguk air putih yang di berikan Ririn,,vino menatap Ririn sekilas dan memeluk adiknya sangat erat
"Abang? Abang kenapa?" ucap Ririn membalas pelukan abangnya
"cerita dulu woy..jangan buat Ririn risau" ucap Ririn kemudian melepas pelukannya
"Aisyah.." ucap vino
"Aisyah? Aisyah siapa? mbak Aisyah kawan pesantren Ririn dulu?" ucap Ririn bertanya tanya kemudian mendapat anggukan kecil dari Vino
"iya. mbak Aisyah kenapa? Ririn sudah tau kalau mbak Aisyah itu wanita yang Abang dambakan. ada apa?" ucap Ririn menatap abangnya sendu
"dia-" ucap vino terhenti karena ada sebuah suara yang memanggilnya
"bang..kak" suara tersebut berasal dari Brankar Rere.
pandangan mereka seketika beralih menatap Rere yang sudah membuka suara.
"Rere!" ucap keduanya bersamaan kemudian berlari menuju Brankar tersebut
"kak" ucap Rere pelan
"bang" sambungnya kemudian tersenyum tipis
__ADS_1
vino memeriksa kondisi Rere saat itu. vino dan Ririn bahagia karena Rere sudah sadarkan diri dan berbicara kembali walaupun masih sangat lemah