
setelah sampai di kamar asramanya,,Ririn langsung menceritakan apa yang terjadi dengannya hari itu tanpa ketiga sahabatnya
"guys guys..mau ceritaaa" ucap Ririn duduk bersila di atas ranjangnya
"apaan?" ucap Lia
"aaaaaa tadi nih ya aku di ajak keluar dong sama ustadz Sofyan" ucap Ririn gembira
"hah?! yakin?! terus terus gimana?" ucap Vreya yang mengubah posisinya menjadi duduk
"nggak gimana sih..awalnya agak canggung gitu..tapi masih bisa di atasi karena adanya Afiz tuh sepupu ustadz Sofyan. kalian tau nggak?" ucap Ririn
"yang wajahnya bulat itu bukan sih?" ucap Lia
"eh Bambang dimana mana kalau yang namanya wajah tuh bulat..kalau kotak mah adudu musuhnya Boboiboy" ucap Vreya
"lah kok ngamoookk" ucap Lia kemudian mereka tertawa
"kemana aja tadi Rin?" ucap Aisyah
"ke hatimu mbak huhuu" ucap Ririn terkekeh
"ihh mbak mah nanyanya tuh bener kali Rin..setidaknya jawab tuh harus bener juga laahh" ucap Aisyah kesal
"iya iya maaf. tadi Ririn ke mall bareng mereka. Afiz beli banyak banget baju dan sepatu" ucap Ririn
"kamu beli juga?" ucap Aisyah
"aku sih nggak beli baju ya..cuman beli beberapa benda aja" ucap Ririn
"untuk kita ada nggak?" ucap Vreya
"eh Maemunah yang dibelanjain tuh si Ririn. jadi nggak usah banyak ngarep deh apaan sih mengharapkan yang tidak pasti" ucap Lia
"sensi banget sih apaan cobak" ucap Vreya mengerucutkan bibirnya
"haha udah udah.. ada kok aku beli beberapa benda. ada yang untuk kalian, untuk Abang,,Rere dan ayah juga" ucap Ririn
"oh gitu..apaan nih yang untuk kita?" ucap Lia
"dih dasar markonah! tadi aja aku nggak boleh banyak berharap. nyatanya situ sendiri yang mengharap lebih" ucap Vreya memutar bola matanya kesal
"sudah sudah jangan bahas tentang hadiah dulu..kita bahas tentang Ririn dan Gus Sofyan aja dulu yaa" ucap Aisyah
"jadi setelah belanja,,kamu kemana lagi Rin?" ucap Aisyah
"tadinya sih pengen pulang,,tapi ustadz Sofyan tiba tiba ngajakin kita makan dan liat liat pesisir pantai" ucap Ririn
"waaahh sepertinya Gus Sofyan mau lebih lama barengnya nih" ucap Lia
"iya mungkin itu salah satu alasan biar bisa lebih lama sama kamu Rin" ucap Vreya
"ah iya kah?" ucap Ririn
"mungkin iya" batinnya sembari senyum senyum
"terus terus..setelah itu kemana?" ucap Aisyah
"pulang" singkat Ririn
__ADS_1
"oh ya udah berarti ceritanya udah selesai dong" ucap Lia
"eh beluumm" ucap Ririn menghentikan mereka yang hendak rebahan kembali
"apa lagi Rin?" ucap Vreya kembali dengan posisi awalnya
"tadi pas aku mau kembali ke sini ya,,ada Mita Adel dan Fitria loh" ucap Ririn
"Adelia?" ucap Lia dan Vreya bersamaan
"he em" ucap Ririn mengangguk
"bukannya Adelia itu dulu cewek yang nggak suka kalau kamu Deket sama Gus Sofyan ya" ucap Lia mengingat masa lalu
"iya itu dia loh yang narik hijab aku pas di kelas. inget nggak?" ucap Ririn
"ah ya iya inget aku inget. si centil nggak ada obat itu kan" ucap Vreya
"iya bener itu dia" ucap Ririn
"wahh kapan dia kembali ya" ucap Aisyah
"kembali dari mana mbak?" ucap Ririn
"mbak nggak tau pastinya sih ya..tapi setau mbak, dia katanya ikut suatu kursus yang bisa lebih cepat menghafal Al Qur'an itu loh..mbak lupa lagi namanya apaan" ucap Aisyah menepuk jidatnya sendiri
"oh iya Ririn tau kursus itu tapi Ririn lupa juga namanya" ucap Ririn terkekeh
"oh pantesan aku lama nggak liat dia muncul. dan yang selalu muncul hanya si Mita. tapi dia siapa sih mbak?" ucap Vreya
"Mita itu sepupunya si Adelia. dia di masukkan ke pesantren ini saat Adelia mau keluar untuk ikut kursus tersebut. jadi anggap saja dia pengganti saat Adelia nggak ada di sini" ucap Aisyah menjelaskan
"eh btw mana hadiahnya Rin?" ucap Aisyah
"hah? mbak juga berharap benda yang Ririn beli tadi?" ucap Lia
"nggak berharap kok. tapi kalau di belikan ya tinggal terima kasih saja kan hehe" ucap Aisyah terkekeh di ujung kalimatnya
Ririn mengambil suatu tas belanjaan yang isinya adalah beberapa benda yang telah iya beli untuk keluarga dan sahabat sahabatnya
"ini aku beliin buat mbak Aisyah,, karena menurut aku,,mbak Aisyah cocok banget dengan benda ini" ucap Ririn mengeluarkan tasbih manual dari tas itu dan memberikannya kepada Aisyah
"waahh cantik banget makasih Rin" ucap Aisyah yang hanya mendapat anggukan kecil dari Ririn
"aku?" ucap Vreya
"ini untuk kamu Vre" ucap Ririn mengeluarkan sebuah gantungan kunci yang terbuat dari kaca
"untuk apaan ini Rin?" ucap Lia menerima barang dari Ririn dan melihatnya dengan seksama
"gantungan kunci itu bisa berguna saat kamu lupa meletakkan kunci mobil kunci rumah kunci kamar dan kunci yang lainnya. jadi kunci semua kunci yang kamu punya bisa di letakkan di gantungan khusus itu" ucap Ririn menjelaskan
"selain bisa menyimpan banyak kunci,,gantungan itu bisa kamu isi foto sesuai selera kamu. caranya gampang banget cuman tinggal di pencet aja tombol hijaunya" sambungnya
"ohh oke makasih Rin" ucap Vreya
"ini untuk kamu Li" ucap Ririn mengeluarkan sebuah liontin berbentuk hati yang indah
"kok aku dapet yang kayak gini siihh" ucap Lia kesal karena barang yang di dapat tak sesuai keinginannya
__ADS_1
"liontin ini memang tak semahal yang kamu sering pakai. tapi setidaknya di dalam liontin itu ada foto kita berempat" ucap Ririn tersenyum manis
mendengar bahwa ada foto di dalam liontin tersebut,,Lia segera membuka lambang hati itu dan benar saja ada foto mereka berempat saat berada di pasar malam tempo hari
"waaahh cantik sekalii' ucap Lia
"iya dong Ririn gitu lhoo" ucap Ririn percaya diri
"makasih Rin" ucap Lia, Vreya dan Aisyah bersamaan
"oghey" ucap Ririn menyatukan jari telunjuk dan jari jempolnya membentuk huruf O
"katanya kamu beli hadiah juga untuk ayah Reno,,Abang dan Rere" ucap Lia
"iya nih aku juga beli jam yang sama" ucap Ririn mengeluarkan empat jam tangan dengan warna yang sama
praakk!!
salah satu jam tangan yang di pegang Rere terjatuh karena tangan Ririn yang terlalu penuh
"whaaatt! itu kan jam baru..mahal nggak harganya?" ucap Vreya
Ririn menoleh ke arah lantai di mana jam tangan itu terjatuh "Rere" lirihnya
*******
"kita harus melakukan operasi sesegera mungkin dok" ucap dokter Riko yang sedang membantu vino mengurangi rasa sakit pada tubuh Ririn
"tidak. saya yakin pasien masih bisa bertahan tanpa melakukan operasi" ucap vino berkeringat
"tapi keadaannya sudah sangat buruk dok" ucap dokter Riko
"kita harus coba masukkan beberapa obat lagi ke dalam tubuhnya supaya bisa bertahan lebih lama" ucap Vino
"saya tak yakin tubuhnya akan menerima" ucap dokter Riko
"jika anda tak dapat membantu silahkan keluar dokter Riko!!" bentak Vino
dokter Riko pun keluar dari ruang UGD karena Vino memintanya. ia tak bisa melihat bagaimana ekspresi vino yang sedang ketakutan serta marah. ia sangat ingin membantu namun sarannya untuk melakukan operasi pun tak dapat di terima karena tak ingin pasien di bedah
"bagaimana keadaan anak saya dok?" ucap Reno ketika melihat dokter Riko keluar dari ruang UGD
"tak ada perkembangan pak. saya sudah semaksimal mungkin untuk membantu pasien supaya sadar dan bernafas normal kembali,,namun nihil hasilnya" ucap dokter Riko
"ya Allah selamatkan putri hamba" ucap Reno dengan tak henti mengeluarkan air matanya
"saya juga sudah menyarankan kepada dokter vino untuk mengoperasi pasien. tapi saran saya tak di terima karena dokter vino yakin bahwa pasien bisa sembuh tanpa harus membedah tubuhnya" sambung dokter Riko
"tolong bantu selamatkan anak saya dokter. jika hanya vino sendirian di dalam sana, itu tak akan mudah membantu untuk menyelamatkan nyawa putri saya. tolong dok tolong' ucap Reno memohon dengan tetap menangis
"akan saya usahakan pak" ucap dokter Riko kemudian masuk kembali ke ruang UGD
NOTE
-maafkan author ya kalau terlalu banyak typo di setiap episodenya..maafkan juga kalau author up nya terlalu lama,,karena novel ini karya pertama jadi masih harus banyak belajar juga
jangan lupa like, komen, dan vote novel ini ya..
see you:)
__ADS_1