
Hari ini tepat seminggu setelah mereka kembali ke Surabaya. seminggu sebelumnya, Reno memberi usul jika Ririn di rawat di rumah sakit Surabaya saja. rumah sakit yang juga ada di bawah naungan Fahriza grup. Hari ini adalah hari di mana Ririn sudah boleh pulang dari rumah sakit tersebut. tandanya masa pemulihan Ririn telah selesai.
Ririn menatap Gus Sofyan yang tengah sibuk membereskan barang barang Ririn untuk pulang "Abi nggak capek?" ucapnya
Gus Sofyan menoleh ke arah Ririn yang duduk di atas brankar dan tersenyum manis ke arah istrinya "kan cuma beres beres sedikit, sayang" ucap Gus Sofyan
"mau Ririn bantu nggak?" tanya Ririn
Gus Sofyan menggeleng dan terkekeh kecil "udah..kamu duduk manis aja. sudah nggak ada yg sakit kan?" tanyanya mendekat ke arah sang istri
Ririn tersenyum dan menggeleng "udah sembuh kok" ucapnya
"Alhamdulillah. mau pulang sekarang?" tanya Gus Sofyan
Ririn mengangguk "hayukk" ucapnya antusias
Ririn berjalan perlahan lahan, karena punggungnya masih terasa sedikit nyeri saat ia banyak bergerak. menggunakan kursi roda pun ia di larang oleh dokter. dengan alasan, ibu hamil harus banyak aktivitas dan untuk melatih jahitan yang ada di punggungnya juga.
dengan di bantu Gus Sofyan, ia masuk ke dalam mobil sport nya. "hati hati sayang" ucap Gus Sofyan
setelah mendudukkan Ririn dengan baik, Gus Sofyan segera berjalan ke arah pintu kemudi dan segera mengemudikan mobilnya untuk pulang.
Mobil itu berhenti karena lampu merah. pandangan Ririn menuju ke arah halte bus yang sedang di penuhi oleh banyak orang
"ustadz.." panggil Ririn
Gus Sofyan mengerutkan keningnya karena mendengar panggilan 'ustadz' dari Ririn "kenapa?" ucapnya
"ustadz lihat orang itu deh" ucap Ririn menunggu seorang lelaki bertubuh besar yang sedang duduk di halte bus
"iya kenapa sayang?" ucap Gus Sofyan tetap fokus kepada lampu merah
__ADS_1
belum sempat Ririn menjawab, mobilnya kembali berjalan karena lampu sudah berganti warna.
"eh eh stopp!!" ucap Ririn
Gus Sofyan langsung menginjak rem mobilnya dan segera melindungi perut Ririn supaya tak terkena benturan
"kamu nggak papa kan? ada apa sih? kenapa?" ucap Gus Sofyan menatap Ririn
"Ririn nggak papa. sekarang pinggirin dulu mobilnya. nanti mobil yang di belakang marah marah" ucap Ririn kemudian langsung di turuti oleh Gus Sofyan
"ada apa sih, Erina?" ucap Gus Sofyan setelah memarkirkan mobilnya di pinggir jalan
"Ririn pengen sesuatu" ucap Ririn
Gus Sofyan menghadap istrinya "pengen apa, hmm??" ucapnya mengelus rambut Ririn lembut
Ririn menyeringai "pengen ngelus kepala botak bapak yang di halte tadi" ucapnya
Gus Sofyan mengerutkan keningnya heran "kamu beneran ngidam kayak gitu?" tanya Gus Sofyan yang langsung mendapat anggukan dari Ririn
"ngidam yang lainnya aja ya, kan nggak sopan kalau kita pegang pegang kepala orang yang kita nggak kenal" ucap Gus Sofyan membujuk
"mangkanya kenalan dulu, ustadz..lagian ini kemauan debay nya kok" ucap Ririn
Gus Sofyan menghembuskan nafasnya kemudian mendekatkan dirinya ke arah perut buncit Ririn "baby pengennya yang lain aja ya..pengen sesuatu yang bisa Abi lakuin aja. kalau pengennya kayak gitu kan Abi nggak bisa turuti, sayang" ucap Gus Sofyan mengelus perut Ririn
Ririn merasa bingung. di satu sisi ia kasihan ke pada suaminya. dan di sisi lain ia juga sangat ingin menyentuh kepala bapak yang ia lihat tadi
"ya udah nggak papa" ucap Ririn tersenyum simpul
"pengennya yang lain aja ya. jangan yang aneh aneh" ucap Gus Sofyan
__ADS_1
Ririn menganggukkan kepalanya. Gus Sofyan tersenyum tipis saat Ririn menuruti perkataannya. ia segera melajukan mobilnya kembali
"padahal kan Ririn pengen banget pegang kepala bapak itu..kayak lembut banget gitu loh rasanya..pengen pegang tapi nggak papa deh kapan kapan aja" ucap Ririn dalam hati
Gus Sofyan mendengar keinginan Ririn. ia menghembuskan nafasnya dan memutar mobilnya. dengan cepat ia melajukan mobilnya menuju halte di mana orang yang di inginkan Ririn berada
"beneran mau?" tanya Gus Sofyan yang mendapat anggukan cepat dari Ririn
Gus Sofyan tersenyum kecil "ya udah tunggu bentar ya" ucap Gus Sofyan kemudian turun dari mobilnya dan berjalan menuju orang botak tersebut
"bismillah..demi anak" ucapnya dalam hati
"duh.. gimana ya..apa ustadz akan berhasil membujuk orang itu" ucap Ririn risau
tak lama kemudian ia melihat dari kaca mobil, bahwa bapak botak yang sedang duduk itu beranjak pergi
"loh loh..si bapak mau ke mana" ucap Ririn khawatir jika suaminya tak berhasil membujuk orang itu
"ini pasti si ustadz nggak pandai membujuk deh" ucap Ririn kesal
"kalau tau begitu, lebih baik langsung aku aja yang turun tadi..ih sebel banget sih" ucap Ririn kesal
kemudian Ririn melihat bahwa suaminya sedang berjalan ke arahnya "ayo keluar sayang" ucap Gus Sofyan
"boleh?" tanya Ririn masih terduduk dan langsung mendapat anggukan dari Gus Sofyan
Ririn turun dari mobil dan berjalan ke arah halte bus "lima detik aja ya" ucap Gus Sofyan dan di respon dengan anggukan cepat dari Ririn
bapak itu menundukkan kepalanya. mempersilahkan Ririn untuk menyentuh dan mengelus kepala botaknya itu.
setelah selesai Ririn tersenyum senang "terima kasih ya pak. maaf kalau saya tidak sopan. karena ini keinginan anak anak saya. bukan saya sendiri ehehe" ucap Ririn terkekeh
__ADS_1
bapak itu hanya tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya. Gus Sofyan segera membantu Ririn untuk kembali ke dalam mobil, dan segera mendatangi bapak yang tadi
"terima kasih pak. ini kartu nama saya. anda bisa menghubungi saya kapan saja" ucap Gus Sofyan kemudian sedikit membungkuk dan pergi dari tempat tersebut