Suami Pilihan Allah

Suami Pilihan Allah
Episode 127


__ADS_3

Hari ini tepat seminggu setelah mereka kembali ke Surabaya. seminggu sebelumnya, Reno memberi usul jika Ririn di rawat di rumah sakit Surabaya saja. rumah sakit yang juga ada di bawah naungan Fahriza grup. Hari ini adalah hari di mana Ririn sudah boleh pulang dari rumah sakit tersebut. tandanya masa pemulihan Ririn telah selesai.


Ririn menatap Gus Sofyan yang tengah sibuk membereskan barang barang Ririn untuk pulang "Abi nggak capek?" ucapnya


Gus Sofyan menoleh ke arah Ririn yang duduk di atas brankar dan tersenyum manis ke arah istrinya "kan cuma beres beres sedikit, sayang" ucap Gus Sofyan


"mau Ririn bantu nggak?" tanya Ririn


Gus Sofyan menggeleng dan terkekeh kecil "udah..kamu duduk manis aja. sudah nggak ada yg sakit kan?" tanyanya mendekat ke arah sang istri


Ririn tersenyum dan menggeleng "udah sembuh kok" ucapnya


"Alhamdulillah. mau pulang sekarang?" tanya Gus Sofyan


Ririn mengangguk "hayukk" ucapnya antusias


Ririn berjalan perlahan lahan, karena punggungnya masih terasa sedikit nyeri saat ia banyak bergerak. menggunakan kursi roda pun ia di larang oleh dokter. dengan alasan, ibu hamil harus banyak aktivitas dan untuk melatih jahitan yang ada di punggungnya juga.


dengan di bantu Gus Sofyan, ia masuk ke dalam mobil sport nya. "hati hati sayang" ucap Gus Sofyan


setelah mendudukkan Ririn dengan baik, Gus Sofyan segera berjalan ke arah pintu kemudi dan segera mengemudikan mobilnya untuk pulang.


Mobil itu berhenti karena lampu merah. pandangan Ririn menuju ke arah halte bus yang sedang di penuhi oleh banyak orang


"ustadz.." panggil Ririn


Gus Sofyan mengerutkan keningnya karena mendengar panggilan 'ustadz' dari Ririn "kenapa?" ucapnya


"ustadz lihat orang itu deh" ucap Ririn menunggu seorang lelaki bertubuh besar yang sedang duduk di halte bus


"iya kenapa sayang?" ucap Gus Sofyan tetap fokus kepada lampu merah

__ADS_1


belum sempat Ririn menjawab, mobilnya kembali berjalan karena lampu sudah berganti warna.


"eh eh stopp!!" ucap Ririn


Gus Sofyan langsung menginjak rem mobilnya dan segera melindungi perut Ririn supaya tak terkena benturan


"kamu nggak papa kan? ada apa sih? kenapa?" ucap Gus Sofyan menatap Ririn


"Ririn nggak papa. sekarang pinggirin dulu mobilnya. nanti mobil yang di belakang marah marah" ucap Ririn kemudian langsung di turuti oleh Gus Sofyan


"ada apa sih, Erina?" ucap Gus Sofyan setelah memarkirkan mobilnya di pinggir jalan


"Ririn pengen sesuatu" ucap Ririn


Gus Sofyan menghadap istrinya "pengen apa, hmm??" ucapnya mengelus rambut Ririn lembut


Ririn menyeringai "pengen ngelus kepala botak bapak yang di halte tadi" ucapnya


Gus Sofyan mengerutkan keningnya heran "kamu beneran ngidam kayak gitu?" tanya Gus Sofyan yang langsung mendapat anggukan dari Ririn


"ngidam yang lainnya aja ya, kan nggak sopan kalau kita pegang pegang kepala orang yang kita nggak kenal" ucap Gus Sofyan membujuk


"mangkanya kenalan dulu, ustadz..lagian ini kemauan debay nya kok" ucap Ririn


Gus Sofyan menghembuskan nafasnya kemudian mendekatkan dirinya ke arah perut buncit Ririn "baby pengennya yang lain aja ya..pengen sesuatu yang bisa Abi lakuin aja. kalau pengennya kayak gitu kan Abi nggak bisa turuti, sayang" ucap Gus Sofyan mengelus perut Ririn


Ririn merasa bingung. di satu sisi ia kasihan ke pada suaminya. dan di sisi lain ia juga sangat ingin menyentuh kepala bapak yang ia lihat tadi


"ya udah nggak papa" ucap Ririn tersenyum simpul


"pengennya yang lain aja ya. jangan yang aneh aneh" ucap Gus Sofyan

__ADS_1


Ririn menganggukkan kepalanya. Gus Sofyan tersenyum tipis saat Ririn menuruti perkataannya. ia segera melajukan mobilnya kembali


"padahal kan Ririn pengen banget pegang kepala bapak itu..kayak lembut banget gitu loh rasanya..pengen pegang tapi nggak papa deh kapan kapan aja" ucap Ririn dalam hati


Gus Sofyan mendengar keinginan Ririn. ia menghembuskan nafasnya dan memutar mobilnya. dengan cepat ia melajukan mobilnya menuju halte di mana orang yang di inginkan Ririn berada


"beneran mau?" tanya Gus Sofyan yang mendapat anggukan cepat dari Ririn


Gus Sofyan tersenyum kecil "ya udah tunggu bentar ya" ucap Gus Sofyan kemudian turun dari mobilnya dan berjalan menuju orang botak tersebut


"bismillah..demi anak" ucapnya dalam hati


"duh.. gimana ya..apa ustadz akan berhasil membujuk orang itu" ucap Ririn risau


tak lama kemudian ia melihat dari kaca mobil, bahwa bapak botak yang sedang duduk itu beranjak pergi


"loh loh..si bapak mau ke mana" ucap Ririn khawatir jika suaminya tak berhasil membujuk orang itu


"ini pasti si ustadz nggak pandai membujuk deh" ucap Ririn kesal


"kalau tau begitu, lebih baik langsung aku aja yang turun tadi..ih sebel banget sih" ucap Ririn kesal


kemudian Ririn melihat bahwa suaminya sedang berjalan ke arahnya "ayo keluar sayang" ucap Gus Sofyan


"boleh?" tanya Ririn masih terduduk dan langsung mendapat anggukan dari Gus Sofyan


Ririn turun dari mobil dan berjalan ke arah halte bus "lima detik aja ya" ucap Gus Sofyan dan di respon dengan anggukan cepat dari Ririn


bapak itu menundukkan kepalanya. mempersilahkan Ririn untuk menyentuh dan mengelus kepala botaknya itu.


setelah selesai Ririn tersenyum senang "terima kasih ya pak. maaf kalau saya tidak sopan. karena ini keinginan anak anak saya. bukan saya sendiri ehehe" ucap Ririn terkekeh

__ADS_1


bapak itu hanya tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya. Gus Sofyan segera membantu Ririn untuk kembali ke dalam mobil, dan segera mendatangi bapak yang tadi


"terima kasih pak. ini kartu nama saya. anda bisa menghubungi saya kapan saja" ucap Gus Sofyan kemudian sedikit membungkuk dan pergi dari tempat tersebut


__ADS_2