Suami Pilihan Allah

Suami Pilihan Allah
Episode 93


__ADS_3

semua orang sudah kumpul di ruang keluarga. mereka berbincang santai dengan minum teh bersama.


"Sofyan, Ririn, Daddy sudah siapkan Hadian untuk pernikahan kalian" ucap Deni


"hadiah apa Dad?" tanya Ririn


"Daddy sudah kirim lokasinya di handphone Sofyan, sebagai supirnya Ririn" ucap Deni


kemudian Gus Sofyan memeriksa handphone nya untuk melihat apa hadiah dari Deni, Daddy nya Vreya.


"lokasi apa ini om?" ucap Gus Sofyan


"setelah kamu selesai di sini, kamu bisa langsung ke lokasi itu untuk menerima hadiahnya" ucap Reno


"oh ayah tau juga ternyata. hadiah apa yah?" ucap vino


"kepo aja kamu sih" ucap Reno yang mengundang kekehan kecil dari semuanya


"oh iya, papa juga ada hadiah untuk kalian. hadiahnya papa, ada di dalam hadiah Deni" ucap Angga


"hadiah apa sih sebenernya, kok Ririn penasaran" ucap Ririn


"hahaha.. ya udah lebih baik kamu lihat sendiri hadiahnya. hanya cuman mengunjungi lokasi itu saja" ucap Reno


tanpa membuang waktu lagi, Ririn dan Gus Sofyan segera pergi untuk melihat hadiah apa yang ada di lokasi tersebut. setelah mereka sampai di lokasi, mereka tak melihat adanya kotak kado atau semacamnya. Ririn mengambil handphone nya untuk menelfon Deni.


"hallo assalamualaikum" ucap Ririn memulai


"waalaikumsalam. kenapa nak?" ucap Deni


"Daddy bilang ada hadiah. dimana? Ririn nggak lihat ada kotak di sekitar sini" ucap Ririn


"hadiah kamu ada di depan mata Rin" ucap Syakira


"iya tapi nggak ada kotak di sini mom. hanya ada rumah ba-" ucap Ririn terputus


"what!??! ma-maksud mommy hadiah Ririn rumah ini?" sambungnya tak percaya


"hahaha akhirnya dia sudah menyadarinya" terdengar suara mereka di seberang


"iya sayang. itu hadiahnya. hadiah dari Angga ada di atas nakas suatu kamar ya" ucap Syakira


"tapi untuk apa Ririn ke sini sekarang mom?" ucap Ririn


"mulailah hidup baru kalian di rumah itu sekarang. semuanya sudah di beresin sama sahabat sahabat kamu dan di bantu bi mar pula tadi" ucap Syakira


Ririn tak kuasa menahan air matanya "terima kasih mommy, daddy..terima kasih untuk kalian semua" ucapnya menangis


"sudah sudah..masuklah kalian. jangan terlalu lama di luar, nanti masuk angin tau. mommy tutup dulu ya telfonnya. assalamualaikum anak mommy" ucap Syakira


"waalaikumsalam mommy" ucap Ririn kemudian menutup telfonnya


"gimana?" ucap ustadz Sofyan


"rumah ini hadiah untuk Ririn katanya ustadz. dan hadiah dari papa Angga ada di dalam kamar katanya" ucap Ririn menatap Gus Sofyan


"sudah jangan nangis. mari masuk bersama" ucap Gus Sofyan


mereka masuk ke rumah itu dengan hati yang sangat bahagia "wahh bagus ya rumahnya, ustadz" ucap Ririn yang hanya di angguki oleh Gus Sofyan



mereka melihat dan menyusuri dalam rumah tersebut. setelah itu, mereka memutuskan untuk memilih kamar lantai dua sebagai kamar mereka. sepertinya kamar itu memang disiapkan untuk menjadi kamar mereka, karena pakaian dan peralatan serta foto pernikahan mereka telah terpajang di tembok kamar itu.


"sepertinya ini memang kamar kita, Erina" ucap Gus Sofyan memandangi seisi kamar itu


"kayaknya iya deh ustadz. Ririn dulu, atau ustadz dulu yang mandi?" ucap Ririn


"kamu dulu saja. biar saya yang mengantri" ucap Gus Sofyan


"ya udah Ririn mandi dulu ya ustadz" ucap Ririn yang hanya di angguki oleh Gus Sofyan


setelah Ririn selesai mandi, Gus Sofyan menggantikan Ririn di kamar mandi. tak lama kemudian, Gus Sofyan telah selesai melakukan ritual mandinya.


"ustadz lapar nggak?" ucap Ririn menatap suaminya yang baru selesai mandi


"emang kenapa? kamu mau masak?" ucap Gus Sofyan


"nggak sih hehe. jadi gimana? ustadz lapar nggak?" tanya Ririn sekali lagi


"lumayan sih" ucap Gus Sofyan


"wahh samaan nih..ya udah cari makan di luar aja yok. Ririn juga laper soalnya hehe. mau masak, tapi di dapur nggak ada bahan masakan. jadi besok harus bangun pagi buat belanja" ucap Ririn


"ya udah. kamu siap siap dulu, biar saya tunggu di luar" ucap Gus Sofyan mengambil kunci mobilnya yang berada di nakas


*******

__ADS_1


setelah sampai di rumah, mereka berdua masuk kedalam kamar. Ririn duduk di sofa kamar sembari membaca buku


"Erina,.." panggil Gus Sofyan yang berada di samping Ririn


"kenapa? lapar lagi?" ucap Ririn yang masih fokus pada bukunya


"bukan..bisa kah?" ucap Gus Sofyan


"hah? bisa apa? jangan jangan si ustadz mesum nih" ucap Ririn dalam hati


"ehem..bi-bisa apa?" ucap Ririn gugup


Gus Sofyan terkekeh "itu loh.." ucapnya


"hufh..Ririn harus gimana? kan dosa juga kalau seorang istri tak melayani suaminya. tapi Ririn takut. duuhh gugup banget sih. ah ya udah lah coba aja" batinnya


"ya udah. Ririn harus mulai dari mana? Buka hijab kan?" ucap Ririn yang hendak membuka hijabnya


"eh tunggu" ucap Gus Sofyan yang mampu membuat Ririn kaget


"kenapa?" ucap Ririn bingung


"kamu mau ngapain?" ucap Gus Sofyan


"mau itu kan? tadi yang ustadz minta..?" ucap Ririn heran


"iya maksud saya, saya mau kita sholat isya berjamaah. bisa kan?" ucap Gus Sofyan


"haduuhh malu bangett..Ririn, kamu kok bego banget sih..ah panas nih wajah Ririn. nggak kuat nahan malunyaa" ucap Ririn dalam hati


Gus Sofyan tersenyum manis "bisa kan?" ucap Gus Sofyan


"o-oh iya ustadz bisa bisa. ustadz duluan aja yang ambil wudhu. Ririn yang antri" ucap Ririn


Gus Sofyan berjalan menuju kamar mandi di kamar itu. "wajahnya lucu banget ya Allah. lebih cantik jika dia sedang malu seperti itu" ucap Gus Sofyan dalam hati.


Ririn keluar menuju balkon kamar "huwaaa Ririn maluuuu" teriaknya pada sang malam


"malu banget ya Allah. nggak kebayang apa yang ada di pikiran ustadz Sofyan tadi" ucap Ririn


"Erina,.." panggil Gus Sofyan dari dalam kamar


"i-iya ustadz?" ucap Ririn masuk ke kamar


"kamu ngapain di luar jam segini? nanti masuk angin bisa sakit loh" ucap Gus Sofyan


"ya udah kalau gitu. saya sudah selesai wudhu nya. giliran kamu sekarang" ucap Gus Sofyan


"iya ustadz" ucap Ririn kemudian berjalan menuju kamar mandi.


mereka mulai sholat berjamaah bersama. walaupun Gus Sofyan sering menjadi imam untuk musholla pesantren, tapi hal ini menjadi hal yang baru untuk Gus Sofyan


setelah mereka selesai sholat berjamaah, Ririn memainkan ponselnya di atas sofa. sedangkan Gus Sofyan membaca buku di samping Ririn


"hmm ustadz, Ririn mau tanya deh" ucap Ririn


"apa?" ucap Gus Sofyan singkat


"ustadz kan udah jadi suami Ririn, Ririn harapnya sih ustadz nggak merahasiakan sesuatu dari Ririn. jadi Ririn mau tanya, dan ustadz harus jawab jujur" ucap Ririn


Gus Sofyan melatakkan bukunya dan menatap wajah cantik istrinya "iya" ucapnya sambil tersenyum


"Arumi itu siapanya ustadz?" ucap Ririn


"bukannya hal ini sudah kamu tanyakan?" ucap Gus Sofyan


"jawab lebih detail" ucap Ririn


"baiklah. Arumi itu adalah wanita yang dulunya hendak saya nikahi karena perjodohan. namun pernikahan itu tak terjadi karena Arumi tak hadir saat acara akad nikah akan dilaksanakan" ucap Gus Sofyan panjang


"apa ustadz ada rasa sama Arumi?" ucap Ririn


"dulu yang hadir hanya rasa kagum. tapi sekarang tak ada rasa apapun di hati saya" ucap Gus Sofyan


"lalu kenapa saat di rumah Ririn, ustadz telfonan sama wanita itu dengan suara lemah lembut?" ucap Ririn


Gus Sofyan tersenyum "karena saat itu, saya bukan berbicara dengan Arumi. saya berbicara dengan adiknya, yang juga mengenal saya" ucap Gus Sofyan


"adiknya Arumi cukup dekat dengan saya. saat itu, dia tak mau makan jika tak ada saya di sampingnya. oleh karena itu, saya bilang padanya bahwa, jika seperti itu terus, dia akan sakit" ucap Gus Sofyan menjelaskan


"oh begitu..ya udah makasih atas jawabannya" ucap Ririn yang hanya diangguki oleh Gus Sofyan


"kalau kamu, apa kamu masih suka sama lelaki selain saya?" ucap Gus Sofyan


"lelaki siapa? ketahuilah, hanya ustadz lelaki yang lolos masuk ke hati saya" ucap Ririn


"bohong jika gadis cantik seperti kamu tak punya masa lalu" ucap Gus Sofyan

__ADS_1


"beneran loh. Ririn dulu itu nakal banget, sampai sampai nih ya, kalau untuk pacar dan semacamnya, Ririn nggak cukup satu hahah" ucap Ririn


"nggak loh ustadz, beneran..Ririn nggak ada pacar di masa lalu. semuanya hanya mainan bagi Ririn. mereka suka Ririn, mereka ngajak Ririn kencan. setelah dua hari, Ririn ajak putus haha" ucap Ririn tertawa lepas


Gus Sofyan terkekeh melihat Ririn yang tertawa puas seperti itu.


"kalau semisal, dikemudian hari Ririn meninggal dan tak bersama ustadz Sofyan lagi, apa ustadz akan menikahi Arumi?" ucap Ririn


"tidak" ucap Gus Sofyan


"kenapa?" ucap Ririn


"karena saya hanya mau menikah dengan kamu" ucap Gus Sofyan


"kan Ririn sudah meninggal" ucap Ririn


"saya tunggu kamu di kehidupan selanjutnya" ucap Gus Sofyan mantap


"ah ustadz bisa aja. Ririn jadi malu malu kucing" ucap Ririn tersipu


"kalau kamu gimana?" ucap Gus Sofyan


"ya Ririn mau nikah lagi lah haha" ucap Ririn yang mampu membuat Gus Sofyan tertawa


ddrrttt..


ddrrttt..


ddrrttt..


"eh Ririn angkat telfon dulu ya ustadz" ucap Ririn yang hanya mendapat anggukan dari Gus Sofyan


"hallo assalamualaikum Vre" ucap Ririn memulai


"waalaikumsalam Rin. kamu dimana?" ucap Vreya


"di kamar nih. ngapa?" ucap Ririn


"Gus Sofyan di mana?" ucap Vreya


Ririn menoleh Gus Sofyan sekilas "disebelah" ucapnya


"coba nyalain spikernya" ucap Vreya


Ririn membuka tombol spiker di handphone nya "ada apa sih" ucap Ririn


"Gus Sofyan,.." panggil Vreya di seberang


"iya, ada apa Vre?" ucap Gus Sofyan


"kok masih belum ngapa-ngapain sih Gus. mulai dong ah lambat" ucap Lia yang ikut bersuara


"ma-maksudnya mulai apa?" ucap Gus Sofyan mulai gugup


"hahaha nggak ada maksud kok Gus. cuman mau ngasih tau, Ririn itu kalau tidur suka muter muter kayak gangsing. jadi jangan kaget dan mohon di maklumi ya hehe" ucap Vreya terkekeh


Gus Sofyan menatap Ririn sekilas "iya terima kasih infonya" ucap Gus Sofyan


"udah ah mau tidur. kalian jangan lupa minum vitaminnya sebelum tidur ya..good night" ucap Ririn hendak mematikan telfonnya


"eh eh bentar kak" teriak Rere di seberang telfon


"apa lagi Re?" ucap Ririn jengah


"dear kak Sofyan,,jangan lupa buatin ponakan kembar buat Rere ya hehe" ucap Rere kemudian mereka memutus telfonnya sepihak


Ririn berjalan menuju ranjangnya. dia duduk dengan menunduk malu karena perkataan sahabat dan adiknya. dia tak sanggup untuk melihat wajah Gus Sofyan "Ririn nggak kuat lihat wajah ustadz Sofyan, malu banget.. mereka yang buat Ririn malu, mati nanti kalian" ucap Ririn dalam hati dengan tetap menunduk


Gus Sofyan yang mengerti dengan kondisi Ririn, hanya tersenyum maklum dan berjalan menghampiri dan duduk di sebelahnya


"nggak baik mengumpat seperti itu. mereka hanya berniat menghibur" ucap Gus Sofyan mengelus kepala Ririn


"apa ini ya Allah? kok jadi dag dig dug serr gini sih..lebih menegangkan dari pada ujian fisika" ucap Ririn dalam hati


"kenapa masih belum membuka hijab? masih malu sama saya? saya sudah suami kamu loh" sambung Gus Sofyan kemudian membuka hijab Ririn perlahan


terlihatlah rambut Ririn yang sedang diurai. rambut panjang nan indah itu sekarang sudah terpampang jelas di depan mata Gus Sofyan


Gus Sofyan membelai rambut panjang milik Ririn dan mulai menidurkannya secara hati hati.


ditatapnya mata sang istri dengan penuh rasa sayang "bolehkah?" lirihnya


"ya Allah.. apa sekarang sudah waktunya? tolong beri ketenangan untuk Ririn.. bismillahirrahmanirrahim" ucap Ririn dalam hati


Ririn mengangguk perlahan. Gus Sofyan memulai dengan membaca doa. di ciumnya kening Ririn dengan lembut. dan kemudian...


(tak perlu di jelaskan lagi,, author rasa kalian semua sudah paham dengan apa yang akan terjadi selanjutnya wkwkwk)

__ADS_1


__ADS_2