
Vino melangkahkan kakinya menuju ruang rawat, di mana dokter Johan berbaring. ia masuk ke dalam ruangan itu. terlihat dokter Johan yang masih tertidur dengan pulas
tak lama kemudian, dokter Johan pun terbangun karena merasa adanya seseorang di ruangan tersebut selain dirinya
"dokter vino" ucap dokter Johan
"panggil Abang aja. sebentar lagi saya akan jadi Abang kamu" ucap vino dingin
"oh iya bang" ucap dokter Johan tersenyum
"saya mau ngasih kabar" ucap vino
"apa?" ucap dokter Johan menunggu
"jadi gini dok,.." ucap vino terputus
"kalau saya panggil dokter vino Abang, berarti dokter vino jangan panggil saya dokter lagi. kan sebentar lagi saya juga keluarga anda" ucap dokter Johan
"hm" respon vino singkat
"penyakit yang kamu derita, bukan hanya patah atau retak..tapi itu sudah termasuk kerusakan parah" ucap vino
"lalu? kenapa Abang masih menjelaskannya? tinggal operasi saja kan sudah" ucap dokter Johan santai
"nah itu masalahnya. sekarang kamu tinggal pilih.. mau operasi di Indonesia, tapi tingkat keberhasilannya dibawah lima puluh persen..atau mau operasi di Jerman, tapi pernikahan kamu di undur lebih lama?" ucap vino menjelaskan
tampak dokter Johan seperti sedang berfikir. ia bimbang harus menjawab apa, karena ia ingin cepat sembuh dan ingin juga cepat menikah dengan Rere
"abang beri kamu waktu sampai besok. kamu harus tentukan" ucap vino beranjak pergi
"operasi di Jerman bang" ucap dokter Johan saat vino hendak keluar ruangannya
"kamu yakin? pernikahan kamu akan diundur lagi loh, Johan" ucap Vino
"Johan yakin bang. nanti Johan kasih kabar ke Rere..biar dia bisa mengerti" ucap dokter Johan
"aku akan pulang nanti siang. aku akan jemput ayah dan Rere untuk ketemu kamu di sini" ucap Vino yang hanya mendapat anggukan kecil dari dokter Johan
"istirahat kamu sekarang. besok pagi kita berangkat ke Jerman" ucap Vino dingin kemudian pergi meninggalkan dokter Johan sendirian di kamarnya
"secepat itu?" ucap dokter Johan menatap langit langit kamar
"ku pikir kalau hanya jatuh ke jurang cidera atau patah tulang biasa..lah ini kok jadi rusak?" ucap dokter Johan bingung
"ah sudah lah nggak papa..yang penting bisa di Operasi" sambungnya
"tapi gimana reaksi mami papi di Jerman nanti ya, apa mereka akan marah? ah biar lah terserah saja. yang penting bisa sembuh dulu" ucap dokter Johan memejamkan matanya
*******
"eh eh tau nggak?" ucap seorang gadis mulai bergosip
"apaan?" ucap gadis yang lainnya
"katanya si Ririn hamil loh" ucap gadis yang tadi
"ah yang bener..masak iya dah hamil aja sih" ucap gadis satunya
gadis gadis yang sedang bergosip itu adalah Mita CS. dia dengan Arumi yang kini menjadi kawannya, sedang berbelanja di salah satu mall dan sedang membicarakan tentang Ririn
"yang bener ya, kalau ngomong tu di pikir dulu" ucap Arumi
"yang di katakan Mita itu bener loh mbak.. Ririn emang sedang hamil sekarang" ucap Adel
"serius kalian? ih masak mas Sofyan mau hamil dengan wanita murahan seperti Ririn sih..nggak level banget deh" ucap Arumi
"iya itu makanya mbak..gimana kalau kita buat rencana aja" ucap Fitria
"rencana apaan?" ucap Adel
"ya nggak tau..pikir aja rencananya sendiri" ucap Fitria
"nggak usah sok sok an ngasih saran kalau nggak tau jalan keluarnya" ucap Mita kesal
__ADS_1
"yang penting saran ane di dengerin kan hahaha" ucap Fitria yang hanya di respon dengan tatapan tajam dari semua kawannya
"aku punya ide" ucap Arumi
"apa mbak?" ucap Adel dan Mita bersamaan
"apa?" ucap Fitria menyusul
*******
-di rumah kyai Hamdan
setelah selesai sarapan bersama, mereka memulai kegiatan masing masing. Gus Sofyan yang tak ada jadwal mengajar, mengajak Ririn jalan jalan sekitar pondok pesantren
"Erina,,jalan jalan yuk" ucap Gus Sofyan masuk ke dalam kamar mencari istrinya
"sayang?" ucap Gus Sofyan yang tak mendapat jawaban dari Ririn
tak lama kemudian, Ririn keluar dari kamar mandi "eh ustadz. tadi panggil Ririn ya,,ada apa?" ucap Ririn berdiri di samping Gus Sofyan
"mau jalan jalan nggak?" ucap Gus Sofyan menawarkan
"hmm boleh tu..kemana?" ucap Ririn
"ke taman dekat sini aja ya..kasian kamu kan hamil, jadi nggak boleh jauh jauh" ucap Gus Sofyan beranjak dari duduknya
"ya udah ayo" ucap Ririn
mereka berjalan bersama menikmati angin yang berhembus. tujuan mereka adalah taman dekat pesantren. taman itu masih termasuk taman pesantren milik kyai Hamdan
"ustadz tau nggak?" ucap Ririn memulai sambil berjalan kaki
"apa?" ucap Gus Sofyan
"tadi Ririn di goda banyak santri loh" ucap Ririn jujur
"dih sombong" ucap Gus Sofyan singkat
" punya suami! " ucap Gus Sofyan penuh penekanan
"hahahaha emosian" ucap Ririn
"nggak. saya biasa aja" ucap Gus Sofyan gengsi
"dih cemburuan hahaha" tawa Ririn
tak lama saat mereka berbincang, ada dua santri datang menyapa mereka yang sudah duduk di kursi taman "assalamualaikum ustadzah" ucapnya
"waalaikumsalam" ucap Ririn tersenyum ramah
"nggak usah senyum senyum, Erina" bisik Gus Sofyan
Ririn hanya menatap Gus Sofyan sekilas "kalian dari mana?" ucap Ririn kepada santri itu
"dari Indomart, ustadzah.. ustadzah mau kemana, kok nggak sama Ning Izah?" ucap santri tersebut
"kalian kok nggak belajar? nunggu apa? masuk sana" ucap Gus Sofyan sinis
"iya Gus, sebentar lagi. kami sudah izin kok mau keluar sebentar..sekarang mau berbincang dulu dengan ustadzah Ririn" ucap salah satu santri itu
Ririn terkekeh dengan kecemburuan Gus Sofyan "mbak Izah ada di rumah.. istirahat mungkin, kan perutnya sudah besar..jadi nggak boleh banyak jalan" ucap Ririn menjelaskan
"oh jadi ustadzah ini mau kemana? perlu kami temani kah?" ucap santri itu
"tak perlu" ucap Gus Sofyan singkat
"saya kan bertanya kepada ustadzah,,bukan Gus Sofyan" ucap santri tadi
"ih apaan sih ni bocah..ganggu orang pacaran aja deh. saya sama istri saya ke sini itu, untuk berdua..bukan berempat dengan kalian..paham nggak?! awas aja nanti, saya beri kalian hukuman biar jera" kesal Gus Sofyan dalam hati
"saya tak perlu di temani tak apa kok..kalian masuklah..nanti di hukum loh" ucap Ririn halus
"iya ustadzah..eh tapi saya belum mendengar jawaban dari pertanyaan tadi, ustadzah punya kekasih?" ucap santri itu dengan beraninya
__ADS_1
Gus Sofyan merasa kesal dengan pertanyaan yang santri itu lontarkan. dengan cepat ia menjawab pertanyaan yang di khususkan untuk Ririn itu
"saya suaminya" ucap Gus Sofyan dingin menatap kedua santri yang nampak ketakutan itu
"b- benar ustadzah?" ucap santri yang lain tak percaya
"hey.. kamu fikir saya berbohong? dia istri saya. dan saya akan menghukum kamu nanti karena sudah berani beraninya menggoda milik saya" ucap Gus Sofyan dengan tatapan tajamnya
"m-maaf Gus..kami tak tau" ucap santri itu ketakutan
Ririn hanya tersenyum gemas melihat suaminya bertingkah seperti itu. dia merasa bahwa Gus Sofyan sangat menyayanginya saat ini
"masuk sekarang atau saya hukum kalian" ucap Gus Sofyan yang langsung diikuti oleh kedua santri itu
"hahahaha" tawa Ririn meledak melihat ekspresi kedua santri itu.
"apa ketawa?" ucap Gus Sofyan dingin
"haha lucu mereka haha" ucap Ririn terus tertawa
*******
-di rumah sakit kota Malang
malam hari pun tiba. kini Rere dan Reno sedang berada di ruangan dokter Johan. mereka tak menyangka bahwa calon keluarga baru mereka sedang mengalami kesusahan
"jadi kapan kamu mau berangkat?" ucap Reno
"vino sudah memesan tiketnya untuk besok pagi yah" ucap Vino
"kenapa dokter nggak ngomong sama Rere? kenapa berbohong?" ucap Rere tak terima
"iya maaf. saya nggak bisa ngasih tau kabar ini, takutnya kamu khawatir Re" ucap dokter Johan
"jahat banget deh..tapi nggak papa lah yang penting dokter sembuh dulu" ucap Rere menghapus air matanya
"besok pagi berangkatnya kan?" ucap Rere menatap Vino
"iya" ucap vino tersenyum mengelus rambut Rere
"Rere ikut ya bang" ucap Rere
"nggak re..jangan ikut" ucap dokter Johan
"lah kenapa? Rere janji pesan tiket sendiri kok" ucap Rere memaksa
"jangan ikut Re..saya mungkin akan lama" ucap dokter Johan
Rere hanya menunduk sendu "sudah lah nak..nggak papa ya, kita tunggu dokter Johan sampai sembuh dulu" ucap Reno menenangkan
"ya udah" sendu Rere
keesokan harinya..
"ayah, vino berangkat ya..jaga kesehatan ayah dan Rere..jangan khawatirkan kita juga" ucap vino mencium tangan Reno dan mencium kening Rere sekilas
"yakin nggak mau di antar sampai bandara?" ucap Reno
"nggak papa yah..nggak usah" ucap Vino
"ya udah" ucap Reno mengangguk mantap dan tersenyum penuh arti
"cepat sembuh ya dok. jangan PHP in anak saya" ucap Reno yang hanya mendapat kekehan dari dokter Johan
"ya udah kalau begitu, kami berangkat ya yah,, Re,, assalamualaikum" ucap vino kemudian berjalan menuju ambulans dokter Johan
"waalaikumsalam..hati hati bang" ucap Rere yang hanya mendapat anggukan kepala dari vino
setelah ambulans berangkat menuju bandara, Reno menatap anaknya dan memeluknya sekilas "mau pulang sekarang?" ucap Reno
"terserah ayah aja deh" ucap Rere pasrah sembari melangkahkan kakinya menuju rumah sakit
"ayah masih ada urusan di sini..ayah telfon pak sopir aja ya, buat jemput kamu di sini" ucap Reno yang hanya mendapat anggukan dari Rere
__ADS_1