Suami Pilihan Allah

Suami Pilihan Allah
Episode 119


__ADS_3

saat yang lain sedang khawatir dengan kondisi Ririn, berbeda dengan Lia yang berjalan menuju salah satu wanita di tepi sungai air terjun


"heh ular!" ucap Lia mendorong pundak Mita


"apaan sih kamu nggak sopan banget! main dorong dorong aja" ucap Mita tak terima


"jujur aja deh. pasti kamu kan yang dorong Ririn sampai jatuh seperti itu"


"kak udah kak" ucap Rere mengusap lengan Vreya guna meredakan emosi gadis cantik itu


"diam kamu!" semprot Lia kemudian beralih menatap Mita lagi


"kalau sampai terjadi apa apa sama Ririn dan bayinya, nggak segan segan aku akan menjarakan kamu!" ucap Lia membuat Fitria dan Adel bergidik ngeri


"sudah Li..kita turun ke bawah aja ya, kita harus lihat kondisi juga. nggak baik marah marah saat kondisi sedang tak memungkinkan" ucap Muslim menenangkan Lia yang masih penuh dengan emosinya


Lia menatap tajam ke arah Mita, Adel, Fitria, dan Arumi bergantian. ia menuruti omongan Muslim untuk segera turun dan melihat kondisi Ririn.


sementara semua orang menangis dan khawatir, Lia berbalik badan kembali dan menampar pipi Mita geram


"Lia, udah" ucap Muslim memegang lengan atas Lia


"sudah, sayang. kita ke bawah aja ya" ucap Vania sesenggukan


"bagi yang masih mau di sini, silahkan di sini dan jika ada yang ingin ikut kami ke bawah, mari kita ke bawah bersama dengan hati hati" ucap Reno sembari berjalan memimpin jalan mereka


******


"Abah, kok perasaan ummah nggak enak ya..apa terjadi sesuatu sama Sofyan dan yang lainnya?" ucap umi Hamidah resah


"nggak papa mah. itu cuman perasaan ummah aja" ucap kyai Hamdan menenangkan sang istri


"tapi hati ummah merasa kalau ada hal aneh yang terjadi bah" ucap umi Hamidah


"ummah tenang ya, kita telfon Sofyan sekarang" ucap kyai Hamdan kemudian menelfon Gus Sofyan namun tak diangkat


"gimana bah?" ucap umi Hamidah menunggu


kyai Hamdan menggeleng "nggak diangkat mah. kita tunggu sampai mereka pulang saja" ucap kyai Hamdan

__ADS_1


"duuhh..tapi perasaan ummah nggak enak loh bah" ucap umi Hamidah yang mulai meneteskan air matanya


"assalamualaikum" ucap ustadz Haris yang baru saja masuk rumah


"waalaikumsalam. dari mana Ris?" ucap kyai Hamdan


"beli buah bah. Izah yang minta tadi" ucap ustadz Haris menunjukkan kantong plastik yang di pegangnya


"ummah kenapa?" ucap ustadz Haris berjalan ke arah umi Hamidah


"perasaan ummah nggak enak katanya. khawatir tentang perjalanan mereka yang ikut ke tempat wisata air terjun" jelas kyai Hamdan


ustadz Haris mengangguk kecil "nggak coba hubungi Sofyan bah?" ucapnya


"sudah, tapi nggak diangkat tadi" ucap kyai Hamdan


"loh mas Haris..kok masih ada di sini?" ucap Ning Izah keluar membawa Bahar di gendongannya


"ummah kenapa?" ucap Ning Izah saat melihat ibunya sedang menangis


"ummah merasa ada hal aneh yang terjadi hiks" ucap umi Hamidah menangis


"ummah khawatir sama mereka yang pergi ke tempat wisata itu loh Zah" jelas ustadz Haris


Ning Izah duduk di samping umi Hamidah "telfon Sofyan aja mas" ucapnya sembari mengelus pinggang ummahnya


"tadi sudah di telfon, tapi nggak diangkat katanya" ucap ustadz Haris


"oh gimana kalau Haris telfon Muslim aja bah, sepertinya Sofyan ngundang Muslim untuk ikut ke wisata itu juga deh" ucap ustadz Haris kemudian mengambil handphone nya untuk segera menelfon Muslim


*******


mereka telah sampai di bawah. dimana tempat ini adalah pusat air terjun yang turun. mereka semua berada di tempat itu untuk memastikan kondisi Ririn baik baik saja


"gimana Ririn Yan?" ucap Deni saat melihat Gus Sofyan yang baru keluar dari air bersama Ririn


"sepertinya pendarahan om. Sofyan akan bawa Ririn ke rumah sakit dulu. yang lain tolong jangan khawatir dan tetap melanjutkan pestanya, assalamualaikum" ucap Gus Sofyan bangkit dan berlari kecil ke arah mobil dengan Ririn di gendongannya


"hati hati Yan!" teriak Angga

__ADS_1


"sayang, kamu bertahan ya..masih kuat kan?" ucap Gus Sofyan mendudukkan Ririn di samping kursi kemudi.


dengan segera Gus Sofyan melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. dan saat sampai di rumah sakit itu, Ririn segera di tangan oleh pihak medis yang bertugas


Di tempat lain, terdapat Muslim yang sedang menerima telfon dari ustadz Haris


"assalamualaikum mas. ada apa?" ucap Muslim memulai


"waalaikumsalam, tolong kasih telfonnya ke Sofyan dong. di sana lagi baik baik aja kan" ucap ustadz Haris


terserah tarikan nafas dari Muslim "sebenarnya tadi ada sedikit masalah mas" ucap Muslim


"masalah apa Lim? mereka nggak papa kan?" ucap umi Hamidah khawatir


"istri Sofyan tadi jatuh dari atas air terjun. kalau ummah dan keluarga yang ada di sana tanya tentang keadaannya, jujur sih kami juga belum tau jelas" ucap Muslim


"namun Sofyan dengan sigap segera membawa istrinya ke rumah sakit terdekat sini bah, mah" sambungnya


"astaghfirullah..bagaimana dengan Ririn bah" terdengar umi Hamidah yang sedang menangis di seberang sana


"ummah dan yang ada di sana tak perlu khawatir, karena Muslim yakin kalau dokter sudah menangani Ririn dengan baik di rumah sakit" ucap Muslim menangkan umi Hamidah yang terdengar menangis


"ya udah kalau gitu mas tutup ya Lim, assalamualaikum" ucap ustadz Haris


"waalaikumsalam mas" ucap Muslim kemudian menutup sambungan telfonnya


"mas, Daddy menyarankan kita untuk segera pulang" ucap Lia datang ke arah Muslim yang memang berada sedikit jauh dari perkumpulan mereka


"oh ya sudah kalau gitu, kita pulang" ucap Muslim


kemudian mereka pulang, muslim ikut dalam mobil Vreya dan melajukannya ke arah rumah sakit yang alamatnya sudah di kirim oleh Gus Sofyan. namun sebelum mereka pergi, Lia memerintahkan supir bis yang membawa santri dan santriwati untuk segera kembali ke pesantren


*******


Seorang dokter keluar dari ruang UGD. Gus Sofyan segera berdiri dan menghampiri dokter tersebut.


"bagaimana keadaan istri dan anak saya dok?" ucap Gus Sofyan


dokter tersebut nampak menunjukkan senyum kecutnya "bisakah kita bicara di ruangan saya saja pak?" ucapnya kemudian mendapat anggukan dari Gus Sofyan

__ADS_1


__ADS_2