
Di pagi yang cerah ini, Gus Sofyan terbangun dari tidurnya. ia melihat Ririn yang tengah berdiri di depan lemari pakaiannya, seperti orang yang sedang memilih
Gus Sofyan bangkit dan memeluk Ririn dari belakang "ngapain pagi pagi udah sibuk?" ucapnya lembut
Ririn tersenyum tipis sembari mengelus tangan besar Gus Sofyan yang berada diperutnya "milih kemeja yang bagus buat Abi" lirihnya hampir tak terdengar
"ah gitu ya udah lanjutin aja. Abi mandi dulu ya" ucap Gus Sofyan yang diangguki Ririn
Gus Sofyan berjalan menuju kamar mandi yang berada di kamar mereka. dengan cepat Ririn memilih kemeja suaminya dan segera turun untuk memasak
tak lama Ririn turun, disusul oleh Gus Sofyan yang sudah rapih dengan kemeja yang disiapkan Ririn
"ayo makan" ucap Ririn lembut
Gus Sofyan tersenyum manis "iya..selamat makan sayang" ucapnya
Gus Sofyan bersyukur karena sudah ada perubahan dari diri Ririn semenjak malam itu. walaupun tak terlalu banyak, setidaknya Ririn sudah mau berbicara dan tersenyum tipis
"syukurlah,, akhirnya usahaku selama ini tak sia sia juga" lirih Gus Sofyan dalam hati sembari tersenyum manis menatap Ririn yang sedang makan didepannya itu
tak lama setelah makan, Gus Sofyan berdiri hendak pergi ke kantor "eh iya yang..ini abi lupa pasangnya gimana. kamu bisa pasangin nggak?" ucapnya sembari memperlihatkan dasi yang ada ditangannya
Ririn bergerak maju ke arah Gus Sofyan "bisa" lirihnya pelan kemudian langsung memasangkan dasi itu di leher Gus Sofyan dengan rapi
"makasih" ucap Gus Sofyan mencium pipi Ririn setelah melihat hasil dasi yang dibuat Ririn dilehernya itu
"ya udah Abi berangkat ya.. assalamualaikum" ucap Gus Sofyan hendak berjalan keluar, namun tangannya ditahan oleh Ririn
dengan cepat Ririn mencium punggung tangan Gus Sofyan seperti dulu, saat pertama kali mereka menikah. Gus Sofyan tersenyum dan bergerak mencium kening Ririn lembut
"iya waalaikumsalam" ucap Ririn pelan
Gus Sofyan mengangguk dan berjalan ke arah mobil untuk segera berangkat ke kantornya.
__ADS_1
"semoga terus sampai sembuh ya sayang..aku kangen Erina yang dulu" ucapnya dalam hati
*******
"telfon nggak ya?" lirih seorang lelaki yang tengah mondar mandir penuh kebingungan
"kalau aku telfon, kira kira ganggu nggak ya?" ucapnya lagi
lelaki bermarga Fahriza itu kini tengah gelisah di dalam kamarnya. ia ingin sekali meminta maaf karena kejadian yang kemarin kepada wanita yang memberinya nomor telefon itu
"tapi kalau telfon, takutnya dikira aku suka dia lagi" ucapnya lagi
"kalau nggak ditelfon, aku ngerasa bersalah banget udah ngomong kasar sama dia kemarin" sambungnya
"ah bodo amat lah. telfon aja" ucapnya kemudian segera menelfon nomor yang sebelumnya sudah terdaftar di handphone nya itu
"Hello, I'm a psychologist Adaline Agnesia, can I help you? (hallo, saya psikolog Adaline Agnesia, ada yang bisa saya bantu?)" ucapnya diseberang
"ah ternyata dia psikolog" ucapnya dalam hati
"Sorry, can you clarify, do I know you? (maaf, bisa diperjelas saja, apa saya mengenal anda?)" ucap Alin selanjutnya
Vino menarik nafasnya "saya Vino, cowok yang ada di kantin kampus kemarin" ucap Vino berusaha netral
"oh iya sepertinya aku mengenalmu. ada apa?" tanya Alin to the poin
"sa-saya hanya mau minta maaf karena sudah ngomong kasar kemarin" ucap Vino gugup
terdengar tarikan nafas panjang diseberang sana "aku tunggu kamu di kantin kampus" ucap Alin kemudian menutup telfonnya sepihak
"hah?! apa apaan nih? kan niatku baik, mau minta maaf..apa dia mau gebukin aku karena balas dendam ya, dan apa karena itu juga dia nyuruh aku ke kantin kampus yang kemarin?" ucap Vino berprasangka
"ah terserah lah. pokoknya niatku mah baik" ucapnya bergerak mengambil kunci mobil dan segera menuju ke kantin kampus
__ADS_1
*******
"nomor 362 ada kunjungan" ucap seorang polisi wanita dengan suara bulatnya
orang yang dipanggil pun segera bangkit dan berjalan keluar sel
"mbak Arumiii..lama nggak ketemu deh jadi kangen" ucap Fitria
"kangen apaan sih nggak usah alay..mending cepet bebasin aku sama Mita disini" ucap Arumi memutar bola matanya
"iya mbak..sabar dulu yaa..pengacara masih cari cara yang baik untuk membela mbak Arumi dan Mita, karena kasus kalian bisa dibilang nggak gampang loh" ucap Adelia
Fitria mengangguk "ya udah terserah kalian lah. yang penting bisa bebas. kapan kira kira?" ucap Arumi
"kalau bisa, besok mbak sudah bebas kok..yang sabar dikit lagi ya" ucap Fitria
"udah sabar dari dulu. udah tiga bulan kalian ngomong sabar tapi aku belum bisa keluar. pengacara kalian lelet banget!" bentak Arumi
"ada kabar apa di luar?" tanya Arumi kemudian
Fitria dan Adelia mendekatkan jarak mereka "si Ririn gila loh mbak..dia depresi berat karena kehilangan dua anaknya" ucap Fitria
"hah? bener? waahh..nggak sia sia dong aku masuk penjara gini" ucap Arumi tersenyum miring
"hahahaa iya lah mbak" ucap Adelia tertawa
Arumi memandang Adelia tak suka "cepat bebasin aku, dan aku akan balas dendam sampai mas Sofyan jadi milik aku!!" bentak Arumi
"iya mbak iyaa" ucap mereka kompak
"terus kabar yang lainnya gimana?" ucap Arumi lagi
"362! waktu kunjungan telah habis! silahkan masuk ke sel kembali" ucap polisi wanita yang tadi menjemput Arumi
__ADS_1
Arumi mendengus "hufh! kalian sih kelamaan ceritanya! ya udah aku tunggu janji kalian! besok aku bebas!" ucap Arumi yang diangguki oleh keduanya kemudian Arumi melenggang pergi dari hadapan Fitria dan Adelia
"hahaha awas aja kamu, Ririn..aku akan buat kamu lebih sakit dari pada ini. makanya nggak usah sok sok an ngambil milik Arumi" ucapnya dalam hati sembari tersenyum miring