Suami Pilihan Allah

Suami Pilihan Allah
Episode 73


__ADS_3

Ririn telah sampai di Bandar Udara Internasional Juanda,, Surabaya. Ia menelfon Vino namun tak kunjung diangkat. Ririn berinisiatif untuk menelfon Lia..namun terhenti karena ada sebuah mobil yang menghampirinya


"kak Ririn kan?" ucap seorang gadis yang duduk di kursi kemudi


"eh Afiz..iya ini aku. dah lama banget ya nggak ketemunya" ucap Ririn


"ihi iya mbak..mau aku antar nggak?" ucap Afiz menawarkan tumpangan


"terima nggak ya..kalau aku nggak Nerima,,pasti cari taksinya lama banget..sedangkan aku butuh cepat untuk mengetahui keadaan keluarga. ya udah lah terima aja" ucap Ririn dalam hati


"kak? kok bengong sih? gimana!" ucap Afiz


"ah iya iya kakak ikut ya..makasih" ucap Ririn sembari memasukkan koper ke dalam bagasi mobil


di dalam mobil cukup hening,,hingga akhirnya Afiz membuka pembicaraan "kakak kok pulangnya cepet? bukannya kalau kuliah itu empat tahun yah?" ucap Afiz


"oh kakak kejar deadline biar cepat selesai kuliahnya. jadi bisa selesai dalam waktu hanya tiga tahun" ucap Ririn


"eh iya..kok kamu bisa ada di Surabaya?" ucap Ririn


"teman aku baru pulang dari Kanada. dia minta aku yang jemput dia di bandara sini,,tapi nyatanya dia dah di jemput cowoknya duluan" ucap Afiz


"ohh" ucap Ririn mengangguk kecil


"hmm kabar keluarga gimana?" sambung Ririn


"keluarga siapa nih? keluarga Afiz atau keluarga Abah Hamdan?" ucap Afiz menahan tawa


"emm semua keluarga lah" ucap Ririn


"haha..kalau keluarga Afiz sih Alhamdulillah sehat sehat saja. keluarga Abah Hamdan juga sehat sehat saja" ucap Afiz


"eh ini kita mau ke mana kak?" sambung Afiz


saat Ririn hendak menjawab pertanyaan Afiz,, handphone Afiz berbunyi pertanda ada telfon masuk.


"maaf ya kak" ucap Afiz


"eh kok kak Sofyan" sambungnya kemudian mengangkat telfonnya


"hallo assalamualaikum kak. ada apa?" ucap Afiz


"waalaikumsalam. kamu ada di Surabaya kan? sekarang kamu segera ke rumah sakit ya" ucap Gus Sofyan di seberang


"kenapa harus Afiz? memangnya ada apa?" ucap Afiz


"kamu tau kembarannya Erina kan? tadi abah dengar kabar dari om Reno,,kalau kembaran Erina itu sekarang sedang ada di rumah sakit" ucap Gus Sofyan


"what! beneran nih,,plis dah jangan boong lagi kak" ucap Afiz


"ihh nggak boong Fiz..kamu langsung ke sana aja ya. kakak dan yg lainnya sudah on the way kok" ucap Gus Sofyan


"oh iya iya oke. assalamualaikum" ucap Afiz


"hati hati waalaikumsalam" ucap Gus Sofyan kemudian mematikan telfonnya


"ada apa Fiz?" ucap Ririn yang penasaran dengan obrolan mereka


"kakak sebentar lagi tau sendiri kok. berdoa aja ya" ucap Afiz kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan lebih besar supaya lebih cepat sampai di rumah sakit.


*******


"kondisinya menurun dok" ucap dokter anestesi di depan monitor jantung


"siapkan lebih banyak darah dan jantungnya segera. kita harus segera melaksanakan tranplantasi jantung" ucap dokter Riko


"baik dok" ucap perawat itu kemudian mengambil beberapa kantong darah dan jantung yang berada di dalam kotak es

__ADS_1


"apa semua sudah siap?" ucap Vino yang diangguki oleh semua perawat dan dokter yang ada di dalam ruangan tersebut


"ambilkan jantung yang di dinginkan" ucap vino


seorang perawat dengan hati hati mengangkat sebuah jantung untuk melakukan tranplantasi terhadap tubuh Rere.


setelah jantung itu sudah berada di tangan Vino,,dia segera mengganti jantung Rere dengan jantung yang ada di tangannya itu


"tak ada reaksi dok" ucap dokter Riko setelah melihat jantung baru yang ada di tubuh Rere tak berdetak


"50 Joule" ucap vino kepada dokter anestesi


"sudah dok" ucap dokter anestesi di depan monitor


"sekarang!" ucap Vino


"tetap tak bereaksi dok" ucap dokter Riko


"60 Joule..sekarang!" ucap vino yang terus berusaha


"dokter.." ucap dokter Riko menoleh kearah Vino


"tetap fokus!" ucap vino yang sudah mulai berkeringat


"70 Joule" ucap Vino


"70 Joule terlalu tinggi dok..sangat beresiko untuk pasien" ucap dokter Riko


"70 Joule!" ucap vino membentak


"60 Joule" ucap dokter Riko membantah


"60 Joule dok" ucap dokter anestesi


"sekarang!" ucap dokter Riko


"makanya kalau saya bilang 70 ya 70! 70 Joule! sekarang!" ucap Vino marah namun tetap tak ada reaksi


"sekali lagi 70 Joule" ucap vino


"sekarang!" ucap vino dengan suara sedikit tinggi namun tetap tak ada reaksi dari jantung baru itu


vino membuang benda yang ada di tangannya karena sudah tak berguna. ia tak menggunakan satu alat pun melainkan menggunakan tangannya sendiri untuk membuat jantung baru itu bisa berdetak kembali.


"70 Joule" ucapnya mulai lelah


"sudah dok" ucap dokter anestesi


"sekarang" ucap vino dan kemudian ia membuat jantung itu terkejut dengan sedikit dorongan, namun tak ada hasil dan jantung baru itu tak mau berdetak


"angkat tangan kalian semua! jangan ada tangan yang menyentuh pasien!" ucap dokter Riko


"kenapa ini dok? ada apa? kenapa mereka tak boleh menyentuh pasien?" ucap Vino


"sudah cukup dok. pasien tak dapat kami selamatkan. jangan menyentuhnya lagi dan segeralah ganti sarung tangan anda" ucap dokter Riko


"tidak. saya sendiri yang melakukan operasi ini. saya tak ingin adik saya gagal dalam operasi saya" ucap vino mulai mengeluarkan air mata


"sudah dokter Vino. inilah kenyataannya" ucap dokter Riko


"ganti semua sarung tangan kalian!" sambungnya


"baik dok" ucap semua perawat dan dokter yang ada di ruangan tersebut


setelah semua dokter sudah mengganti sarung tangan mereka dengan yang baru,,mereka mulai menutup tubuh Rere dengan jahitan dan mengembalikan jantungnya kepada tempat semula.


setelah selesai menjahit kembali tubuh Rere,,para dokter dan suster yang ada di ruangan tersebut keluar dan menemui keluarga pasien

__ADS_1


*******


saat operasi sedang berlangsung,,sudah banyak orang di depan ruang operasi. terdapat keluarga sahabat sahabat Reno dan kyai Hamdan yang setia menanti lampu merah berubah menjadi hijau


semua orang berdiri saat melihat pasien dan para dokter keluar dari ruangan operasi


"bagaimana dok? Vin? operasinya berhasil kan?" ucap Reno menatap vino penuh harap


"gimana bang? berhasil kah?" ucap Lia


vino menyandarkan tubuhnya ke tembok dan mulai menyadari bahwa operasi yang ia jalankan ternyata gagal.


"dokter?" ucap Lia kepada dokter Riko


dokter Riko tersenyum simpul "maafkan kami pak. kami sudah melakukannya sebaik mungkin" ucap dokter Riko menundukkan kepalanya


"maafkan?" ucap Ririn dari kejauhan


"maksudnya apa dok? maafkan apa ini?" ucap Ririn menahan air matanya dan berjalan mendekat ke arah sekumpulan orang orang itu


"Ririn?" ucap semua orang serentak


"kapan kamu datang nak?" ucap Reno


"Ririn baru saja pulang dan mendapat permintaan maaf ini. maksudnya apa yah?" ucap Ririn yang masih menahan air matanya dan berusaha berfikir positif


"kenapa kalian nggak ada yang jawab? dimana Abang?" ucap Ririn mencari abangnya


Ririn menghampiri vino yang sedang menangis dan terduduk di lantai "Abang kenapa nangis? Ririn datang nih loh" ucap Ririn tersenyum


"Ririn..Abang minta maaf hiks" ucap vino memeluk Ririn


"kenapa Abang minta maaf? kan Abang nggak salah" ucap Ririn


"maafkan saya. saya atas nama para dokter jantung,, turut berdukacita atas kejadian ini. dan saya juga akan berdoa supaya keluarga pasien dapat kelapangan hati" ucap dokter Riko kemudian berjalan menuju Vino


"saya turut berdukacita dok. Anda pasti sangat terpukul dengan kejadian ini. Anda sudah bekerja keras dok. terima kasih atas kerjasamanya. saya permisi" ucap dokter Riko kemudian pergi menuju ruangannya


"apa? berdukacita apa ini maksudnya bang? ayah? ada apa ini? kenapa kalian menangis? siapa yang berduka? siapa?" ucap Ririn meneteskan air matanya


"siapa!!" sambungnya berteriak


"maafin Abang Rin" ucap vino memeluk Ririn


Ririn melepas pelukan vino dan berdiri menghadap Lia dan Vreya


"siapa Li? siapa?" ucapnya memegang bahu Lia


"Vre..siapa yang berduka? ada apa ini?" ucap Ririn menghapus air matanya kasar


"siapa yang berduka hiks hiks..siapa ayah? siapa?" ucap Ririn kepada Reno


"sayang..semua makhluk hidup akan kembali pada asalnya nak. ikhlaskan Rere ya sayang" ucap Reno mengelus pucuk kepala Ririn


"haha nggak mungkin dong. mana ada Rere meninggal" ucap Ririn tertawa samar dan berjalan menuju Vino


"nggak mungkin kan bang. mereka bohong kan?Abang jawab jujur sama Ririn. nggak mungkin Rere meninggal kan?" ucap Ririn menahan air matanya dan mencoba tetap tertawa


vino menggeleng kecil "mereka benar Rin..Rere sudah pergi mendahului kitaa hiks hiks" ucap vino


"ih nggak lah bang nggak mungkin. eh iya kalian tau nggak? Ririn bawa oleh oleh loh untuk kalian. untuk ayah ada..untuk papa dan mommy juga ada..bahkan untuk Abang dan Rere juga ada tuh di dalam koper..hayuk ambil oleh olehnya" ucap Ririn berdiri dan hendak berjalan menuju luar rumah sakit namun di hentikan oleh Angga


"sudah ya nak. biarin Rere tenang di sana. dia juga bahagia kok kamu datang tepat di hari ia pergi' ucap Angga


"apaan sih pa..Rere kan masih di rumah..dia masih liat drakor loh di kamarnya. meninggal apaan sih haha lucu ya" ucap Ririn tertawa


"sadar Rin! Rere udah nggak ada! kamu harus bisa ikhlas Nerima ini semua! kami tau kalau kamu sedih. tapi kamu nggak boleh kayak gini terus! sampai kapan kamu nggak bisa ikhlas gini hah! Rere itu udah nggak ada!" ucap Vreya dengan suara tinggi

__ADS_1


Ririn tersadar dan ia terdiam sejenak untuk mencerna perkataan Vreya. ia menyadari bahwa ia telah kehilangan saudari kembarnya itu.


__ADS_2