Suami Pilihan Allah

Suami Pilihan Allah
Episode 162


__ADS_3

Keesokan paginya, Gus Sofyan keluar kamar dan duduk di meja makan bersama dengan keluarganya. tak ada kata yang keluar dari Gus Sofyan, hingga kyai Hamdan tak tahan dan segera membuka pembicaraan di meja makan itu


"Yan, istri kamu gak ikut makan?" tanya kyai Hamdan, memang benar mereka semua masih tak tau jika menantunya pergi dari rumah itu


Gus Sofyan menghela nafasnya berat "Ririn pulang bah" ucapnya


"hah? pulang gimana maksudnya?" tanya Ning Izah


"semalem Sofyan dapet pesan dari bang Vino, katanya Ririn minta jemput dan pulangnya tanpa sepengetahuan Sofyan" ucap Gus Sofyan


"memangnya itu bener Yan?" tanya umi Hamidah


Gus Sofyan menggeleng pasti "Sofyan gak pernah melakukan hal itu ummah, Sofyan kenal cewek juga gak banyak dan itupun Sofyan pasti tau batasan" jawabnya


"iya tapi kalau itu memang gak bener, dalam motif apa Arumi kemari dengan kabar seperti itu, kenapa dia bisa Setega itu kepada keluarga kita" ucap umi Hamidah sembari mengaduk makanannya


Ning Izah menoleh ke arah umi Hamidah "kayak ummah gak tau Arumi aja, dia kan dari dulu udah tergila gila sama Sofyan, ya pasti karena dia mau rebut Sofyan dari Ririn lah ummah" ucapnya kesal


"sudah sudah, gak baik ribut di depan makanan..lebih baiknya kita bahas dan selesaikan masalah ini setelah makan"


setelah makan, mereka kembali ke aktifitas masing masing. umi Hamidah dan kyai Hamdan mengajar di pesantren, ustadz Haris bekeja dan Ning Izah mengurus Bahar. namun berbeda dengan Gus Sofyan, ia hanya berdiam diri di kamarnya. ia menatap kosong ke arah jendela yang menampakkan kebun di samping rumah itu.

__ADS_1


"kenapa sih Rin kamu gak bisa tunggu Abi dulu? bukan Abi yang menghamili Arumi Rin" lirih Gus Sofyan dengan tatapan kosongnya


"gimana caranya dalam satu Minggu menemukan bukti bahwa dia bukan anak aku?" ucapnya menunduk sembari berfikir


tak lama setelah memejamkan matanya, Gus Sofyan berlari mengambil kunci mobil dan segera menemui Ning Izah dikamarnya "mbak, tolong bilangkan ke ummah sama Abah, Sofyan mau mencari bukti dan menyelesaikan ini semua. doa kan Sofyan ya mbak, assalamualaikum" ucapnya kemudian segera berlari menuru mobilnya


*******


-satu Minggu kemudian


kini Ririn telah berada di rumah utama, semua keluarga Fahriza sudah mengetahui tentang masalah ini dan sekarang mereka pun ada di ruang tamu. jam dinding menunjukkan pukul 20.00


suasana rumah sangat mencekam dan menyeramkan, karena dirumah tersebut juga ada Arumi dan ibunya. mereka sedang berkumpul untuk menunggu hasil yang Gus Sofyan janjikan seminggu yang lalu.


"mana sih mas Sofyan kok lama sekali? apa dia masih belum menemukan bukti kalau ini bukan anak kandungnya?" ucapnya sembari mengelus perut yang sedikit buncit itu


"kita tunggu saja" ucap Ririn singkat dengan sekuat tenaga menahan air matanya


"apa yang harus kita tunggu? kegagalan suami kamu?" ucap Arumi menatap Ririn


Ririn hanya terdiam dan tak berucap lagi, namun berbeda dengan Rere. bumil satu ini sangat agresif dalam hari hari terakhir, mungkin efek kehamilannya "ya kita tunggu kehancuran kamu lah, Rere yakin kak Sofyan pasti menemukan bukti yang kuat bahwa bayi yang ada di kandungan kamu itu bukan anaknya kak Sofyan"

__ADS_1


"pasti anak lelaki lain, tapi kamu bilangnya anak kak Sofyan karena kamu mau rebut kak Sofyan dari kak Ririn. kan kamu sasimo, sana sini mao" sambungnya dengan menatap sinis kearah Arumi


Reno, dokter johan dan Vino sedari tadi tak berkomentar, sedangkan Alin dan Rere menenangkan Ririn supaya tak menangis terlebih dahulu.


"mana sih kak Sofyan kok lama bangett" ucap kesal Rere


"sabar sayang, masih di jalan pasti" ucap dokter Johan menenangkan istrinya


tak berselang lama, pintu pun terbuka "assalamualaikum" ucap Gus Sofyan datang bersama Muslim, sahabatnya sekaligus istri dari Lia


"waalaikumsalam, kenapa lama banget Yan?" tanya Reno


"iya yah maaf"


"maaf ya sayang, jadi buat kamu nunggu lama" sambungnya menoleh ke arah Ririn


"gimana mas? kamu sudah menemukan bukti? pasti tidak kan? aku sudah duga sih haha" ucap Arumi terlihat bahagia


"ya gimana mau menemukan bukti sayang, kan dia memang ayah dari anak yang kamu kandung ini" ucap ibu Arumi dengan mengelus perut buncit anaknya


"maaf, kalian salah. semua yang kalian butuhkan ada di amplop coklat ini" ucap Gus Sofyan dengan sedikit membanting amplop itu di meja ruang tamu

__ADS_1


Ririn nampak bingung, apa benar suaminya berhasil menemukan semua bukti yang selama ini membuatnya marah dan tak mau menemui suaminya itu? apa benar bahwa suaminya bukanlah ayah dari anak yang dikandung Arumi? semoga saja, pikirnya


Arumi dan ibunya terlihat panik namun masih bisa tenang, perlahan ia membuka amplop coklat yang berada di meja didepannya itu. setelah membuka isinya dan mengetahui apa yang ada di dalam amplop tersebut, Arumi sangat terkejut hingga amplop itu jatuh dan berserakan di lantai. bagaimana bisa Gus Sofyan menemukannya? pikirnya


__ADS_2