Suami Pilihan Allah

Suami Pilihan Allah
Episode 157


__ADS_3

Tak berselang lama, helikopter milik Fahriza mendarat tepat di depan villa mereka.


"helikopternya udah sampe yah," ucap Gus Sofyan memberi tahukan


"ya udah kalau gitu kita berangkat dulu ya" ucap Angga yang diangguki oleh semuanya


"hati hati yah" ucap Alin


"kalian hati hati ya, jangan lupa tidur dan makan" ucap Rere


"good bye kakek kakek dari anakkuu" ucap Vreya melambaikan tangannya


Deni, Angga, dan Reno terkekeh "iya, kalian jaga kesehatan ya" ucap Reno yang diangguki oleh semuanya


"Yan, Lim, jaga calon cucu ayah ya" sambung Reno kepada muslim dan Gus Sofyan


muslim dan Gus Sofyan mengangguk kompak "iya yah" ucapnya hampir bersamaan


"Aera dan Bahar jangan nakal ya, nanti grandpa pulang dari new Zealand bawa mainan yang banyak untuk kalian. oke?" tanya Angga mengelus kedua pipi balita gemas itu


"otee!" teriak kompak Bahar dan Aera dengan jari membentuk O yang membuat semuanya gemas dengan tingkah kedua bocil ini


"ya udah kami berangkat ya..bye" ucap Reno dan mereka pun melambaikan tangannya


"hati hati ayah! safe flight.." ucap Ririn melambaikan tangan dengan yang lainnya


Rere menghela nafasnya panjang "akhirnya mereka berangkat juga" lirihnya


"kalian ikut pulang bareng kami?" tanya dokter Johan menatap mereka satu persatu


"mommy sama mama ikut Rere aja ya?" ucap Rere memohon


"gak bisa sayang, mommy kan bawa mobilnya Daddy pulang" ucap Syakira


Vania mengangguk 'iya bener tuh, mama juga bawa mobilnya papa balik.. kalian bawa mobil sendiri sendiri kan" ucap Vania yang diangguki semuanya


"nanti mobilnya ayah Rere gimana?" tanya Rere menatap semuanya bingung

__ADS_1


"mobilnya kan bisa dibawa supir nanti sayang" ucap dokter Johan memeluk istrinya dari samping


"eh gimana kalau kakak aja yang bawa mobilnya. kak Sofyan kan juga bawa mobil" ucap Rere memberi saran


"oh Mon maap ni ye, ane mau ke rumah laki ane haha" tawa Ririn setelah melihat wajah kesal Rere


"mbak Izah ikut kita juga kan?" tanya Ririn menatap Ning Izah


"kita gak ikut kalian, kita masih mau ke rumah uminya mas Haris. nanti kita nyusul kok" ucap Ning Izah lembut yang membuat Ririn dan Gus Sofyan mengangguk paham


"lah ya udah kalau gitu biar mas Haris bawa mobil ayah aja, kan lumayan dari pada naik taksi dari sini ke Padang kan jauh" usul Ririn yang disetujui oleh semuanya


"eh eh jangan, nggak papa kita pesen taksi aja. ya kan mas?" tanya Ning Izah beralih menatap suaminya


"gak papa mbak, dibawa aja ya. lagian kasian kalau supir dari rumah ke sini cuma mau jemput mobil. mobilnya mbak Izah juga ada di rumah utama kan, jadi ya gapapa lah kita barter mobil aja dulu" ucap Ririn santai


karena terus terusan di paksa, akhirnya Ning Izah mengiyakan usulan Ririn untuk membawa mobil ayahnya menuju rumah mertuanya itu.


"ya udah kalau gitu kita pulang yuk, semua barang udah ada di bagasi mobil masing masing kan? yuk capcuuss!" teriak Syakira, si Mak Mak rempong


semua orang tertawa "bukan mak nya Vreya" ucap Vreya memutar bola matanya malas yang anehnya membuat tawa semua orang lagi lagi pecah


"ngapain? kamu ngidam?" tanya Gus Sofyan menatap Ririn selidik


Ririn berdecak kesal "iishh! bukaann!" ucapnya mengerutkan keningnya


Gus Sofyan tertawa "iya terus mau ngapain sayangku?" tanyanya lagi dengan gemas


"ngemis!" ngegas Ririn yang makin membuat Gus Sofyan tertawa terbahak bahak


"ya belanja lah bi! ya kali ke rumah mertua dengan tangan kosong" ucap Ririn memutar bola matanya


lagi lagi Gus Sofyan tertawa "gapapa yang penting perutnya gak kosong kan" ucap Gus Sofyan terkekeh diujung kalimatnya sembari mengelus perut rata Ririn sekejap


"dih apaan cobak" ucap Ririn pura pura masih kesal, padahal dalam hatinya ingin tersenyum


"iya sayang iya, nanti kita belikan susunya Bahar juga ya" ucap Gus Sofyan yang diangguki oleh Ririn

__ADS_1


"Aya da dibeliin" lirih seseorang dari kursi belakang


Ririn menoleh ke arah belakang "lah anak mommy udah bangun ternyata..sini sayang" ucapnya menggendong putri kecilnya supaya duduk di pangkuannya


"Aya mau beli susu?" tanya Ririn


Aera hanya mengangguk sembari mengerjapkan matanya. hal itu membuat Ririn dan suaminya gemas dengan bocah cantik itu


"eemm, kalau gitu minta sama Abi" ucap Ririn memerintah


Aera menoleh ke arah abinya "Abi, Aya au cucu" ucapnya


"tapi Abi gak punya uang. gimana deh?" tanya Gus Sofyan sesekali menatap putrinya itu


Aera terdiam seperti mencerna ucapan abinya. tak lama kemudian, ia menatap Ririn lagi "api abi da unya uang. dinana deh? (tapi Abi gak punya uang, gimana deh?)" ucap Aera mengulang perkataan abinya dengan mengerjap ngerjapkan matanya


Ririn dan Gus Sofyan tertawa "terus kalau gak punya uang, berarti gak bisa beli susunya Aera" ucap Ririn menjelaskan


"holeee!! belalti da bisa beli cucuna Bahal judaa" ucapnya senang


lagi lagi hal itu membuat kedua orang tuanya gemas "gak boleh gitu sayang, nanti beli susunya bang Bahar ya?" ucap Gus Sofyan mengelus kepala putrinya


"Aya pon au cucu" ucapnya menatap Gus Sofyan


"iya, nanti mommy belikan buat Aera juga yaa" ucap mommynya berhasil membuat Aera tertawa bahagia


tak lama kemudian, Aera kembali terdiam dan menatap abinya yang menyetir, karena posisinya ia sekarang tengah menghadap miring kepada abinya.


"Ami," lirihnya tetap melirik Gus Sofyan


"iya sayang? kenapa? hm?" tanya Ririn mengelus rambut panjang Aera


"nidam tu apa?" tanyanya mendongak menatap mommynya


"Aera tau dari mana sayang?" tanya mommy nya lembut


"Aya denel Abi ma Ami nomon nidam (Aera denger Abi sama mommy ngomong ngidam)" ucapnya lugu

__ADS_1


lagi lagi kedua orang tuanya terkekeh gemas "ngidam itu, keinginan sayang" ucap Ririn menjelaskan


"belalti Aya nidam cucu ya mi?" tanyanya mendongak kembali menatap mommy nya


__ADS_2