
Gus Sofyan melirik jam yang melekat di tangannya telah menunjukkan pukul 13.00 WIB. Ia bangkit dari duduknya dan kemudian mendekati Ririn yang masih terlelap dalam mimpi indahnya.
Gus Sofyan jongkok di depan wajah Ririn "tidur saja kamu cantik" ucapnya dalam hati dengan membelai hijab yang masih melekat di kepalanya
karena terlalu lelah, Ririn tidur tetap menggunakan hijab dan pakaian yang dikenakannya tadi pagi saat akad nikah. ia tak sempat melepas riasan yang ada di wajahnya juga.
Gus Sofyan memandangi wajah teduh istrinya disertai dengan senyum indah yang terpancar seperti panasnya mentari siang hari itu.
"Non--" ucap seseorang masuk dengan tanpa mengetuk pintu
"oh maaf maaf tuan maaf" ucapnya wanita itu berbalik badan membelakangi Gus Sofyan dan Ririn.
"sa-saya tak sengaja tuan. saya da-dapat perintah u-untuk langsung ma-masuk ruangan ini. ma-maafkan saya tuan" ucap wanita itu gugup dengan posisi tetap membelakangi Gus Sofyan dan Ririn
Gus Sofyan terkejut karena kedatangan wanita itu. "duh..ngomong apa nih..dia tau nggak ya kalau tadi aku nyentuh kepala Erina..sabar Sofyan sabar. pasrahkan semuanya sama Allah" ucapnya dalam hati
Gus Sofyan berdiri dari duduknya "nggak papa mbak. lain kali jika mau masuk ke ruangan orang, ketok atau ucap salam dulu ya mbak" ucap Gus Sofyan tersenyum miris
"iya tuan saya minta maaf. tolong jangan laporkan saya tuan" ucap perias itu
Gus Sofyan menggeleng kecil dan tersenyum tipis "mbak ini datang untuk merias istri saya kan? dia masih tertidur, jadi tunggu dia bangun saja ya" ucapnya lagi
"saya tak tega untuk membangunkannya" sambungnya kemudian beralih menatap wajah Ririn yang masih tertidur pulas
"baiklah tuan. jika begitu, saya pamit keluar terlebih dahulu" ucap wanita itu
"siapkan peralatan make-up nya di sini saja mbak. supaya nanti jika Erina bangun, bisa lebih cepat selesai" ucap Gus Sofyan
"oh baiklah tuan" ucap perias itu kemudian berjalan menuju meja rias yang berada di kamar Ririn. dia mulai mengeluarkan peralatan make-up yang dibawanya di atas meja.
Ririn terbangun karena suara dari wanita yang sedang sibuk di kamarnya "ada apa ya mbak?" ucap Ririn penasaran
"maafkan saya nona. tapi sekarang waktunya nona untuk berganti riasan" ucap wanita itu dengan menundukkan kepalanya
"oh begitu ya. sekarang jam berapa ya mbak?" ucap Ririn sembari duduk di atas kasurnya
"pukul satu siang lewat lima belas menit" ucap Gus Sofyan yang sedang membaca majalah di kamar sofa
__ADS_1
"oh ustadz? jadi ustadz sedari tadi ada di ruangan ini? kenapa nggak keluar? kan Ririn masih tidur tadi" ucap Ririn heran
"karena saya ingin lihat seperti apa kamu jika sedang tertidur pulas" ucapnya dalam hati
"saya takut kamu jatuh dari ranjang" ucap Gus Sofyan berbohong
"hah? t-tapi Ririn nggak pernah jatuh dari kasur loh ustadz" ucap Ririn membantah
"ya sudah saya keluar dulu. saya juga butuh persiapan untuk acara resepsinya. permisi assalamualaikum" ucap Gus Sofyan kemudian keluar dari dalam kamar Ririn.
"waalaikumsalam" ucap Ririn dan perias tersebut
*******
Reno menghampiri Gus Sofyan yang sedang berbincang dengan muslim di ruang tamu "Sofyan, kamu tau Ririn ada di mana? kok nggak bersama kamu? sebentar lagi acara mau di mulai" ucapnya tergesa gesa
"sepertinya masih ada di kamar yah. biar Sofyan yang panggilkan" ucap Gus Sofyan kemudian berjalan menuju kamar Ririn. belum sampai di depan pintu kamar, datanglah vino yang hendak menghentikan Gus Sofyan.
"eh eh mau kemana?" ucap Vino
"ke kamar Erina bang" ucap Gus Sofyan sambil menunjuk koridor kamar
"oh ya sudah" ucap Gus Sofyan
mereka pun turun kembali dan segera melakukan perjalanan menuju gedung resepsi. sesampainya mereka di gedung tersebut, sudah di sambut oleh banyaknya tamu undangan serta kamera dan wartawan dari berbagai media.
"oh jadi ini menantunya tuan Fahriza" ucap salah satu teman Reno yang berada di gedung itu.
"ah iya. selamat menikmati hidangannya ya" ucap Reno tersenyum manis
"Vin, kamu antar Sofyan ke ruang ganti aja ya. tunggu Ririn datang sekalian nanti biar Sofyan dan Ririn bisa jalan bersama ke atas sana" ucap Reno menunjuk pelaminan megah yang berada di tengah tengah banyaknya orang.
"oke siap yah" ucap vino kemudian mereka berjalan menuju ruang ganti dan menunggu Ririn hingga tiba di tempat tersebut
tak lama kemudian, Ririn datang dengan wajah yang sudah di rias bersama ketiga sahabat dan adiknya. mereka datang dengan menggunakan pakaian santai dari rumah, karena semua gaunnya berada di gedung resepsi.
"assalamualaikum" ucap Ririn saat melihat Gus Sofyan berada di ruangan yang sama dengannya
__ADS_1
"waalaikumsalam" ucap Gus Sofyan
Ketiga sahabat Ririn ganti pakaian terlebih dahulu karena pakaian mereka lebih mudah dari pada gaun yang akan di pakai Ririn. mereka tampak cantik dan anggun menggunakan gaun yang telah di siapkan oleh Ririn.
"Rin, ayo ganti baju buruuaann" ucap Vreya heboh
"iya iya" ucap Ririn beranjak
"hmm waktunya sudah sangat dekat ustadz. Ririn sudah ditunggu dan sekarang sudah mau ganti baju" ucap Ririn menatap Gus Sofyan
"lalu?" ucap Gus Sofyan
"kalau ustadz masih ada di sini, gimana Ririn bisa ganti bajunya" protes Ririn
"bukannya di sana ada tirai? gantilah di sana. saya mau nunggu kamu supaya bisa jalan berdua menuju kursi pengantin" ucap Gus Sofyan
"oh ya udah kalau gitu, kita keluar dulu ya Gus. assalamualaikum" ucap Aisyah
Gus Sofyan mengangguk "waalaikumsalam" ucapnya
"saya mau yang itu mbak" ucap Gus Sofyan menunjuk gaun berwarna merah muda
"tapi gaun untuk Ririn yang warna putih ini ustadz" ucap Ririn membantah
"tapi saya maunya yang warna itu, Erina" ucap Gus Sofyan
"nanti nggak serasi dong sama baju yang di pakai ustadz" ucap Ririn
Gus Sofyan beralih menatap perias yang bersama Ririn "salahkah mbak?" ucap Gus Sofyan
"oh tidak kok tuan. mau menggunakan pakaian apa saja, tetap tuan dan nona tampak sangat serasi" ucap perias tersebut
"hm sudah dengar kan. cepat ganti" ucap Gus Sofyan
"ya udah mbak saya pakai yang itu" ucap Ririn kemudian masuk ke dalam tirai yang tersedia
__ADS_1
"ih ustadz Sofyan apaan sih. kan yang mau pakai bajunya Ririn. kok ustadz yang milih milih. padahal kan kalau Ririn pakai yang warna putih cantik banget jadinya. bete deh main atur atur aja" umpat Ririn dalam hati
Gus Sofyan terkekeh mendengarnya "saya yakin kamu lebih cantik jika pakai yang itu" ucap Gus Sofyan kecil hampir tak terdengar