Suami Pilihan Allah

Suami Pilihan Allah
Episode 70


__ADS_3

Ririn tak dapat membantah permintaan ayahnya. lagi pula ia ingin segera menuntaskan sekolahnya. besok adalah hari keberangkatannya menuju Jerman. dimana ia akan memulai hidup sendiri selama 4 tahun


"kenapa kita nggak packing sekarang aja?" ucap Rere


"hm iya bener tuh" ucap Lia


"mbak bantu ya" ucap Aisyah


"sudah sudah..kalian tak perlu repot repot karena ayah sudah meminta bantuan bi mar untuk mempersiapkan semua barang barang keperluan kamu selama di sana" ucap Reno


"oh begitu rapinya ternyata ayah vino ini ya haha' ucap vino dengan terkekeh di ujung kalimatnya


Vreya yang melihat raut wajah Ririn pun dapat memahami apa yang ada di dalam hatinya.


"ke kamar yuk..lelah nih akuu" ucap Vreya


"mau tiduran?" ucap Aisyah


"sepertinya begitu. hayuk lah guys" ucap Vreya merengek


"ya sudah kalau begitu Ririn dan yang lainnya mau ke kamar asrama dulu ya yah.. assalamualaikum" ucap Ririn


"waalaikumsalam" ucap semuanya dengan tersenyum


Ririn,, Aisyah,,Lia dan Vreya kembali ke kamar asramanya. mereka menuruti apa yang Vreya inginkan.


mereka telah sampai di tempat tidur mereka masing masing "tidur dulu gih mungkin kamu capek" ucap Aisyah


"sebenarnya nggak sih mbak..Vreya itu mau nanya sesuatu sama Ririn" ucap Vreya


karena mendengar namanya di sebut,,Ririn menoleh menatap Vreya heran "mau nanya apaan?" ucap Ririn ketus


"kamu nggak bahagia kan kalau kamu mau pergi besok?" ucap Vreya


"dih siapa bilang cobak. sok tau" ucap Ririn


"Halah jujur aja lah Rin..kamu nggak bahagia kan karena kamu fikir ini terlalu mendadak bukan?" ucap Lia


"bener ini Rin?" ucap Aisyah


"hmm bener sih guys.. sebenarnya aku memang sedikit terpaksa karena menurut aku sih keberangkatan ini terlalu cepat" ucap Ririn sendu


"baru aja aku ngobrolin hal ini dengan ustadz Sofyan..tapi malah besok jadwal penerbangan aku" sambungnya


"ya kan lebih cepat lebih baik Rin..bukankah kamu bilang kalau kamu akan bahagia jika kamu segera menikah dengan si ustadz?" ucap Lia


"iya bener tuh. lagian kamu di sana juga nggak main main kan" ucap Vreya

__ADS_1


"iya iya aku faham. aku akan berangkat besok kok tenang saja jangan fikirkan aku" ucap Riri tersenyum manis.


"eh btw cita cita kalian apa sih?" ucap Ririn


"kenapa pertanyaan itu lagi sih ah males ane" ucap Aisyah


"iya mbak kita sama" ucap Vreya


"ya udah sih jawab aja sewot banget sih" ucap Ririn


"kalau aku sih pengen jadi pemilik restoran. dan restoran itu ada banyak gitu loh. jadi pengusaha kuliner pasti rasanya ah mantap" ucap Vreya membayangkan


"kalau aku sih pengen mewarisi harta papa aku aja sih. simpel kan nggak ribet" ucap Lia


"kalau mbak pengen jadi dokter. mungkin dokter bedah" ucap Aisyah


"kalau kamu?" ucap Aisyah


"kalau aku pengen jadi apa ya" ucap Ririn melihat langit langit kamar


"lah kan yang punya cita cita situ.. kok malah minta jawaban sama ane sih" ucap Lia


"he em bener tuh. tambah lama tambah nggak jelas deh" ucap Vreya


"aku pengen jadi dosen di salah satu cabang kampus ayah" ucap Ririn tersenyum gembira


"iya tuh nggak ada otak emang" ucap Lia


"heh curut! dari pada kamu cuman maunya harta warisan doang" ucap Ririn


"ah sudah lah sudah sudah..ane mau tidor. jangan ganggu ye" ucap Vreya membaringkan tubuhnya. mereka semua tertidur hingga pagi menjemput


*******


-di bandara


keluarga kyai Hamdan dan keluarga para sahabat Ririn ikut mengantarkan Ririn hingga penerbangan.


"ini paspor dan tiketnya. dan ini juga kartu nama teman ayah di Jerman. kalau kamu ingin langsung berkunjung ke rumahnya, di situ sudah ada alamat rumahnya" ucap Reno


"tapi ayah tau kamu orangnya nggak mau ribet,,jadi ayah yakin pasti kamu langsung akan menuju kampusnya. iya kan?" ucap Reno terkekeh


"haha iya dong yah" ucap Ririn


mereka terdiam sejenak. saling sibuk dengan fikirannya masing masing. tak ada yang bisa mengganggu satu sama lain hingga pada akhirnya Ririn memecah kebekuan itu


"untuk Lia,,Vreya,,dan mbak Aisyah,, kali ini aja Ririn minta tolong kalian jangan ribut sama Adelia and the geng ya" ucap Ririn

__ADS_1


"untuk Daddy mommy dan mama papa juga jangan terlalu marain mereka bertiga jika mereka buat salah. pastikan ia mendapat hukuman jika berkenan" ucap Riri terkekeh


"sebentar lagi pesawat akan berangkat. dan sepertinya Ririn nggak punya waktu untuk memberi kalian pesan seperti ini jadi Ririn lakuin ini sekarang hehe" ucapnya tersenyum manis


"untuk Abah ummah dan mbak Izah maupun ustadz Haris,, sekali lagi terima kasih karena telah membantu Ririn untuk mewujudkan keinginan bunda" ucap Ririn tersenyum simpul


"ayah jangan lupa minum vitamin ya..Rere dan Abang juga harus ngingetin ayah tentang kesehatannya. jangan sibuk terus" ucap Ririn


"iya iya ih bawel banget sih" ucap vino mengelus kepala Ririn


"dah untuk ustadz Sofyan,, kalau semisal ustadz mau menikah dulu nggak papa kok Ririn ikhlas. tapi ustadz harus temuin Ririn dulu di Jerman sana" ucap Ririn tersenyum


"saya setia kok. kalau nggak percaya tanya aja sama mbak Izah. iya kan mbak?" ucap Gus Sofyan beralih menatap Ning Izah


"ya kalau ustadz mau nunggu Ririn,,maknanya ustadz nggak boleh nakal loh di sini" ucap Ririn memperingati


belum sempat di Jawab oleh Gus Sofyan,,ada suara dari belakang mereka yang menjawab omongan Ririn.


"tenang aja nanti kalau kak Sofyan nakal Afiz tubit deh kak. janji" ucap Afiz berjalan menuju arah mereka duduk


"Afiz.. gimana kamu bisa ada di sini?" ucap Ririn


"yang harusnya nanya itu Afiz kak. kok bisa sih kak Ririn nggak ngasih tau Afiz kalau mau ke luar negeri?" gerutu Afiz


"iya maaf. penerbangannya juga mendadak jadi nggak sempat bilang deh" ucap Ririn


"Afiz maafin kalau kak Ririn bawakan pasir pantai dari Jerman. gimana?" ucap Afiz


"oke deal!" ucap Ririn


mereka melanjutkan ngobrol santai sebelum penerbangan Ririn di umumkan. mereka masih berusaha supaya bisa tertawa riang karena tak ingin Ririn tau bahwa mereka sedang sedih.


"selamat siang untuk para penumpang pesawat @@@. sekedar pemberitahuan bahwa 10 menit mendatang, pesawat akan lepas landas. di persilahkan untuk para penumpang segera memasuki pesawat dan duduk dengan rapi sesuai kursi yang tersedia. sekian terima kasih" ucap seorang petugas bandara


"sudah waktunya" ucap Ririn dengan tersenyum manis


"Ririn pergi dulu ya. jaga kesehatan semuanya. Ririn janji akan menemui kalian jika Ririn kembali ke Indonesia" ucap Ririn beranjak dari tempat duduknya


"assalamualaikum" ucap Ririn menundukkan kepalanya


"waalaikumsalam. hati hati ya nak" ucap Reno dan yang lainnya menjawab salam Ririn


Ririn pergi dengan senang karena pertemuan terakhir mereka tak ada air mata. hal itu yang menjadi harapan Ririn sejak mendengar bahwa hari ini ia akan segera pergi ke negeri orang.



__ADS_1


__ADS_2